Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Atas Nama Cinta


__ADS_3

Pernikahan yang kudus dan suci telah mengikat Daniel dan Selena. Kedua mempelai nampak bahagia dan sekaligus lega karena telah dipersatukan dalam pernikahan yang kudus.


Daniel tak menjanjikan kemewahan untuk Selena, tetapi ia menjanjikan sisa harinya. Hingga nafas terakhirnya, ia janjikan untuk menjaga dan membahagiakan Selena. Sementara Selena pun, menjanjikan hati dan kesetiaannya untuk Daniel. Keduanya sama-sama berjanji bahwa berapa pun sisa waktu yang mereka miliki bersama, mereka akan saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.


Di apartemen Daniel, usai pemberkatan pernikahan dilangsungkan Daniel dan Selena telah kembali pulang. Keduanya saling bergandengan tangan, menyalurkan kasih sayang dari genggaman tangan mereka.


"Terima kasih sudah menerimaku, Selena," ucap Daniel sembari terus menggenggam tangan Selena. "Terima kasih mau mengisi sisa hari-hari yang aku miliki."


"Jangan terus menerus berterima kasih, Daniel. Aku bahagia karena kita sudah bersama dalam satu ikatan yang kudus." Selena pun mengeratkan genggamannya pada tangan Daniel. "Terima kasih, mau mengambil risiko yang begitu besar."


"Ikatan ini diikat atas nama Cinta, Selena. Semoga ini diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran, dan Dia akan berbelas kasihan kepada hubungan kita ini. Aku mencintaimu, Selena," ucapnya dengan penuh keyakinan.


Selena pun membeku di tempatnya ketika Daniel mengucapkan tiga kata yang belum pernah ia dengar selama ini. Tiga kata yang mampu menyatukan dua orang dengan latar belakang yang berbeda. "Aku cinta kamu", memang ucapan yang sederhana, namun bermakna luar biasa.


"Apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" Daniel bertanya sembari memandangi wajah ayu Selena yang kini sedang duduk di sampingnya.


"Ya, Dan. Aku bahagia. Namun, tetap saja masih ada yang aku khawatirkan. Kamu tahu itu kan?"


"Kemarilah Selena..." Daniel membawa kepala Selena untuk bersandar di bahunya. "Jangan khawatir. Kita hadapi bersama-sama ya." Tangannya mengelus lembut puncak kepala Selena dengan lembut.


"Iya, kita hadapi bersama-sama. Semoga jalan cinta kita berbeda ya. Jika ada yang boleh kuminta kepada Tuhan, aku hanya akan memintamu, Daniel. Aku tak menginginkan yang lain. Asal bersamamu seperti ini saja, sudah cukup bagiku."


"Di sisa hari yang kumiliki, apa saja yang ingin kau lakukan Selena?" tanyanya dengan serius.


"Yang pasti kita buat sebanyak mungkin kenangan. Bagaimana?"


"Baiklah, ayo kita buat kenangan yang indah bersama-sama." Daniel menyetujui permintaan Selena untuk membuat kenangan bersama-sama.


"Baiklah, Dan. Ini sudah malam sebaiknya kita beristirahat." Selena mengangkat kepalanya yang sejak tadi bersandar di bahu Daniel. "Aku akan masuk ke kamarku. Istirahatlah."


"Hmm, baiklah."

__ADS_1


Selena berdiri dan ia berjalan untuk masuk ke dalam kamarnya. Keduanya memang telah membuat kesepakatan tidak akan tidur bersama lantaran keberadaan Daniel yang adalah seorang malaikat.


"Tunggu Selena", Daniel menghentikan langkah kaki Selena.


Selena berbalik, menghadap kepada Daniel. "Apa?"


Daniel berjalan menghampiri Selena, "kau melupakan sesuatu?"


Selena nampak kebingungan, apa yang sudah ia lupakan.


Daniel semakin memotong jaraknya dengan Selena. Kedua tangannya terulur memegang lengan Selena, lalu ia mendaratkan satu kecupan di kening Selena.


Cup.


"Selamat tidur Istriku."


Lagi-lagi Selena tidak bisa menghentikan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Rasanya tubuhnya bagai tersengat listrik ketika Daniel mengecup keningnya.


Selena tersenyum, "Selamat malam, Dan."


