Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Mas Satya


__ADS_3

Saat keadaan malam sepi waktu pukul jam 11.30 malam pria itu datang dengan mobil mewah berhenti tepat di depan Elina yang sedang menunggu taksi, dia adalah Satya. Elina tak pernah menyangka dirinya di datangi oleh pria yang kini berstatus kekasih dari calon adik iparnya sendiri.


Untuk apa di ada disini.. batin Elina.


Satya pun membuka kaca mobil dan melihat Elina yang sedang berdiri di dekat taksi yang sedang mogok.


"Kamu sedang apa?" Tanya Satya yang turun dari mobil yang ia bawa saat ini.


"Aku sedang menunggu sampai taksi ini selesai kebetulan mogok" kata Elina.


"Oh, bagiamana kalau aku antar" kata Satya memberi tawaran yang diluar dugaan Elina.


"Tidak usah tidak perlu" kata Elina menolak karena merasa tidak enak hati.


"Tenang saja tak jadi masalah" kata Satya yang akhirnya mendatangi Supri taksi tersebut. "Pak kalau penumpang bapak pulang dengan saya tidak masalah kan, kebetulan saya ini calon adik iparnya"


"Iya mas silahkan, saya memang kasihan sama mba ini kalau menunggu terlalu lama karena hari sudah sangat malam" jawab supir taksi tersebut.


"Nah kamu dengar kan, bahaya wanita malam-malam begini sendirian di luar. Aku akan mengantarmu, tenanglah tidak akan terjadi apapun dengan mu" kata Satya lalu membukakan pintu mobil agar Elina mau naik mobil bersama dirinya.


Elina yang sudah mengantuk dan kelelahan itu pun akhirnya menerima ajakan Satya untuk pulang bersama, ada rasa kecanggungan dan tak enak hati sebenernya tapi Elina harus yakin bahwa selama dirinya tidak melakukan apapun dan tak ada hubungan lebih tak jadi masalah jika di antar pulang oleh pria yang kini menjadi kekasih wanita lain.


Lalu Elina pun naik di samping kursi Satya, Satya jugalah yang menyetir mobilnya tanpa supir.


Seketika Elina pun tesenyum entah apa yang membuat dirinya tesenyum, namun yang pasti sebagai wanita pada umumnya akan bahagia jika ada orang baik yang mau menolong disaat hal tak terduga.


"Terimakasih banyak kamu sudah mau mengantar ku" kata Elina.


"Sama-sama, disaat kita melihat orang lain susah tidak ada salahnya jika kita saling tolong menolong" kata Satya sambil memegang stir kemudi.


Elina pun tesenyum.. "iya betul, betul sekali"


"Oh ya apa kamu datang sekalian mau ambil jas mu" kata Elina yang ingin melepaskan jas itu pada Satya.

__ADS_1


"Tidak perlu pakailah kebetulan habis hujan pasti sangat dingin. Aku tahu kamu kedinginan jadi pakai saja jas ku, besok aku akan mengambilnya" kata Satya.


"Mengambil, jadi kamu mau mengambil ke rumah ku" kata Elina tak percaya dengan ucapan Satya yang mengatakan dirinya akan mengambil langsung.


"Itu artinya kamu akan datang ke rumah ku" kata Elina yang tak percaya bahwa Satya akan kerumahnya hanya untuk mengambil jas yang saat ini ia pakai.


"Iya lalu kenapa, aku salah jika langsung mengambil ke rumah mu, aku akan tahu rumah mu jsetelah aku selesai mengantar mu pulang bukan" kata Satya tetap fokus menyetir tapi Elina yang seketika menatap Satya antara rasa percaya tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan barusan.


"Mm baiklah" kata Elina yang akhirnya hanya bisa jawab itu.


"Oia bukannya malam ini ada pesta selanjutnya, kenapa kamu sudah pulang lebih dulu" kata Elina yang tahu jika masih ada pest minum-minum.


"Oh, aku sedang ada tugas kantor besok pagi. Jam 5.00 pagi harus berangkat aku tidak bisa telat jadi aku pulang lebih dulu, pengaruh alkohol tidak baik meski beberapa kali aku pernah minum juga" kata Satya.


"Oh beruntung jika saat ini kamu tidak mabuk aku takut jika kamu membawa mobil dengan keadaan mabuk" kata Elina.


Satya pun tesenyum kecil mendengar ucapan yang di lontarkan dari gadis muda itu.


"Sebelumnya kamu kuliah atau kerja?"


"S2...?" Tanya Satya.


"Oh bukan, semester dua bukan S2" kata Elina.


"Semester dua, baru lulus kah? Memang usia saat ini berapa?"


"Dua puluh tahun" jawab Elina singkat.


Satya pun kaget tak menyangka jika wanita yang ia kira sudah dewasa itu masih terbilang muda. Memang wajahnya muda tapi tak menyangka jika dari tampilan luar yang seperti sudah pemain lama karena dengan pakaian sangat seksi yang ia kenakan terlihat sangat dewasa. Terlebih lagi wanita yang saat ini disampingnya akan menjadi Kakak iparnya.


"Ada apa? kamu kaget" tanya Elina.


"Sebagai calon kakak ipar ku, umur mu masih sangat muda. Jauh di banding aku, aku kira umur mu mungkin 26 atau 27 tahun ternyata masih dua puluh tahun" kata Elina yang memandang Satya.

__ADS_1


"Memang umur kamu berapa?" Tanya Elina yang saat ini duduk samping Satya.


"Umurku 31 tahun"


Seketika Elina pun terdiam, Elina memang mampu mengira jika pria di sampingnya memang bukan lah anak-anak terlihat dari mana ia bersikap, begitu berwibawa dan dewasa.


"Apa itu artinya aku akan memanggil kamu dengan sebutan yang lebih sopan" kata Elina yang merasa tidak enak kalau sudah bicara umur.


"Sebenernya tidak perlu jika dirimu sudah menjadi kakak ipar ku, tapi karena sekarang belum aku mau kamu memanggilku sesuatu yang lebih baik selain dengan sebutan nama saja.. mungkin mas .. ya mas Satya" kata Satya.


"Mas?" Kata Elina tak menyangka.


"Iya kamu bisa katakan itu, saat ini"


Elina pun sejenak terdiam tak menyangka hanya perkara panggilan saja ada sesuatu yang berbeda yang tengah ia rasakan.


Elina terdiam sejenak dengan sesuatu yang terasa di dada, dan akhirnya.


"Baiklah mas Satya" kata Elina dengan suara lembutnya yang terasa indah di telinga.


Seketika ada senyum yang mengembang tanpa Satya sadari.


Kenapa aku tersenyu tiba tiba batin Satya.


"Kenapa mas Satya tesenyum apakah ada yang salah, apa tidak cocok aku memanggil itu" kata Elina yang menatap Satya terlihat senyum sendiri.


"Oh tidak tidak, tetaplah kamu memanggilku dengan sebutan itu justru aku malah senang dengan panggilan itu" kata Satya yang tidak ingin Elina mengganti nama panggilan yang saat ini gunakan. "Katakan lah sekali lagi"


"Apa?" Tanya Elina heran


"Yang tadi".


"Mas.. mas Satya" kata Elina yang bingung melihat Satya.

__ADS_1


"Iya itu" jawab Satya tesenyum.


__ADS_2