
Hari ini menjadi hari yang istimewa untuk CEO Buana Corp, yaitu Mark Putra Buana. Di hari ini, ia akan mempersunting gadis yang sudah dipacarinya hampir 3 tahun. Karena ini adalah Pernikahan CEO, jadi seluruh staf dan karyawan Buana Corp. diminta untuk menghadiri pesta pernikahan yang diselenggarakan di salah satu ballroom hotel bintang lima di kawasan Ibu Kota.
Beberapa hari sebelum hari H, Selena telah meminta tolong kepada Daniel untuk menemaninya menghadiri Pernikahan atasannya itu. Daniel pun dengan sukarela akan menemani Selena. Daniel justru bersyukur karena Selena memintanya untuk menemaninya. Jadi, ia bisa menjaga Selena di sana.
Dan hari ini, Selena bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan yang digelar pada akhir pekan itu. Selena membuka lemari miliknya, mencari-cari pakaian apa yang bisa ia kenakan nanti malam. Memilih dan memilah satu per satu akhirnya, pilihannya pada midi dress berwarna merah muda. Selena mulai mempersiapkan dirinya. Menata sedikit rambutnya dan merias wajahnya dengan natural hanya memakai cussion, maskara, dan memoleskan lipstik berwarna pink di bibirnya. Penampilannya sederhana, tapi ia tetap memukau dengan kecantikannya yang justru terpancar dengan sedikit riasan di wajahnya.
Selena keluar dari kamarnya dan hendak memanggil Daniel untuk mengajaknya berangkat. Karena acaranya malam minggu, mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal supaya terhindar dari kemacetan.
Keluar dari kamarnya, rupanya Daniel sudah menanti Selena di ruang tamu. Untuk pertama kali, Selena melihat Pria dari Mars itu mengenakan jas. Jas cokelat ia kenakan, tampil rapi dengan rambutnya yang disisir.
Keduanya saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Bagi Selena, penampilan Daniel sungguh sempurna. Jas cokelat yang ia kenakan membuatnya tampil beda. Sementara bagi Daniel, Selena begitu cantik dengan midi dressnya, riasan yang tak berlebihan justru membuat Selena semakin ayu. Namun, semua perasaan itu tak mampu terucapkan oleh mulut mereka, hanya hati mereka yang saling berbicara dengan pancaran senyum mengembang di wajah mereka.
"Kamu sudah siap Dan?" Sapa Selena kepada Daniel.
"Iya sudah. Kita berangkat sekarang?"
"Boleh, supaya gak kena macet."
"Oke, yuk...."
Keduanya bergegas menuju parkiran di basement, dan Daniel mengemudikan mobilnya menuju Hotel tempat pernikahan CEO nya akan digelar. Dalam waktu kurang lebih setengahan jam, keduanya telah sampai ke tempat diselenggarakannya acara pernikahan itu.
Karena pernikahan seorang CEO, ballroom hotel itu di hias dengan mewah dan megah. Tema rustic dengan bunga mawar putih, lily, dan baby breath membuat suasana nampak indah. Mempelai berdiri dengan serasi, mempelai wanita mengenakan wedding dress putih dan mempelai pria mengenakan tuksedo putih. Penampilan keduanya seperti Pesta Pernikahan Fairy Tale. Sungguh indah.
Selena takjub dengan suasana dekorasi ballroom dan penampilan kedua mempelai yang sangat sempurna. Sementara Daniel setia mengikuti kemana pun langkah kaki Selena pergi.
Di pesta pernikahan itu, Selena bertemu dengan temannya Putri.
"Hai Putri...." Sapa Selena ketika melihat sosok Putri yang berdiri tidak jauh darinya.
"Eh, hai Selena. Sama siapa ke sininya?"
"Ini sama temen aku. Daniel, kenalin ini temen aku di Divisi Finansial sebelumnya namanya Putri. Dan, Putri ini temenku namanya Daniel." Daniel dan Putri saling berjabat tangan.
"Yakin ini cuma temen?" Tanya Putri dengan selidik.
Selena hanya tersenyum dan sedikit mencuri pandang kepada Daniel, sementara Daniel juga tersenyum ke arah Selena.
