Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Mengolah Perasaan


__ADS_3

Saat orang sedang patah hati, cara terbaik yang kita lakukan adalah memberi waktu untuk diri sendiri. Dan, Selena tengah melakukan itu, memberi waktu untuk dirinya sendiri. Mengolah kembali bagaimana perasaannya dan menata hati untuk melangkah hari esok.


Ketika selesai lembur kerja malam ini, Selena merapikan semua meja kerjanya, mematikan Personal Komputernya, dan mengecek file-file yang akan kembali ia kerjakan esok pagi. Setelah selesai, ia pun menuju ke lift untuk turun ke lobby, dan akan berjalan menuju halte bus yang jaraknya tidak jauh dari depan kantornya.


Ketika ia tengah berada di dalam lift menunggu pintu tertutup, rupanya ada seseorang yang menghalangi pintu itu, dan orang itu tidak lain adalah Dexter. Pria itu rupanya juga memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Loh, Pak Dexter? Bapak juga pulang?"


"Iya, saya juga mau pulang."


"Oh, saya kira Bapak masih mau lembur kerja."


"Tidak, saya bisa lanjutkan besok pagi saja, sama seperti kamu. Kamu pulangnya malam ini gimana?"


"Ah, saya mau naek bus kota Pak."


"Hem, gimana kalau saya antar kamu pulang karena ini sudah malam?"


"Tidak Pak. Tidak perlu. Terima kasih."


Selena tetap menolak tawaran dari Dexter, baginya adalah tidak professional berhubungan dengan atasannya untuk hal di luar pekerjaan. Itu justru akan menimbulkan kabar tak sedap dan bisa berdampak pada kariernya di Buana Corp. yang masih seumur jagung.

__ADS_1


"Kamu menolakku ya Selena? Bukankah aku tadi sudah bilang di luar kantor ini kita bisa berteman." Ucap Dexter dengan nada dinginnya.


"Maaf Pak, bagaimanapun saya belum bisa untuk berteman dengan Bapak."


"Hem, baiklah kalau kau menolakku. Tapi, aku tidak akan menyerah untuk berteman denganmu."


Selena hanya diam, dia berharap lift itu segera mengantarkannya ke lobby, supaya dia bisa terlepas dari atasannya yang bersikap sangat aneh itu.


Saat yang dinanti pun tiba, Selena segera keluar dari lift, dan tentunya ia masih berpamitan dengan Dexter.


"Saya duluan ya Pak Dexter, selamat malam." Gadis itu berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dexter yang masih berdiri di dalam lift.


Di sisi lain, Selena merasa lebih tenang karena ia berhasil terlepas dari atasannya itu. Ia berjalan dengan tenang menuju halte bus di depan kantornya. Suasana jalanan masih ramai, dan saat Selena sedang berjalan tiba-tiba saja gerimis. Titik-titik air dari langit berjatuhan dengan lembut diiringi hembusan angin yang menerpa badannya.


"Hem, setiap kali aku ingin naek bus kenapa hujan sih? Apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui cuaca malam ini? Jangan-jangan karena aku sedang patah hati, Tuhan kembali mengirimkan hujan supaya hatiku terasa dingin. Sungguh lucu." Selena bergumam dalam hatinya, dia merasa lucu dengan hujan yang selalu turun saat ia tengah berkeinginan naek bus dan menghindar dari Daniel.


Selena membuka tasnya, dia mengambil handphone nya, lalu dia melihat terdapat beberapa panggilan dan pesan dari Daniel di sana.


[Selena, kamu pulang jam berapa aku jemput?]


[Selena, ini sudah malam, kamu pulang jam berapa?]

__ADS_1


[Ini di rumah hujan, kamu masih belum pulang?]


[Selena, balas pesanku dong.]


Selena tersenyum membaca setiap pesan dari Daniel, dari pesannya pun Selena merasa bahwa Daniel tetap memperhatikannya. Hanya saja, Selena yang kebingungan harus bersikap seperti apa di hadapan Daniel. Dikatakan canggung sudah pasti, dikatakan benci dia tidak membenci Daniel, perasaan yang sungguh-sungguh aneh.


Sembari menunggu bus datang, Selena mencoba menata kembali hatinya. Untuk bersikap normal kepada Daniel jauh sebelum dia menyatakan perasaannya tentu akan tidak mudah baginya. Jika menjauh, justru dia merasa sakit karena sudah berbuat tidak benar kepada Daniel yang sejauh ini sudah banyak membantunya. Bahkan Selena benar-benar bisa merasakan ketulusan dari Daniel.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Menjauhinya itu tidak mungkin. Bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa juga sulit. Ya ampun, apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? Beri aku petunjuk untuk bisa membuat pilihan dengan benar. Aku percaya bahwa semua terjadi dalam kehendak-Mu. Yang menurutku baik itu belum tentu baik bagi-Mu, tetapi yang baik bagi-Mu, itu pasti yang terbaik bagiku.


Aku sungguh bingung Tuhan, jika bisa beri sedikit ketenangan saja pada hati dan jiwaku, karena aku tahu Tuhan dekat dengan orang-orang yang patah hati dan remuk hatinya. Doa Selena dalam hati, dia sungguh-sungguh meminta Tuhan memberi ketenangan untuk hatinya.


Lamunan Selena hilang, saat bus kota yang akan dinaiki Selena telah tiba. Selena segera menaiki bus itu, karena sudah lebih dari jam pulang kerja, maka bus nampak lengang, tidak penuh seperti biasanya. Gerimis yang turun rintik-rintik membuat hati Selena menjadi dingin. Dia duduk mengarahkan pandangannya ke sepanjang jalanan yang dia lalui. Kendaraan yang masih berlalu lalang, gedung-gedung tinggi yang bersinar dengan lampunya. Sekalipun malam masih ramai, tapi Selena merasa tenang. Mengingat perasaannya yang sudah tenang, dia membuka kembali handphonenya dan membalas pesan dari Daniel.


[Sorry baru bales Daniel, seharian aku sangat sibuk sampai aku tidak bisa memegang handphone. Aku akan pulang, aku sudah di dalam bus. Tidak lama lagi aku akan sampai.]


Minimal Selena sudah mengatakan bahwa dia akan pulang, sehingga Daniel tidak mengkhawatirkannya lagi. Pemberhentian bus pertama, Selena mulai mempersiapkan dirinya untuk turun di pemberhentian bus selanjutnya. Selang lima menit, bus telah sampai di pemberhentian kedua, dan Selena turun di halte bus ini.


Begitu pintu bus terbuka, Selena turun dari bus. Gerimis masih turun, dan di halte itu cukup sepi mungkin karena hampir jam 9 malam, sehingga memang sudah sepi. Selena telah berada di dalam halte, dia melihat tetesan air hujan yang turun, gerimis cukup lembut, hanya buliran-buliran air yang disertai hembusan angin. Dengan ketetapan dia akan berjalan lebih cepat menuju apartemen Daniel. Gadis itu mulai mengeratkan tas di bahunya, dan dia siap berjalan cepat. Gadis yang masih menunduk itu, mengangkat wajahnya, membuang nafasnya perlahan. Saat dia mengangkat wajahnya, matanya mendapati Daniel berjalan ke arahnya. Pria itu lagi-lagi menjemput Selena ke halte bus.


"Aku menjemputmu Selena. Aku senang akhirnya kamu pulang." Ucap Daniel dengan membawa payung besar berwarna merah yang warnanya sangat mencolok itu.

__ADS_1


__ADS_2