
Tidak terasa sudah hampir seminggu, Selena bekerja di Buana Corp. ini. Seminggu memang masih waktu yang sangat singkat, sebagai staf baru tentunya Selena masih harus belajar sebaik mungkin dan menyelesaikan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin.
Dalam seminggu ini, Selena selalu diantar-jemput oleh Daniel. Malaikat penjaga yang semula penjaga kebun bunga, di Bumi dia bisa menjadi tukang kebun, tukang masak, dan seminggu belakangan dia menjadi layaknya supir pribadi yang siap mengantar Selena di pagi hari dan menjemputnya di sore hari. Semua itu Daniel lakukan karena memang tugasnya adalah untuk menjaga Selena.
Selena terkadang ingin naik bus kota waktu pulang, tetapi Daniel bersikeras untuk menjemputnya, dia tidak akan membiarkan Selena pulang kerja sendirian.
Di Perusahaan Buana Corp. kali ini Selena mendapat tugas untuk membuat rekapitulasi laporan keuangan, dari pagi Selena memfokuskan matanya pada tabel berderet-deret di PC nya. Dia mengerjakan dengan teliti, supaya tidak ada yang meleset. Semuanya dapat direkapitulasi dengan benar.
Hampir seharian, Selena mengerjakannya bahkan untuk makan siang pun harus ia santap di kubikalnya. Itu semua supaya pekerjaannya bisa selesai tepat waktu. Usai laporan rekapitulasi selesai, Selena diminta langsung menyerahkan laporan itu kepada Direktur yaitu Dexter Anthonius.
Setelah memastikan tidak ada kesalahan sedikit pun, Selena memberanikan dirinya untuk menyerahkan laporan itu kepada Direkturnya. Selena awalnya merasa tidak yakin, terlebih ada perasaan takut ketika ia melihat Direkturnya itu. Akan tetapi, karena pekerjaan ini mendesak, mama mau tidak mau dia akan menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan.
Selena melihat sekali lagi file-file yang sudah tercetak dengan rapi di genggaman tangannya, setelah itu perlahan ia berjalan menuju ruangan atasannya itu yang tidak terlalu jauh dari kubikalnya. Selena sudah berada di depan pintu atasannya itu, dia kembali melihat file dalam genggaman tangannya, membuang nafasnya perlahan, menenangkan hatinya, barulah ia mengetuk pintu di depannya.
Tookkkk.... Tookkkk.... Toookkkk....
"Masuk." Sahut orang yang berada di dalam ruangan.
Selena pun mulai memasuki ruangan Dexter.
"Siang Pak... Ini laporan rekapitulasi yang Bapak minta sudah saya kerjakan." Sembari tangannya menyerahnya file-file cetak itu kepada Dexter.
"Silakan duduk dulu. Saya akan cek sebentar. Kalau ada kesalahan supaya bisa langsung diperbaiki." Ucap Dexter dan dia menyilakan Selena duduk di kursi sofa di ruangannya.
"Hmm, iya Pak." Dengan sungkan Selena pun duduk menunggu hasil kerjaannya dicek oleh Dexter.
Dexter mulai mengecek satu per satu lembaran dokumen yang telah dikerjakan Selena. Sebagai Direktur yang memiliki tanggung jawab besar kepada CEO nya, dia memastikan tidak ada kesalahan. Terlebih sikapnya yang perfeksionis dia akan turun langsung memastikan tidak kesalahan kepada divisinya. Lebih-lebih Divisi Finansial yang merupakan motor Perusahaan, harus mendapat perhatian ekstra.
Sementara Selena duduk di sofa dengan perasaan tidak nyaman, dia hanya melihat sekelilingnya. Ruangan Direktur yang nyaman, tapi terasa kosong. Hanya ada dokumen-dokumen yang tersusun rapi di rak, tidak ada lukisan, foto, atau pun vas bunga. Puas melihat sekelilingnya, dia selebihnya hanya menunduk. Suasana hening, hanya suara jari yang membuka lembaran kertas yang terdengar.
__ADS_1
Akan tetapi, keheningan itu segera sirna setelah mendengar derap langkah kaki. Dexter beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di sofa, di hadapan Selena.
"Hem, rekapitulasinya sudah saya cek dan ini sudah tidak ada kesalahan di dalamnya. Terima kasih, Selena."
"Iya. Sama-sama Pak."
"Berapa lama kamu mengerjakan semua ini?"
"Kurang lebih 2 hari ini, Pak. Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, boleh saya kembali kubikal Pak?"
