
Daniel menguatkan Selena dan mengajaknya untuk ikut dengannya. Daniel hanya merasa, dia harus menyelamatkan gadis itu. Tetapi, bagaimana pun keputusan ada di tangan Selena, ia tak ingin mendesak Selena yang sedang bersedih bahkan ketakutan.
"Jika kau mau, kau bisa ikut denganku. Aku akan menjagamu dan memastikan kau aman."
Hati Selena bergetar mendengar ucapan Daniel, baru kali ini ada orang yang mengatakan akan menjaganya dan memastikan dia aman. Orang tuanya tidak pernah mengatakan hal itu kepadanya. Telah lama ia menantikan kasih sayang yang utuh dan tulus dari orang tuanya, tetapi itu tidak pernah Selena dapatkan. Selena hanya terdiam dan berlinangan air mata.
"Tapi bagaimana dengan ayahku? Jika aku pergi dia akan seorang diri di sini." Sahut Selena yang justru memikirkan bagaimana keadaan ayahnya nanti.
__ADS_1
"Selena dengarkan aku, seorang bernama Lucille Bal pernah berkata, "Cintailah dirimu terlebih dahulu dan semua akan sejalan. Kamu benar-benar harus mencintai dirimu sendiri untuk menyelesaikan apa pun di dunia ini." Menurutmu apakah perkataan itu terasa egois? Tidak, karena kita memang harus memikirkan diri kita sendiri, bagaimana pun diri kita sendiri berharga. Banyak orang berkata bahwa mengorbankan diri untuk orang lain itu mulia, tapi mereka tidak tahu bagaimana menderitanya kita saat kita telah mengorbankan diri kita sendiri." Ucap Daniel yang berusaha menjelaskan kepada Selena pentingnya memikirkan dan mencintai diri sendiri, kebahagiaan itu harus didapatkan tanpa harus mengorbankan dirinya lagi dan lagi. Sebab, Daniel tahu bahwa Selena memiliki luka yang dalam, tidak hanya fisik tapi secara mental dia pasti ketakutan melihat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk hampir setiap hari, dan mendapatkan tamparan di wajahnya.
Selena nampak memikirkan ucapan Daniel, dia justru melihat hidupnya selama ini, rasanya ia tidak benar-benar mencintai dirinya sendiri. Ia hidup untuk keluarganya, untuk ayahnya satu-satunya keluarganya saat ini. Apa saja yang ia lakukan untuk memberikan uang ayahnya dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selena memang bukan kepala rumah tangga, tapi justru dialah yang bertanggung jawab untuk membiarkan dapur rumahnya terus mengepul.
"Tapi bagaimana dengan ayah saya? Jika saya satu-satunya keluarganya, satu-satunya anak pergi darinya, siapa yang mau hidup dengannya? Ibuku sendiri sudah lama meninggalkannya selama belasan tahun. Dan, selama itu pula hanya saya yang bersama dengan ayah saya." Selena menyahut ucapan Daniel, mau bagaimana pun ayahnya, dia tetaplah ayahnya. Fakta bahwa ayahnya seorang pemabuk dan juga kejam tak bisa dihapus begitu saja. Bagaimana ia ada di dunia ini karena ada seorang yang bernama ayah itu.
"Jangan takut, sesekali kau bisa mengunjungi ayahmu, Selena. Jadi, kau tidak meninggalkannya begitu saja. Kapanpun kau mau ke sini, datanglah. kunjungilah ayahmu." Sahut Daniel.
__ADS_1
"Saya tidak mau ikut dengan Anda dengan cuma-cuma. Pekerjakanlah saya saja."
"Apa? Mempekerjakanmu?" Mata Daniel pun mulai terbelalak, ia tak percaya dengan perkataan Selena yang barusan ia dengar.
"Iya, karena saya tak mau tinggal dengan gratis." Sahut Selena.
"Hmm, baik.... Baiklah aku akan mencarikan pekerjaan untukmu di rumahku." Ucap Daniel dengan ragu, Daniel berpikir pekerjaan seperti apa yang bisa dikerjakan Selena di rumahnya, padahal ja sendiri belum tahu seperti apa rumahnya. Sebab belum pernah sekalipun ia mengunjungi rumah yang disediakan Tuannya itu. Yang ia datangi dalam 2 hari ini hanyalah rumah sakit dan hari ini ke rumah Selena, semoga ia benar-benar bisa memberikan pekerja untuk Selena di rumahnya.
__ADS_1
"Saya akan mengemasi barang saya. Tolong tunggu sebentar." Selena kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengambil beberapa pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam tas. Selena mengamati setiap sudut kamarnya yang sudah ia tempati dari kamar, yang memberikan banyak kenangan bagi hidupnya, kamar yang menjadi tempat pelariannya sejak kecil apabila kedua orang tuanya bertengkar. Kamar yang selalu ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya dengan mata sembab karena menangis hampir setiap harinya. Selena begitu sedih meninggalkan kamarnya yang sederhana itu.
Di dalam kamar sembali memasukkan pakaiannya ke dalam tas, kembali ia menangis membayangkan ayahnya harus hidup sendiri di rumah ini, tetapi benar kata Daniel sesekali ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Dan, kali ini Selena bertekad untuk memberi dirinya kesempatan untuk selamat. Benar, jika bukan kita yang menyelamatkan diri kita sendiri, siapa lagi? Orang yang benar-benar mengetahui diri kita bukanlah orang lain, tetapi diri kita sendiri.