
"Bagaimana Selena, kau sudah siap?" Tanya Daniel yang berdiri di depan pintu masuk rumah Selena, ia memutuskan berdiri di pintu itu menunggui Selena yang telah melakukan packing untuk membawa beberapa pakaiannya ke dalam tas.
"Sebentar lagi, tolong tunggu." Teriak Selena dari dalam kamarnya.
Puas menangis dan memikirkan bagaimana keadaannya ayahnya nanti, akhirnya Selena keluar dari kamarnya dan membawa 1 tas jinjing yang biasanya digunakan untuk bepergian yang di dalamnya terdapat pakaiannya.
"Terima kasih sudah menunggu." Selena mendekatkan dirinya lebih dekat dengan posisi Daniel yang telah berdiri di depan pintu menunggunya.
"Iya, tidak masalah." Sahut Daniel dengan mengutas sedikit senyum di bibirnya.
"Mana, biar aku bawakan tas kamu. Pasti berat." Daniel menawarkan untuk membawa tas Selena yang terlihat berat itu.
"Ah, tidak perlu. Saya bisa membawanya sendiri."
"Sudah, biar saya saja yang membawa tasnya."
Daniel menyahut tas itu dari tangan Selena, lalu membawanya dengan tangannya yang kokoh itu.
"Ayo, kita berjalan ke depan. Taksi itu pasti menunggu kita." Lagi Daniel berbicara kepada Selena.
"Iya."
Dua orang itu berjalan dari rumah Selena menuju ke tempat di mana taksi yang tadi mereka naikki dari rumah sakit menunggunya.
Selena meninggalkan rumahnya dengan perasaan berkecamuk. Dia sedih meninggalkan rumah itu, sekalipun banyak tangisan air mata yang ia dapatkan ketika di dalam rumah itu, tapi itu tetap rumahnya. Sambil melangkahkan kakinya mengikuti Daniel, air matanya menetes.
"Hmm, maaf apakah benar kalau saya boleh pulang ke rumah dan sesekali mengunjungi ayah saya kapanpun saya mau?" Tanya Selena dengan suara lirih, bagaimana pun dia takut apabila Daniel tidak akan mengizinkannya untuk pulang dan mengunjunginya ayah.
"Iya, kamu boleh pulang kapan pun kau mau. Aku tidak akan menghalangimu. Bukankah sejak awal aku sudah mengatakannya." Sahut Daniel.
Setelah berjalan, sampailah mereka kepada taksi yang sudah menunggunya.
"Maaf sudah menunggu lama Pak." Sapa Daniel kepada supir taksi yang masih setia menunggunya dan Selena.
"Iya, tidak apa-apa. Sekarang kita mau ke mana?" Tanya supir taksi itu kepada Daniel.
__ADS_1
"Kita ke alamat ini ya Pak, Daniel menunjukkan handphonenya kepada Supir taksi itu guna memberitahukan alamatnya."
"Baik, kita akan ke sana."
Taksi itu berjalan menyusuri jalanan ibu kota dengan cukup lengang karena belum mendekati jam pulang kerja. Selena hanya duduk terdiam dengan tatapannya menatapi pemandangan jalanan dan gedung-gedung tinggi dari balik jendela mobil itu. Sementara Daniel memikirkan seperti apa rumahnya, rumah yang disediakan oleh Tuannya. Semoga rumahnya layak untuk Selena tempati. Daniel benar-benar tidak memikirkan dirinya sendiri, dia bisa tinggal di mana pun. Tinggal di kebun bunga seumur hidupnya saja dia bisa, tapi tidak bagi Selena. Gadis itu pasti membutuhkan tempat untuk berteduh dan berlindungi.
Setelah hampir setengah jam berlalu, taksi itu sudah sampai di apartemen yang dengan alamat yang diberikan Daniel.
"Terima kasih Pak, sudah mengantar kami." Ucap Daniel dengan mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar ongkos taksi itu, tidak lupa pula Daniel memberikan bonus bagi supir yang sudah mau menunggunya saat di rumah Selena.
Daniel masuk ke apartemen itu dan menuju receptionist di sana.
"Siang Pak, apa yang bisa saya bantu?" Sapa orang yang berdiri di balik meja receptionist itu.
