
Keesokan harinya...
Elina pun perlahan sudah bisa mulai berjalan tanpa tongkat walaupun kakinya tetap harus di perban.
Hingga pada saat siang itu terlihat Elina yang duduk di sofa sambil menatap telivisi melihat sebuah berita di tv.
Dan tiba-tiba Andra datang...
"Papa dan mama hari ini sedang ada tugas di kantor, itu artinya hari ini kita berdua saja. Asisten rumah tangga kita pun sedang ijin pulang ke rumahnya. Itu artinya kita bisa melakukan apa saja yang kita mau"jelas Andra.
Elina pun terdiam.
Hingga Andra pun duduk di samping Elina dan kini mereka hanya berdua saja.
"Kemarin papa mu mengajak foto dengan ku, aku takut jika dilihat oleh mama mu dan takut menimbulkan fitnah sekalipun dia papa mertua ku" kata Elina.
"Untuk apa dia meminta foto bersama mu"
"Entahlah tapi yang pasti aku tidak nyaman saja" kata Elina.
"Hal yang tak seharusnya Kamu pikirkan tak perlu kamu pikirkan, yang paling penting adalah waktu kita bersama" kata Andra.
Terlihat Andra yang menarik tubuh Elina.
"Kamu tahu saat kita pacaran dulu, kita tak saling berbuat apapun. Dan sekarang sudah saatnya aku bebas mencium dari bawah hingga atas" kata Andra.
"Aku mau ajarin dan memberikan ilmu pelajaran pada mu" kata Andra.
"Ilmu apa?" Kata Elina.
"Ilmu ciuman yang buat ku atau dirimu tergila-gila"
"Kamu mau apa, aku sedang tidak mood" jelas Elina.
"Aku tiba-tiba saja ingin mencium bibir mu dengan panas. Sekarang keluarkan lidah" kata Andra.
"Untuk apa?"
"Aku akan menghisap lidah mu"Kata Andra.
Elina pun memberikan lidahnya dan dengan cepat Andra pun merasakan lidah Elina seperi menghisap permen dan tangan Andra pun juga memasukan tangannya ke dalam bagian intim bawah Elina, Elina yang enggan itu pun membuat diri Elina merasakan suatu yang sangat dalam.
"Aaaaahhh uuhhhhhh"
Keduanya saling memadu kasih.
Tangan Elina pun di tuntun dengan memegang milik Andra.
.
.
.
Sementara itu..
__ADS_1
Satya hadir di acara meeting yang di hadiri oleh Hendrawan dan Mery terlihat membahas sesuatu tentang perusahaan yang mereka ingin lakukan.
Namun setelah selesai terlihat Satya yang tanpa terasa ingin menanyakan soal Elina.
"Oia ya pah, aku ingin bertanya tentang Elina" tanya Satya.
"Tanya apa" tanya Hendrawan.
"Kabar Elina bagaimana, aku takut jika hal buruk menimpa Elina, karena aku tahu Andra memiliki sifat buruk. Bahkan aku telepon dan SMS Elina tak di balas. Aku khawatir jika Elina kenapa-kenapa?" Kata Satya.
"Kenapa kamu begitu perhatian pada Elina, padahal itu bukan tugas mu"
"Apakah aku salah bila peduli pada orang yang lemah, wanita mana pun butuh perlindungan. Jika tidak ada yang melindungi siapa lagi kalau bukan"kata Andra.
"Kalau bukan kamu maksudnya, Satya lebih peduli lah pada istri mu jangan istri orang lain"
"Ini bukan soal peduli tapi demi keselamatan Elina saja tidak lebih, aku hanya ingin tahu keadaan terkahir Elina"
"Dia ada tempat saya" kata Hendrawan.
"Lalu kabarnya?"tanya Satya.
"Baik-baik saja, dia sangat harmonis dengan suaminya tak ada yang perlu kamu permalasahkan" jelas Hendrawan.
"Tapi aku merasa kalau dia sedang sakit"
"Kakinya memang sakit, tapi saya yakin bukan Karena Andra" kata Hendrawan.
"Baiklah terimakasih infonya"
Satya yang merasa ingin sekali tahu kabar elina pun sore itu datang membawa buah segar untuk Elina.
Entah mengapa perasaan itu sering tiba-tiba muncul dan tidak tahu kenapa. Bagi Satya mengenal sosok Elina adalah sesuatu yang membuat Satya tertarik meski dalam hal ini sebenarnya di batin Satya ia masih mengingat dan menginginkan Nadine yang tak pernah lepas dan pergi di dalam hati dan pikirannya.
Satya pun menghela napas dan bimbang akan perasannya sendiri.
Seketika Satya pun pergi dari kantor untuk menemui Elina di rumah mertuanya.
Satya pun mengetuk pintu namun tak ada jawaban, hingga pada akhirnya Satya masuk.
Dan kaget melihat Andra dan Elina yang sedang berciuman sangat panas di atas sofa.
Satya tersadar jika Andra dan Elina saling mencintai, itu terbukti dari mereka berdua yang memejamkan mata saling cumbu bahkan kedatangan Satya tak mereka ketahui.
