
"Kanya kamu tahu di mana suami mu kini" tanya Bowo pada Kanya melalui telepon.
"Tentu aku tahu dia di rumah sakit" kata Kanya menjawab di balik telepon.
" Ada hal yang harus kamu ketahui dan ini hal penting untuk mu" kata Bowo lagi dalam sambungan telepon.
"Apalagi biarkan saja dia di rawat di sana, dokter dan para suster sudah menjaganya dengan baik kenapa harus aku yang menemani" kata Kanya.
"Ini bukan soal siapa dokter nya dan bukan tentang Satya. Tapi kamu tahu, saat ini Satya di temani oleh Elina. Elina datang mengaku sebagai orang lain agar ia mampu di terima. Bukankah itu sebuah ancaman untuk mu" jelas Bowo
"Apa?"kata Kanya tak percaya.
"Posisi mu bisa tergeser dengan hadirnya Elina saat ini apalagi kalau tahu Elina hamil anak Satya. Saat Nita tahu harta Satya bukan cuma untuk mu, tapi juga anak dari yang Elina kandung. Dan.. kamu masih bersyukur karena dalam hal ini Elina memiliki kekurangan yang sangat tidak bisa Nita terima, yaitu posisi dirinya sebagai anak pembunuh dari papanya Satya. Segera kamu urus ini sebelum Elina dapat mengambil hati Nita" kata Bowo.
"Baiklah akan aku urus ini, aku pastikan semua akan berjalan sebagaimana mestinya" jawab Kanya.
.
.
.
.
.
Saat pagi hari Elina pun terbangun dari tidurnya, malam itu Elina cukup tidur dengan nyenyak dan pasti nya tak pernah menyangka jika diri Elina tidur sekamar. Meski tidur di sofa tapi tak pernah menyangka saja diri Elina dapat tidur di satu ruangan bersama pria yang saat ini bukanlah siapa-siapa dari Elina.
Elina pun menatap Satya dengan wajah haru, sesekali menatap dengan wajah sedih. Elina tak pernah bisa mencintai siapapun dalam hidup ini kecuali Andra seorang itu tapi karena kehadiran Satya malah Malapetaka untuk Elina hingga Elina kehilangan cinta dan masa depanya.
Hidup Elina yang sudah hancur harus bertambah hancur karena kejadian malam pertama itu.
Tiba-tiba dokter datang menemui Elina saat itu..
Meskipun saat ini Satya adalah pasien koma tapi Nita memang meminta agar Satya di rawat kamar pasien VIP tapi dengan alat yang lengkap agar dirnya yang ingin menjaga Satya pun bisa dengan nyaman dan mudah dengan fasilitas yang ada.
Dan saat itu dokter pun datang memeriksa kondisi Satya yang masih terbaring koma lalu ia mengecek semua hasil yang ada lalu mengatakan kondisi Satya yang terbaru saat ini.
__ADS_1
"Ibu dengan anggota keluarga pak Satya"kata dokter.
"Iya dokter saya bukan keluarga tapi pak satya dekat saya dan daya menggantikan mamanya untuk menjaga pak Satya saat ini"jelas Elina.
"Kondisi Satya saat ini belum membaik bahkan semakin memburuk, kondisi jantungnya semakin melemah dan tak ada perubahan sedikit pun. kita hanya bisa berharap pada Tuhan dengan apa yang menimpa pak Satya saat ini. Tapi untuk saat ini Satya melakukan yang terbaik untuk pasien agar bisa kembali sadar. Kalau saya permisi"kata dokter.
"Dokter sebentar apakah ada kemungkinan pasien dapat sadar dalam waktu dekat" tanya Elina sadar.
"Kecil sangat kecil, kemungkinannya. luka yang dialami pasien sangat parah, hanya keajaiban yang bisa membuat pasien sadar. Kalau gitu sekali lagi saya permisi"kata dokter.
Elina pun menatap Satya sekali lagi setelah mendengar penjelasan dari dokter. Dirinya tak pernah menyangka akan melihat Satya dalam kondisi ini.
Hingga kondisi Satya yang masih membeku dan tak ada respon itu membuat Elina menarik tangan perlahan tangan Satya.
Seketika ada pikiran Elina untuk tangan Satya agar mengelus jabang bayi yang ada di perut Elina saat ini.
Elina mendekatkan tangan Satya dan memegang perut Elina dengan tangan Satya.
