Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Long Distance Relationship ala Roomate


__ADS_3

... "Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba-tiba dan bertahan lama. Dan bahkan setelah hujan reda, rinduku masih terasa."...


Dua orang yang terbiasa bersama, kini untuk waktu yang tidak tahu berapa lama akan berpisah. Perasaan berat itu pasti. Perasaan rindu juga kepastian. Terlebih bagi Selena, semenjak ia pergi meninggalkan rumahnya, dan hidup bersama Daniel membuat Selena bergantung kepada Daniel. Seperti batang pohon yang menempel erat pada akar pohon yang kokoh. Sekalipun, akarnya adalah akar serabut, tetapi ia mampu menopang batang yang besar. Demikian pula Selena, Daniel adalah akar pohon baginya.


Ya, Daniel seperti akar pohon untuk Selena. Sebagaimana akar yang menyokong dan menunjang berdirinya batang pohon, Daniel juga adalah orang yang selama ini menyokong, menunjang Selena setiap hari. Tanpa akar yang kokoh menopang, mustahil sebuah batang bisa berdiri.


Sekian bulan hidup bersama satu atap dengan Daniel, dan kini Selena harus sendirian membuatnya sedih dan kehilangan. Ada rindu yang sesak di dadanya, tapi tak terucapkan. Bahkan sejak Daniel pergi sehari yang lalu, hingga hari ini pria itu sama sekali belum menghubungi ataupun mengirim pesan untuk Selena.


Lantaran ini adalah hari libur, membuat Selena berdiam diri di dalam apartemen sendirian. Pagi hari, ia bangun menyirami berbagai bunga di planter box, memotong daun-daun kering, memberi pupuk anorganik untuk setiap tanaman supaya sehat. Rampung dengan tanaman, ia mulai membersihkan apartemen mulai dari menyapu, mengepel, menyedot debu dengan menggunakan vacuum, hingga menata dapur semua dilakukan Selena. Dia begitu menyibukkan dirinya supaya terlepas dari ingatannya akan sosok Daniel.


Sembari memperhatikan setiap sudut ruangan, Selena bergumam. "Apa lagi yang bisa ku kerjakan? Merawat tanaman sudah, menyapu sudah, membersihkan debu sudah, mengepel sudah, menata dapur sudah. Ah, iya.... kamar Daniel. Kamarnya belum dibersihkan. Tapi bolehkah aku memasukinya? Aku takut memasuki kamarnya, bagaimana pun kamar adalah privasi seseorang. Tapi, kamar itu harus dibersihkan."


Dengan perasaan setengah tidak yakin, akhirnya Selena memasuki kamar Daniel untuk pertama kalinya selama mereka tinggal bersama. Dia membuka pintu kamar Daniel perlahan, dia masuk ke dalam kamar itu lalu mengamatinya. Kamarnya begitu bersih dan rapi. Bau harum dari kamar itu juga masih tercium. Selena menyapukan matanya sekeliling, mencari-cari apakah ada yang bisa dia bersihkan. Akhirnya Selena tetap menyapu kamar itu dan menggunakan vacuum untuk menyedot debu supaya kamar itu lebih bersih. Tak lupa Selena membersihkan kamar mandi di dalam kamar Daniel. Memastikan semuanya bersih. Lalu, dia duduk di tepi tempat tidur Daniel. Tangannya mengelus sprei dan selimut berwarna abu-abu itu.


"Dan, kapan kamu pulang? Aku kangen, Dan. Kenapa lagi-lagi aku merasa seperti ditinggalkan sendirian. Kamu di sana sedang ngapain, Dan? Mengapa kamu sama sekali tidak menghubungiku?" Selena berkata lirih, mengatakan kerinduannya sembari tangannya masih mengelus tempat tidur Daniel.


Setelah itu, Selena membaringkan tubuhnya sejenak ke tempat tidur Daniel.

__ADS_1


"Baunya sangat harum, seperti kamu, Dan. Kamu sudah masuk ke dalam hatiku, Dan. Aku bisa mengesampingkan perasaanku asalkan kita bisa terus bersama, saling bertemu, saling memandang, itu sudah cukup bagiku, Dan..." Tiba-tiba air matanya menetes. Selena begitu merindukan Daniel.


Merasakan rindu yang begitu berat, membuat Selena menangis terisak-isak di atas tempat tidur Daniel. Sejenak berbaring di sana, untuk merasakan keberadaan Daniel yang mungkin masih tersisa di kamarnya. Merindu dan mengharapkan pria aneh nan baik hati itu akan segera kembali.


"Kenapa aku seperti orang gila yang merindukan Daniel sedemikian hebatnya? Padahal kami hanya berteman, sebelumnya kami pun hanya orang asing yang bertemu tanpa sengaja. Daniel seperti matahari, dan aku adalah bumi. Sebagaimana Bumi berotasi mengelilingi Matahari, begitu pun aku selalu berputar mengelilingi setiap saat. Tujuanku adalah Daniel. Pusat hidupku adalah Daniel."


Puas berbaring, Selena pun mulai keluar dari kamar Daniel. Hari telah menjadi malam, seharian benar-benar ia gunakan untuk membersihkan apartemen itu. Biasanya waktu libur dihabiskan bersama Daniel, sekarang dia sendirian.


Sepanjang hari bergelut dengan aktivitas yang sama sekali tidak membuatnya kelelahan. Akhirnya Selena membaringkan dirinya di tempat tidurnya. Memberi dirinya waktu untuk istirahat, dan berharap hari akan segera berlalu.


"Dan, ini sudah hari ketiga. Kapan kamu pulang, Dan? Aku sudah rindu, Dan. Sangat rindu kamu. Kenapa sampai hari ketiga kamu tidak menghubungiku, Dan?" Selena bergumam lirih sembari melanjutkan memasak nasi gorengnya.


***


Sementara di Kebun Bunga Edenweis, Daniel kembali menikmati bunga-bunga di sana. Bercengkerama dengan para malaikat penjaga. Daniel begitu merindukan Edenweis. Dahulu, dia selalu menghabiskan hari-harinya di sini sebelum mendapat misi untuk menjaga Selena.


Daniel membaringkan dirinya di antara bunga-bunga, menatap langit biru yang begitu luas di atas kepalanya. Menikmati keindahan Edenweis yang tiada duanya. Kebun bunga terindah yang pernah ia lihat. Semerbak bau tanah perkebunan dan wewangian bunga-bunga begitu menenangkan dan mendamaikan hatinya. Bahkan kupu-kupu yang menari-nari di atas kelopak bunga terlihat begitu elok. Benar-benar keindahan yang tak tergambar. Daniel memejamkan matanya menikmati Kebun Bunga yang sudah ia tempati untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Saat Daniel memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar derap langkah yang mendekat ke arah Daniel.


"Daniel.... Daniel...." Panggil Sang pemilik kebun bunga itu.


Menyadari keberadaan Tuannya, Daniel segera berdiri dan ia akan menyambut Tuannya itu.


"Ya Tuan, Daniel di sini." Sahutnya.


"Lama tidak bertemu Daniel, apakah misi itu masih berjalan? Apakah kamu bisa menjaga Selena?" Tanya sang Tuan kepada Daniel.


"Iya Tuan, saya selalu menjaga Selena, Tuan. Bahkan gadis itu semakin hari semakin bersinar. Kesedihan di raut wajahnya mulai menghilang, walaupun sesekali dia masih menangis karena ayahnya. Tapi, lebih banyak senyuman di wajahnya, Tuan." Daniel melaporkan keberadaan Selena kepada Tuannya.


"Bagus Daniel, Aku pun melihatnya dari sini. Rembulan itu kian bersinar cerah. Dia tidak lagi menjadi rembulan yang temaram. Kesedihan perlahan hilang dari hatinya, dia akan bersinar Daniel. Percayailah itu." Ucap Sang Tuan sembari menatap Daniel.


"Ya Tuan, saya percaya. Saya pun berdoa tidak akan ada lagi badai atau pun awan gelap dalam hidup Selena. Saya tulus memohon kebahagiaan untuknya, Tuan." Sahut Daniel


"Ya Daniel, aku tahu. Kamu memang memohon itu dengan tulus. Aku tahu itu." Sang Tuan menatap Daniel dengan sorot matanya yang tajam. Dia percaya bahwa malaikat kepercayaan itu benar-benar tulus berdoa untuk Selena.

__ADS_1


__ADS_2