Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Satu Payung


__ADS_3

Hari semakin sore, cuaca yang semula panas tiba-tiba mendung gelap. Angin bertiup sedikit kencang, pertanda hujan akan turun dengan derasnya. Pria yang tengah berdiri di balkon setelah merawat bunga-bunganya itu mulai berdiri mengenakan hoodie berwarna abu-abunya, dan mulai berjalan menuju halte pemberhentian bus yang jaraknya tidak jauh dari apartemennya.


Ya, pria itu adalah Daniel. Beberapa waktu sebelumnya, dia mencoba menghubungi Selena dengan handphonenya, tapi panggilannya tak terjawab. Karena mengingat hujan akan segera turun dan tidak ada kabar dari Selena, Daniel berinisiatif untuk menunggunya di halte pemberhentian bus kota.


Daniel keluar dari apartemennya dan berjalan menuju halte, dalam perjalanan itu tiba-tiba hujan turun. Segeralah ia membuka payung digenggamannya. Memakai payung itu untuk melindungi diri dari guyuran air hujan. Daniel mempercepat langkah kakinya. Sebelum sampai di halte, dia melihat Selena yang tengah berlari dengan mengangkat hand bag nya di atas kepalanya. Dengan segera, Daniel mempercepat langkah kakinya, dan gadis itu kali ini telah berada satu payung dengan Daniel.


Gadis itu nampak kaget ketika tiba-tiba ada orang yang memakai payung berdiri di depannya. Ia lalu menurunkan hand bag dari atas kepalanya, perlahan-lahan mendongakkan kepala ke atas, mata mereka bersitatap satu sama lain. Tiba-tiba saja senyuman mengembang di wajah Selena.


"Daniel.... Kenapa kau bisa berada di sini?"


Masih dengan raut muka seakan tidak percaya melihat Daniel memakai payung dan berdiri di depannya.


"Aku mengkhawatirkanmu. Sejak tadi aku mencoba menghubungimu, tapi kamu sama sekali tidak mengangkat teleponmu. Karena itulah aku kemari. Aku berniat menunggumu di halte bus itu, kupikir kamu akan pulang dengan naik bus. Dan, sekarang hujannya deras."


Selena tak membayangkan bahwa Daniel lagi dan lagi begitu perhatian padanya. Lalu ia segera mengambil handphone di tasnya, ia berniat mengecek apakah benar Daniel menghubunginya. Terdapat beberapa panggilan dan pesan di handphonenya itu.


"Sorry Daniel, sejak tadi handphone ku dalam mode hening. Bahkan seharian, baru kali ini aku memegangnya. Sorry. Aku baru tahu kalau kamu menelpon dan mengirimiku pesan." .


Selena mengatakan hal yang sesungguhnya, dia hanya berpikir untuk menjawab wawancaranya dengan sebaik mungkin, setelah itu insiden kecil terjadi saat ia keluar dari lift, bertemu pria dingin yang membuatnya justru memikirkan Daniel, lalu menaiki bus dalam suasana hujan. Dia benar-benar melupakan handphone di dalam tas nya.


"Tidak apa-apa Selena, tenang saja. Hmm, tetapi lain kali kalau aku menghubungimu tolong jawab teleponku. Kalau aku mengirimimu tolong balas pesan itu. Karena.... karena aku mengkhawatirkanmu."


Selena memandangi wajah Daniel, guyuran hujan yang deras seolah-olah menyembunyikan keduanya dari sekitarnya. Dia tidak menyangka bahwa Daniel mengkhawatirkannya. Apakah yang dia dengar barusan tidak salah?


"Ehm... iya Daniel. Aku akan menjawab teleponmu dan membalas pesanmu. Sekali lagi, maaf."


"Tidak apa-apa Selena, yang penting sekarang kamu sudah ada di sini. Dan, aku senang bisa menemukanmu di sini."


Ucap Daniel sembari mengelus puncak kepala Selena.

__ADS_1


Sementara Selena hanya berdiri mematung melihat Daniel. Hatinya yang selama ini membeku, perlahan-lahan menjadi hangat sejak bertemu Daniel. Meskipun belum lama mengenal, rasanya semua sikap dan perhatian yang Daniel berikan sungguh-sungguh tulus.


