
"Satya aku ingin buah mangga yang di pohon dekat jalan itu" pinta Kanya.
"Serius"
"Iya, Mangga itu matang di pohon dan aku ingin makannya" kata Kanya.
"Baiklah aku akan ambil untuk mu"
.
.
.
.
Elina pun di temukan oleh seroang pria bernama Bowo.
Bowo pun saat tahu Elina yang ia temukan dengan cepat ingin membawa Elina pergi dari jalan tersebut.
Tapi sebelum Elina di bawa pergi seseorang juga melihat Elina yang terjatuh di jalan.
Dan dia adalah Satya, Satya tak sengaja melihat Elina yang jatuh di pinggir jalan.
"Stop! Jangan bawa dia pergi" kata Satya yang tanpa sengaja melihat Elina pingsan di jalan.
"Saya akan mengantar Elina ke rumah sakit"kata Bowo.
"Jangan biarkan saya" kata Satya.
"Saya kenal dengan Elina dan saya berhak mengantarkan dirinya saya paman dari Elina" kata Bowo berdalih.
"Kamu pikir saya percaya kamu adalah paman dari Elina, tidak ada yang percaya. Sebelum anda melakukan hal yang tidak diinginkan pada seorang wanita yang tengah pingsan anda lebih baik mundur sebelum saya anggap bahwa Anda ingin melakukan penculikan pada seorang wanita" kata Satya dengan nada mengancam.
"Kalau begitu dirimulah yang akan saya laporkan telah menculik istri dari kakak ipar mu sendiri" kata Bowo.
"Silahkan saja, laporkan segera saya ke kantor polisi dan saya tidak takut, ini kalau perlu KTP saya menjadi jaminan bahwa saya boleh kamu anggap penculik. Elina sedang sakit, saya hanya memastikan bahwa ia benar-benar ke rumah sakit bukan ke tempat lain. Permisi" kata Satya menggendong Elina dan membawa pergi.
Lalu Elina pun dibawa pergi oleh Satya menuju rumah sakit, Satya pun memandang wajah Elina yang terbaring sakit namun sesekali Elina menjatuhkan air matanya disaat dirinya antara sadar dan tidak sadar.
Dengan cepat satya pun membawa Elina ke ruang gawat darurat.
"Bagaimana keadaannya dok" tanya Satya.
"Darahnya sangat rendah dan memang butuh perawatan untuk dirinya kondisi nya saat ini lemah" jelas dokter.
"Dok pastikan dirinya baik-baik saja"jelas Satya.
"Ya dirinya baik-baik saja hanya perlu istirahat dan kehamilannya pun baik-baik saja"kata dokter.
"Hamil jadi Elina sedang hamil" kata Satya.
"Iya dirinya tengah mengandung"jelas dokter.
Seketika Satya pun merasa kasihan dengan Elina yang tengah hamil namun harus merasakan hal yang di luar dugaan.
Dalam diri Satya bertanya-tanya kenapa bisa Elina harus berjalan kaki padahal dirinya tengah mengandung.
Mobil punya bahkan seluruh harta punya lalu untuk apa Elina harus berjalan sampai kepayahan.
Jika Satya menjadi Andra, tak akan bisa tega menjadi Andra membiarkan istri yang tengah hamil harus berjalan kaki.
Satya pun masuk ke ruang rawat Elina dan ia pandang wajah Elina dalam-dalam.
Hingga saat itu Elina pun sadar dan membuka matanya lebar, betapa kagetnya Elina saat melihat Satya di depan mata.
Tanpa sadar saat Elina melihat wajah Satya kenangan buruk itu muncul di ingatan Elina tentang dirinya yang pernah di tiduri oleh Satya yang tengah mabuk secara brutal.
"Jangan sentuh saya, pergi!!!!!" Teriak Elina menatap Satya dengan rasa takut dan cemas.
"Pergi, pergi kamu!!!!" Kata Elina lantamg.
"Tenanglah tenang, saya kesini justru menolong tidak lebih" kata Satya menenangkan Elina.
__ADS_1
"Saya tidak butuh pertolongan dari siapapun termasuk pria biadab seperti mu!"
"Biadab siapa yang biadab" kata Satya bingung.
