
Mendapatkan sebuah misi baru dengan durasi waktu yang ditentukan membuat Daniel harus berpikir keras, dan ia pun kembali ragu apakah ia akan berhasil menemukan tulang rusuk untuk Selena.
"Tulang rusuk? Yang benar saja, di mana aku harus mencarinya? Lagipula tulang rusuk seperti apa yang tepat untuk Selena?" Daniel bergumam dalam hatinya sembari matanya menatap kosong hamparan bunga di depannya.
Di dalam anatomi tubuh manusia, tulang rusuk merupakan tulang penting yang melindungi jantung, paru-paru, hati, dan organ lainnya di dalam rongga dada agar aman. Begitu pentingnya tulang rusuk, hingga pasang hidup kita pun disebut dengan "tulang rusuk." Lantaran, pasangan hidup kita lah yang akan melindungi hidup kita setiap waktu. Tidak membiarkan kita tersakiti, karena mereka ada untuk melindungi kita.
Daniel memijat pelipisnya, ke mana ia harus mencari dan menemukan tulang rusuk itu. Tiba-tiba saja Daniel teringat bagaimana Selena pernah mengatakan perasaannya kepadanya beberapa hari yang lalu.
"Jika tempo hari, Selena pernah mengatakan perasaannya kepadaku, apakah aku boleh menerimanya? Akan tetapi, bukankah itu tidak boleh. Pada kenyataannya hanya manusia yang boleh bersanding dengan manusia, sementara aku ini bukan manusia. Ya, aku yakin... Aku tidak akan bisa bersanding dengan Selena, karena aku bukan manusia. Aku hanya makhluk yang melayani, aku tidak bisa menentukan kehendak diriku sendiri, karena aku hanya pelayanan. Sementara Selena diciptakan dengan kehendak. Jadi, aku harus memulai misi dari mana?"
Suara hati dan raut muka Daniel, dapat dilihat oleh Tuannya.
"Jangan berpikir kau akan memulai dari mana Daniel. Cukup mulailah. Saat kamu memulai, perlahan-lahan semua pintu akan dibukakan, alam semesta akan memberimu petunjuk. Jangan khawatir, kau akan menyelesaikan misi ini." Sahut Tuannya yang memperhatikan Daniel dengan sorot matanya yang tajam.
"Iya Tuan. Saya hanya berpikir bahwa tulang rusuk dalam tubuh kita saja begitu penting, ia melindungi jantung, hati, paru-paru, dan organ vital lainnya. Jadi saya kira tugas mencari tulang rusuk ini sangat penting. Jika salah memilih, maka penyesalannya bisa sampai seumur hidup. Kasihan Selena bila menemuka tulang rusuk yang salah." Daniel mengatakan dengan kesungguhan, memang perihal mendapatkan pasangan bukan hal yang mudah. Terlebih pasangan yang tulus mencintai dan menerima apa adanya, diperlukan waktu untuk menemukan sosok seperti itu. Dan, masihkah ada pria yang bisa dikatakan tepat untuk mengisi hari-hari Selena dengan cinta?
"Kau memang benar Daniel. Tulang rusuk itu sangat penting, karena itu pasangan hidup manusia disebut dengan tulang rusuk. Sosok yang akan menjadi pelindung bagi pasangannya. Memang waktu yang akan membuktikan apakah setiap manusia telah bersama pasangan mereka yang tepat, tetapi jangan khawatir masih banyak cinta dan kasih sayang yang tulus dari manusia untuk manusia lainnya di luar sana."
__ADS_1
"Ah, iya Tuan. Aku percaya. Semoga kali ini pun, aku bisa menemukan tulang rusuk yang tepat untuk Selena. Sehingga saya dapat meninggalkannya dengan perasaan lega, tanpa ada rasa bersalah. Sebab, saya sendiri akan menjadi orang yang paling merasa bersalah apabila terjadi hal-hal yang buruk dalam hidup Selena."
Daniel mengusap wajahnya perlahan, dia bahkan selalu mengingat wajah gadis itu. Seolah-olah wajah itu telah terpatri dalam hatinya, bahkan saat berbicara dengan Tuannya, beberapa kali ia menyebut nama Selena dan sekaligus ia merasa lega, karena bisa mengatakan isi hatinya tanpa perlu khawatir karena Tuannya pasti mendengarkannya.
Di dalam hatinya yang terdalam, Daniel tulus berharap Selena akan mendapatkan cinta yang tulus menyayangi dan menerimanya apa adanya. Daniel pun tahu, Selena memiliki sisi dingin dalam hidupnya, semoga tulang rusuknya kelak adalah sosok yang hangat, sehingga dapat melengkapi Selena. Ia pun merasa bertanggung jawab atas hidup Selena saat ini, maka dari itu Daniel tidak ingin merasa bersalah karena ada kegagalan dalam menjaga Selena. Selama ia masih mendapatkan misi itu, ia akan menjalankannya dengan sebaik mungkin.
