Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Ikutlah Denganku


__ADS_3

Daniel merasa hatinya begitu sedih melihat perlakuan seorang ayah kepada anaknya sendiri. Daniel tahu, pastikan Selena menderita tidak hanya badannya yang sakit dengan pukulan maupun tamparan, tetapi hatinya sakit dengan perkataan kasar ayahnya.


Melihat Selena yang berjongkok di atas jalan itu, Daniel ikut berjongkok pula. Dia sungguh kasihan kepada gadis itu.


"Tenanglah Selena. Tenangkan hatimu... Aku ada di sini. Tenanglah."


Daniel mencoba menenangkan Selena yang terisak-isak dalam tangisnya dan menepuk-nepuk punggung gadis itu.


Daniel masih berjongkok dan menunggu Selena untuk tenang. Dia hanya berjongkok dan sesekali menepuk punggung gadis yang terlihat rapuh dan kesakitan itu.

__ADS_1


"Kau akan masuk ke rumahmu atau akan terus berada di sini Selena?" Tanya Daniel kepada Selena yang mulai tenang dan tidak menangis, kendati air mata masih ada mengalir dari sudut matanya.


"Saya akan masuk ke rumah dulu." Sahut Selena dan mulai bangkit berdiri dan kakinya mulai melangkah menuju rumahnya.


"Setelah ini apa kegiatanmu Selena? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Daniel sembari mengikuti langkah kaki Selena menuju ke rumahnya.


"Saya tidak tahu, mungkin esok saya akan mencari pekerjaan baru."


Sungguh ironis bukan? Rumah yang menjadi tempat berlindung justru menjadi tempat penyiksaan dan itu dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya. Tidak ada kedamaian bagi Selena, yang ada hanya ketakutan. Sebab hampir setiap hari ayahnya pulang dalam pengaruh minuman keras. Jadi, hampir setiap hari ayahnya itu berkata kasar kepada Selena dan menampar wajah anaknya adalah hal biasa yang Selena dapatkan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ayahmu pulang lagi Selena? Apa dia akan kembali memukulmu?" Tanya Daniel dengan wajahnya penuh kecemasan.


"Hmmm, itu sudah biasa. Dari kecil saya sudah dipukuli ayah saya." Jawab Selena dan air matanya kembali berlinang.


"Keliatannya aku tak bisa meninggalkanmu di sini Selena. Aku khawatir apabila ayahmu datang dan kembali memukulmu."


"Tidak apa-apa, saya terbiasa dengan situasi seperti ini."


"Jangan mengorbankan dirimu sendiri Selena. Yang bisa menyelamatkan dirimu saat ini adalah dirimu sendiri." Perkataan Daniel mengingatkan Selena bagaimana selama ini dia hanya bertahan di dalam rumah, dengan segala carut-marutnya. Bertahan bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bertahan menerima perkataan kasar dan pukulan dari ayahnya. Bahkan Selena tidak pernah memikirkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena dia tidak memiliki siapa-siapa. Ibunya telah pergi lama dengan laki-laki lain, dan ayahnya lah satu-satunya orang yang dia miliki.

__ADS_1


"Kalau tidak di sini, saya harus berakhir di mana? Hanya ini satu-satunya tempat yang saya punya, saya tidak memiliki tempat lain untuk saya tuju." Tangis gadis itu kembali terisak.


"Jika kau mau, kau bisa ikut bersamaku, Selena. Aku akan menjagamu dan memastikan kau aman di sisiku." Perkataan Daniel penuh keyakinan dan selama dua hari mengenal Daniel, pria itu selalu bersikap sopan padanya. Tetapi, haruskah ia pergi bersama Daniel dan meninggalkan ayahnya sendirian?


__ADS_2