"Satya kamu tahu, bahwa anak yang ku kandung ini adalah anak mu. Sulit untuk menjelaskan semua yang sebenernya terjadi, sulit aku beritahu semua nya dalam hal ini terlalu banyak tembok kuat yang aku hadapi. Membuat aku sulit mengatakannya. Di samping ku tak mungkin mencintai mu, hubungan kita pun cuma apa. Tak akan bisa ada dan tak pernah ada. Tapi jika umur mu tak lama lagi, paling tidak tangan mu bisa membelai anak yang mungkin akan dilahirkan. Dan paling tidak bayi yang ada di dalam perut ku ini bisa merasakan belaian terakhir dari seorang papanya yang mungkin saja ia tak temui saat dirinya lahir nanti. Aku pun juga tak akan terus menerus di sini, tak akan selamanya aku di sini sebagai Nadine yang aku sendiri dia siapa, aku punya kehidupan yang harus aku jalani. Cepat atau lambat aku akan pergi atau mungkin kamu yang akan pergi" ucap Elina memegang tangan Satya dengan mata yang masih terpejam.
"Lepaskan tangan mu dari putraku!!!!" Kata Nita yang marah saat itu.
Nita sudah tahu semua yang terjadi sebenernya, siapa lagi kalau bukan dari Kanya yang memberitahu siapa Elina sebenernya.
Tangan Elina pun melepas tangan Satya dengan cepat saat tahu Nita datang dengan rasa marah.
Sebuah tamparan kuat pun di berikan pada Elina.
Plaaakkkkk.....
"Cukup, sudah cukup kamu membohongi ku. Beraninya kamu menipuku, aku tahu kamu sebenernya bukanlah Nadine. Kamu Elina, anak dari pembunuh suami ku. katakan yang sebenernya jika kamu Elina?" Ucap Nita dengan sorot mata tajam.
"Betul saya Elina dan bukanlah Nadin"kata Elina mengakui.
"Sudah cukup bapak mu membunuh suami ku dengan cara paling buruk, sekarang jangan-jangan kamu ingin membunuh putraku juga"kata Nita menuduh.
"Saya akui saya memang salah dalam hal ini karena berbohong tapi tak pernah sekalipun saya niat untuk membunuh Satya"
__ADS_1
"Siapa yang menjamin!!! Tak ada!!! Cepat pergi dari hadapan saya dan menjauhlah dari putraku!" kata Nita.
"Baiklah sebelum aku pergi ada satu hal yang Tante harus tahu bahwa sebenernya aku hamil anak dari Satya"
"Hah? Kamu pikir aku percaya, cuma orang bodoh yang percaya dengan ucapan mu saat ini. Sadarlah, kebohongan mu barusan, membuat saya tak percaya lagi dengan semua yang kamu katakan! Sekalipun, sekalipun benar kamu sedang hamil anak putraku tak akan bisa aku terima itu, pasalnya!!! Aku tak Sudi memiliki cucu yang lahir dari anak seorang pembunuh seperti mu!! Pergilah! Aku tak butuh sosok anak penjahat seperti mu" kata Nita.
Elina pun keluar dari ruang rawat Satya saat ini..dirinya memang salah dalam hal ini, tapi Elina tak pernah menyangka jika Nita yang baik itu bisa marah sebesar ini saat tahu Elina adalah anak dari seorang pembunuh.
Dan kini Elina kembali sendiri menjalani hari tanpa ada rasa peduli dari siapapun.
Elina pun merasa sedih disaat dirinya tak punya tempat pulang saat ini.
Hingga saat itu Elina pun pergi dari tempat yang saat ini Satya tempati.
Ingin menangis pun rasanya tak ada kekuatan.
Uang tak punya...
Saudara tak ada....
Pekerjaan!!! Pun Semua terasa sulit.
Hingga Elina hanya berjalan pergi entah kemana pun kearah kaki ingin melangkah yang paling terpenting adalah pergi dan tak masalah jika harus menjalani hidup di jalanan.
Elina pun berjalan cukup jauh entah kemana pun dirnya akan melangkah.
Hingga waktu menunjukan pukul 12 malam. Elina pun duduk bersandar di jalanan karena merasa lelah dan letih, tak punya siapun membuat Elina yang rapuh semakin rapuh.
Elina pun bersandar di sebuah halte tapi siapa sangka Elina yang tanpa sengaja tertidur di pinggir jalan.
Tiba-tiba..
Seseorang membekap mulut Elina dan membawanya ke dalam mobil, Elina yang mencoba lepas tapi tak bisa karena obat bius yang menutupi mulut Elina dan siapa lagi kalau bukan Bowo yang melakukan itu, karena memang sudah mengincar Elina. Hingga Elina pun di bawa pergi oleh Bowo dengan mobilnya.
Sementara itu...
Kanya pun datang menemani seolah peduli pada Satya. Karena yang memberitahu Nita soal Elina adalah Kanya.
__ADS_1