Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Upaya Pendekatan


__ADS_3

Sore ini Selena berada di dalam ruangannya mengerjakan tugas-tugas tambahan yang diberikan oleh Dexter. Selena begitu antusias untuk mengerjakan tugas-tugasnya dan ini berarti dia memang memiliki kesempatan untuk menjauh dari Daniel. Akan tetapi, sebagai teman yang baik, dan teman satu apartemen, Selena tetap memberitahukan kepada Daniel bahwa ia sedang lembur.


Selena mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan kepada Daniel.


[Dan, malam ini aku lembur kerja. Jadi jangan jemput aku ya. Hati-hati di rumah.]


Usai pesannya terkirim, Selena berpikir bahwa setidaknya ia telah memberitahukan kepada Daniel, dan tentu ia akan sangat tidak enak apabila pria itu tetap menjemputnya seperti biasa. Tidak berselang lama, sebuah pesan masuk ke handphone Selena. Dan, itu adalah pesan dari Daniel.


[Iya Selena, aku tahu. Tadi pagi kamu sudah memberitahuku juga kan? Semangat bekerjanya. Kalau mau pulang, kabari aku ya, aku akan menjemputmu.]


Selena membaca pesan dari Daniel dengan keningnya berkerut, bagi Selena, Daniel tetap orang yang baik kepadanya. Tetapi, hati kecil Selena masih merasakan hal aneh mengapa Daniel menolak perasaannya dan ia meminta Selena untuk menunggu waktu yang tepat. Selena termangu dalam pikirannya, dan itu nampaknya terlihat oleh Dexter.


Dexter yang duduk di dalam ruangannya melihat Selena tengah melamun, bahkan sekretarisnya itu belum terlihat mengerjakan tugasnya. Dexter keluar dari ruangannya dan berdiri di hadapan meja kerja Selena.


Dexter mengetuk meja Selena.


Tookkk.... tookkkk....


"Hei, kenapa melamun?"


"Ah, tidak apa-apa Pak. Ini saya baru akan mengerjakan laporan dari Divisi Finansial."


"Oh, oke. Apa kamu baru banyak pikiran Selena?"


"Hem, tidak itu Pak. Emangnya kenapa Pak?"


"Enggak, sejak tadi kamu terlihat sedang melamun. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita pada saya."


"Ah, tidak Pak. Saya tidak kenapa-kenapa kok."


"Saya rasa kita bisa berteman juga Selena, karena saya pun tidak punya banyak teman di sini." Ucap Dexter nampak meyakinkan.


"Bukankah aneh ya kalau seorang atasan berteman dengan bawahannya? Terlebih saya sekretaris Bapak, tidak enak apalagi kita berteman Pak. Akan ada gossip yang tidak-tidak nantinya." Selena memberikan penjelasan perlahan.

__ADS_1


"Gossip apa? Gossip affairs atasan dan sekretarisnya seperti yang sudah terkenal sejak ini? Iya?" Ucap Dexter sambil menyeringai kepada Selena.


"Hem, iya Pak. Kurang lebih seperti itu. Lebih baik kita bersikap professional Pak."


"Kita bisa bersikap professional di kantor, dan ketika di luar kantor kita bisa berteman. Just a friend, tidak lebih."


Selena berpikir bagaimana bisa dia berteman dengan atasannya itu. Sejujurnya, Selena adalah gadis yang sukar dekat dengan orang lain. Bukan berarti dia anti sosial, bukan. Latar belakang dan pengalaman hidup yang ia jalani selama ini membuatnya menjadi pribadi yang tertutup, dia hanya tak ingin orang lain mengetahuinya saat dia dalam kondisi menyedihkan.


"Hem, bagaimana ya Pak, saya tetap tidak enak Pak. Maaf Pak, mungkin menurut Bapak itu mudah, tapi saya tidak enak bila suatu saat terdapat pemberitaan yang tidak enak."


"Saya enggak mempermasalah omongan orang lain, Selena. Lagipula baik buruknya kita tentu akan selalu menjadi bahan omongan untuk orang lain. Lagipula kita yang menjalani, kita yang lebih tahu kenyataannya. Benar bukan?"


"Iya benar Pak. Tetapi yang kita lakukan benar pun, terkadang itu tidak benar juga buat orang lain."


