
"Menikahlah denganku, Selena. Kita jalani bersama sisa waktu yang ku punya?"
Ajakan Daniel untuk menikah secara tiba-tiba tentu membuat jantung Selena bertalu-talu dengan cepatnya. Gadis itu tak menyangka bahwa Daniel akan melontarkan ucapan itu. Dulu ia sempat mengira bahwa menerima perasaannya tak terbalas sudah cukup baginya, namun seiring dengan berjalannya waktu justru Daniel yang mengajaknya untuk menikah. Tentu berpacaran dan menikah adalah hubungan yang berbeda. Saat memutuskan untuk menikah, berarti siap dengan segala komitmen yang ada, mengisi kekosongan satu sama lain, dan tentunya mencintai hidup nafas terakhir. Karena bagi Selena, ia hanya mempercayai pernikahan sekali seumur hidup.
Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa diceraikan oleh manusia. Inilah prinsip pernikahan yang dianut dan dipercayai oleh Selena. Sementara saat ini, dia sungguh tidak tahu apakah Tuhan memang mempersatukannya dengan Daniel atau tidak? Jika Tuhan mempersatukan keduanya, mengapa ada jurang pemisah yang dalam di antara dia dan Daniel.
Sekali pun dalam hatinya merasa bahagia, tetapi di saat yang sama ia pun merasakan kepedihan. Bagaimana mungkin ia hanya bisa menghabiskan waktu 60-70 hari saja bersama Daniel. Jika sesuatu terjadi kepada Daniel, pasti Selena akan benar-benar tak mampu menanggungnya sendiri. Sama seperti Daniel, Selena lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada melihat Daniel menderita hingga bahkan dilenyapkan.
Selena meremas kedua tangannya, ia sungguh bingung harus memutuskan apa. "Apa tidak ada jalan yang lain Daniel? Mengapa harus kamu yang berkorban, jika memang perasaan ini membutuhkan pengorbanan maka biarlah aku saja yang berkorban. Sama sepertimu, aku pun rela mengorbankan diriku untuk keselamatanmu." Selena menghela nafasnya sejenak. "Lagipula mana ada orang yang mencintai justru tega mengorbankan kekasihnya? Tidak masuk akal bukan?"
Daniel segera menutup mulut Selena dengan tangannya. "Jangan bicara seperti itu, Dia bisa mendengarnya. Lagi pula, aku yang sudah berketetapan jadi biarkan aku yang berkorban. Kau harus hidup dan selalu bahagia. Aku tidak akan tenang, bila kamu yang berkorban dan menanggung semuanya sendiri. Lagipula, sudah kukatakan sebelumnya Selena, tingkat tertinggi dari kasih adalah pengorbanan. Ya, pengorbanan itulah yang membuat kisah cinta kita akan semakin indah bukan? Jadi bagaimana keputusanmu?"
Selena tahu, mengasihi berarti berkorban. Namun, dengan akal sehatnya ia tidak akan mungkin mengorbankan Daniel, satu-satunya yang sangat ia kasihi. Satu-satunya pribadi yang tulus kepadanya. Daniel sudah menjadi seperti payung jadi Selena, yang selalu menjaga dan melindunginya dari terik sinar matahari dan dari guyuran hujan. Bagaimana pun keadaan Selena, Daniel selalu ada bagi Selena, memberi pertolongan dan kekuatan. Selena tidak akan mungkin mengorbankan Daniel. Beberapa hari ketika Daniel pergi, ia merasa kesedihan yang dalam. Bagaimana jika Daniel benar-benar pergi dari sisinya, Selena tidak akan pernah bisa membayangkannya.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Dan... Aku tidak bisa langsung mengambil keputusan, karena keputusan yang aku ambil berkaitan dengan masa depan kita berdua. Berikan aku waktu untuk memikirkannya dengan baik. Aku tidak mau menjadi orang yang egois dan gegabah, Dan. Karena ini menyangkut aku dan kamu, masa depan kita berdua tengah dipertaruhkan."
Daniel pun mengangguk, ia menyetujui Selena. Daniel akan memberikan Selena waktu untuk berpikir. Sebab pada dasarnya mengambil keputusan dengan terburu-buru pada akhirnya juga tidak baik. Mengambil keputusan lebih baik saat kepala dingin.
