Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Getaran


__ADS_3

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan yang dirasa cukup lancar karena malam hari yang memang tidak macet membuat Elina sampai di rumah lebih cepat dari yang ia kira, Elina pun turun dari mobil Satya.


Sebelum Elina turun dari mobil Satya sempat berbicara pada Elina lebih dulu.


"Lalu apakah aku bisa antar kamu sampai rumah mu, yang mana rumah mu ya?" Tanya Satya melihat ke arah luar jendela mobil.


"Rumah ku masuk ke dalam gang, sebaiknya kamu segera pulang jangan antar aku sampai rumah" kata Elina.


"Memangnya ada apa?" Kata Satya bingung.


"Tidak enak kalau sampai di lihat tetangga. Bagaimana pun mas Satya ini bukan siapa-siapanya aku yang ada takut malah menjadi fitnah"jelas Elina.


"Lalu bagaimana jika aku ingin mengambil jas ku, aku kan harus tahu rumah mu" kata Satya.


"Ambilah sekarang" kata Elina.


"Jangan bukan hari ini aku akan ambil" kata Satya lagi.


"Kapan mas Satya akan datang untuk mengambil"tanya Elina.


"Tidak tahu kapan, hanya saja jika aku sempat aku akan mengambilnya, katakan di mana rumah mu yang mana?" Tanya Satya penasaran.


"Mas aku tidak mau kamu ke rumah ku saat malam ini, jadi jika mas ingin tahu di mana rumah ku, mas bisa ambil jalan gang ini lurus terus lalu ada tiang listrik belok kiri ada turunan dan belok kanan. Rumahnya persis ada di sebelah kanan" kata Elina.


"Bukankah rumah mu terlalu rumit jika di jelaskan belok kiri atau belok kanan, bisa kah kamu sebut kan saja nomor rumah mu saja" kata Satya.


"Nomer 25, di sana mas akan melewati beberapa kandang ayam yang aku harap mas tidak akan mual lalu pingsan saat ingin ke rumah ku karena mencium wangi dari bau kandang ayam tersebut, sebenarnya bukan kandang ayamnya yang bau tapi tai nya" kata Elina jelas.


"Hahaha... Ya lihat saja saja nanti" kata Satya malah tertawa.


"Maklum mas ini di pemukiman warga biasa bukan perumahan elite aku khawatir mas akan kaget" kata Elina.


"Tenanglah itu tak akan pernah terjadi" kata Satya.


"Baiklah terimakasih mas aku permisi" kata Elina membuka pintu mobil yang Satya dan keluar.

__ADS_1


Setelah itu Satya pun pergi, untuk pulang. Sementara itu Elina denagan cepat menuju rumah kontrakannya karena waktu sudah malam.


.


.


.


.


Keesokan pagi Elina bangun dari tidur dan menyadari jika dirinya mengalami kesiangan, Elina yang biasa terbangun pukul lima atau enam pagi kini telat bangun pagi yakni pukul 9 pagi. Membuat Elina yang belajar tobat itu kesiangan untuk solat subuh.


Dan juga membuat Elina tidak berangkat ke kampus, seharusnya Elina hari ini berangkat jam 7 pagi namun karena kesiangan dirinya lebih memilih untuk tidak berangkat kuliah.


Itulah Elina...


Namun siapa sangka, ada sebuah ketukan pintu yang cukup mengejutkan entah siapa yang datang pada pukul 9 pagi.


Elina pun membuka pintu perlahan untuk melihat siapa yang datang kala itu.


"Mas Satya" kata Elina kaget dengan kehadiran Satya tiba-tiba


"Ada apa mas?"tanya Elina.


"Ini betul rumah mu?" Tanya Satya yang tak menyangka jika Elina adalah gadis yang tidak kaya raya alias miskin.


"Iya ada apa? Kenapa mas datang pagi-pagi begini, sungguh membuat ku terkejut" kata Elina tak menyangka.


"Bukankah ini sudah cukup siang, bahkan sudah lewat dari jam 6 pagi bukan. Kamu masih menganggap ini pagi" kata Satya melihat ke arah luar melihat matahari yang sudah ada sejak tadi.


"Ya, aku memang sering telat bangun pagi, jadi aku anggap ini masihlah. Lalu ada apa mas tiba-tiba datang" kata Elina.


"Ingin tahu saja dimana kamu tinggal, oh bukan maksudnya di mana jas miliku" kata Satya.


"Pasti jas mu sangat penting ya, hingga mas Satya datang kesini pagi-pagi"

__ADS_1


"Ingat Elina ini bukan pagi tapi sudah siang"kata Satya sedikit meninggi.


"Ya baiklah anggap saja begitu terserah mas saja ini dibilang pagi atau siang, dan sebentar jas mu ada aman pada ku hanya saja jas mu itu belum sempat aku cuci" kata Elina.


"Memang sebaiknya jangan"kata Satya.


"Loh kenapa?"


"Aku tidak bisa pakaian ku dicuci oleh orang yang tidak jelas. Jas ku itu sangat lah mahal hanya orang tertentu saja yang boleh mencuci pakaian ku, bahkan caranya tidak boleh asal, aku beli jas itu jauh dari Amerika" kata Satya.


"Oh jadi jas itu keturunan Amerika, hahaha... Baiklah bagus jika mas mau itu tidak di cuci, jdi aku tidak usah lelah dan repot mengerjakan itu" kata Elina yang mengambil jas itu dan memberikan pada Satya.


Satya pun tesenyum lalu mengambil jas dari tangan Elina.


"Sebenernya aku pun membawakan mu makanan yang bisa kamu makan" kata Satya membawa sekotak pizza.


Elina pun terdiam sejenak dan merasa heran ada pria baik.


"Kamu jangan GeEr dulu aku bawa pizza ini sebenarnya hanya tidak sengaja ada buy one get one. Yang satu sudah aku makan saat di kantor dan yang satunya lagi memang tidak di makan jadi lebih baik di berikan pada orang lain bukan?" Kata Satya.


"Oh hehhe iya, daripada harus di buang akan terasa sayang"kata Elina.


"Jadi makanlah" kata Satya.


"Haduh rejeki ini sih" kata Elina yang lalu mengambil sekotak pizza itu lalu memakannya dengan saus tapi saat Elina memakan tanpa terasa ada sedikit noda saus di bibir Elina.


"Maaf..." Kata Satya.


"Kenapa?" Tanya Elina.


"Ada saus di bibir mu" kata Satya yang membersihkan mulut Elina dengan tangannya.


Seketika Elina pun tersadar saat tangan itu mampu memegang bibir Elina dan ada sesuatu yang terasa yaitu getaran.


Namun geratan yang dirasa tak lazim itu Elina tangkis dengan menarik napas dan berusaha tetap santai, karena bagiamana pun bentuk perhatian dari Satya bukan sebuah rasa cinta, melainkan hanya kebetulan dia memang orangnya baik.

__ADS_1


__ADS_2