"Kamu!!! kamu jahat pada ku, aku tak peduli siapa kamu! Pergi! Pergi! Pergi!" Teriak Elina sambil melempar bantal ke wajah Satya dengan keras dan mengambil apa saja yang ada dimeja.
Seketika Satya pun bingung kenapa Elina sangat benci padanya padahal selama ini, yang Satya tahu jika Satya tak pernah sekalipun berbuat jahat pada Elina.
"Hentikan, hentikan cukup.. Jika memang aku jahat sekarang dimana jahatnya aku?" Kata Satya.
"Pergi, aku meminta dirimu pergi" kata Elina.
"Elina, dengarkan aku. Dengarkan aku.. aku menolong mu, aku yang membawa mu bisakah kamu sedikit saja berterima kasih padaku, asal kamu tahu tadi selain aku ada juga pria yang ingin membawa mu pergi yaitu Bowo"
"Bowo?" Kata Elina yang tak menyangka dirinya baru saja di dipertemukan kembali oleh Bowo.
"Iya, tapi aku tak percaya pada dia seratus persen pada pria itu yang mungkin saja belum tentu baik pada mu. Hingga kamu yang tengah pingsan itu aku lebih memilih aku yang bawa, bagaimana pun kamu adalah kakak ipar ku tak mungkin tega kamu aku biarkan sendiri"jelas Satya.
Elina pun sejujurnya takut pada Bowo bila ingat Bowo terlalu nekat pada Elina yang punya hutang pada Bowo.
Seketika Elina hanya berusaha menahan rasa kekesalan yang ada.
"Sekarang kamu boleh pulang dan aku bisa sendiri" kata Elina.
"Aku tak akan pergi sebelum orang rumah datang menjemput mu" kata Satya.
"Baiklah"
"Tenanglah dan sabar dulu, aku sudah menelpon mama Mery sepertinya mama Mery datang menjemput mu. Aku sudah menelpon Andra tapi belum di angkat" jelas Satya.
Seketika Elina pun melihat buah mangga yang Andra bawa.
"Itu buah apa? Apakah itu buah mangga" Tanya Elina.
"Oh ini, iya ini buah mangga. Kanya ingin buah mangga ini, dia sedang ngidam" kata Satya.
"Aku ingin coba satu" jelas Elina.
"Oh baiklah akan aku berikan dua untuk mu"
"Tidak apa-apa jika kurang aku akan mengambilnya lagi"
"Mengambil? Kenapa mengambil"kata Elina bingung.
"Iya, aku manjat pohon langsung untuk ambil buah mangga ini. Kanya meminta buah mangga yang di dekat jalan lalu aku menemukan mu. Dia ingin buah mangga yang matang di pohon jadi aku manjat langsung untuk nya" kata Satya.
"Kamu sampai rela manjat untuk istri mu yang tengah hamil"kata Elina yang tak menyangka.
"Akan aku lakukan semuanya untuk dirinya yang tengah hamil karena bagaimana pun anak yang ia kandung adalah anakku dan aku berhak membeikan yang terbaik untuk istri dan calon anakku"jelas Satya.
Seketika ada perasaan perih mendengar apa yang di lakukan oleh Satya adalah sesuatu yang sangatlah romantis, tak pernah Elina merasakan seistimewa itu bila bersama Andra.
Elina pun meraskan haru dan sekaligus sedih.
Elina tak meminta Satya untuk bertanggung jawab pada anak yang ia kandung.
Tapi..
Yang Elina mau minimal Andra lebih peduli dan mencintai Elina secara utuh, dalam hati terdalam yang tengah Elina rasakan adalah ingin kebahagiaan bersama Andra.
Kebahagiaan bersama suami dan tidak ingin bercerai dengan Andra sekali pun Andra telah jahat pada Elina.
Seketika Elina melamun dalam keadaan itu.
"Kenapa diam?"tanya Satya.
"Eeeh um.. entahlah hanya ada yang aku pikirkan" kata Elina.
"Baiklah akan aku bantu kupas untuk mu, agar kamu lebih mudah memakannya"kata Satya.
"Jangan biarkan aku saja" kata Elina.
"Tenanglah aku tak akan lama mengupas mangga ini untuk mu" kata Satya.
__ADS_1
"Jangan"kata Elina merasa tidak enak.