"Hemm, iya. Silakan."
Percakapan yang sangat canggung. Tetapi, kesempatan ini rasanya sudah cukup untuk Dexter. Dia memang penasaran kepada Selena. Tetapi, dia akan memanfaatkan kesempatan sedikit demi sedikit untuk lebih mengenal bawahannya itu. Dexter juga mengingat ada pria lain yang beberapa hari lalu menjemput Selena pulang, jadi dia tak ingin gegabah. Dia ingin memastikan semua berjalan baik dan tidak menimbulkan kecurigaan siapa pun.
Hingga akhirnya sebuah Telepon masuk ke handphone Dexter dan itu adalah CEO Buana Corp. yaitu Mark Putra Buana, CEO yang masih muda dan cukup dekat dengan Dexter.
"Dexter, bisa ke ruangan saya sebentar?" Perintah CEO itu melalui sambungan teleponnya.
Tookkkk..... Tookkkkkk..... Tookkkkk.....
Dexter mengetuk pintu CEO nya.
"Masuk."
Dexter masuk dan mulai duduk di sofa yang berada di ruangan CEO nya.
"Dexter, akhir-akhir ini pekerjaan di Perusahaan kita semakin banyak. Dengan banyaknya pekerjaan, semakin banyak tugas yang dikerjakan. Apakah kamu tak ingin memiliki sekretaris untuk membantumu?"
Dexter mengerutnya pelipisnya mendengar apa yang disampaikan CEO nya.
__ADS_1
"Sekretaris? Hem, aku rasa tidak perlu. Lagipula, selama ini aku selalu mengerjakan semuanya sendiri." Sahut Dexter dengan pembawaannya yang dingin.
"Tapi, kurasa kali ini perlu Dex. Bagaimana kalau kita rekrut lagi staf baru untuk posisi sekretaris Direktur?"
"Aku rasa tidak perlu. Lagipula, baru beberapa minggu yang lalu kita bikin rekrutmen untuk Finansial. Aku bisa bekerja sendiri seperti biasanya."
"Pekerjaan makin banyak Dex, harus ada yang atur jadwalmu. Itu lebih memudahkanmu. Hmm, gimana kalau kita ambil satu dari staf baru yang kemarin diterima? 4 orang untuk Finansial agaknya masih cukup."
Dexter mendengarkan penjelasan atasannya itu. Kalau mengambil satu orang dari pegawai baru agaknya memang masih memungkinkan.
"Hemm, oke. Keliatannya boleh. Tapi boleh enggak kalau aku mengusulkan siapa orangnya?"
Tanya Dexter kepada atasannya. Mungkin kali ini dia bisa memanfaatkan sedikit kesempatan untuk makin mengenalnya.
CEO nya pun tak keberatan dengan permintaan Dexter, tetapi ia ingin tau motif dari Dexter.
"Emang siapa orangnya? Lalu, kenapa kamu ingin orang itu yang menjadi sekretarismu?"
"Dia Selena, staf baru di Finansial. Beberapa hari lalu, aku berikan tugas untuk membuat laporan rekapitulasi. Hari ini dia sudah selesaikan tugasnya itu, lalu aku pun mengeceknya. Dan, hasil pekerjaan pun benar dan tabel yang ia susun sangat rapi. Mungkin dia bisa menjadi sekretaris, hasil pekerjaan nya juga terlihat kalau dia orangnya teliti."
Ucap Dexter, dia memberikan alasan selogis mungkin. Dia tak ingin bergelagat aneh di depan atasannya.
"Oke boleh, aku akan sampaikan kepada personalia untuk memberikan rotasi posisi kepada staf baru itu. Mungkin minggu depan staf baru itu bisa memulai menjadi sekretarismu."
"Hemm, Iya baiklah."
"Dex, apa kamu tak ingin membuka hatimu? Sudah hampir 7 tahun sejak peristiwa itu, dan kamu masih menutup dirimu. Ayo, kawan. Buka hatimu. Aku sebagai sahabatmu saja tidak lama lagi akan menikah. Sementara kamu masih hidup dalam bayang-bayang masa lalumu. Bangkitlah Dex, coba perlahan buka hatimu."
"Hmm, aku pikirkan. Oke, kalau tidak ada lagi, aku pergi."
__ADS_1
CEO Mark menasihati sahabatnya itu untuk bangkit. Kenangan apa di masa lalu yang membuat Dexter menutup hatinya? Sepahit apa kenangan itu hingga mengubah Dexter menjadi sedingin es Antartika?