
"Nadine" kata Nita.
"Ya Tante" sahut Elina.
"Tante pergi dulu sebentar boleh ya, ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal" kata Nita.
"Iya Tante gak apa-apa" jawab Elina tersenyumm
"Kamu kalau butuh sesuatu kamu bisa telepon Tante ya" kata Nita memberikan sebuah kartu nama miliknya.
Elina pun menatap kartu nama milik Nita.
Sebagai seorang pemilik perusahaan Nita memang sibuk banyak tugas dan tanggung jawab yang ia kerjakan. Jadi wajar jika ia tidak bisa standby 24 jam bersama sang putra.
"Nadine" kata Nita lagi.
"Ya Tante"
"Titip Satya selama Tante pergi ya, tolong kabari Tante segera saat dirnya telah sadar. Selama ini hanya Satya yang menjadi semangat hidup Tante, dia adalah penerus di keluarga ini. Tidak ada lagi selain dirinya" kata Nita tesenyum.
"Ya baik Tante saya usahakan"jawab Elina membalas senyum.
"Saya permisi dulu" kata Nita.
"Baik Tante" kata Elina.
Hingga saat itu Nita pun pergi meninggalkan Elina di rumah sakit bersama Satya, Elina tak pernah menyangka kini dirinya harus menemani seorang pria yang terbaring koma yang sudah jelas bukanlah siapa-siapa dirinya. Bahkan saat ini mengandung anak dari pria yang tak Elina kenali.
__ADS_1
Meskipun Satya bukan lah siapa-siapa Elina, tapi Elina sedih karena dirinya sedang mengandung anak pria yang tengah terbaring dalam keadaan koma saat ini.
Hingga Elina pun menatap Satya dengan tatapan perih lalu mengelus perut nya yang masih rata itu. Elina sedih bukan karena ia cinta tapi karena ia akan mendapati anak yang ia lahirkan akan menjadi seorang yatim.
"Nak... meksipun mama mu ini tak pernah sekalipun menikah dan mencintai papa kandung mu yang kurang ajar ini dan satu paket dengan kebrengsekannya. Tapi mama harus terima jika suatu saat orang ini meninggal karena keadaan Koma parahnya dan kamu menjadi anak yatim. Pahit untuk mama menjadi seorang anak yatim piatu saat ini tak memiliki siapapun, kini kamu juga harus merasakan hal yang sama seperti mama mu tak punya orangtua, nak berjanjilah kamu harus kuat, kamu harus kuat melebih mamamu" kata Elina mengelus perut Elina.
Elina pun memegang perutnya perlahan-lahan lalu memejamkan matanya, kini dirinya harus menerima hal pahit dalam hidupnya yaitu kehamilan yang tak pernah ia inginkan.
Seketika saat itu perawat datang secara tiba-tiba, dan Elina pun terdiam saat seorang perawat datang.
Elina pun langsung berpura-pura memijat kaki Satya agar tidak di curigai seolah olah dirinya orang lain.
"Wah.. beruntungnya mas Satya punya pacar sesetia mba nya wlaupun dalam keadaan koma masih setia menemani" kata seorang suster.
"Ta-tapi saya bukan" kata Elina menarik tangan dari kaki Satya.
"Sudah gak usah malu mengakui, saya tahu mbaknya ini pacar mas ini. Memang ya mba hidup ini banyak ujian tapi kita harus sabar dan tawakal pada yang maha kuasa.. semoga pacar mba cepat sembuh" kata suster itu kepada Elina.
Elina pun hanya terdiam tak banyak bicara pasalnya dirinya pun tak tahu harus menuruti atau tidak. Baginya tak penting bagi Elina, mau pakai baju apapun siapa peduli.
Elina pun terdiam saat itu untuk sekali lagi, malah sambil membuang wajah Elina terlihat seolah tak peduli.
Hingga saat itu Elina pun melihat sekilas wajah Satya yang terlihat lebam Karana benturan dan juga kepala nya di rasa terluka parah membuat Elina menyadari jika Allah telah membalas segala perbuatannya. Hanya saja dirinya Satya tak pernah tahu kesalahan apa yang sudah ia buat.
Elina pun mengehela napas sekali lagi.