"Biarkan aku saja" kata Satya.
Elina pun masih merebut pisau yang di pakai Satya untuk mengupas kulit lalu karena ia tarik dan malah mengenai tangan Satya hingga berdarah.
"Aaahh... Maaafkkan aku, aku tidak bermaksud membuat tangan mu terluka" kata Elina.
"Gak apa-apa, dari itu aku bilang, biarkan aku saja yang mengupas ya" kata Satya.
"Tapi luka mu?"Kata Elina.
"Tak perlu kamu risaukan luka ku, aku bisa balut dengan kain kasa"kata Satya.
Satya pun mengupas mangga itu untuk Elina.
"Makanlah selagi ada" kata Satya yang ingin menyuapi Elina dengan sepotong mangga dengan garpu.
"Tapi aku jadi tidak nafsu lagi memakannya setelah tangan kamu terluka" kata Elina yang enggan menerima suapan dari Satya.
"Gak apa-apa apakah kamu tega tanganku, sampai terluka tapi kamu enggan untuk memakannya..makanlah sedikit paling tidak kamu menghargai setiap pengorbanan ku ini" kata Satya.
"Baiklah aku akan memakannya" kata Elina.
"Tak perlu kamu menyuapi aku makan, aku bisa sendiri" jelas Elina.
Namun saat sedang makan tiba-tiba Kanya datang dan menarik mangga yang Elina sedang makan.
"Itu mangga ku, beraninya kamu memakannya!" Kata Kanya.
Elina pun kaget saat Kanya datang.
"Berikan itu punya ku" kata Kanya. "Beraninya kamu mencari perhatian pada suami ku" kata Kanya menjambak rambut Elina.
"Kanya hentikan tak sepatutnya kamu menjambak rambut Elina hanya karena mangga" kata Satya.
"Mama Mery menelponku, dia mengatakan kamu menemani nenek sihir ini. Bisa-bisanya kamu Satya enak-enak berdua di sini. Kamu anggap aku apa?" Kata Kanya.
"Aku tidak suka kamu marah-marah seperti ini!!!! Jagalah sikap mu, pada Kakak ipar mu sendiri!''kata Satya tegas pada Kanya.
"Atau?"
"Atau apa?"
"Atau aku yang akan benar-benar marah pada mu Kanya" kata Satya.
"Minta maaf lah pada Elina, selama kamu masih mau menjadi istri ku" kata Satya.
"Aku tidak mau minta maaf, aku mau kamu pulang bersama ku" kata Kanya.
"Satya lebih baik kamu ajak istri mu pulang lebih dulu, karena mama juga gak enak kita ribut begini" kata Mery.
"Baiklah kita pulang" jelas Satya menarik tangan Kanya.
Hingga pada saat itu Elina yang tengah dalam keadaan sakit itu pun di bawa Mery untuk pulang dengannya.
Sebenernya Elina masih harus di rawat satu atau dua malam di rumah sakit itu, tapi Mery tidak mau karena Mery merasa Elina baik-baik saja. Dan mengatakan akan rawat jalan saja.
Hingga sampai satu botol infusan habis Elina pun di bawa pulang oleh Mery.
Hingga dalam perjalanan itu..
Mery menatap Elina sinis dan menatap Elina dalam, Mery pun juga sebal kenapa harus Satya yang menolong Elina..padahal sudah jelas Satya adalah suami dari anaknya yaitu Elina.
"Bagus kamu, sakit bukannya kamu minta tolong sama suami mu atau orang lain malah meminta tolong pada suami adik ipar mu sendiri" kata Mery menyindir Elina.
"Ma, aku pun tidak tahu jika Satya yang menemukan mu saat pingsan"
"Hah? alasan saja kamu, sampai kapan saya tidak akan membiarkan kamu merebut suami Kanya!!"
"Ma, aku hanya ingin Andra tidak yang lain mana mungkin aku merebut, tapi aku meminta pada mama tolong aku beri pengertian pada Andra agar lebih peduli pada ku"
"Kalau Andra tidak peduli itu salahnya kamu, mungkin sifat kamu yang buruk dan keterlaluan"
__ADS_1
Elina pun terdiam tak banyak bicara lagi pasalnya dirnya terus yang di salahkan.