"Baiklah Selena istirahatlah. Kau pasti capek seharian, lagipula ini sudah malam. Oh, iya berapa banyak waktu yang kamu butuhkan untuk berpikir? Aku harap jangan terlalu lama, karena waktuku di sini tidak banyak lagi. Dan, bila sesekali kamu menjadi egois dalam hidup ini, aku akan mengizinkannya. Percayalah aku selalu berada di pihakmu."
Daniel mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, apa pun keputusan yang Selena ambil, ia akan tetap berdiri di samping Selena. Perkataan Daniel secara tidak langsung menghangatkan hati Selena.
__ADS_1
"Berikan aku waktu 2 hari, Dan. Jika sebelum itu, aku sudah mendapat jawabannya aku akan memberitahukan kepadamu."
Usai itu pun, Selena beranjak pergi ke kamarnya. Walau pun, ia masih belum mengantuk, tetapi ia perlu mencerna semua perkataan Daniel, menenangkan hati dan pikirannya sendiri.
***
Keesokan paginya Selena datang kembali ke kantornya untuk bekerja. Baru saja ia datang, rupanya Dexter juga telah datang. Entah mengapa atasannya itu datang lebih pagi hari ini.
"Selamat pagi Pak Dexter..." Sapa Selena sembari membungkukkan badannya sebagai tanda menghormati atasannya itu.
"Pagi Selena... Bisa ke ruangan saya sebentar? Ada yang perlu ku bicarakan denganmu."
"Ya, baik Pak."
"Jadi bagaimana keputusanmu Selena?" Tanya Dexter tiba-tiba, bahkan Selena tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh Dexter. Mengapa tiba-tiba ia menanyakan tentang keputusan.
"Keputusan apa Pak?" Selena nampak kebingungan. "Saya tidak paham apa maksud Pak Dexter."
Dexter tersenyum tipis ke arah Selena. "Aku sudah tahu, Selena. Ceritamu pasti tentang Daniel kan? Cinta yang tidak akan bisa bersatu, Cinta seolah-olah yang terombang-ambingkan takdir adalah cintamu dan Daniel bukan?" Dexter bertanya dengan penuh percaya diri.
"Semua ceritamu tentang Malaikat Daniel kan?"
__ADS_1
Mata Selena membelalak seketika. Bagaimana mungkin Dexter tahu bahwa Daniel adalah seorang malaikat?
"Bagaimana Anda bisa tahu, Pak?"
Dexter mengeluarkan sapu tangannya. Sebuah sapu tangan dengan bordir bunga mawar dan sayap malaikat, di mana sulaman benang-benang itu nampak terbakar.
"Kau tentu pernah melihat sapu tangan seperti ini kan Selena?"
"Ja... Jadi, Anda juga seorang malaikat Pak? Benarkah semua ini?"
Dexter menatap Selena. "Hanya kau yang mengetahuinya Selena. Tetapi, kisahku sudah berakhir. Gadis yang aku cintai sudah tenang di sana."
Mata Selena nampak berkaca-kaca mendengar ucapan Dexter. "Bagaimana bisa Pak? Apakah Pak Dexter juga mengalami hal yang serupa dengan Daniel?"
"Sebenarnya aku adalah malaikat muda itu, Selena. Itulah kisahku yang pernah kuceritakan kepadamu. Jadi, katakan bagaimana keputusanmu?"
"Saya tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa Pak. Bukankah terlalu menyakitkan untuk mengorbankan orang yang kita sayangi? Dan saya rasa, saya tidak akan bisa melakukan itu Pak."
"Tetapi, mau kamu melangkah, mundur, bahkan jalan di tempat sekalipun konsekuensinya sudah berjalan. Karena perasaan kalian berdua sudah terlibat terlalu jauh dalam hal ini. Dan, tahukah kamu bahwa Daniel juga memiliki rasa padamu?"
"Semalam dia mengatakannya Pak. Dan, dia mengajak saya untuk menikah. Namun, bagaimana mungkin bila pernikahan kami hanya bertahan selama 60-70 hari saja Pak. Bukankah ini konyol?"
__ADS_1
Selena sungguh tak tahu harus bersikap seperti apa, dirinya kali ini benar-benar dilema.