Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Disaat semua tak ada yang percaya


__ADS_3

Elina tak pernah menyangka jika Satya yang menginginkan Elina untuk bahagia nyatanya Elina saat ini merasakan getir dari pernikahan yang ia jalani.


Hingga kaki yang saat ini Elina rasakan karena sakit itu tak Satya lihat karena Satya merasa jika dirinya yang sudah kepergok berciuman di rumah sudah saling cinta.


Hingga saat itu Elina tak akan lagi melihat Satya karena memang itu pilihan Satya untuk pergi dari dirinya.


.


.


.


.


.


Sementara itu, Elina merasa jika apa yang terjadi pada dirinya tak pernah berubah dan menuju arah kebaikan.


Elina hanya ingin bahagia itu saja...


Pagi menjelang....


Terlihat Andra dengan wajah dinginnya menghampiri Elina dengan tatapan sinis.


"Aku tanya pada mu, apakah kandungan mu sudah kamu gugurkan" tanya Andra saat itu.


Elina pun kali ini harus terpaksa bohong pada Andra agar tidak di cecar perintah untuk menggugurkan kandungan duitnya yang sudah membuat dirinya frustasi.


"Sudah" jawab Elina singkat.


"Dimana? Kapan"


"Kemarin sore aku telepon teman untuk membantu dan ia kirim melalui tukang ojek, kirim obat penggugur kandungan" jawab Elina yang menarik napas untuk menstabilkan suasana agar tidak di ketahui Andra bahwa dirinya tengah berbohong.


"Teman mu siapa?" Tanya Andra.


"Ada teman ku dia sudah sering melakukan itu dan sudah berhasil untuk kesekian kalinya"


"Nama obatnya apa?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi aku boleh memakainya dan saat aku perut ku sakit aku kamar mandi darah keluar banyak dan saat itulah aku merasa jika aku sudah keguguran"


"Seperti itu prosesnya" kata Andra.


"Iya hanya saja untuk sebulan kedepan aku tidak boleh berhubungan badan dulu, Karana masih banyak darah setelah ini. Jadi aku rasa kamu tolong bisa mengerti akan kondisi ku" kata Elina yang menunduk.


Beruntung Andra percaya dengan apa yang dikatakan Elina dia pun tidak banyak tanya lagi, bagi Andra yang terpenting saat ini Elina sudah tak hamil lagi anak orang lain. Karena bagi Andra kehamilan Elina adalah sebuah beban dimana dirinya selamanya tak akan bisa terima anak yang Elina kandung.


"Bagus ini yang aku mau, kamu ikuti apa mau ku dan kita tak perlu repot urus anak haram mu itu, Elina" kata Andra.


Elina pun mengangguk perlahan.


"Oia hari ini papa bilang bahwa dia butuh sekretaris di kantor. Sekertaris di kantornya saat ini sedang ada tugas, satu hari saja dia butuh dirimu. Kamu bisa kan?" Kata Andra.


Seketika Elina pun menggelengkan kepalanya, pasalnya ia tak pernah kerja di kantoran mana mungkin bisa dirinya ikut.


"Bisa kamu pikirkan kembali soal ini aku tak pernah sekali pun menjadi seorang sekertaris..jadi kamu bisa pilih orang lain dan jangan aku" kata Elina.


"Elina ini permintaan papa ku dan dia bilang tugasnya mudah hanya mendengar isi meeting kamu catat yang pentingnya dan kamu hanya bawa-bawa saja laptop dan ikuti papa kemana pun saat itu. Semua dilakukan kata papa supaya kamu bisa belajar banyak hal"kata Andra.


"Baiklah jika tugas nya hanya itu, yang penting tidak menginap. Dan aku juga tidak mau full day"


"Ya baik" kata Andra.


Lalu saat itu, Elina pun memang harus menutupi kehamilan dulu demi dirnya yang sudah lelah di suruh untuk menggugurkan kandungannya.


Sementara untuk tugas kantor yang saat itu di perintahkan oleh Andra, Elina sebenernya ragu tapi Elina akan mencoba suatu hal yang baru dan siapa tahu bisa menambah pengalaman Eliana.


.


.


.


Keesokan harinya..


Elina pun kali ini tampil berbeda dengan blazer dan rok di bawah lutut, elina terlihat modis dan cantik saat mengenakan pakaian kerja kantoran.


Bagi Elina ini adalah pengalaman pertama kerja di sebagai pegawai kantoran.


