
Elina kaget bukan kepalang saat melihat Andra datang dengan kemarahannya. Padahal dalam hal ini Elina tak meminta untuk di bela siapapun termasuk oleh Satya, tapi Andra anggap jika Elina menceritakan semuanya.
"Beraninya kamu mengadu sama Andra soal dirimu, hah? Beraninya kamu!!! Dasar istri tukang ngadu, kamu mau cari simpatik atau apa hah?" Kata Andra.
"Aku tidak mengadu apapun padanya" kata Elina.
"Kamu lihat wajah ku, lihat!!!! Aku di pukuli olehnya, aku dipukuli hingga seperti ini. Kalau bukan dirimu yang mengadu buat apa dia datang jauh jauh hanya karena ingin membalas mu, sekarang kamu senang kan kalau aku di pukuli seperti ini, hah!!!!! Kamu senang" kata Andra melihat Elina sambil menatap tajam.
"Aku berani bersumpah aku tak mengadu apapun padanya, aku tak mengatakan apapun padanya"
"Halah kamu pikir aku percaya, gak aku gak percaya!" Kata Andra yang mendorong Elina kuat lalu mendorong tubuh Elina dan memukulnya lagi.
Bughhh..
"Hiks.. hiks.. hiks kenapa kamu memukul ku lagi" kata Elina yang memegang wajahnya sambil menangis.
"Karena kamu berani mengadu itu yang kamu harus terima" kata Andra.
Elina pun di tarik ke kamar mandi dan di siram dengan air banyak.
__ADS_1
"Andra kamu mohon kamu jangan marah pada ku, aku tidak katakan apapun pada Satya"
"Mau kamu katakan atau tidak aku benci padamu Elina kamu lihat dirimu lah yang membuat aku memar"
"Andra, yang memukul mu adalah Satya, yang menghajar mu adalah Satya. Tapi kenapa aku yang harus mendapat hukuman"kata Elina.
Tapi Andra seolah tak peduli pada Elina, Andra langsung mengunci pintu di kamar mandi.
Satya tak peduli pada Elina saat itu, bahkan baju Elina yang basah tak ia beri kesempatan untuk menggantinya. Kini Elina pun di dalam dengan baju yang basah.
Andra pun keluar dan meninggalkan Elina begitu saja.
Elina pun terasa shock saat itu, hingga saat itu Elina pun bersandar di tembok dengan keadaan yang terasa dingin. Di dalam kamar mandi Elina tak tahu harus bagaimana hanya keadaan tempat yang terasa dingin.
Mengapa Andra begitu tega pada Elina yang merasa sendiri dan tak ada tempat bersandar.
Hingga kini air mata Elina terjatuh.
padahal luka kemarin belum sembuh kini Elina harus merasakan sakit kembali dengan pukulan yang terasa. Bahkan Andra memukul Elina tepat di luka yang lama, kapan akan segera sembuh.
__ADS_1
Ada rasa putus asa dengan cinta yang terasa menyakitkan, cinta yang Elina anggap akan baik. Andra yang Elina cinta ternyata sangat mudah untuk menyakiti.
hiks hiks hiks..
Elina pun mengepal dengan rasa dingin yang teramat.
Lain dengan Andra yang saat itu meninggalkan Elina dan kembali ke kantor.
Hingga Elina yang di kurung di kamar dengan kunci dari luar itu tak ada yang tahu dan peduli.
Bi Dina pun tak bisa membantu karena kamar tidur terkunci dari luar.
Hingga derai air mata kini terus mengalir tanpa makan Elina bersandar di tembok kamar mandi dan terasa dingin.
Rasa lapar dan dingin kini Elina tengah rasakan.
Kenapa semua yang Elina hadapi semua terasa sama, ini bukan cinta ini bukanlah cinta dan rumah tangga yang Elina mau.
sungguh bukan!
__ADS_1