
Seringkali apa yang manusia minta kepada Tuhan dijawab sesuai kehendak Tuhan, dengan cara-Nya. Begitu pula dengan Selena, ia meminta kepada Tuhan supaya Ayahnya bisa berhenti meminum minuman keras, tapi Tuhan menjawab justru dengan memberikan suatu penyakit yang bernama Sirosis Hati.
Selena sungguh terkejut dengan kabar yang ia terima dari Dokter. Benar, ia mengharapkan sebuah perubahan terjadi pada hidup Ayahnya, tapi tidak dengan suatu penyakit yang cukup parah dan serius. Hati Selena begitu hancur begitu mendengar penjelasan dari Dokter. Walaupun dimungkinkan pasien dengan Sirosis Hati harus hidup sehat menjauhi minuman keras, tapi itu juga cobaan yang berat bagi Selena. Bagaimana pun keadaan Ayahnya sangat serius saat ini.
Selena nampak syok mendengar penjelasan Dokter mengenai penyakit Ayahnya yang mendadak muntah darah, usai mendengar diagnosis Dokter kedua kaki Selena terasa lemas seketika, dia seolah-olah kehilangan tenaganya. Sekadar berdiri di atas kedua kakinya terasa berat. Apa yang kita harapkan kadang kala tidak sebanding dengan kenyataan itulah yang dialami Selena saat ini. Dia hancur melihat Ayahnya terbaring tak berdaya. Dia sedih, tetapi yang dia lakukan hanya bisa menangis dan menunggu kondisi Ayahnya membaik. Kiranya penanganan medis yang Dokter berikan saat ini bisa membantu pemulihan Ayahnya.
Merasa terkejut dengan keadaan, Selena berjalan keluar dari rumah sakit. Gadis yang sedang rapuh itu duduk sendirian di taman yang berada masih di dalam kawasan rumah sakit.
Tuhan,
Cobaan apa lagi ini. Baru beberapa hari aku kehilangan Daniel yang pergi tanpa kabar. Kini, Ayahku harus sakit. Tolong Tuhan, berikan kesehatan dan pemulihan untuk Ayah. Rencanakan damai sejahtera dan bukan rencana kecelakaan untukku dan Ayah ya Tuhan.
Jika memang Ayah harus meninggalkan minuman keras, jangan berikan sakit kepadanya ya Tuhan. Ampuni Ayah dan sembuhkanlah Ayah*.
Kepada Tuhan lah, Selena berdoa. Tempat ia mengadu, tempat ia memohon, sekiranya Tuhan masih berbelas kasihan dan menyembuhkan Ayahnya.
***
Sementara di Edenweis, Daniel masih berkecamuk dengan misi barunya untuk menemukan cinta bagi Selena. Memikirkan bagaimana harus melakukan misi itu membuat Daniel tidak menyadari berapa lama waktu berlalu, berapa lama hari berganti di Edenweis. Hingga sesaat Daniel melupakan untuk kembali ke Bumi dan kembali menjalankan misinya. Daniel hanya berputar-putar dengan pemikirannya sendiri, sembari menikmati keindahan Edenweis yang tiada tara.
Pandangan Daniel masih menyapu hamparan bunga di hadapan matanya, yang membuatnya terpesona dan tidak pernah bosan dengan keindahan yang ada, akan tetapi tiba-tiba Daniel merasakan perasaan yang tidak enak. Hatiku berdebar-debar, dan satu hal yang ia ingat hanyalah Selena. Apa yang sedang terjadi dengan gadis itu, kenapa hatinya tiba-tiba merasa sesak dan ia ingin segera berlari menemui gadis itu.
Diliputi perasaan tidak tenang, Daniel pun berlari mencari Tuannya. Ia hendak meninggalkan Edenweis segera dan mencari Selena. Ia berlari secepat mungkin untuk mendapatkan keberadaan Tuannya.
"Tuan... Tuan..." Panggilan Daniel menggema di berbagai penjuru Edenweis.
__ADS_1
"Tuan... Tuan..." Panggilnya lagi sembari ia berlari menuju air mancur yang menjadi sumber mata air di seluruh Edenweis.
Daniel berlari hingga nafasnya terengah-engah, dan benar saja ia mendapati Tuannya berada di sumber mata air dengan airnya yang berkilau-kilauan bak permata.
"Ya Daniel, kau mencariku?"