Dexter mengerutkan keningnya, dia bisa melihat rupanya Selena adalah seorang gadis yang penuh dengan pertimbangan. Gadis yang berusaha untuk tidak gegabah, walaupun sikap tersebut dapat membuatnya menjadi sukar untuk maju karena pertimbangan yang terlalu dipikirkan.


"Oke, kamu boleh memikirkannya. Tetapi bagiku, sekarang kamu adalah temanku. Just a friend, Selena."


"Pak Dexter, kenapa Bapak tiba-tiba ingin berteman dengan saya?"


"Saya hanya ingin berteman saja Selena. Memang kita membutuhkan alasan untuk berteman dengan orang lain?"


"Tidak juga sih Pak."


"Itu kamu tahu kalau tidak ada alasan untuk menjalin pertemanan."


"Bapak enggak ada niatan tersembunyi kan?"


"Hahahaha, niatan tersembunyi? Emang kamu berpikir saya akan ngapain Selena?"


"Tidak, tidak Pak. Saya kan cuma bertanya."


"Oke silakan dilanjutkan pekerjaannya Selena, kita sudah banyak mengobrol. Ingat ya, kita di perusahaan ini adalah hubungan professional, tetapi di luar kita adalah teman."

__ADS_1


Dexter berlalu pergi memasuki ruangannya, meninggalkan Selena dengan berbagai pertanyaan di pikirannya. Bagaimanapun perkataan Dexter barusan sangat aneh untuk Selena. Tetapi, ia tidak boleh berlarut-larut dalam pikirannya. Ia segera mengecek beberapa laporan keuangan yang sudah berada di mejanya. Tabel-tabel dalam komputer sudah ia buka, Jurnal pemasukan dan pengeluaran juga ia buka, satu per satu Selena kerjakan. Matanya fokus dengan PC di hadapannya. Terlebih terkait masalah keuangan, memang dibutuhkan fokus dan ketelitian jangan sampai menginput angka yang salah, karena itu bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, Selena input semua angka dengan teliti, supaya tidak ada yang salah. Hingga akhirnya, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Ingin Selena mengakhiri pekerjaannya malam ini dan meminta izin untuk pulang. Ia akan berangkat ke kantor lebih pagi untuk mengerjakan sisanya.


Dengan perlahan ia mengetuk pintu ruangan Dexter dan meminta izin untuk pulang terlebih dahulu.


"Pak Dexter, kalau saya izin pulang bagaimana? Ini sudah malam, besok pagi akan saya lanjutkan lagi pekerjaannya, Pak."


Dexter tidak langsung mengiyakan, ia terlebih dahulu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pantaslah Selena meminta izin pulang, sudah malam.


"Baiklah, tetapi besok tolong untuk segera diselesaikan."


"Baik Pak Dexter. Terima kasih banyak Pak."


Selena keluar dari ruangan atasannya, ia memastikan semua file yang sudah ia kerjakan sebelumnya tersimpan, supaya besok memudahkan untuk kembali mengerjakannya. Ia pastikan menyimpan satu-satu, merapikan berbagai lembaran kertas di mejanya, mematikan komputernya, dan bergegas pulang.


Selena ingin pulang sendiri dengan menaiki bus kota malam ini, ia sengaja tidak mengirimi pesan kepada Daniel. Selena berjalan menuju lift untuk turun ke bawah dan akan langsung pulang.


Suasana kantor telah sepi, beberapa ruangan bahkan telah gelap. Untuk pertama kalinya, ia pulang semalam ini. Di dalam lift, saat akan masuk ke dalamnya tiba-tiba Dexter mengikutinya.


"Pak Dexter, Bapak pulang juga?"


"Iya, saya juga akan lanjutkan besok kerjaan saya. Sudah malam."


"Ah, iya Pak."


"Bagaimana kamu pulang malam ini?"


"Saya akan naek bus dari halte di depan Pak."


"Atau mau saya antar pulang?"


"Tidak Pak, tidak usah, saya bisa pulang sendiri."


Lagi-lagi Selena menolak tawaran Dexter, dia hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa terlibat dalam hubungannya yang justru akan memberatkannya. Menolak Dexter adalah pilihan yang tepat bagi Selena saat ini.

__ADS_1


__ADS_2