
Elina pun membuka mata perlahan saat dirinya tak sadar tertidur di samping pria dengan mukena yang ia pakai.
Tangan Satya yang berada di atas tangan Elina pun tak Elina sadari kenapa bisa. Dirinya hanya kaget saat tertidur disamping Satya hingga akhirnya Elina pun hanya tersenyum getir saat melihat pria yang saat ini sedang sendiri dalam perjuangan hidup dan matinya.
Elina diam-diam mengharapkan jika istri sahnya yaitu Kanya segera hadir untuk Kanya untuk sang suami tercinta saat ini. Tapi masih belum.
Hingga malam hari tiba, tak ada tempat untuk pergi. Selain menginap disebuah kamar yang Satya tempati saat ini.
Tapi elina tak berani jika malam hari untuk tidur di dalam karena takut di anggap kurang sopan apalagi yang Elina tahu secara sah Satya memiliki seorang istri.
Hingga saat itu Elina lebih memilih tidur di depan ruang rawat Satya, tak peduli betapa banyak nyamuk saat ini. Yang paling penting dirinya bisa tidur dan tidak di pinggir jalan.
Menjadi seorang yang hidup sendiri tak memilik keluarga dan juga tempat tinggal membuat Elina harus terbiasa hidup sendiri di mana saja. Karena Elina takut jika tidur di jalan, biarlah dirinya saat ini di akui sebagai orang lain yang paling penting Elina masih bisa ada tempat untuk berteduh.
Hingga tak lama Nita kembali lagi untuk melihat kondisi sang putra dan saat ia menyadari saat itu Nita melihat Elina yang ia anggap Nadine tidur di kursi depan.
"Nadine kamu masih di sini" kata Nita yang memegang tubuh Elina yang tertidur.
Elina pun membuka matanya perlahan.
"Ah iya Tante" jawab Elina yang langsung terbangun saat menyadari ada Nita datang.
Nita pun duduk di samping Elina.
"Elina andaikan saja Tante tahu kamu sebaik ini, dan andai saja dan kamu belum menikah Tante sangat setuju jika kalian menikah"kata Nita.
Elina pun tersenyum.
Andaikan saja Tante Nita tahu bahwa aku ini hanya anak dari pembunuh bapaknya satya, jangankan berkata seperti ini. Untuk menatap ku saja pasti tak Sudi batin Elina.
Lalu Nita pun memandang Elina yang duduk sendiri didepan dengan setia dan membuat pertanyaan besar untuk Nita
"Maaf bukannya Tante mau usir tapi Tante perhatikan kamu dari pagi, siang dan malam di sini terus, apa kamu gak di cari sama suami mu" kata Nita yang tahunya jika Nadine telah menikah.
Elina pun memandang dengan tatapan sedih ada perasaan yang menusuk di kalbu dengan pertanyaan yang di katakan oleh Nita.
"Ehmm... Aku dan suami ku sudah bercerai Tante" jelas Elina.
"Apa? Apakah benar yang kamu katakan, Tante gak salah dengar kan" tanya Nita.
"Betul Tante aku tidak berbohong"
"Maaf ya Tante tidak bermaksud membaut mu sedih, Tante hanya khawatir saja jika suami mu mencari mu"
"Itu sebabnya Tante selain aku ingin menjaga Satya, aku juga tidak ada tempat untuk tinggal. Suami ku mengusir ku dari rumah dan sekarang aku tak memiliki tempat untuk tinggal"
__ADS_1
Seketika Nita mendekap erat tubuh Elina yang saat ini terlihat sedih.
"Kamu harus kuat ya, kamu harus bisa tunjukan kalau kamu kuat" kata Nita menguatkan Elina
"Apakah kamu sudah punya anak?" Tanya Nita.
Elina sejenak terdiam dan lalu menggelengkan kepala.
"Belum Tante, tapi ... Saya sedang hamil Tante" kata Elina.
"Hamil? Ya ampun Nadine Tante tidak tahu jika kamu sedang hamil harusnya Tante jangan menitipkan Satya pada kamu yang tengah hamil nanti kamu tambah lelah, Tante takut kamu kenapa-kenapa"kata Nita memegang kedua tangan Elina.
"Gak apa-apa tante" kata Elina tersenyum.
"Kamu sudah makan? Kalau belum ini ada makan buat kamu makan saja" kata Nita memberikan sebuah nasi dan lauk pauk di sebuah kotak
"Serius ini untuk ku" kata Elina.
"Iya" jawab Nita.
