
Hingga saat ini Elina pun merasa takut karena Bowo mengejar Elina dengan kepala yang berdarah.
Bowo terkena batu saat Elina mendorong Bowo hingga terjatuh.
Sungguh Elina tak sengaja melakukan itu ia hanya teramat bingung harus bagaimana.
Elina tak menyangka perbuatan Elina yang hanya mendorong saja membuat Bowo terjatuh dan pasti membuat Bowo marah besar pada Elina.
Bowo tak bisa membiarkan Elina pergi begitu saja lalu mengejar Elina dengan mobil yang ia bawa saat itu, dan Elina membulat mata saat Elina melihat jelas Bowo memegang kepalanya yang berdarah sambil mengejar Elina dengan mobilnya.
"Woy jangan pergi, tanggung jawab!" Teriak Bowo.
"Haduh mampus itu aki-aki tua kepalanya berdarah lagi, jangan-jangan kepalanya dia bocor, ya Allah dia pasti marah besar sama aku bagaimana ini, pak cepat pak jalan jangan pakai lama pak, dia kejar saya dia nekat pak saya bisa dihabisi" kata Elina.
"Iya siap neng" jawab tukang ojek.
Beruntung saat itu tukang ojek membawa motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi jadi bisa pergi dari Bowo.
Elina pun menghela napasnya saat dirinya bisa lepas dari Bowo.
"Hah? Tapi mau kemana ya aku pergi ini gak tahu, gak punya rumah gak punya tempat tinggal hidup sengsara, bingung" kata Elina harus kemana.
"Neng mau kemana kita udah jalan gak jelas ni mau kemana?" Kata Abang ojek sambil bawa motor.
"Haduh gak tahu ya bang, putar arah aja ya bang" kata Elina bingung.
"Mau kemana sih neng?"
"Yasudah bang ke rumah sakit aja RS Kita" kata Elina.
"Loh emang ada yang sakit" kata Elina.
"Gak ada sih bang?"jawab Elina.
"Terus ngapain, kesana" tanya Abang ojek.
"Pura-pura nemenin Pasien saat ini yang lagi koma"
"Lah gitu neng, emang boleh"tanya si Abang ojek.
"Ya nggak apa-apa lah bang, dari pada saya bingung harus kemana lagi. Rumah gak punya, orang tua dah gak ada. Kebetulan pasiennya ini orang kaya raya bang, ruangan nya VIP pake AC dingin lagi, ada air panasnya juga di kamar mandi. Ya kalau pun mau tidur ada Sofanya empuk bisa sambil rebahan ada kulkasnya juga lumayan kan kang daripada gak ada tempat"kata Elina.
"Emang pasien nya siapa? pacarnya eneng"
__ADS_1
"Ih Abang kepo Adalah pokoknya bang, Abang mau tahu aja, apa mau tahu banget bang tapi bang turun disini aja rumah sakitnya di depan situ"kata Elina.
"Iya neng, ini mah rumah sakit orang kaya pantes " kata Abang ojek yang melihat kiri dan kanan
"Ohya Nih bang uangnya, ambil aja sama kembalian" kata Elina.
"Kembalian dari mana neng duit kurang gini malah gak ada kembalian"kata Abang ojek .
"Masa sih kurang bang"
"Iya"
"Lah kemarin saya naik ojek dari rumah sakit ke rumah saya cuma 18 ribu" kata Elina.
"Lah emang neng lupa abis muter muter tadi baru ke sini"
"Oia ya.. yaudah deh saya kasih dua puluh rebu lagi niatnya buat makan eh si Abang minta gak apa-apa lah" kata Elina lalu pergi berlalu.
Lalu Elina pun datang lagi dengan berdalih masih ingin bertemu sang mantan pacar, alasan siapa lagi kalau bukan menjadi Nadine. Elina tak akan mungkin berani mengaku jadi Elina. Nadine lebih baik untuk bersembunyi.
