
Saat suasana sarapan pagi bersama..
Ketika itu Elina hanya tertunduk tak banyak bicara, dan tak menunjukan wajahnya sama sekali.
Dari semua yang ada saat itu tak ada yang menyadari jika wajah Elina memar hingga saat itu, namun ada rasa penasaran Satya pun ingin melihat wajah Elina lebih dekat.
"Elina?"ucap Satya berusaha mendekati Elina.
Elina terdiam dan masih menunduk.
"Elina" kata Satya sekali lagi.
Elina masih terdiam..
"Oya Aku teringat jika dirimu dan Andra sudah menikah, aku lupa mengucapkan elamat kepada mu. Maaf aku tak bisa hadir saat pernikahan mu" kata Satya.
"Terimakasih" jawab Elina singkat.
"Udah lah sayang gak usah merasa bersalah seperti itu, lagi pula acaranya sudah berlalu" kata Kanya.
"Daritadi kenapa dirimu tak mau melihat kita, apakah ada yang salah dengan ku atau yang lain pada mu hingga dirimu terus saja menunduk, katakan lah" kata Satya mulai penasaran dengan Elina.
Elina masih menunduk saat itu.
"Elina aku mohon apakah ada yang salah hingga kamu tak mau melihat kita atau pun yang lain" kata Satya yang saat ini merasa jika Elina berbeda.
"Satya sudahlah jangan hiraukan Elina" kata kanya.
"Tidak aku hanya penasaran saja kenapa dirinya begitu tidak menghargai ucapan selamat dari ku, apakah semua orang di sini salah padanya sehingga dirnya terus saja menunduk tak memandang Kita" kata Satya yang pada akhirnya berdiri mendekati Elina dan
"Lihat lah kita semua, lihat lah aku" kata Satya mendongakkan wajah Elina.
Seketika Satya pun melihat wajah Elina yang ternyata ada luka lebam di wajahnya akibat pukulan di pelipis pada wajah Elina.
"Wajah mu" kata Satya membulat mata melihat Elina. "Apa yang terjadi dengan mu, katakan siapa yang sudah memukul mu?" Kata Satya menatap Elina tak percaya.
"Ya biasalah paling Elina terjatuh dari kamar mandi tak usah terlalu di pikirkan Satya" kata Mery.
"Ini tidak bisa siapa yang sudah melakukan semua ini, siapa yang sudah memukul mu hingga sampai seperti ini" kata Satya yang merasa kasihan dan peduli.
"Satya cukup, cukup. Kamu tak perlu banyak tanya soal apapun tentang diri Elina kamu sendiri pun manusia yang tak sempurna, kamu ingat saat kamu mabuk kamu memukul aku yang kamu kira aku adalah Nadine" kata Kanya yang kali ini bersandiwara lagi.
Elina pun hanya terdiam
"Kanya sudah cukup, aku hanya peduli pada kakak ipar ku saja!! Apa itu salah!" Kata Satya.
"Elina katakan siapa yang sudah memukul mu" kata Satya penuh penekanan sambil menatap Elina.
Elina terdiam dan membuang wajahnya saat tangan Satya memegang wajah Elina.
"Satya jangan peduli padanya, Andra saja biasa saja" kata Kanya.
Namun satyaa tak peduli dengan ucapan sang istri ia masih saja peduli kan Elina.
Tiba-tiba saja Hendrawan mengambil alih dalam hal ini.
"Satya cukup biarlah saya bicara pada Andra atau Elina soal ini setelah ini. Kamu sudah punya istri jangan urusi urusan rumah tangga Kakak ipar mu sendiri, duduklah" kata Hendrawan.
Satya pun diam sesaat saat Hendrawan yang bicara.
"Aku tak akan membiarkan seseorang membuat mu terluka, aku akan diam kalau Elina bicara jujur soal siapa yang sudah memukulnya seperti ini" kata Satya.
"Lalu jika elina bicara yang sesungguhnya kamu mau apa?" Kata Kanya.
"Jika di rumah ini sebagai lelaki tak ada peduli sekali pun pada wanita yang terluka seperti ini sungguh kelewatan dimana hati nuraninya, apakah aku salah jika menanyakan siapa yang sudah memukul Elina, apakah aku salah!! Jelaskan dimana salahnya" jelas Satya.