Setibanya di kamar, Selena tersenyum, jantungnya berdebar-debar sangat kencang saat Daniel menciumnya. Wajahnya merah merona, ia malu saat Daniel menciumnya. Tetapi, di saat ia merasa malu, di saat yang sama ia juga merasa bahagia.


Semoga saja kebahagiaan ini akan berlangsung untuk waktu yang lama ya Tuhan. Aku mau menghabiskan sisa waktuku bersama Daniel, mengisi hari-hari hingga rambutku memutih, hingga aku menutup mataku nanti. Aku mencintainya dengan tulus ya Tuhan. Jangan pisahkan kami berdua.


Doa Selena ia panjatkan kepada Sang Penguasa Hidup. Selama ia meminta dalam doa, ia menantikan pengharapan dari Tuhan untuk menjawab doanya.


***


Malam telah berganti menjadi. Senyuman rembulan di langit petang perlahan-lahan digantikan oleh sapa hangat mentari pagi. Selena menyambut pagi harinya sebagai seorang istri.


Ia segera bergegas membersihkan badannya dan ingin segera pergi ke dapur untuk membuatkan cokelat hangat kesukaan Daniel. Ia ingin menikmati sarapan pagi pertama dengan Daniel untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami-istri.

__ADS_1


Selena keluar dari kamar tidur dengan senyuman yang tak henti-hentinya mengembang di wajahnya. Langkah kakinya menuju ke dapur. Ia sangat bersemangat untuk segera membuat cokelat hangat untuk Daniel. Namun, rencananya gagal seketika karena Daniel telah berada di dapur.


Pria itu terlihat sibuk di dapur dengan teflon penggorengan di tangannya.


"Hmm, pagi Daniel...," sapa Selena kepada suaminya itu.


"Oh, hai... pagi Selena. Bagaimana tidurmu semalam nyenyak?" Daniel berbalik, badannya yang semula menghadap ke kompor gas dua tungku, kini ia telah berhadapan dengan Selena.


Selena tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, "Iya, tidurku nyenyak semalam. Kalau kamu?" tanya Selena.


"Sayang sekali aku tidak bisa tidur sama sekali." jawabnya.


"Apa kau sakit? Tidak enak badan? Mengapa kau tidak bisa tidur?" Selena terlihat panik sembari mengamati-amati Daniel.


"Tidak, aku sehat. Aku hanya merindukanmu semalam-malaman, sehingga aku tak bisa tidur." ucapnya sembari mimik wajah nampak menggoda Selena.


"Apa-apaan sih, Dan? Aku kira apa karena kau sakit atau tidak enak badan, sehingga kau tidak bisa tidur semalaman. Aku panik tau."


"Jangan panik, aku kan cuma bercanda. Dan lihatlah, sekarang sudah memerah. Lucu banget sih." Daniel semakin terang-terangan menggoda Selena. "Sekarang, kamu duduk saja di meja makan. Biarkan aku yang menyiapkan makanan untukmu."


"Eh, tidak. Aku saja yang membuat sarapan, Dan. Tidak benar suami berkutat di dapur, sementara istrinya duduk manis saja. Ini tidak benar." tolaknya mentah-mentah.


"Tidak apa-apa. Aku suka melakukan sesuatu untukmu. Karena aku bisa berada di sini, itu juga karena kamu. Ya, karena kamu, Selena. Jadi biarkan aku yang membuat sarapan pagi ini. Suamimu ini akan membuatkan menu sarapan terenak untukmu." ucapnya sembari mengerlingkan matanya dan mendorong Selena untuk menjauh dari dapur.


"Duduklah di sini, tidak lama lagi sarapan yang enak akan tersaji."


"Hmm, baiklah Daniel. Nampaknya aku memang tidak akan bisa menang berdebat denganmu." ucap Selena dengan wajahnya yang nampak cemberut.


Gagal sudah rencananya bangun pagi untuk membuat sarapan dan minuman cokelat kesukaan Daniel, kenyataannya Daniel lah yang menguasai dapur pagi ini. Selena hanya diperbolehkan untuk duduk dan menunggu hingga sarapannya tersaji di hadapannya.


"Jangan menggerutu, Selena. Aku tahu. Dari sini pun aku tahu kamu sedang menggerutu kan?" ucap Daniel sambil tertawa memunggungi Selena.

__ADS_1


__ADS_2