Dalam hal ini yang membuat Elina berani menyamar menjadi Nadine karena Elina tak melihat Kanya datang menjenguk suaminya ada perasaan sedih melihat Satya yang ternyata punya istri yang tak peduli. Tapi ada satu sisi keberuntungan Elina yang membuat Elina senang sehingga paling tidak di keadaan seperti ini Elina masih punya tempat tinggal.
"Loh kamu datang lagi?" Tanya Nita pada Elina.
"Ya jelas gak apa-apa" kata Nita.
"Tante, Tante bawa baju gak" ucap Elina.
"Lah memang kenapa?"
"Baju ku ketinggalan"
"Iya nih ada, seperti nya badan kamu yang langsing cocok pakai baju apa saja" kata Nita.
"Aku juga numpang mau mandi boleh" kata Elina.
"Ya boleh"jawab Nita.
"Terimakasih Tante"
Lalu Elina pun masuk ke dalam ruang VIP dan seketika menatap Satya yang masih tak sadarkan diri menatap dengan tatapan kasihan karena dirinya masih belum sadar.
Dengan cepat Elina pun berlalu ke kamar mandi dan mandi.
__ADS_1
Selesai mandi Elina pun menemui Satya lagi yang masih terbanting lemah saat itu.
Elina pun duduk di depan Satya menatap nya dengan tatapan haru, karena bagaimana pun Elina saat ini sedang menjadi Nadine harus menjadi sosok yang seolah olah masih mencintai Satya. Padahal dalam hal ini jangankan cinta menatap Satya saja Elina enggan.
"Nadine, terimakasih ya kamu setia sekali menemani Satya"kata Nita pada Elina yang di kira Nadine.
"Iya Tante"
"Haduh kenapa bisa begini ya anak kesayangan Tante"
"Karma Tante" jawab Elina singkat tanpa sengaja.
"Apa?"
"Maaf Tante maksud ku ini ujian yang sabar aja ya Tante. Kita hanya bisa berdoa saja biar satya lekas sembuh karena kita sebagai manusia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Satya saat ini" kata Elina.
"Iya amin"
"Kamu gak mau bicara sesuatu pada Satya berikan stimulus pada Satya, agar Satya cepat sadar jika dirimu datang. Selama ini ia hanya bersedih setelah dia tahu menikah siapa tahu dia bisa merespon" kata Nita.
Elina pun terdiam sejenak pasalnya dirinya bukanlah siapa-siapa dalam hal ini.
Bukan istri juga bukan kekasih Satya.
"Tapi Tante Satya sudah punya istri saya tidak berani" kata Elina.
"Tidak usah pikirkan istri Satya, dia sungguh tidak peduli pada suaminya. Hingga saat ini Tante sulit menghubungi dirinya dan dia tidak datang. Ayolah tidak apa-apa ucapkan sesuatu di telinganya, dia mencintai mu Nadine" ucap Nita.
Elina pun dengan rasa grogi mendekat ke telinga Satya dan membisikan sesuatu pada Satya.
"Satya aku mohon dirimu segera terbangun aku sedih melihat mu seperti ini. Ku mohon" bisik Elina di telinga Satya.
Elina yang menatap ke arah Nita pun melihat wajah Nita tesenyum saat Elina membisikan sesuatu ke telinga Satya. Elina sebenernya enggan untuk berpura-pura tapi tidak ada jalan terbaik selain ini.
Elina pun tidak melihat Satya merespon sama sekali.
"Sudah Tante, tapi tidak ada respon tante"kata Elina.
Nita pun mengelus pundak Elina perlahan memberikan sebuah dukungan agar tidak usah berkecil hati.
"Tidak apa-apa sayang, kamu tidak usah berkecil hati. Tante yakin Satya pasti bangun, kamu bisa coba lagi nanti, Nadine" kata Nita.
"Iya tante"
__ADS_1
Elina pun terdiam menatap Satya sendu, hanya bisa berpura-pura hingga Elina bisa mendapatkan tempat tinggal untuk dirinya.