
Masih berada di sebuah bangku taman di area rumah sakit, Daniel dan Selena masih duduk bersama menikmati sore menuju senja.
Senja memang selalu indah apabila dinikmati dengan seseorang yang kita cintai, duduk bersama di tepi pantai, dengan suara desiran ombak. Namun, kali ini Daniel dan Selena justru memandang indahnya senja dari bangku kecil yang berada di taman rumah sakit itu.
"Kau selalu menyukai senja ya Selena?" Tanya Daniel sembari menoleh kepada Selena.
"Tidak hanya senja, aku juga menyukai matahari terbit. Tahukah Dan, terdapat bahasa sanskerta untuk matahari terbit "Arunika" yang artinya cahaya matahari terbit yang indah. Juga ada kata "Swastamita" yang artinya pemandangan matahari terbenam yang indah." Selena mengurai setiap perkataannya dengan senyuman terpancar di wajahnya.
"Oh, iya. Di mana kamu menemukan kata-kata sebagus itu?"
"Di sebuah novel yang kubaca. Begitu aku membacanya, aku terus saja mengingat dua kata yang sangat indah itu. Arunika dan Swastamita, indah bukan?"
"Hmm, iya... Indah... Selena juga indah artinya. Rembulan yang bersinar terang. Benar kan?"
Daniel dan Selena pun tertawa bersama. Sedikit kebahagiaan terasa bersarang di dalam hati mereka berdua.
"Kamu bisa saja, Dan." Sahut Selena sembari memukul lengan Daniel.
"Kan benar, Selena juga indah artinya kan. Rembulan yang bersinar terang. Benar kan?"
"Iya, benar. Tetapi, jangan diulang-ulang. Aku malu."
"Kenapa malu? Namamu indah..." Ucap Daniel. "Hmm, tetapi mengapa namamu Selena?"
Selena mencoba mengingat-ingat cerita dari Ibunya sewaktu ia kecil. "Kata Ibuku dulu, aku lahir di saat bulan purnama, jadi Ayah dan Ibu menamaiku Selena. Sebenarnya banyak juga kata ganti untuk rembulan, ada Candra, Candrika, Luna, dan lainnya. Tetapi, kata Selena lah yang dipilih oleh Ayah dan Ibuku. Kira-kira begitulah."
"Selena... Bulan Purnama? Hmm, cocok juga sih." Daniel nampak tertawa menghubungkan kata Selena dengan Bulan Purnama. Seringkali memang orang akan memberi nama kepada anak-anak mereka berdasarkan sesuatu yang terjadi saat itu. Demikian pula dengan orang tua Selena, lantaran Ibunya melahirkan saat Bulan Purnama maka anaknya diberi nama Selena.
"Jangan mengejekku, Dan. Bisa-bisa kau tidur nanti dengan mengigaukan namaku." Balas Selena sembari tertawa bersama Daniel.
"Dan, boleh aku ke mini market ke seberang sana? Aku ingin membeli beberapa camilan dan minuman. Kau tunggu di sini saja, Dan. Aku tidak akan lama."
"Baiklah, aku tunggu di sini."
__ADS_1
Selena pun berjalan menyeberangi jalan yang berada di depan taman rumah sakit itu. Di sana terdapat sebuah mini market, dan Selena berniat untuk membeli minuman, camilan, dan tentu buah yang bisa diberikan untuk Ayahnya nanti.
Selena memilih beberapa minuman, camilan beberapa snack, tanpa menunggu waktu lama, ia membayar berbagai barang yang ia beli ke kasir. Setelahnya ia segera kembali ke bangku di taman untuk menemui Daniel.
Selena menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa jalanan telah sepi, dan ia bisa menyeberangi jalan yang tidak begitu besar itu. Baru setengah dari penyebrangannya, sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi dan nyaris menabrak Selena.
"Aw...." Teriak Selena terkaget melihat sepeda motor yang tiba-tiba akan menabraknya.
Dalam hatinya Selena sudah ikhlas apabila ia harus kembali tertabrak motor, bahkan kali ini rasanya ia tidak bisa menghindar.
Sepersekian detik, sebelum motor itu menghantam tubuh Selena, tangan yang kuat dan kokoh, nampak melindungi Selena.
