Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Laporan Pertama Daniel


__ADS_3

Daniel membuka handphone nya dan berkeinginan melaporkan apa yang ia alami di kebun yang bernama Bumi ini kepada Tuannya. Akan tetapi, ia berniat mengirimkan potret Selena terlebih dahulu kepada Tuannya untuk memastikan bahwa dialah Selena yang harus dia jaga.


"Tuan, saya sudah sampai di kebun Anda. Apakah gadis ini Selena yang Tuan maksud? Jika benar, kasihan gadis ini, pertama saya bertemu dengannya dia tertabrak mobil dan wajahnya lebam mungkin karena pukulan seseorang. Saya juga menerima telepon dari handphone gadis ini, telepon itu dari ayahnya. Keliatannya ayahnya juga berlaku kejam kepada gadis ini, Tuan. Apabila Tuan bisa melihat semua ini, tolong kasihanilah Selena, Tuan. Dan yang terpenting sekarang, biarlah dia segera sadar." Tutup Daniel dalam laporan pertamanya.


Tidak lama kemudian, terdapat balasan dari laporan Daniel, dan itu adalah dari Tuannya.


"Ya benar Daniel, dialah Selena. Kau harus menjaga gadis itu. Tenanglah Daniel, esok pagi gadis itu akan sadar. Ketika kalian keluar dari rumah sakit, pergilah ke alamat berikut, di tempat inilah kau bisa tinggal selama di kebun-Ku itu. Jagalah dia, Daniel."


Ahh, iya Daniel sadar bahwa di kebun ini dia memang membutuhkan tempat tinggal. Lagipula, bukankah tempat ini sangat asing baginya. Untung Tuannya sudah mempersiapkan semuanya, jadi Daniel tidak merasa kerepotan sendiri. Bahkan untuk tempat tinggalnya pun, Tuannya sudah menyediakannya. Sekalipun dia belum tahu sama sekali seperti apa tempat tinggal yang disediakan oleh Tuannya, ia hanya percaya bahwa Tuannya pasti menyediakan yang terbaik baginya.


"Terima kasih, Tuan. Anda benar-benar baik." Kata Daniel dalam hati, ia berterima kasih untuk kebaikan yang selalu ia terima dari Tuannya itu.

__ADS_1


"Aku akan menunggu hingga gadis ini bangun, semoga benar seperti yang dikatakan Tuan bahwa esok pagi Selena akan bangun. Dan, aku sungguh-sungguh bersyukur karena gadis yang harus kujaga sudah berada di depanku. Mungkin ini semua memang sudah diatur oleh Tuanku, sehingga tanpa menunggu waktu lama aku sudah menemukannya." Gumam Daniel dalam hati.


Daniel beranjak dari tempat duduknya di sebelah brankar Selena, ia berjalan menuju ke jendela yang berada di kamar itu. Ia membuka sedikit tirai-tirai berwarna cokelat yang tergantung di jendela itu. Lalu, ia melayangkan pandangannya kepada pemandangan yang ada di sekitarnya. Suasana malam yang dipenuhi dengan lampu-lampu, gedung-gedung yang dibangun menjulang tinggi, dan berbagai kendaraan seperti motor dan mobil yang silih bergantian. Pemandangan yang tidak pernah ia lihat selama menjaga kebun bunga Edenweis.


"Hmm, baru sesaat aku di sini, aku sudah merindukan kebun Edenweis. Melihat bunga tumbuh dan bermekaran dalam semua jenis dan warnanya, mencium semerbak bau tanah, memberikan pupuk untuk semua tanaman, dan memangkas ranting-ranting yang kering. Aku merindukan kebun bunga itu. Besok bila gadis itu sadar, aku akan menanam bunga di rumah yang sudah Tuan sediakan untukku. Bagaimanapun bunga-bunga yang indah selalu menyejukkan hatiku. Bunga-bunga yang akan selalu mengingatkanku pada Kebun Bunga Edenweis, dan semoga aku tidak terlalu lama di sini. Supaya aku bisa kembali ke Edenweis."


Setelah itu, Daniel menutup tirai jendela itu dan kembali duduk di sisi Selena. Dia harus benar-benar memastikan gadis itu segera sadar. Oleh karena itulah, sepanjang malam Daniel duduk menunggui Selena yang masih belum tersadar.


"Ja.... Jangan Ayah. Selena tidak mau. Lepaskan Selena Ayah. Jangan.... Ayah.... Sakit... Sakitttt...." Dan air matanya berlinang dengan sendirinya dari sudut matanya.


Daniel nampak kebingungan, tetapi karena gadis itu tidak menggerakkan tubuhnya, jadi Daniel berpikir mungkin gadis itu sedang mengigau dalam tidurnya.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Selena kembali mengigau lagi, kali ini dengan isakkan tangis yang terasa menyayat hati.


"Saa.... sakiiittt Ayah. Sakiiittt.... Jangan pukul Selena, Ayah."


Daniel hanya diam memperhatikan gadis di depan nya, dalam hatinya ia mengira bahwa gadis ini sangat-sangat kesakitan, sehingga dalam alam bawah sadarnya pun ia merasakan sakit. Daniel menatap lekat-lekat wajah gadis itu, tangan bergerak mengelus puncak kepala gadis itu.


"Tenanglah Selena... malaikat penjagamu ada di sini. Aku akan menjagamu Selena." Ucap Daniel dengan lirih.


Hati Daniel semakin teriris perih melihat luka lebam di area pipi dan sudut bibir Selena. Ia membayangkan betapa sakitnya luka itu, siapa yang berani menyakiti seorang gadis?


Apabila mendung dapat tergantikan dengan awan cerah, Daniel pun berharap semua duka dan kepahitan hidup yang dihadapi gadis yang masih tergolek tak sadarkan diri di atas brankar ini pun akan segera berlalu. Kiranya Sang Pencipta memberikan sedikit pelangi, setelah hujan datang. Sehingga sedikit kebahagiaan akan bisa dirasakan Selena. Dengan ketulusan hatinya, Daniel sungguh mengharapkan sedikit kebahagiaan bagi Selena.

__ADS_1


__ADS_2