"Satya!! Lebih baik kita makan dulu, kamu kan baru saja sadar dari sakit parah mu" kata Hendrawan.
"Aku tidak akan makan sebelum Elina bicara siapa yang sudah memukulnya sampai seperti ini, Elina katakan siapa?" Kata Satya sekali lagi.
"Kalau kamu sudah tahu lalu kamu mau apa? Semua akan terasa sama, tidak ada yang berubah" kata Elina.
"Jika kamu tak mengatakan yang sesungguhnya, aku akan menghabisi Andra" kata Satya.
"Untuk apa kamu menghabisinya, untuk apa?" Kata Elina.
"Karena ia tak mampu menjaga istri baik seperti mu, dia tidak bisa menjaga mu yang seharusnya mendapat perlindungan dari mu. Jika dirinya tak bisa aku yang akan memberitahunya cara menjaga mu" kata Satya langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.
"Satya tunggu mau kemana kamu?" Panggil Elina.
__ADS_1
"Satya Satya Satya" panggil Elina.
"Satya kamu mau kemana, kamu lihat kan suamiku lebih peduli pada mu, sialan kau Elina!!!" Kata Kanya.
"Satya jangan pergi" teriak Kanya memanggil suaminya.
Satya pun tak peduli saat itu saat dirinya di panggil untuk segera kembali.
Satya tetap berjalan pergi meninggalkan tempat itu dan langsung berangkat dengan mobilnya dengan cepat.
Melesatkan mobilnya dengan cepat.
Selama perjalanan itu Andra tidak hentinya merasa emosi pada Andra.
"Brngsk kamu Andra, tidak becus menjaga istrimu. Belum sebulan kamu mempersunting Elina, wanita itu sudah mengalami hal menyakitkan seperti ini, aku tak akan membiarkan mu. Aku akan menemui mu" kata Satya yang sambil menyetir dengan cepat.
.
.
.
.
Hingga Satya dengan cepat membawa mobil yang ia bawa.
Dan beberapa saat kemudian.
Satya sudah sampai di kantor Andra saat itu dan tanpa peduli dengan siapapun di sana, Satya langsung masuk ke dalam ruangan Andra dengan cepat Satya langsung menarik baju Andra.
Andra pun bingung saat kerah bajunya di tarik oleh Satya.
"Apa-apaan ini?" Kata Andra.
"Hah?? Apa-apaan, beraninya kamu" kata Satya.
"Apa maksudnya?" Kata Andra yang bingung.
Dengan cepat Satya pun memukul wajah Andra dengan cepat.
Buughhh...
Buggghhhh...
Satya pun tersungkur..
"Apa-apaan ini?" Kata Andra yang memegang pinggir bibirnya yang berdarah karena perbuatan Satya.
"Kamu tega pada istri mu, kamu telah membuat Elina terluka di wajahnya. Kamu sudah menganiaya nya kan" kata Satya.
"Hah? Kamu pikir itu adalah kesalahan ku, sekarang katakan apa Elina bila aku yang memukulnya apa aku yang sudah melakukan itu semua, semua hal bukan berati aku yang melakukannya"
"Aku tak peduli siapa yang telah memukul Elina, aku tak peduli. Tapi selama kamu suaminya dan tak bisa menjaga Elina dengan baik kamu lah yang akan aku habisi" kata Satya.
"Sekali saja aku melihat Elina terluka kamu yang akan aku habisi" kata Satya lagi.
"Tak bisa kamu menekan ku dengan cara seperti ini, Kenapa kamu begitu posesif padanya, siapa kamu. Hah? Punya urusan apa kamu dengannya? Tak pantas kamu melakukan ini padaku, tak pantas!!! Seharusnya kamu ngaca, aku yang lebih berhak atas diri Elina" kata Andra.
Satya pun terdiam saat dirinya memang bukan lah siapa-siapa dalam hal ini.
Lalu tak lama suara telepon berbunyi.
"Kamu lihat Elina menelpon ku, dan bukan kamu. Aku suaminya, tak pantas kamu marah pada ku" kata Andra.
