
Kedatangan Daniel yang tiba-tiba justru membuat Selena semakin bersedih. Ia mengira bahwa ia akan kembali sendirian, terlebih saat Daniel sama sekali tak memberikan pesan apa pun.
"Jangan menangis lagi, Selena. Aku di sini." Ucap Daniel sembari memeluk erat Selena.
Entah lantaran telah lama tak bertemu, atau perasaan iba melihat Selena menangis, pertemuan Daniel dan Selena sangat dramatis. Terlebih bagi Daniel, melihat Selena dari jauh, ia langsung berlari, memanggil namanya, dan berlari secepat mungkin ke arah Selena, hingga akhirnya pun Daniel memeluk erat tubuh Selena.
Sementara Selena pun memeluk erat Daniel dan menangis terisak-isak di bahunya. Di satu sisi Selena bahagia bisa kembali melihat Daniel, itu artinya Daniel sungguh-sungguh membuktikan bahwa ia akan kembali. Akan tetapi, di sisi lain Selena pun bersedih, rasa ditinggalkan Daniel tanpa pesan sama sekali membuatnya semakin menangis.
Daniel mengendorkan pelukannya, tangannya memegang wajah Selena, dan ibu jarinya menghapus buliran air mata di wajah Selena.
"Udah, jangan menangis lagi. Aku sudah di sini. Maaf, sudah meninggalkanmu lama. Sekarang aku sudah di sini. Aku akan menjagamu lagi. Jangan menangis ya..."
Hati Selena tersentuh dengan perlakukan Daniel yang manis, sungguh perhatian dari sikap-sikap kecil seperti inilah yang membuat Selena menyukai Daniel. Selena termangu memandang wajah Daniel. Lalu, Daniel pun mengajak Selena untuk duduk di sebuah kursi yang berada di taman itu.
"Kenapa kamu berada di sini? Hmm... Ayo, ceritalah kepadaku, aku akan mendengarkannya."
Selena yang sedari tadi diam pun mulai mencoba menceritakan apa yang ia alami kepada Daniel.
"Ayah sakit, Dan. Tadi sepulang kerja, aku mendapatkan telepon dari teman Ayah katanya Ayah muntah darah. Lalu, Ayah dilarikan ke rumah sakit ini. Tadi Dokter sudah menangani Ayah dan Dokter memberikan diagnosis bahwa Ayah mengalami Sirosis Hati. Itu artinya hati Ayah sudah rusak, Dan. Lantaran nyaris setiap hari menenggak minum minuman keras hingga hati Ayah rusak. Aku memang menginginkan Ayah untuk sembuh, meninggalkan kebiasaannya minum minuman keras, tapi tentu aku tidak meminta satu penyakit datang kepada Ayahnya. Doaku mungkin dijawab Tuhan, tetapi cara seperti ini yang membuatku sedih."
Daniel mendengarkan cerita Selena dengan penuh perhatian. Daniel sendiri pun tak menyangka bahwa Ayah Selena hingga muntah darah dan mengalami sirosis hati.
__ADS_1
"Tenang Selena, untuk segala sesuatu di bumi ini ada masanya. Ya, itu memang jawaban dari permohonan yang kamu buat, tetapi semuanya ada maksud Tuhan di dalamnya." Terang Daniel sembari tangannya menggenggam erat tangan Selena.
"Hemm, iya Dan... Aku percaya semua dalam kedaulatan-Nya. Namun sebagai seorang anak, aku tetap bersedih melihat Ayah terbaring lemah. Ayahku yang kuat dengan emosi yang meledak-ledak kini terbaring lemah di atas brankarnya. Sungguh, aku tak pernah membayangkan kejadian ini."
"Sabar Selena, Ayah pasti akan sembuh."
"Kesembuhan penuh kelihatannya tidak bisa, Dan. Dokter juga menyarankan untuk memulai pola hidup sehat, mengurangi berbagai minuman yang asam seperti teh dan kopi, dan tentunya harus meninggalkan minuman keras. Selama ini hati Ayah terlalu banyak menyerap racun dari minuman keras yang ditenggak hampir setiap hari."