Memikirkan "tulang rusuk" tiba-tiba saja Daniel teringat kepada Dexter. Entah hanya perasaan atau keyakinan, Daniel merasa Dexter memiliki rasa untuk Selena. Bagi Daniel, Dexter memang pria yang dingin, orangnya pun terasa membosankan. Namun, gelagatnya saat ia mengutarakan ingin berteman dengan Selena membuat Daniel memikirkan satu hal, "Apakah Dexter menyukai Selena? Bagaimana jika aku mengatur waktu untuk keduanya semakin dekat? Minimal dekat terlebih dahulu, jodoh atau tidak itu urusan belakangan. Lagipula, Dexter adalah orang yang aku kenal selain Selena tentunya di Bumi."
Ya, kali ini Daniel yakin akan mencoba mengatur waktu untuk Dexter dan Selena.
"Menyatukan dua orang yang sangat berbeda mungkin bisa alternatif yang bagus bukan? Aku hanya perlu mencobanya. Menarik diri dari sisi Selena, dan menempatkan Dexter di sisinya. Tapi, aku tidak boleh gegabah. Bagaimana pun aku tak ingin menyakiti Selena." Gumam Daniel dalam hatinya dan ia merasa mendapatkan jawabannya, semoga kali ini pemikirannya benar, dan langkah yang akan ia ambil pun adalah langkah yang tepat.
Di sisi lain, Selena hari ini kembali bekerja. Sekalipun hatinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia membawa dirinya dengan sebaik mungkin. Ia ingin suasana hatinya tidak mempengaruhi performa kinerjanya. Selena berangkat ke kantor seperti biasanya, hanya saja kali ini dia tidak membawa kotak bekalnya, lantaran koki pribadinya yang terbiasa memasak untuknya tengah pergi, ya Daniel masih belum kembali. Karena itu, Selena pun enggan memasak hanya sekadar untuk mengisi kotak bekalnya.
Makan siang kali ini, dia bersama Putri akan memakan siang bersama di kantin perusahaan.
"Putri, makan siang barengan yuk. Udah jam istirahat ini." Panggil Selena kepada temannya yang berada di Divisi Finansial.
__ADS_1
"Yuk... Aku juga sudah laper banget. Kantin kan?" Sahut Putri.
"Iya, kantin aja. Aku pengen gado-gado yang dijual di kantin itu." Kata Selena sembari membayangkan betapa enaknya gado-gado yang dijual di kantin perusahaannya.
Keduanya pun berjalan bersama menuju ke kantin perusahaan. Selena memesan gado-gado dan es teh, sementara Putri pun juga memilih menu yang sama dengan Selena.
"Aku kangen sama kamu loh, Sel. Udah lama kita gak ketemu. Jadi sekretarisnya Pak Dexter pasti membuatmu sibuk banget ya? Sampai sehari-hari kamu gak pernah keluar dari ruangan." Ucap Putri dengan wajah sendu. Sebab temannya ini seolah-olah tidak pernah terlihat di perusahaannya. Mereka berada dalam satu perusahaan, tapi nyaris tak pernah bertemu.
"Iya, kerjaannya memang banyak banget sih, Put. Kadang aku sampai gak bisa keluar makan siang, jadinya aku sering bawa kotak bekal deh." Sahut Selena sambil menganggukkan sedikit kepalanya.
"Ya ampun, kamu masih kayak anak sekolahan aja sih yang bawa kotak bekal." Nampak senyuman mengejek kali pun tergambar pada wajah Putri.
"Hem, abis gimana lagi. Dari pada aku enggak makan seharian, malahan perutku sakit, aku bisa lemes dong. Nanti ujung-ujungnya malahan gak bisa kerja. Jadi paling aman memang bawa kotak bekal sih."
"Kerja ya kerja, tapi istirahat juga istirahat dong, Sel. Kan work hard play hard. Jangan bekerja terlalu keras." Putri memberi nasihat untuk Selena, dan Selena pun paham bahwa ucapan temannya itu ada benarnya. Terkadang ia terlalu serius bekerja hingga tidak menghiraukan waktu untuk istirahat.
"Iya Put. Makasih ya nasihatnya. Mulai sekarang aku juga akan pikirkan waktu istirahat juga kok. Thanks ya..."
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Itu baru temen aku." Balas Putri.
Begitulah sebuah pertemanan, saling mendukung, saling mengingatkan. Seperti Putri dan Selena, sekalipun jarang bertemu, keduanya tetap saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain.