Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Sirosis Hati


__ADS_3

Kepergian Daniel memberi dampak yang cukup signifikan bagi Selena, dia harus beradaptasi untuk hidup tanpa Daniel di sisinya. Tidak ada sapa tulus Daniel di pagi hari, tidak ada yang mengantarnya ke kantor setiap hari, bahkan tidak ada kabar dari pria itu untuk sekian hari. Akan tetapi, Selena berusaha bertahan, menjalani hari dengan tulus dan berpengharapan bahwa Daniel akan segera kembali.


Atasan Selena pun, Dexter melihat bagaimana beberapa hari belakangan sekretarisnya itu seolah-olah melupakan kotak bekal yang biasa ia bawa setiap hari kerja.


"Dari mana Selena? Tumben kamu tidak membawa kotak bekalmu, biasanya kotak bekalmu selalu berada di atas meja ini." Tanya Dexter sembari mengangkat satu alisnya, tanda curiga karena tidak menemukan kotak bekal Selena di atas meja kerjanya.


"Saya dari kantin Pak, makan siang di kantin sama Putri tadi."


"Tumben tidak membawa bekal?"


"Iya, karena tidak ada yang menyiapkan kotak bekalnya. Jadi saya makan siang di kantin."


"O..." Dexter hanya menjawab sedemikian rupa dan menganggukkan kepalanya.


"Pak Dexter tidak makan siang?"


"Sudah, aku juga abis dari kantin, tapi tidak melihatmu di sana."


"Oh, saya memang mencari tempat yang agak jauh kok Pak. Jadi, maklum kalau Bapak tidak melihat saya."


"Selena, bagaimana kabar Daniel? Aku melihat beberapa hari ini kamu berangkat sendiri, tidak diantar Daniel ya?"


"Daniel sedang pergi Pak, katanya akan kembali kalau urusannya sudah selesai."


"Berapa lama dia pergi?"


"Sudah hampir satu minggu."


"Sudah lama juga ya..."

__ADS_1


"Iya Pak. Kalau sudah tidak ada yang perlu dibahas saya kembali bekerja ya Pak. Maaf, karena masih banyak laporan yang harus saya selesaikan sebelum nanti dicek ulang Pak Dexter."


"Hem." Jawaban singkat dari Dexter dan ia pun berlalu pergi.


Usai kepergian Dexter, Selena kembali berkutat dengan file-file di hadapannya dan juga Personal Komputer di mejanya. Memastikan tidak ada kesalahan dari pekerjaannya, sehingga atasannya pun tidak harus bekerja dua kali. Dengan demikian, waktu pengerjaan semakin efektif dan bisa menyelesaikan tugas lainnya.


Tidak terasa, jam sudah menunjukkan jam 5 sore, sudah waktunya Selena pulang. Selena pun membereskan mejanya supaya kembali rapi, menenteng tasnya, dan segera turun ke lobby. Ia akan menaiki bus yang selalu ia tumpangi ketika Daniel tidak menjemputnya. Saat kakinya hendak melangkah menuju halte pemberhentian bus, sebuah panggilan di handphonenya, tetapi nomor tak dikenal.


[Halo, apa benar ini Selena?] Tanya suara penelpon di seberang sana.


[Iya, saya Selena. Ini siapa? Ada apa ya?]


[Saya teman dari Ayahnya Selena. Mau memberitahukan Ayahnya sekarang ada di rumah sakit. Tadi siang muntah darah, dan sekarang baru di rumah sakit.]


[Di rumah sakit mana Pak? Tolong kirimkan saya alamatnya, saya akan ke sana sekarang.]


Mendapatkan telepon dadakan dan memberikan kabar yang tidak mengenakan membuat Selena berkeringat dingin, kakinya bergetar, pikirannya bingung mendadak menerima kabar Ayahnya muntah darah dan sekarang dirawat di rumah sakit. Begitu menerima alamat rumah sakit tempat Ayahnya dirawat, Selena segera memesan taksi online dan segera mungkin menuju rumah sakit.


Air mata luruh begitu saja. Ayah yang selama selalu nampak sehat, kini terlihat lemah tak berdaya. Selena mendekati Ayahnya dan memegang tangan Ayahnya.


"Ayah... Ayah... Kenapa Ayah bisa sampai seperti ini? Apa yang terjadi pada Ayah." Terdengar suaranya bergetar membayangkan bagaimana Ayahnya muntah darah, membuat Selena menangis hingga pundaknya bergetar. Ayahnya pasti sangat kesakitan, terlebih ia berada sendirian di rumah.


Teman Ayahnya pun berada di situ, ia lah yang membawa Ayah Selena ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.


"Terima kasih Pak, sudah menolong Ayah saya. Kenapa Ayah bisa sampai masuk rumah sakit?"


"Ayahmu terlalu banyak minum minuman keras, hingga akhirnya muntah darah." Penjelasan dari teman Ayahnya, membuat Selena menangis terisak. Bagaimana mungkin seseorang bisa muntah darah lantaran terlalu banyak meminum minuman keras? Selena merasa ketakutan, tetapi di satu sisi ia bersyukur karena Ayahnya kini telah berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


"Terima kasih sudah membawa Ayah kesini." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Selena kemudian duduk di samping brankar dengan air matanya yang masih menetes, ia menatap Ayahnya dengan wajah yang sendu. Berulang kali ia meminta Ayahnya untuk berhenti minum minuman keras, hingga akhirnya kini Ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena terlalu banyak minum minuman keras. Akhirnya pun, Dokter masuk untuk kembali mengecek keberadaan pasien.


"Maaf, saya akan kembali mengecek kondisi pasien." Ucap Dokter Pria yang berusia hampir separuh baya itu.


"Iya Dokter, silakan."


Selena mempersilakan Dokter itu untuk memeriksa keadaan Ayahnya, dan ia masih mengamati bagaimana Dokter itu memeriksa Ayahnya.


"Bagaimana kondisi Ayah saya, Dok?"


"Diagnosis awal pasien terkena Sirosis Hati."


"Sirosis Hati? apa itu Dok?" Kepanikan begitu tergambar pada wajah Selena. Tiba-tiba saja air matanya kembali menetes.


"Sebenarnya, ada banyak kemungkinan yang bisa melatarbelakangi muntah darah. Namun, jika kasusnya karena alkohol, umumnya ada dua penyebab spesifik, yaitu luka di saluran pencernaan, khususnya tukak lambung, serta pecah varises esofagus. Pecah varises esofagus terjadi saat peminum berat itu sudah memiliki kerusakan hati (Sirosis Hati) . Sirosis hati merupakan jaringan parut yang terjadi pada hati akibat kerusakan jangka panjang. Apakah pasien memang telah mengonsumsi minuman keras untuk jangka waktu yang lama?" Tanya Dokter itu kepada Selena.


"Iya Dok... Ayah memang cukup lama mengonsumsi minuman keras." Selena tertunduk lesu memberitahukan kondisi Ayahnya.


"Sirosis Hati ini muncul lantaran efek jangka panjang. Semakin rusak organ hati, barulah gangguan tersebut menunjukkan gejala, salah satunya muntah darah." Penjelasan Dokter yang sangat detail, membuat Selena kembali meneteskan buliran air matanya.


"Bagaimana untuk pengobatannya Dok? Apakah bisa sembuh?"


"Saya akan berikan obat untuk pasien, dan dalam cairan infus akan saya berikan obat juga. Obat tidak bisa menyembuhkan hanya bersifat sementara, jika ingin sembuh pasien harus berhenti mengonsumsi minuman keras dan juga memiliki gaya hidup yang sehat, tidak boleh mengonsumsi makanan dan minuman yang memiliki kadar keasaman yang tinggi, menurunkan berat badan, dan minum air putih dalam jumlah yang banyak."


"Baik Dokter, terima kasih banyak. Saya juga harap peristiwa ini menjadi pelajaran untuk Ayah saya. Apabila Tuhan memberi kesempatan, semoga Ayah bisa meninggalkan semua minuman keras yang telah diminumnya selama ini."


"Baik, silakan istirahat. Apabila pasien telah sadar, Anda bisa memencet tombol di atas brankar. Saya akan kembali memeriksa kondisi pasien setelah sadar."


"Ya Dok, terima kasih."

__ADS_1


Selena kemudian duduk di samping brankar Ayahnya. Hatinya begitu pedih dengan apa yang dialami Ayahnya, ia hanya berharap Ayahnya bisa sembuh dan meninggalkan minuman keras.


__ADS_2