"Daniel... Kau... Benarkah kau, Daniel?" Selena membuka matanya yang sebelumnya terpejam karena ketakutan dengan sepeda motor yang siap menabrak tubuhnya.
Saat ia membuka matanya, rupanya ia telah selamat. Pria bertangan kokoh, dan wajahnya nampak terang bercahaya tengah menolongnya saat ini. Selena tak bisa mengedipkan matanya, lantaran dia sangat penasaran siapa yang telah menolongnya. Mungkinkah Daniel?
Sekian menit berlalu, akhirnya Selena bisa melihat dengan jelas siapa yang telah menolongnya.
"Iya, aku Daniel. Tetapi, wajahku tidak bercahaya. Mungkin kamu yang salah lihat." Daniel menguraikan pelukannya dari Selena dan berjalan meninggalkan Selena yang masih nampak kebingungan.
"Tidak. Yang barusan kulihat tadi sungguh-sungguh wajah Daniel terlihat sangat terang, seperti sinar matahari." Gumam Selena sembari mengingat kembali peristiwa tabrakan yang nyaris ia alami.
Selena pun berlari mengejar Daniel yang berjalan semakin menjauh.
"Dan, tunggu aku... Dan..." Selena memanggil Daniel sembari berlari.
Daniel pun menoleh ke belakang dan menghentikan langkah kakinya.
"Jelaskan padaku, Dan... Aku tidak salah melihat kan? Mataku masih berfungsi sebagaimana mestinya, dan tadi aku melihat wajahmu bersinar terang." Ucap Selena dengan nafas terengah-engah lantaran habis berlari.
"Memang aku, Selena. Tapi, wajahku biasa saja. Wajahku tidak bercahaya seperti katanya. Bahkan sekarang pun, wajahku biasa saja." Ucap Daniel yang ingin mengelak.
"Jelaskan padaku, Dan... Aku bisa menerima semuanya. Bukankah kamu pernah berjanji untuk menjelaskan semuanya padaku?" Selena menggenggam tangan Daniel, sungguh ia menantikan dengan sepenuh hatinya.
__ADS_1
"Jangan membohongiku, Dan..." Lanjut Selena.
Sejenak, Daniel nampak melihat raut wajah Selena yang meminta penjelasan darinya.
"Baiklah... Ayo, kita duduk dulu, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu."
Daniel dan Selena pun kembali duduk di bangku yang sebelumnya telah ia tempati.
"Kita sudah duduk kan, jadi sekarang dengarkanlah aku, Selena."
"Iya... Aku akan mendengarkan." Selena menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya...." Jeda sejenak, Daniel membuang nafasnya perlahan. "Sebenarnya, aku ini malaikat, Selena. Aku bukan manusia. Aku ada di sini karena aku mendapatkan misi untuk menjagamu." Jelas Daniel perlahan, dan ia pun menatap wajah Selena yang nampak tak percaya.
"Malaikat?" Mata Selena membelalak, dan ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sebagai tanda betapa kagetnya ia mendengarkan penjelasan Daniel.
"Iya, Selena. Aku ini bukan manusia, juga bukan Setan. Aku adalah seorang malaikat, aku seorang pelayan yang melayani Sang Maha Tinggi. Aku di sini untuk menjagamu. Misi yang aku terima adalah menjagamu, memastikan kau aman dan bahagia. Menghapus air matamu, dan memberi kebahagiaan dalam hidupmu."
"Akan tetapi, bagaimana itu mungkin? Itu berarti kita berbeda dunia?"
"Semuanya mungkin dalam ketetapan Tuhan, Selena. Yang tidak mungkin bagi manusia, itu justru mungkin bagi Tuhan. Buktinya sekarang aku ada bersamamu. Sekian lama aku telah menjagamu. Jadi, kau bisa melihat yang tidak mungkin bagi manusia, itu sangat mungkin bagi Tuhan. Hmm, setidaknya aku sekarang lebih lega karena aku tidak perlu menyembunyikan identitasku lagi kepadamu." Ucap Daniel sembari memandang Selena yang seolah masih tidak percaya.
Selena pun terus-menerus memandang Daniel. Sungguh, ia tak percaya dan tak mengira, Daniel yang selama ini bersamanya adalah seorang malaikat.
***
Dear All,
Mampir ke karya teman aku ya..
Kekasihku Kekasih Ibu Tiriku karya Mama Reni
__ADS_1