"Terimakasih banyak Tante"
"Nadine jika kamu butuh rumah untuk kamu pulang, datang lah ke rumah Tante tidak usah sungkan pintu rumah akan terbuka untuk mu, dari wajah mu kamu terlihat orang baik, cantik dan lembut meskipun Tante baru ketemu tapi Tante merasa kalau kamu orangnya sangatlah penyayang" kata Nita.
"Terimakasih Tante, Tante sangat baik.. aku senang bisa bertemu dan mengenal Tante"
"Aku sudah boleh tinggal di sini saja aku sudah senang Tante" kata Elina tersenyum.
"Elina Tante juga punya menantu yang sedang hamil seperti mu, mungkin saat ini Tante benci padanya karena dalam kondisi ini ia seolah tak peduli pada Satya, tapi satu sisi saya tak boleh egois apalagi yang Tante tahu istrinya Satya sedang hamil, tak bisa Tante biarkan begitu saja istri Satya"Kata Nita.
"Istri Satya beruntung dapat mertua seperti Tante" kata Elina.
"Jika memang kamu mau tidur di sini baiklah Tante tak melarang tapi kamu tidur di dalam ya, jangan diluar karena dingin.."
Elina pun mengangguk.
"Nadine... Tante tahu kamu masih cinta kan dengan Satya sehingga kamu rela sampai kesini menemani Satya. Tante ucapakan terimakasih banyak tapi sejauh ini Tante cuma mau bilang, Satya sudah punya istri sebaik nya kamu jangan kecewa jika Satya sadar mungkin dia akan tetap kembali bersama sang istri karena bagaimana pun Satya Sudja menikah dan ada jabang bayi yang tengah di kandung oleh istrinya" kata Nita.
Elina pun tesenyum getir pasalnya Elina pun tengah mengandung anak dari Satya, dan dalam hal ini juga Elina tak pernah mencintai Satya sekalipun.
"Iya Tante aku paham, Tante mungkin mengkhawatirkan aku akan sakit hati dengan semua ini. Tapi murni aku datang bukan mengharapkan cinta Satya. Tapi memang aku hanya ingin tahu kondisi Satya dan menumpang saja Tante. Maaf kalau merepotkan"kata Elina.
"Tidak apa-apa Nadine"kata Nita .
Lalu Nita memberikan selimut untuk Elina, lalu Elina tidur di dalam ruangan Satya di sofa.
__ADS_1
Dari kejauhan tanpa Elina ketahui sebenernya Bowo diam-diam mengetahui dan saat ini sedang mengintip Elina yang saat itu di sana menemani Satya..
Bowo pun tesenyum karena mampu melihat dan menemukan Elina.
"Rupanya wanita sialan itu datang dan hadir di tempat ini menemani Satya. Ouh kamu sudah tak punya tempat tinggal bersembunyi di sini rupanya, brngsk kau Elina tunggu pembalasanku karena kamu sudah membuat kepalaku hampir bocor"kata Bowo dari kejauhan yang melihat Elina.
Setelah itu..
Nita pun pergi meninggalkan Elina.
Dan Bowo pun mulai mendekati Nita untuk mengetahui kenapa bisa Elina di terima oleh Nita.
Saat Nita mau pulang, Bowo pun mendekati Nita saat di parkiran.
"Dengan Bu Nita" ucap Bowo.
"Loh iya, ini siapa maaf"kata Nita.
"Saya Bowo teman anak ibu. Kita saling kenal dalam dunia bisnis" kata Bowo lagi.
"Oh begitu ada perlu apa pak?"
"Cuma mau tanya, Yang tadi mengbrol dengan ibu itu siapa?"
"Yang mana? Yang wanita tadi"
"Iya"
"Oh dia itu Nadine teman Satya sekaligus mantan pacar Satya"
"Nadine"
"Iya namanya nadine"
"Dia itu bukan Nadine"
"Dia itu nadine pak, dia pun mengakui jika namanya Nadine"
"Tapi Bu?" Kata Bowo berusaha menjelaskan.
Tapi ucapan Bowo lalu di potong oleh Nita.
"maaf pak kebetulan saya buru-buru mau pulang. Permisi pak"kata Nita pamit pergi.
Bowo pun tesenyum miring...
__ADS_1
Pantas saja dirinya bisa di terima oleh keluarga Satya, rupanya ia menyamar jadi orang lain. Lihat saja kamu, akan aku bongkar besok siapa kamu sebenernya Elina. Kamu tak akan bisa menyamar lagi jadi orang lain, lihat saja. Aku tahu papa mu adalah pembunuh papanya Satya, batin Bowo.