Gadis yang selama 25 tahun tidak pernah merasakan cinta ini pun, perlahan-lahan dengan pasti merasakan sekuntum bunga yang merekah di hatinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang pria datang dengan penuh kelemah-lembutan.


"Terima kasih Daniel." Ucap Selena dengan sungguh-sungguh.


"Sama-sama Selena, ayo kita sembari berjalan pulang. Hujannya semakin deras, segera sampai di rumah lebih aman."


Lalu, keduanya pun berjalan beriringan dalam satu payung. Daniel memberikan ruang lebih banyak untuk Selena di bawah payung di kala hujan itu. Daniel membiarkan bahu sebelah basah, asalkan Selena tak kebasahan. Inilah caranya untuk melindungi Selena.


"Bagaimana wawancaranya tadi? Kamu bisa menjawab semuanya kan?" Tanya Daniel kepada Selena yang berjalan disampingnya.


"Lumayan sih, walau aku tadi merasa grogi, tapi bersyukurnya bisa menjawab pertanyaan yang diberikan."


"Lalu, kapan pengumuman penerimaannya?"


"Kurang tahu, mereka hanya mengatakan akan mengirimkan email dan menghubungi secara pribadi."


"Hmm, iya. Kuharap begitu."


Keduanya berjalan dalam satu payung menuju ke apartemennya. Hujan yang sangat deras akhirnya membuat Daniel dan Selena untuk berteduh sejenak. Di amperan rumah pertokoan keduanya kini berteduh padahal jarak menuju apartemennya tinggal sekian meter.


Mereka berdiri bersebelahan menuju hujan tidak terlalu deras, dan keduanya akan kembali berjalan menuju apartemen. Langit yang gelap tiba-tiba mengeluarkan petir dengan suaranya menggelegar. Selena sontak memejamkan matanya dan menutup telinganya ketika gemuruh petir menggelegar.


"Kau takut Selena?"


Daniel menolehkan pandangannya kepada Selena.


"Hmm, iya. Sedikit."

__ADS_1


"Itu wajar, karena memang banyak orang takut dengan petir."


"Iya. Kalau hujan biasa sih aku tidak takut, tapi begitu petir itu datang rasanya aku menjadi takut."


"Kenapa bisa begitu?"


"Mungkin sewaktu aku masih kecil, Ayah dan Ibu sering bertengkar, di hujan dengan petir seperti ini aku merasa sendirian. Ya, perasaan ditinggalkan sendirian membuatku takut."


Selena kembali mengenang memorinya sewaktu kecil dulu, saat kedua orang tua yang seharusnya melindunginya justru sering meninggalkannya.


"Sekarang jangan takut lagi Selena. Karena itu hanya petir, percayalah ada malaikat yang menjagamu kapanpun dan di mana pun."


"Malaikat penjaga?"


"Iya, walau dia tidak terlihat tapi dia ada untuk menjaga manusia selamanya."


Selena mulai memahami setiap perkataan Daniel. Andai saja malaikat penjaga itu terlihat, Selena akan jauh bersyukur karena dia akan mengetahui dengan pasti ada orang yang berada di sisinya untuk menjaganya.


"Hmm, iya."


Wajah Selena tersenyum dengan tangannya terulur merasakan setiap tetesan air hujan. Terasa dingin seperti hatinya, tapi hujan pun dinanti-nantikan semua makhluk. Begitu hujan selesai, air akan menjadi penuh, bunga-bunga akan bersemi. Kiranya hujan kali ini juga menyemikan satu bunga di hatinya.


"Agaknya hujan mulai reda. Mau jalan kaki sekarang?"


Daniel menawarkan untuk kembali melanjutkan perjalanan kaki menuju apartemen karena guyuran hujan mulai mereda.


"Iya, boleh. Keburu malam."


Selena mengangguk dan mulai bersiap berjalan kaki bersama Daniel dalam satu payung.

__ADS_1


Akhirnya keduanya kembali berjalan kaki dalam satu payung. Menerjang setiap tetesan hujan yang turun, melangkah bersama. Selena begitu tenang saat itu, biasanya saat hujan dan petir datang, dia begitu sedih. Bayang-bayang pertengkaran kedua orang tua dan perasaan ditinggalkan sendiri kini memudar. Andaikan sehabis ini, Sang Pencipta membuat satu tangkai bunga saja bersemi di hatinya. Gadis itu akan sangat bersyukur.


__ADS_2