
Kenyataan bertemu Ayahnya di jalan menuju rumah yang tinggal beberapa meter, membuat Selena menjadi ketakutan. Masih terlintas di pikirannya bagaimana ayahnya yang seharus melindunginya, menjadi pengayom bagi anak, justru menjadi orang yang menyiksa anaknya sendiri. Menyiksa secara fisik, verbal, dan juga mental. Hati Selena benar-benar sakit, melihat Ayahnya yang sudah mabuk di siang hari. Matanya sudah memerah dan badannya berbau alkohol menyengat menjadi bukti bahwa ayahnya sudah minum banyak siang hari ini. Ditambah kata-kata kasar yang diucapkan ayahnya dan tangan ayahnya yang ingin kembali memukulnya membuat Selena ketakutan. Ingin rasanya Selena menangis sejadi-jadinya, tapi mengingat ada orang asing yang bersama, ia enggan menangis. Saat tangan ayahnya hendak menamparnya, ia hanya tertunduk dan memejamkan matanya.
Akan tetapi, ia merasa sedikit beruntung karena tangan besar ayahnya tidak mendarat di pipinya lagi, Daniel terlebih dahulu menangkis tangan itu.
"Stop! Jangan lakukan Pak." Daniel berseru dan menangkis tangan ayahnya Selena yang ingin mengulangi perbuatannya menampar wajah anaknya itu.
"Untuk apa kau ikut campur? Jangan ikut campur urusanku." Ayahnya selalu itu menunjuk-nunjuk wajah Daniel dan bau nafasnya mengeluarkan bau alkohol yang menyengat.
"Bapak tidak boleh memukuli Selena, bagaimana pun dia anak Bapak." Ucap Daniel dengan tujuan ingin mengingatkan Bapaknya Selena untuk tidak bermain kasar dengan anaknya sendiri.
"Anak? Kau bilang anak? Mana ada anak yang tidak menghiraukan ayahnya selama 2 hari?" Kemarahan dapat dirasakan dari setiap perkataan ayahnya itu.
__ADS_1
"Maaf Yah, tapi selama dua hari ini aku sakit." Selena mulai mengeluarkan suaranya dan menjelaskan kepada ayahnya bahwa ia tengah sakit selama 2 hari ini.
"Mau sakit bukan urusanku, sekarang berikan uangmu, aku butuh uangmu." Lagi-lagi ayahnya hanya meminta uang dari Selena.
"Aku tidak bekerja selama dua hari ini Ayah. Aku sakit, jadi aku tidak memiliki uang." Sahut Selena dengan berlinangan air mata. Hatinya benar-benar sakit karena ayahnya hanya meminta uangnya dan uang itu hanya digunakan untuk membeli minuman keras.
Ayah Selena semakin menjadi-jadi, dia merebut tangan yang berada di bahu Selena, mengambil dompet anaknya dari sana. Bukalah dompet itu dan hanya ada uang sebesar 75 ribu rupiah.
"Hanya inikah uangmu, hah?"
"Kau pergi selama dua hari dan hanya ini uang yang kau miliki?"
__ADS_1
"Aku sakit, Pak. Aku tidak pergi karena semauku sendiri."
"Sakit hanya kau jadikan alasan supaya tidak menemuiku kan?" Ayahnya itu selalu saja bisa menyanggah perkataan jujur Selena.
"Tidak Pak, aku benar-benar sakit. Dan, karena sakit aku tidak bisa bekerja."
"Omong kosong. Sekarang pergi dari sini, aku tak mau melihat wajahmu lagi. Dasar anak tak tahu diri."
Usai mengucapkan kata-kata kasar itu, Ayah Selena pergi dengan membawa uang 75 ribu dari dompet Selena, setelah itu membuang dompet itu ke jalan.
Melihat ayahnya yang telah pergi, tiba-tiba kaki Selena terasa lemas, hingga ia berjonkok di atas tanah. Air matanya terus mengalir.
__ADS_1
Daniel yang berada di sampingnya turut berjongkok menemani Selena.
"Tenanglah Selena. Tenangkan hatimu. Ada aku di sini. Tenanglah." Sembari tangan Daniel menepuk-nepuk punggung Selena untuk menenangkannya.