__ADS_1
Ketiganya berdiri dan bercakap-cakap, hingga atasan Selena datang menghampiri ketiganya. Dexter Anthonius datang dan berjalan ke arah Selena.
"Hai Selena...."
"Ya Pak...."
"Sendirian saja?"
"Bersama teman saya, Pak."
Sama seperti biasanya Dexter dan Selena berbicara ala kadarnya saja. Bagaimana pun pembicaraan mereka terdengar kaku.
Dexter mengamati pria yang lebih muda darinya berdiri di samping Selena. Dalam hatinya, Dexter berpikir mungkin saja pria itu adalah pacar Selena. Dexter mengamati penampilan Daniel dari atas ke bawah, lalu tiba-tiba matanya terhenti pada men pocket yang terselip rapi di kantong jas Daniel. Men pocket putih dengan sulaman bunga mawar dan sayap malaikat dengan benang emas. Dexter tertegun melihat men pocket itu, dia berpikir bagaimana bisa pria ini memiliki sapu tangan itu.
"Selena, jadi saya gak dikenalin nih sama temen kamu?"
"Ah iya... maaf. Hemm, Pak Dexter ini teman saya Daniel, dan Daniel ini atasanku Pak Dexter."
"Dexter, atasannya Selena."
"Jadi sejak kapan kenal sama Selena?"
"Hmm, belum lama Pak."
"Kerja apa?"
"Saya freelance dari rumah."
"Dari dulu freelancenya?"
"Tidak, saya dulu bekerja di kebun bunga E...." Daniel terdiam. Dia tidak jadi melanjutkan ucapannya. Lagipula manusia di sini tidak akan tahu nama kebun bunga Edenweis.
Dexter semakin tajam melihat pada Daniel. Dia menaruh curiga kepada Daniel. Tetapi, Dexter tidak mau langsung gegabah. Dia berniat akan menyelidiki Daniel. Dia menebak apakah Daniel ini sosok seperti yang ia pikirkan.
Selena yang berdiri di antara keduanya lalu menyela pembicaraan mereka.
"Pak Dexter kok nanyain teman saya terus Pak?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Cuma bertanya aja."
"Dan, kamu enggak minum?"
"Enggak, nanti saja. Kamu mau minum? Kalau mau aku ambilkan."
"Jangan, aku bisa ambil sendiri."
Putri yang melihat kedekatan Daniel dan Selena hanya tersenyum, dia merasa pasti keduanya lebih dari sekadar teman.
"Sel, serius kalian temenan?" Putri berbisik-bisik bertanya pada Selena.
"Hmm, iya. Kenapa?"
"Keliatannya lebih dari temen deh. Temen atau demem?"
"Eih, jangan gitu dong. Nanti dia nya gak enak kalau denger."
"Keliatan perhatian banget loh."
"Biasa aja."
Keduanya berbisik-bisik membahas kedekatan Selena dan Daniel, hingga akhirnya tanpa sengaja kuku Putri mengenai tangan Selena, hingga tangannya terluka dan mengeluarkan sedikit darah tergores di tangannya.
"Eh, sorry Sel. Gak sengaja. Kena kuku sakit ya?" Putri menunjukkan raut wajah bersalah.
"Gak papa. Santai aja."
Rupanya Daniel memperhatikan Selena yang tergores tangannya akibat terkena kuku temennya itu. Daniel yang spontan pun mengambil pocket men di saku jasnya, lalu memasangkannya di tangan Selena.
"Pakai ini dulu aja Sel, nanti habis dari sini kita mampir beli plester." Ucap Daniel sambil memasangkan sapu tangannya ke tangan Selena.
"Eh, gak perlu Dan. Ini gak papa kok." Selena mencoba menolak dan menghindar.
"Udah sini, pake ini dulu. Biar enggak perih." Daniel terus melanjutkan kegiatannya menutup sedikit goresan di pergelangan tangan Selena. Aksinya itu diperhatikan oleh Putri dan juga Dexter.
Putri tak mengira cowok tampan bak foto model itu bersikap sangat manis dan perhatian kepada Selena. Sementara Dexter justru fokus menatapi sapu tangan yang kini melingkar di pergelangan Selena dengan menunjukkan sulaman mawar berwarna pink di atasnya.
__ADS_1