Satya kamu lihat bagaimana Elina sangat mencintai dan mengasihi Andra. Bisa bisa nya aku berfikir jika Elina tak saling cinta. Please kali ini kamu lah yang buka mata lebar-lebar jika yang sebenarnya terjadi adalah mereka saling cinta, jangan terbawa suasana hati mu yang tak jelas. Namun entah mengapa perasaan ku sakit melihat Elina di cium oleh suaminya sendiri, santai dan tetap tenang Satya yang terjadi itulah kenyataannya dan kebenaran. Bahwa Elina adalah milik suaminya, baiklah lebih baik aku pulang, batin Satya.
Namun tiba-tiba, Andra menyadari jika ada Satya.
"Satya, sejak kapan lu disitu" tanya Andra yang menyadari kehadiran Satya tiba-tiba.
"Satya" kata Elina kaget.
"Oh maaf aku gak maksud menggangu waktu kalian berdua sebenarnya aku datang untuk menemui Elina, papah Hendrawan bilang kalau elina kakinya sakit jadi aku datang untuk menjenguk, tapi aku lihat kamu sehat-sehat Elina, bahkan"
"Bahkan apa? Bahkan buat lu sadar kalau Elina itu sangat mencintai gue, ya memang itulah kenyataannya" sahut Andra.
__ADS_1
Satya pun tipis dan merasa sakit walau sebenernya ia tak pantas untuk sakit, bila ingat dirinya siapa.
"Heemm baiklah aku tidak ingin banyak bahas apa-apa lagi, paling tidak apa yang aku lihat barusan itu adalah jawaban dari semua pertanyaan jika memang kalian hidup bahagia, maafkan aku Andra salah menilai kamu. Tolong jaga Elina, meksipun Elina bukanlah siapa-siapa dalam hidup ku. Tapi aku merasa ada rasa peduli yang tiba-tiba saja datang, dan mulai saat ini aku akan buang rasa yang salah ini. Elina dan Andra semoga kalian bahagia, permisi aku tak akan menggangu kalian. Mungkin setelah ini aku akan pergi" kata Satya.
"Pergi kemana?"
"Yang pasti bersama Kanya keluar negri, permisi" kata Satya pergi.
Elina pun kaget saat datang Satya dengan tiba-tiba, tapi ada perasaan Elina terqsa sedih saat Satya pergi melangkahkan kaki. Elina sadar tak sepatutnya sedih.
Elina pun hanya menatap punggung Satya yang pergi.
Elina pun tak banyak bicara.
Namun dalam hati Elina bicara dengan dirinya.
SATYA...
Melihat kepergian mu sebenernya seperti membunuh luka lama dan menyambut luka yang baru. Dalam hati sebenernya aku ingin marah pada mu, dan juga membunuh mu. Namun aku sadar sulit untuk ku lakukan..
Dan ada hal yang harusnya kamu ketahui, saat malam pertama mu Satya. Saat malam pertama mu saat itulah kamu tiduri aku. Saat itulah kamu dengan brutal meniduri ku tanpa ampun, andai ada peluang aku bisa katakan semua.
Andai saja...
Tapi semua terasa sulit, dan aku ingin kamu harus tahu tentang kesakitan ku. Dan hal yang sulit yaitu, aku tak bisa berbuat banyak karena terlalu banyak tekanan dan ancaman untuk aku sehingga tak memberitahu tentang semuanya.
Bahkan aku terlalu lemah tak bisa berkata tentang keadilan untuk hidup ku sendiri.
Jika di mata mu, kamu adalah seorang pahlawan untuk ku. Jauh di dalam hatiku kamu hanyalah pria kurang ajar.
Satya meski pun aku sedih..
Tapi..
Mau sebaik apapun kamu, selama kamu tak pernah sadar di mana kesalahan mu. Bagiku kamu tetaplah seroang pecundang .
Pecundang...
Aku tahu mungkin takdir tak bisa memberitahu ku tentang semuanya, tapi aku yakin takdir lah yang akan beritahu mu.
Wanita mana yang sudah kamu ambil kegadisan di malam pertama mu.
Wanita mana...
Aku tak minta rasa tanggung jawab mu, aku tak meminta rasa peduli pada bayi yang tengah aku kandung, hanya saja aku mau kamu tahu betapa salah diri mu membuat aku hancur berkeping dan terluka sangat dalam.
Lalu terlihat Andra yang tersenyum miring
"Bagus dia pergi, biar dia lihat sendiri bagaimana kita bisa sehot dan semesra ini dengan begini dia sadar akan dirinya siapa? dan aku harap dia bisa pergi dari hidup ku dan kamu"jelas Andra.
"Aku merasa malu, pastikan jika kamu sedang bercumbu dengan ku, kunci rapat pintu itu" seru Elina. "Bagaimana kalau orang jahat yang masuk, aku mohon"
" Rumah ini rumah aku, kamu harusnya sadar kamu tak pantas bicara begitu" kata Andra
"Sekarang Satya pergi, tak ada lagi beban untuk ku. Kamu bisa melakukan hal yang terbaik yaitu menggugurkan kandungan mu sebelum anak itu lahir"kata Andra.
__ADS_1
"Tidak akan Andra tidak akan"
"Aku tidak peduli, kamu harus melakukan itu" Andra pun pergi begitu saja.