"Tenang ya Selena, ini tentu dalam perkenanan Tuhan. Kita jalani bersama, semoga dari peristiwa ini Ayah bisa benar-benar meninggalkan minuman keras. Seperti keinginan kamu selama ini kan, menginginkan Ayah meninggalkan minuman keras dan menjalani kehidupan yang baru tanpa minuman alkohol."
"Hemm, iya. Tetapi, jika aku bisa meminta, tentu akan meminta cara lain, Dan... Bukan dengan datangnya satu penyakit. Oh, iya. Kamu kemana saja selama ini Dan? Kenapa tiba-tiba bisa menemukanku di sini?"
"Lalu, kenapa kamu tidak menghubungiku selama ini? Aku kira, kamu sudah melupakan aku, Dan." Selena mengatakan perasaannya kali ini dengan wajah sendu.
"Aku begitu sibuk dengan pekerjaanku. Maafkan aku, Selena... Aku tak akan melupakanmu, Selena. Setiap malam tiba, ketika rembulan menampakkan wajahnya, aku selalu teringat padamu. Kau seperti rembulan itu, Selena. Rembulan bukankah itu arti namamu?"
"Hmm, jangan merayuku. Lalu, kenapa kau bisa menemukanku di sini? Padahal aku tidak memberitahukan keberadaanku di sini." Selena menelisik, bagaimana mungkin Daniel bisa menemukannya, padahal tidak seorang pun mengetahui keberadaan Selena yang kini sedang berada di rumah sakit.
"Kemana pun kau pergi, sejauh apa pun kau berlari, aku akan menemukanmu, Selena. Terlalu mudah bagiku untuk menemukanmu." Kali ini Daniel menjawab pertanyaan Selena dengan serius.
Deg! Hati Selena merasakan debaran-debaran yang aneh ketika Daniel mengatakan bahwa ia akan menemukan Selena di mana pun gadis itu berada. Selena sontak kembali mengingat-ingat bagaimana Daniel memang selalu bisa menemukannya, bahkan saat Selena pulang dari kantor dengan menaiki bus kota tanpa memberitahu Daniel pun, pria itu selalu satu langkah lebih maju untuk menjemput kedatangan Selena di halte pemberhentian bus. Ya, beberapa kali Daniel selalu bisa menemukan Selena.
__ADS_1
"Benarkah itu, Dan? Mengapa kau bisa dengan mudahnya menemukan keberadaanku, padahal aku sendiri pun tidak memberitahumu di mana aku berada."
"Entahlah, Selena... Aku juga tidak tahu, mungkin Tuhan sengaja menciptakan aku untuk menemukanmu."
"Kenapa kata-katamu begitu manis, Dan? Bukankah aku pernah perkataanmu yang manis dan sikapmu yang selalu baik kepadaku bisa membuatku salah sangka padamu. Aku rasa jangan terlalu berlebihan seperti ini, Dan. Akhirnya kita hanya akan canggung dan tidak nyaman."
Selena menjauhkan posisi duduknya yang sebelumnya begitu dekat dengan Daniel.
"Kata-kata ini keluar dengan sendirinya, Selena. Aku juga tak tahu mengapa."
"Baiklah, Dan. Kamu bisa pulang sekarang, lagipula ini sudah larut malam. Aku akan menginap di sini, menunggu sampai Ayahku pulih, karena satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah aku. Jadi, aku akan tinggal di sini menunggu Ayah."
"Biarkan aku menemanimu, Selena. Malam ini saja, dan esok pagi aku akan kembali pulang."
Selena menimbang-nimbang permintaan Daniel. Sekali pun hatinya menghangat setelah melihat Daniel, namun tetap saja tidur di rumah sakit bukan pilihan yang baik, lagipula Daniel baru saja kembali. Selena berpikir jauh lebih baik bila Daniel bisa kembali ke apartemen dan beristirahat terlebih dahulu.
"Bukankah kau capek setelah menempuh perjalanan jauh, Dan? Kau perlu istirahat. Tidur semalaman di rumah sakit bukan pilihan yang tepat."
"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu, Selena. Aku hanya ingin menjagamu dan memastikan kau aman."
Daniel nyatanya tetap bersikukuh untuk menginap di rumah sakit bersama Selena. Bagaimana pun, ia tahu Selena dalam keadaan yang sedang tidak baik, minimal melalui keberadaannya, Selena bisa merasakan sedikit ketenangan.
__ADS_1