Elina sudah pasrah jika Satya lebih dulu di panggil Tuhan, Elina bukan kejam atau apa. Tapi namanya umur siapa yang tahu, daripada hidup terus-menerus seperti orang bodoh yang tak tahu dosanya di mana. Mungkin lebih baik Satya mati, siapa tahu dengan kematiannya membuat dia tahu kesalahan dirinya apa dan dari sana Satya bisa di maafkan atas kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Sadar Elina tak bisa mendapatkan keadilan dunia, akhirat adalah keadilan yang paling pas untuk Satya.
Itulah yang Elina pikirkan..
Tapi Elina malah tesenyum miring.
"Jika Satya mati dalam dua atau tiga hari kedepan, kasihan sekali hidupnya. Dibilang punya istri tapi seperti duda. Sendirian di kasur nya tanpa istri yang peduli padanya, kasihan sekali kamu Satya jadi suami tapi tak dianggap. Heem baiklah aku akan memberikan baju yang bagus sebelum kematian menjemput mu, aku bukan sok baik atau apa? Tapi mati pun aku tak akan menangis untuk mu, tak jadi masalah aku baik sedikit pada orang yang banyak berbuat jahat padaku. Baju apa yang kamu miliki. Rasanya sebelum dirimu mati aku akan mengerjai mu dengan baju berwarna pink ini" kata Elina mengambil baju yang ada ditas di dekat lemari.
Hingga sebelum Elina memakainkan baju untuk Satya yang baru Elina mengambil waslap basah dan mengelap Satya dengan waslap uang sudah di basahi.
Elina dengan hati-hati mengelap perlahan dari mulai wajah, leher dan lengan Satya. Entah mengapa ada perasaan yang tertanam di hati Elina saat ini ingat kata Nita yang menitipkan Satya pada dirnya, apalagi yang di titipkan adalah orang yang sedang sakit. Eliana tak mungkin tega, bukan Elina terlalu baik hanya saja Elina ingat ucapan dari Nita.
Hingga Elina membuka baju Satya perlahan dengan membuka kancing bajunya. Lalu mengganti bajunya saat itu, karena Satya yang cukup berat Elina pun meminta bantuan pada cleaning service angkat badan Satya perlahan agar Elina lebih muda memakai kan baju pada Satya.
Hingga saat telah selesai Elina pun melihat wajah Satya lebih baik hingga saat itu Elina merapihkan rambut Satya yang berantakan.
Sampai saat selesai Elina pun solat Zuhur, Elina pun meminta maaf pada Allah pada setelah solat Dzuhur bahwasanya diri Elina pun juga punya salah pada siapapun entah sengaja atau tidak. Termasuk dosa Elina yang mengharapkan Satya lekas mati, padahal tak seharusnya Elina mengatakan itu, Elina tak pantas seperti itu yang malah bersenang senang diatas penderitaan orang yang saat ini terkena musibah dan luka parah.
Elina tahu Satya salah tapi biarlah Tuhan yang membalas semua, hingga saat itu Elina yang masih memakai mukena pun membaca Alquran di samping Satya, meskipun Elina adalah anak yang nakal tapi Elina masih bisa sedikit sedikit baca Alquran.
Hingga saat Elina membaca Alquran, suara Elina bergetar. Ada rasa perih dan degup hati yang entah datang dari mana.
Tanpa terasa air mata Elina terjatuh dan tersedu-sedu, tanpa terasa air mata Elina tumpah. Seketika saat itu hal yang paling Elina rasakan adalah perih dengan ujian yang menimpa dirinya.
Elina pun masih bisa menahan air matanya lalu ia melanjutkan membaca Alquran untuk dirinya sendiri dan untuk pria yang saat ini terbaring lemah. Berharap akan ada keselamatan untuk dirinya dan pria yang saat ini di hadapannya.
Hingga Elina setelah solat Elina menaruh kepala di kasur Satya sampai tertidur.
__ADS_1
Seketika tangan Satya yang masih belum pulih memegang tangan wanita yang saat ini tertidur di sampingnya.
Angan Satya masih dalam jauh dari kesadaran tapi Satya mendengar seorang wanita yang tengah menangis sambil melantunkan ayat suci sebelum nya hingga tangannya saat itu mulai bergerak dan menaruh di tangan Elina dengan mata yang masih terpejam.