Satya pun pergi tak berkata lagi.
Sementara saat Satya telah pergi, Satya pun langsung pulang.
.
.
.
.
Sementara itu Elina pun di rumah langsung terlihat panik dan bingung apa yang akan terjadi setelah ini. Namun Elina tak bisa menyusul Andra saat itu, karena Satya melaju pesat dengan mobilnya.
"Non Elina kenapa seperti orang panik gitu?" Tanya Bi Dina yang merasa melihat Elina terlihat bingung dan bolak balik seperti ada yang di pikirkan.
__ADS_1
"Satya marah pada Andra, karena kejadian ini" kata Elina sedih.
"Kejadian apa non?" tanya Bi Dina.
"Wajah ku, bi lihat ini. Gara-gara wajah ku ini, wajah ku lebam bi Satya tak terima ini" kata Elina.
"Kenapa non, kok bisa" tanya Bi Dina.
"Satya marah karena aku memar"
"Memang nya non bilang kalau di pukul sama tuan" kata Bi Dina.
"Gak bi, gak bilang, tapi bibi ko tahu kalau aku dipukul sama Andra"
"ya ampun non tuan tega sekali. Jadi non bener di pukul ma tuan Andra, padahal bibi asal menebak" kata bi Dina.
" Bibi tolong rahasiakan saja ini apalagi dari Satya karena tadi Satya marah banget saat aku memar begini, entah dia tahu atau gak kejadian sebenernya tapi Satya marah besar bi. Aku gak mau mereka berkelahi" kata Elina yang khawatir.
"Non sudah cukup non. Non jangan pikirkan mereka dulu, lihat wajah non luka seperti ini. Lebih baik bibi obati dulu" kata Bi Dina memegang tangan Elina untuk duduk dengan tenang.
Lalu Bi dina mengambil air dingin juga handuk dan mengompres wajah Elina yang terlihat bengkak.
"Bengkaknya lumayan besar ini non, pasti sakit" kata bi Dina yang melihat wajah Elina.
"Jangan terlalu perhatian sama saya bi" kata Elina.
"Kenapa non?"
"Karena saya malah akan semakin sedih, saya sedih banget bi kalau ingat semua yang aku jalani" kata Elina.
"Aww.. sakit bi" kata Elina.
"Betul kan sakit, kamu harus lebih peduli pada diri non sendiri"kata Bu Dina.
"Iya bi makasih, bibi Sangat baik" kata Elina mengehela napasnya.. "bi?"
"Ya non" sahut bi Dina.
"ada betadin dan perban gak bi" kata Elina.
"Untuk apa?"
"Untuk mengobati badan saya yang sakit bi" kata Elina.
"Bagian mana biar bibi bantu obati" kata bibi mengambil Betadine.
"Gak apa-apa bi, aku bisa sendiri makasih banyak bi" kata Elina.
"Bi, tinggalkan aku sendiri bi biar aku obati luka ku dulu ya bi" kata Elina.
"Baik non"
Bi Dina pun keluar..
Saat di kamar Elina pun membuka baju perlahan dan mengobati bagian dadanya saat itu.
Elina pun menteskan setetes demi tetes pada bagian sakit itu yaitu bagian dada Elina yang terluka.
Sungguh sakit dan begitu terasa perih.
"Uurrggghhh.. sungguh sakit sekali, tega sekali kamu Andra ini sungguh sakit" kata Elina.
Akhirnya Elina membalut bagian terdalam itu dengan perban..
paling tidak untuk dua hari atau tiga hari luka itu baru mengering.
Tapi ...
Belum selesai Elina selesai membalut luka, Andra datang dengan membanting pintu kamar.
Braaagghh...
Elina kaget bukan kepalang saat itu melihat Andra yang datang dengan kemarahannya.
Dengan cepat Andra langsung menutup pintu lagi dengan kuat.
"Beraninya kamu, kamu mengadu pada Satya bukan!" Kata Andra marah.
Elina pun membulat mata saat melihat Andra datang dengan kemarahannya.
__ADS_1
"aku tidak mengadu!!"
"Jangan bohong!" teriak Andra marah.