Hingga saat itu Elina datang ke kantor di jemput supir dan bertemu Hendrawan di kantornya.


Elina berjalan terlihat sangat anggun, banyak pasang mata yang menatap Elina terkesan. Dan Elina pun datang ke ruangan kerja, hingga saat itu Elina mengetuk pintu ruangan Hendrawan.


Tok


Tok


Tok


"Masuklah" sahut Hendrawan.


"Selamat pagi pak"sapa Elina yang datang dengan sopan saat membuka pintu dan melihat Hendrawan.


Seketika mulut Hendrawan terbuka saat melihat Elina yang sangat lah cantik dan anggun, Hendrawan terlihat takjub denah menantunya sendiri.


"Aku kira kamu tidak akan datang untuk meeting ini" kata Hendrawan tesenyum.


"Ya jadi, gak jadi masalah. Saya ingin mencoba hal baru untuk menambah ilmu saya. Dan ini adalah pengalaman kerja pertama saya kerja di kantoran jadi saya harap bapak bisa menerima saya" kata Elina.


"Ya kita bisa saling kerjasama bukan"


"Lalu meetingnya dimana pak?"


"Oh bukan di sini tapi di Bandung"


"Bandung, tapi Andra tidak bilang kalau harus keluar kota"


"Oh ya padahal jadwal nya memang ke Bandung, saya mau kamu membantu saya dalam hal ini" kata Hendrawan.


"Emm bagaimana ya" kata Elina bingung.

__ADS_1


"Ayolah"


"Bisa tapi jangan lewat dari sore ya"


"Ya tenang saja"jawab Hendrawan.


Akhirnya Elina pun ikut ke Bandung untuk meeting di kantor cabang, Elina pun mengikuti apa yang menjadi arahan dan dibantu oleh Hendrawan tentang apa saja yang perlu dibawa saat itu untuk keperluan meeting.


Mereka pun berangkat bersama supir dengan naik mobil lumayan besar yaitu Alpha*d, Elina pun dengan nyaman duduk di kursi mobil merek itu.


Ada beberapa terlihat rekan kerja Hendrawan yang juga yang ikut yaitu berjumlah 4 orang, jika Elina pun ikut bersama mereka totalnya jadi 6 orang, mereka semua adalah laki-laki. Elina pun enggan sebenarnya bersama mereka tapi karena tugas mau bagaimana lagi.


Elina pun terdiam saja tak banyak bicara.


Hingga sesampainya di kantor cabang di Bandung, Elina pun menemani Hendrawan untuk ikut meeting saat itu, banyak yang di bahas dalam bisnis.


Elina pun sadar, Hendrawan sebagai orang yang besar pasti memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar juga.


"Elina kita minum kopi dulu ya, kita istirahat dulu"


"Apakah sudah selesai meetingnya?"tanya Elina.


"Belum hanya saja aku sudah membutuhkan mu dulu" jelas Hendrawan.


Hingga saat itu Elina di tinggalkan begitu saja di sebuah cofee shop, sementara Hendrawan melanjutkan meeting nya lagi dengan klien penting.


Elina tidak tahu kenapa dirinya harus ditinggalkan begitu saja.


Lalu setelah sekian lama menunggu..


Elina menengok ke arah kiri dan kanan menunggu Hendrawan.


Hingga sore menjelang malam, Hendrawan masih tak ada kabar.


"Mana yang katanya dari pagi sampai siang, ini pukul jam 9 malam pak Hendrawan tidak kunjung datang" kata Elina yang merasa kesal.


Hingga pukul jam 10.00 malam Hendrawan datang.


"Elina" ucap Hendrawan yang akhirnya muncul.


"Pak bapak kemana saja kenapa lama sekali, aku sudah sangat lama menunggu" kata Elina.


"Bagaimana kalau kita menginap" kata Hendrawan.


"Dari awal aku sudah tidak mau ada istilah menginap aku mau langsung pulang"kata Elina


"Yaa oke baiklah kita pulang" jawab Elina.


Terlihat juga teman bisnis Hendrawan saat itu, Elina semakin cemberut saat melihat mereka.


"Baiklah kita semua pulang" kata Andra.


Hingga akhirnya mobil jemputan pun datang, dan mobil yang datang adalah mobil BMW sedan berwarna hitam.


"Pak ini mobilnya kita sebanyak ini naik mobil sekecil ini yang benar saja, lalu Alphard yang tadi kemana?"


