
"Selena.... Selena.... Benarkah dia gadis yang dimaksud oleh Tuan?"
Daniel membuang nafasnya perlahan, dengan tangan yang masih memegang kartu tanda pengenal dengan nama Selena itu. Dia seolah tak percaya pertemuan pertamanya dengan gadis bernama Selena dalam situasi di antara hidup dan mati gadis itu.
"Jika kau benar-benar Selena yang dimaksud oleh Tuanku, tolong bertahanlah. Tetaplah hidup, karena kau akan merasakan sedikit kebahagiaan, seperti permohonanmu." Gumam Daniel dalam hatinya.
Tidak lama seorang perawat memanggil Daniel, "Tuan, silakan ikuti saya untuk mengurus administrasinya."
"Ya." Jawab Daniel singkat dan kakinya mengikuti seorang perawat di depannya.
Berbekal kartu tanda pengenal yang masih dipegangnya, Daniel mulai mengisi formulir data diri pasien. Ia mengisi dengan cekatan dan tak berlama-lama. Selena Kusuma, 25 Tahun, pekerjaan Karyawan, Alamat, hingga golongan darah semuanya diisi Daniel.
"Jika sudah diisi, berikut rincian pembiayaannya untuk pasien Tuan. Anda bisa membayarnya." Ucap petugas administrasi itu kepada Daniel.
__ADS_1
Daniel membuka tas yang masih dipegangnya, dikeluarkanlah sebuah ATM dari sana.
"Ini." Daniel menyerahkan ATM nya untuk membiayai perawatan gadis bernama Selena itu.
Selesai dengan administrasi, Daniel kembali ke ruangan tempat Selena dirawat. Dalam kamar perawat VIP, Selena dirawat dan itu sesuai dengan apa yang sudah dipilih Daniel di formulir pasien. Selena telah dipindahkan ke ruang operasi itu dengan telah menggunakan baju pasien, sementara beberapa selang menempel di tangannya.
Melihat Selena yang hanya berbaring dalam rasa kesakitan, Daniel menitikkan air matanya.
"Oh, sungguh kasihan. Pulihlah segera Selena. Rencana indah menunggumu di depan mata. Pulihlah Selena." Ucap Daniel sembari memandangi Selena yang terbaring dan tidak sadarkan diri.
"Bagaimana caraku menjagamu Selena? Menjaga bunga di kebun aku bisa, tapi untuk menjagamu bagaimana caranya?"
Daniel masih memikirkan cara untuk menjaga gadis di depannya, tiba-tiba terdengar suara getaran handphone dari tas gadis itu.
__ADS_1
Dreeettt...... Dreeeettttt...... Dreeettt.....
Daniel mengambil handphone dari dalam tas Selena dan terdapat panggilan dengan nama "Ayah" di sana.
"Ayah? Mungkinkah ini ayah gadis itu?" Aku akan menjawabnya.
Daniel menekan tombol hijau, dan ia baru akan bersuara, tapi orang yang menelpon dengan nama Ayah itu terlebih dahulu bersuara nyalang di sana.
"Halo Selena.... Di mana kau? Dasar gadis kurang ajar, bisa-bisanya kau lari meninggalkan ayahmu dan tidak memberikan uang sedikit padaku untuk membeli minum. Cepat pulanglah anak durhaka. Ayah tunggu segera!"
"Halo, maaf tapi Selena nya sedang sakit Pak." Daniel mulai bersuara menanggapi suara kasar ayah Selena.
"Aku tidak peduli anak itu sakit, yang penting aku hanya meminta uang padanya. Sampaikan kepada Selena, Ayahnya menunggunya memberikan uang!" Dan, Ayah nya pun mematikan panggilan itu sepihak.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Daniel terbelalak dengan situasi yang sedang ia hadapi, bagaimana mungkin seseorang yang menganggap dirinya sebagai ayah justru berkata kejam dan menyakiti anaknya sendiri. Bukankah itu sudah keterlaluan?
Daniel duduk di samping brankar tempat Selena berbaring dan memandangi gadis yang tidak sadarkan diri itu. "Sekeras apa hidup yang kau jalani? Mengapa kondisimu semengenaskan ini? Tolong, segeralah pulih Selena, Sadarlah. Dan ceritakanlah semua tentangmu padaku, bagikanlah kesedihanmu itu. Aku akan mendengarkan dan menjagamu Selena."