"Iya Tuan, saya mencari Tuan."
"Katakan ada apa?"
"Bisakah saya sekarang kembali ke Bumi dengan menyeberangi sungai dan jembatan itu Tuan?"
"Coba jelaskan perlahan. Ada apa?"
"Hati-hati merasakan sesuatu yang tidak enak tentang Selena, Tuan. Mungkinkah ini firasat? Saya sedang menikmati keindahan bunga-bunga, tiba-tiba hati saya terasa sakit dan saya terpikirkan Selena. Saya hanya berharap Selena dalam keadaan baik, Tuan. Saya ingin kembali untuk menjaganya."
"Ya benar, Tuan. Saya salah... Sekarang apa bisa saya kembali?"
"Kembalilah Daniel, kau bisa menyeberangi sungai itu sendiri. Dan ingat, jangan menoleh ke kiri, ke kanan, atau pun ke belakang. Biarlah pandanganmu lurus ke depan. Jangan menoleh hingga engkau menginjakkan kakiku di tanah yang kering. Kau ingat pesanku dahulu kan Daniel?"
"Ya Tuan, saya mengerti."
"Mohon sertai saya, dan biarlah saya bisa berhasil menyelesaikan misi ini Tuan."
"Kau pasti akan berhasil, Daniel. Pergilah segera, gadis itu menunggumu."
__ADS_1
"Baik Tuan, terima kasih."
Dengan derap langkah penuh keyakinan, Daniel menuju sungai di sebelah utara Edenweis. Jembatan kayu yang melintas di atas sungai itu nampak dalam penglihatannya. Dengan penuh keyakinan dalam hatinya, Daniel mulai menginjakkan kakinya di jembatan itu. Dalam hatinya ia berdoa, "Sertai aku, Tuan... Tolonglah aku... Biarkanlah aku bisa menyeberangi hingga ujung jembatan ini. Biarlah tangan-Mu yang kuat itu yang menuntunku setiap waktu." Perkataan ini Daniel ulang-ulang dalam hatinya sembari kakinya terus melangkah melintas jembatan kayu itu. Ia hanya ingin melintasi jembatan kayu itu dengan selamat dan segera bertemu dengan Selena. Lagipula, ini adalah pengalaman pertama Daniel melintasi jembatan kayu ini tanpa didampingi Tuannya.
"Ayo Dan... Kamu pasti bisa... Selena sudah menunggumu! Ayo Dan... Jangan takut, kamu pasti bisa!" Lagi dan lagi, Daniel menyemangati dirinya sendiri. Sekalipun ia merasa ketakutan dan kakinya seakan goyah, tetapi dengan penuh keyakinan ia tetap melangkah. Perlahan tapi pasti, Daniel kini telah selesai menyeberangi jembatan kayu, dan kakinya telah menapak di atas tanah.
"Akhirnya, aku bisa melewatinya." Daniel mengusap wajahnya dengan tangannya dan ia merasakan bagaimana kakinya bergetar untuk melintasi jembatan kayu itu.
Daniel menyisir lingkungan di sekitarnya dengan menoleh ke kiri dan ke kanan, jelas ini bukan apartemennya, tapi di mana ia kini berada. Daniel menyapu pandangannya, dan di sebuah taman kecil dalam cahaya yang remang-remang ia melihat seorang gadis sedang menangis. "Dia kah Selena?"
Daniel segera berlari.
Tapp... Tapp.... Tapp...
(Bunyi suara kaki berlari)
Langkah kakinya yang lebar berlari begitu saja, ia menuju pada Selena yang tengah duduk dan menangis seorang diri.
"Selena... Aku di sini Selena." Teriakannya hingga membuat Selena terkejut.
"Daniel... Kau kembali, Dan?" Selena menangis tersedu-sedu, memandang Daniel yang berlari ke arahnya. Sontak gadis yang semula duduk itu pun, kini telah berdiri, menyongsong kedatangan Daniel.
"Selena... Aku datang. Kenapa kau menangis Selena?" Jarak keduanya tinggal sekian meter, dan Daniel langsung berlari menghambur memeluk Selena.
"Aku datang, Selena... Aku di sini. Kamu tidak sendirian."
__ADS_1
Selena membalas pelukan Daniel, memeluk erat pria yang sekian hari meninggalkannya tanpa pesan. Menangis di bahu pria aneh dari Mars nya itu.