"Saya pemilik apartemen di lantai 13, dengan unit ini. Apakah saya bisa mengambil kuncinya dan menempatinya sekarang?" Tanya Daniel dengan sopan.
"Ah, iya mohon ditunggu. Saya akan cek terlebih dahulu."
Setelah sekian menit mengecek, akhirnya receptionist itu memanggil Daniel yang tengah duduk.
"Iya, saya Daniel."
"Ini kunci Anda, Pak. Bapak bisa mengganti pula sandi di pintu Anda nanti. Ini passwordnya ya Pak. Nah, apartemen ini memiliki sistem keamanan 24 jam, di bawah terdapat cafe, mini market, dan ATM. Semoga nyaman menempati apartemennya ya Pak." Petugas itu menjelaskan kepada Daniel mengenai apartemennya dan fasilitas yang ada di sekitar apartemen itu.
"Terima kasih."
"Pak, maaf sebentar saya mau bertanya?" Petugas itu kembali bertanya kepada Daniel
"Iya, ada apa?"
"Apa Bapak Daniel itu artis atau model ya? Karena wajah Bapak sangat cakep seperti artis-artis ibu kota." Ucap petugas itu dengan tersenyum melihat wajah Daniel yang memiliki fitur sempurna itu.
"Artis??? Model??? Apa itu?" Daniel menggaruk-garuk kepala karena tidak mengetahui maksud perkataan petugas itu.
"Ah, tidak. Saya bukan keduanya. Oke, Terima kasih ya." Daniel meninggalkan petugas itu dan menuju ke tempat Selena duduk.
__ADS_1
"Ayo, Selena. Apartemenku ada di lantai 13. Bisa tolong aku untuk ke sana?"
"Maksudnya? Bagaimana caranya ke tempat Anda?"
"Iya."
Selena tercengang dengan perkataan Daniel, ia berpikir bukankah ia pemiliknya, tetapi kenapa dia justru seperti orang yang baru pertama kali datang ke sini. Lalu, Selena pun berjalan di depan Daniel menuju ke lift.
"Ikuti saya. Kita perlu lift ini untuk menuju ke lantai 13."
Keduanya sudah masuk ke dalam lift, lalu Selena menutup tombol pintu tertutup, lalu memencet angka 13.
"Angka-angka ini menunjukkan lantai yang ada, karena apartemen Anda di lantai 13, jadi saya menekan nomor 13."
"Oh, ya ya.... Terima kasih Selena." Ucap Daniel
Lift itu akhirnya berhenti di lantai 13, lalu keduanya mencari nomor unit milik Daniel. Apartemen Daniel di unit 7.
Setelah melihat sekeliling, keduanya menemukan pintu dengan angka 7.
"Oh, ini. Ini tempatnya." Kata Daniel dengan terlihat gembira ketika menemukan unitnya.
Dengan segera Daniel memasukkan kuncinya dan membuka unitnya.
"Masuk Selena, selamat datang."
Daniel mempersilakan gadis itu masuk ke dalam unitnya bersama dengannya.
Mata Daniel melihat sekeliling unitnya dan dia merasa lega karena apartemennya ini terbilang nyaman untuk Selena.
"Terima kasih Tuan, sudah menyediakan tempat bagiku dan Selena." Gumam Daniel dalam hati, Tuannya memberikan yang jauh melebihi apa yang dipikirkannya, membuat hatinya sangat lega. Bukan untuk dirinya, tapi untuk gadis yang harus ia jaga selama menjalankan misinya.
Sementara Selena terbelalak dengan apartemen yang besar dan indah itu. Apartemen dengan cat coklat latte yang memiliki ruang tamu, dua kamar tidur, kitchen, dan kamar mandi di dalamnya. Bahkan ada balkon dengan pemandangan langsung ke ibu kota dengan gedung-gedungnya yang tinggi dan lalu lintas yang tiada hentinya.
"Bukankah ukuran apartemen ini melebihi luas rumahnya?" Pikir Selena, karena ini pengalaman pertama baginya memasuki sebuah apartemen. Dia mengira bahwa apartemen itu seperti rumah susun, dia benar-benar tidak mengira jika apartemen Daniel akan seluas dan sebagus ini. Apartemen yang benar-benar sempurna untuk pria setampan Daniel.
__ADS_1