"Wah saya cuma jemput tadi dari kantor gak bilang harus berapa orang"kata Si supir.


Hingga akhirnya semua masuk, mereka muat muat saja, supir dan dua penumpang di depan itu seolah di paksa. Dan tiga orang lagi di belakang, sementara ini seolah tidak ada ruang untuk Elina.


"Lah bapak saya duduk dimana, duduk di bemper mobil, kalau saya barang sih bisa aja naik diatas"


"Ya di atas saya"


"Maksudnya bagiamana"


"Saya pangku kamu" kata Hendrawan.


"Ikh, gak mau emangnya anak kecil" kata Elina.


"Ayoo buruan pulang, atau kamu saya tinggal di sini sendirian. Kamu mau sendirian"


"Telepon Andra saja deh pak biar atau siapa biar jemput" kata Elina.


"Kemaleman" kata Hendrawan.


Akhirnya seolah tak ada pilihan.


"Ayoo sini atau saya tinggalin kamu sendiri"


"Iya udah iya" jawab Elina terpaksa yang akhirnya duduk di pangku oleh bapak mertuanya sendiri di kursi belakang, bersama tiga temannya.


Sementara itu itu terlihat temanya Hendrawan yang menggeleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuanku Hendrawan yang memangku menantunya.


Elina pun lalu duduk diatas paha mertua nya itu duduk miring ke arah teman kantor Hendrawan.


"Tuh kan muat kata saya juga apa?" Kata Hendrawan.


"Pak, bapak kalau pegal saya aja yang memangku mbanya saya kuat" sahut teman kantor Hendrawan.


"Tidak, tidak usah saya cukup kuat"


Hingga saat itu Elina pun seperti terpaksa duduk diatas pangkuan Hendrawan, hingga Elina pun menyadari saat dipangkuan Hendrawan bila Hendrawan tidak memakai Hendrawan tidak memakai dalaman. Ada rasa yang lain yaitu saat Elina duduk dipangkuan bapak mertuanya.


Bahkan saat itu wajah Hendrawan sangat dekat, wajah Elina dan bila ngerem dadakan, Hendrawan berhasil mencium pipi Elina.


Saat itu, Elina yang sedang di pangku Hendrawan merasa jika batang milik Hendrawan terasa bangun. Dari yang tadinya tiduran, namun kini beralih ke posisi berdiri. Sangat terasa apalagi entah bagaimana ceritanya Hendrawan tidak memakai dalaman membuat Elina merasakan batang milik Hendrawan berdiri tegak.


Apalagi saat itu Hendrawan seolah sengaja memeluk pinggang Elina, ditambah dada Elina yang sebelah kanan menempel dengan dada Hendrawan, Elina sangat tidak nyaman saat itu.


Batang itu terus berdiri kuat selama perjalanan dan seolah menggesek bagian bokong Elina.


Selama perjalan Hendrawan malah tertidur dan menaruh kepala nya di dada Elina.


Elina pun menghela napas berat terasa lengkap sudah penderitaan Elina.


Tiga jam waktu berlalu selama perjalanan Elina merasa tersiksa.


Hingga akhirnya sampai..


Elina pun turun dari mobil, pulang lebih dulu saat itu.

__ADS_1


Elina tak pernah menyangka jika meeting itu akan mengalami kejadian seperti ini. Jika nanti ada tugas Elina enggan untuk ikut lagi. Sesampainya di rumah besar Hendrawan tampak sepi.


"Kemana mereka semua" kata Elina


"Mereka tak ada" Kata Hendrawan.


"Gak tahu pada kemana ya?"kata Elina yang bingung.


"Elina, kamu pasti lelah bagaimana kalau saya pijat" kata Hendrawan.


"Gak perlu pak, makasih"


Hendrawan yang sudah sangat ingin melakukan lebih melihat Elina, dengan cepat langsung membekap mulut Elina dan menariknya ke kamarnya.


"Aaarrgghh apa yang bapak ingin lakukan aku mohon lepaskan aku" kata Elina yang tak menyangka jika Hendrawan begitu tega menarik Elina.


Dengan cepat Elina pun di lempar ke kasur dan terlihat Hendrawan yang menunggangi Elina secara kasar sambil menatap Elina penuh gairah.


"Aku sudah sangat menunggu ini Elina"


"Pak sadar aku ini menantu bapak"


Hingga dengan cepat Hendrawan mencium bibir Elina, tapi Elina berusaha mendorong Hendrawan.


