
Saat itu Satya pun merasa jika dirinya ingin sekali bertemu Elina. Rasa itu tiba-tiba saja muncul dan entah mengapa ada di dalam pikirannya. Padahal sebelumnya tak ada ikatan yang seharusnya ia simpan di dalam dada.
Jika di pikir-pikir Satya siapa, Elina siapa, tak ada ikatan yang kuat diantara keduanya.
Hingga ingatan Satya kembali terbesit pada hal yang pernah berati yaitu sebuah jas yang pernah Elina pakai dan hingga saat ini tak pernah jas itu Satya cuci. Harum tubuh dari diri Elina begitu sangat terasa wanginya terasa melekat.
Hingga saat itu Satya mencari kemana itu jas yang pernah Elina pakai saat pertama kali Satya bertemu Elina. Entah mengapa ada perasaan suka ketika Satya mencium aroma yang tertinggal dari minyak wangi Elina saat itu, begitu harum dan khas.
Namun hingga saat itu Satya mencari jas itu tidak ada, kemanapun ia tak menemukannya. Padahal ia menggantung di dekat lemari dan tak pernah di tempat lain.
Hingga Satya tak bisa jika dirnya harus kehilangan jas kesayangannya itu lalu ia masih mencari di kamar lain dan ruang tamu pun tidak ada.
"Kamu cari apa?" Tanya Kanya yang melihat Satya mencari sesuatu.
"Kanya dimana kamu taruh jas ku, aku taru di dekat lemari" kata Satya yang mencari jasnya saat itu.
"Jas yang mana?" Tanya Kanya.
"Jas yang hitam yang selalu aku gantung di dekat lemari ini"
"Jas itu hampir sebulan ada di sana, sepertinya lebih baik di cuci" kata Kanya.
"Kenapa kamu cuci aku tidak pernah meminta kamu untuk mencuci jas ku, aku tidak suka jika jas itu kamu cuci
Aku tak mau jika harumnya hilang!" kata Satya marah saat itu. Dengan menatap marah Kanya tahu jika Satya marah.
"Hanya karena jas itu kamu marah padaku, apa istemewa nya jas itu untuk mu" kata Elina. "Jas kamu banyak pakai lah dulu, yang lain" kata Kanya.
"Beda, ini beda Kanya, jika aku mau bisa saja tapi ini lain" kata Satya penuh penekanan.
Satya pun mendengus kesal hanya karena perihal jas itu.
__ADS_1
Betapa kesal Satya lalu dengan cepat Satya mencari jas yang siap akan di cuci oleh asisten rumah tangga saat itu.
Satya berlari untuk ke belakang untuk mencari jasnya di dekat mesin cuci
"Bi, tolong jangan di cuci jas yang tadi bibi ambil di dekat lemari" kata Satya yang mencari jas itu.
"Kenapa tuan kata nyonya ini sudah kotor" jelas bibi.
"Tolong jangan!!! Berikan padaku!!" Kata Satya terlihat emosi.
"Kenapa tuan?" Tanya Bi Diah.
"Jangan banyak tanya, saya suka harum dari jas ini berikan pada ku" kata Satya kesal.
Lalu Bi Diah memberikan jas itu ke tangan Satya.
Akhirnya Satya pun kembali menemui Kanya.
"Jika hilang wanginya bisa kamu semprot lagi parfum tanpa harus teriak teriak" kata Kanya malah memberikan menyemprotkan parfum berulang kali
Srroot srroot srroot berulang kali.
"Hentikan Hentikan" kata Satya yang mengambil parfum Elina dan membuangnya.
"Tidak ada hebat nya jas ini, gak ada hebatnya, apalagi alasannya karena harumnya sungguh aneh kau ini" kata Kanya marah.
"Setiap benda punya kenangan tersendiri"jelas Satya.
"Buang saja kenangan itu" kata Kanya.
"Tidak bisa" kata Satya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Tidak ada yang tak bisa" Tanya Kanya dengan sorot mata tajam.
"Asal kamu tahu, asal kamu tahu Satya, wangi Elina tertinggal di jas ini dan aku tidak suka wangi Elina hilang dari jas ini"kata Satya dengan sorot mata tajam.
Tiba-tiba sebuah tamparan Kanya berikan.
Plaakkk...
betapa kagetnya Kanya saat ia tahu dirinya berkelahi hanya karena wangi Elina yang tertinggal di jas milik Satya.
"Satya, waras kamu jangan gila. Kamu ini kenapa? Pelet apa yang sudah Elina lakukan hingga karena wangi nya saja kamu menggap aku tak berarti. Dan kita berkelahi Sadar Satya, aku ini istri mu"kata Kanya.
Sontak apa yang menjadi hal biasa Satya menjadi marah membuat Kanya juga ikut kesal.
Satya pun lalu terdiam sejenak dia pun merasa heran dengan dirnya kenapa bisa kesal hanya karena harum Elina hilang begitu saja di jas miliknya.
"Kalau aku suka wanginya kamu mau apa?" Kata Satya.
"Sadar dan buka matamu lebar-lebar Satya, dia adalah calon kakak ipar mu, calon istri dari kakak ipar mu sendiri. Jangan hanya karena ia pernah pakai jas kamu jadi seperti ini dan Jangan hanya karena Elina pernah bilang ia telah tidur dengan mu, lalu kamu mencintainya hah" Kata Kanya kesal.
Satya pun terdiam...
"Padahal sudah jelas yang ia katakan bahwa ia hanya bergurau saat tidur dengan mu. Tidak ada, tidak pernah ia tidur dengan mu. Dan SATYA!! Dengarkan aku!! Aku ini istri mu, aku adalah wanita yang sedang hamil anak mu. Aku sudah serahkan pada mu hal paling berharga dari diriku, yaitu aku sudah menyerahkan kehormatan ku di malam pertama itu hanya untuk mu. Hanya untuk mu!! Dan sekarang kita berdebat hanya karena wanita lain yang tak seharusnya Kamu bela" kata Kanya marah pada Satya. Meksipun saat ini Kanya berbohong dan tahu bahwa yang di malam pertama itu adalah Elina, tapi pantang bagi Kanya mengatakan kejujuran itu.
Satya pun sempat bingung kenapa harum parfum Elina bisa tertempel pada jas itu dalam waktu lama, dan tanpa sadar sebenernya Satya mengangumi sosok wanita bernama Elina.
Atau mungkin lebih dari sekedar kagum pada seorang wanita yang akan menjadi kakak iparnya.
Satya pun keluar tanpa bicara sepetah katapun lagi, Satya bingung kenapa dengan dirinya sendiri. Seketika ada daya tarik pada diri Elina yang membuat Satya suka. Padahal seharusnya dalam hal ini Satya harus membenci Elina bila mengingat saat dulu papanya meninggal karena papanya Elina yang sudah membunuhnya.
Tapi Satya seolah tutup mata akan hal itu, dan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1