
"Aku tidak suka kamu menceritakan apapun tentang masalah kita pada Oma!" Teriak Andra pada Elina.
"Aku sudah dewasa dan aku berhak kemana saja aku pergi, sekali pun kamu istri ku" kata Andra sekali lagi.
Elina pun terdiam dan tak banyak bicara lagi setelah itu.
.
.
.
.
Sementara itu..
Terlihat Satya yang terlihat sibuk dengan urusannya yaitu pekerjaan kantornya yang hari ini terlihat menumpuk.
Dan saat Satya di kantor Satya di temui oleh sang mama.
"Satya istrimu sedang sakit saat ini " kata Nita di kantornya.
"Lalu ma?" Tanya satya.
"Mungkin kamu tidak mencintai Kanya tapi bagaimana pun anak yang Kanya kandung saat ini adalah anak mu, berilah perhatian pada istri mu sekali pun kamu tidak mencintainya belajar lah untuk menerimanya sekalipun kamu mencintai Nadine" kata Nita yang memang tahu sebelumnya hanya Nadine.
"Selama ini aku sudah berusaha ma, Satya sudsh berusaha untuk memberikan yang kanya mau. Semua hal yang Kanya mau sudah Satya berikan, rumah, mobil mewah, dan semuanya"kata Nita.
"Tapi perhatian kamu bagaimana pun bayi yang ada d kandung Kanya adalah anak dirimu.
Satya pun berusaha untuk mencintai Kanya bila teringat apa yang dikatakan oleh Nita.
Hingga saat itu...
Baiklahlah aku akan berusaha mencintai istri ku demi anak yang ada di dalam kandungan Kanya saat ini, batin Satya.
Malam harinya...
Terlihat Kanya yang memegang perutnya yang tengah mengandung usia 3 bulan saat itu.
"Satya" kata Kanya.
"Ada apa?" Jawab Satya yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaan kantor duduk di meja dekat ruang tamu.
"Aku mau tidur nih" kata Kanya yang tersenyum pada Satya.
"Tapi aku tidak bisa jika sendiri, aku mau kamu gendong"kata Kanya.
"Kanya kamu biasanya bisa langsung ke tempat tidur mu tanpa bantuan ku" kata Satya.
__ADS_1
"Ayolah aku ingin kamu mau menggendong ku, bagaimana pun ini adalah anak mu. Anakmu sedang ingin rasakan di gendong oleh mu" kata Kanya.
"Caranya"
"Ya Gendong lah aku" hingga saat itu Kanya pun memandang satya lebih dekat lagi.
Satya tak boleh lepas dari genggaman ku sampai kapanpun dirinya tak boleh lepas batin Kanya.
Apapun yang Kanya mau akan aku turuti sekalipun itu hal biasa ataupun sulit karena Bagiamana pun anak yang di kandungan Kanya adalah anak ku.
"Baiklah aku akan menggendong mu" kata Satya.
Satya pun menggendong Kanya dengan penuh perhatian sekalipun hanya untuk sampai ke tempat tidur Satya harus menggendong Elina.
Apa yang baru saja aku alami, benarkah Satya menggendong ku. Kenapa bisa, heemm... Mungkin kah mama Nita yang memberi pengertian pada Satya hingga dia terlihat romantis seperti ini, caraku berhasil juga mengatakan pada Nita tentang Satya yang cuek padaku dan tak peduli, batin Kanya.
Hingga di tempat tidur terlihat Kanya yang tesenyum pada Satya.
"Satya aku mencintai mu, kamu mau kan buatkan aku susu coklat untuk ku"kata Elina.
"Tentu, aku akan buat kan untuk mu"kata Satya.
"Satya kamu berubah lebih baik aku suka dengan cara mu yang seperti ini. Ku pikir kamu akan sedingin yang aku kira" kata Kanya.
"Kanya aku baru sadar jika anak yang kamu kandung adalah anakku tak seharusnya aku tak mencintai mu" kata Satya.
Kanya pun terdiam dengan senyuman yang merekah, ada perasaan senang yang tengah ia rasakan karena telah membuat Satya kini benar menjadi miliknya.
"Satya kaki ku terasa pegal"kata Kanya.
"Aku akan memijat kaki mu, tenanglah" kata Satya dengan cepat mendekat Elina dan memegang kaki Elina lalu memijatnya.
"Bagaimana enak?"tanya Satya.
"Ini lebih baik, bahkan lebih enak daripada aku memijat di spa" kata Kanya.
"Cuma?" Kata Kanya lagi yang memegang bibirnya dan merasakan ada sesuatu yang ingin keluar.
"Kenapa?" Tanya Satya bingung saat itu.
"Aku-"
tiba tiba...
Ueeeekkk...
Satya yang sedang mendekati Kanya itu pun memuntahkan isi dalam perutnya di kepala Satya.
"Ya ampun" kata Satya yang saat itu memegang kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukan ini padamu" kata Kanya.
"Ummm tak apa-apa, tidak masalah" kata Satya yang mengambil tisu dan membersihkan kepalanya.
"Ini semua karena ku, kamu berhak marah padaku" kata Kanya.
"Tidak, aku tidak berhak marah padamu" kata Satya yang tersenyum.
"Tapi kepala mu jadi kotor"
"Tidak masalah, kepala ku bisa di bersihkan aku tak mungkin memarahi orang yang sedang mengandung anak ku"
Seketika ucapan Satya pun membuat Kanya terpaku tak menyangka ada pria yang setulus itu mengucapkan semuanya tanpa beban.
Andaikan saja Satya tahu jika anak yang di dalam kandungan ku ini bukan anaknya apakah ia masih sama, tapi biarlah.. tak akan aku biarkan Satya tahu bahwa ini bukanlah anaknya, batin Kanya.
Hingga saat itu Satya pun merapihkan tempat tidur untuk Kanya tiduri setelah kaki Kanya Satya Pijat.
Dan Kanya pun keluar kamar dan melihat Nita dari kejauhan, rumah yang saat ini Kanya tempati pun rumah besar milik keluarga Satya.
"Satya berubah apakah ini semua karena mama" kata Kanya yang Elina temui secara diam-diam di balik Satya yang masih di kamar.
"Semua itu bukan karena mama, tapi Satya dia pria yang baik pada istrinya. Dulu papanya Satya juga seperti itu, Satya persis seperti papanya. Papanya dulu bahkan melarang mama buat melakukan apapun ia tak mau jika mama yang sedang hamil ini sampai kenapa-kenapa"
"Tapi dia dulu tak seperti itu"
"Itu kan dulu, sebelum ia sadar mungkin sekarang sudah sadar bahwa kamu adalah ibu dari anak yang saat ini kamu kandung"kata Nita.
"Semoga sifat Satya tak pernah berubah"
"Ia tak akan pernah berubah, selama ia tidak di bohongi atau khianati" kata Nita.
Seketika Kanya terdiam dengan ucapan Nita tentang kebohongan yang ia sembunyikan di dalam diri.
.
.
.
.
.
Sementara itu....
"Elina????? Dimana kamu simpan uang ku" teriak Andra marah pada Elina.
"Uang yang mana aku tak tahu"
__ADS_1
"Jangan kamu berpura-pura!"
"Andra sumpah demi apapun aku tidak tahu" kata Elina.