Elina pun berusaha bangkit agar bisa lari, tapi Hendrawan mengejar Elina.


Hendrawan pun mengejar Elina dan memeluknya dari belakang, Elina pun mencari perlindungan dan akhirnya mengambil jalan.


Bruughh.. prang....


Sebuah pas bunga berhasil mengenai kepala Hendrawan dan membuat kepala Hendrawan berdarah kini Hendrawan tersungkur dan tak sadarkan diri.


Mata Elina pun membulat kaget tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Elina pun kaget bukan kepalang saat mendapati Hendrawan terluka dan terjatuh.


"Pak Hendrawan aku mohon bapak bangun, ya Allah bagaimana ini. Bagaimana kalau dia mati, ambulance aku harus panggil ambulance. tolong... Tolong... Tolong..." Ucap Elina panik bukan main.


Hingga beberapa saat kemudian terlihat Mery yang kaget melihat suaminya berada di lantai dengan kepala yang terluka.


"Apa yang terjadi sudah kamu apakan, suami ku"


"Aku tak sengaja melakukan ini, suami mama yang berusaha ingin memperkosa ku" kata Elina sembari menangis.


Tiba-tiba...


Plaakk....


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Elina.


"Suami ku tak mungkin memperkosa mu, jangan mengarang cerita yang tak sebenernya"


"Aku berani bersumpah, hiks" kata Elina yang akhirnya menangis.


"Elina jika kenapa-kenapa dengan suamiku, kalau dia sampai meninggal kamulah yang aku tuntut ke kantor polisi" kata Mery mendorong tubuh Elina kasar hingga ke tembok.


"Enggak aku gak bohong, aku ingin di perkosa oleh pak Hendrawan dan tidak sengaja melakukan itu, hiks, hiks, hiks"kata Elina yang terlihat menangis.


Terlihat Mery yang mencemaskan Hendrawan lalu menelpon Andra.


"Andra segera pulang papa mu kepalanya beradarah" kata Mery.


Tanpa Elina tahu saat itu Andra yang sedang berkumpul dengan temannya akhirnya pulang.


Sesampainya di rumah Andra pun kaget melihat papanya yang berada diatas lantai dengan kepala berdarah.


"Apa yang terjadi?"kata Andra panik melihat papanya yang sudah berlumuran darah di kepala.


"Siapa lagi kalau bukan Elina yang sudah memukul kepala papa mu" kata Mery kesal.


"Wanita itu" kata Andra yang membulat mata sempurna kesal pada Elina.


Kini tamparan keras kembali di rasakan oleh Elina.


Plaaakkk....


Wajah Elina terlempar hingga kesamping saat tangan kekar itu dengan mudah menampar elina.


"Berani nya kamu!!!!" Kata Hendrawan.


Elina pun terlihat menangis memegang pipinya.


"Ini semua salahku, tapi papamu yang ingin memperkosa ku aku hanya menyelamatkan diri" kata Elina yang menangis terasa sesak didada.


"Mana mungkin papa ku tidak mungkin melakukan itu, jika dia mau bukan kamu wanita nya"


"Tapi itu benar adanya aku tidak berbohong" jelas Elina.


"Elina saya tidak terima ini sekarang keluar kamu dari rumah ini!!!!!" Ucap Andra teriak.


"Andra kamu mengusir ku" kata Elina.


"Bukan hanya itu, aku juga menceraikan mu. Kita bercerai Elina, kita bercerai"kata Andra melotot tajam.


"Iya ceraikan saja istri mu" kata Mery yang menambahkan.


Andra pun langsung menarik tubuh Elina kasar dan lalu mendorong Elina keluar dari rumahnya.


"Pergi!!!! Pergi jauh dari rumah ini!!!!!" Ucap Andra marah.


Elina pun tersungkur sambil menangis tak pernah menyangka jika akhirnya Andra mengusir dan menceraikan Elina.


Elina pun menangis saat dirinya harus di usir tapi Elina harus pergi tanpa uang dan uang sepeser pun.


"Pergi!!!!!" Teriak Andra.


Elina pun berjalan perlahan dengan perasaan sedih, kenapa bisa semua orang tak percaya dengannya.


Saat itu waktu menunjukan dua malam tapi Elina harus terima saat dirinya di usir dari rumah.


Hingga saat itu, Hendrawan di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Dan Elina diusir dari rumah.


Kenapa harus ini yang aku dapat kan, batin Elina terasa perih.


__ADS_2