
Elina pun yang ingin memberikan kecupan lembut oleh sang suami tak ia terima, apakah ada yang salah dengan diri Elina. Tapi Elina tak ingin banyak berasumsi saat ini, saat ini yang ia fokuskan hanya rumah tangganya yang tetap harus utuh dan tetap sama-sama.
Hingga suara bel pun berbunyi dengan cepat Elina melihat siapa yang datang kala itu, dan ternyata Hendrawan. Elina yang tak tahu itu pun lantas kaget saat sang mertua yang lebih datang lebih dulu saat itu.
Mata sang mertua langsung memandang ke tubuh Elina yang jelas terpampang seksi dan nyata itu.
Paha mulus dan putih Elina, begitu pula dengan buah kembar yang ada diatas itu yang menyumbul membuat Hendrawan menjilat sedikit bibir atasnya saat melihat Elina.
"Wow? Rupanya ada orang di sini" kata Hendrawan. "Kamu tinggal di sini"
"I-iya" kata Elina singkat.
"Aku pikir kamu telah benar-benar bercerai tapi nyatanya kembali lagi ke rumah ini" kata Hendrawan. "Tapi tubuh mu sangat indah ini, memang sayang bila di biarkan bagaimana bila kita saling bertemu di suatu tempat" kata Hendrawan.
"Hentikan saya bukan wanita murahan" kata Elina.
"Terserah, terserah itu pada mu" kata Hendrawan.
Hingga saat itu datang lah Mery yang baru saja pulang dan kaget melihat menantunya yang kini kembali.
"Aku pikir dirimu tak akan kembali masih kamu datang kesini, bukannya anak saya sudah tak mau lagi dengan mu, kenapa harus kembali" kata Mery yang tanpa basa basi langsung pada inti saat melihat Elina.
"Aku dan Andra sudah rujuk, kami memutuskan untuk kembali bersama" kata Elina.
"Aku permisi dulu ma" kata Elina yang akhirnya memilih untuk pergi saat dirinya merasa jika tak di butuhkan lagi dalam hal ini.
Dirumah besar itu Elina tak berani mengambil makanan yang ada di rumah kecuali sudah ada ijin dari pemilik rumah itu. Elina tak cukup nyali saat itu, Elina bahkan hanya berdiam diri di kamar dengan baju yang Andra pilihkan membuat Elina harus merasakan hal yang membuat dirinya malu dengan baju yang ia pakai. Padahal dalam hal ini seharusnya suami dapat memberikan perlindungan diri dengan memberikan sebuah kehormatan dengan menutup aurat sang istri, namun lain dengan Andra yang malah seolah biasa saja bahkan memerintahkan suatu yang salah yaitu mempertontonkan aurat Elina.
Elina pun duduk diatas kasur perutnya sudah mulai lapar tapi Elina takut untuk ambil makan di rumah itu.
Hingga Elina pun turun ke bawah mencari ada yang di makan, belum saja Elina ambil sepiring nasi Elina sudah di pandang sinis.
"Ngapain kamu di sini" kata Mery.
"Aku lapar ma" ucap Elina dengan nada lirih.
"Hah? Kamu pikir karena kamu tinggal di sini kamu bisa makan seenak jidat" ketus Mery memandang Elina sinis.
__ADS_1
"Mama kenapa benci dengan Elina" kata Elina merasakan kegetiran di hati.
"Karena kamu miskin, Andra bisa saja dapat yang lebih baik" kata Mery, dengan tatapan penuh kebencian.
"Tapi aku ini istri dari anak mama" kata Elina lagi.
"Terus, peduli apa saya sama kamu. Pergi!!! Tidak ada yang gratis di dunia ini, pergi" kata Mery dengan ketus.
Elina pun memijat keningnya, merasa sedih saat ini hidup yang ia harapkan bisa bahagia harus berulang kali mendapati dirinya tak di anggap.
Hingga Elina hanya bersandar dengan tubuh yang terasa lemas karena belom makan.
Higga saat itu, bu Dina pun memberikan makanan untuk Elina.
Bi Dina adalah assiten rumah tangga di rumah besar yang ia tempati.
"Makanlah ini, jatah bibi bisa kamu makan" kata bi Dina yang merasa kasihan pada Elina.
"Nanti bibi makan apa?" kata Elina yang merasa tak enak.
"Gampang bibi sudah makan tadi"
"maaf cuma ini" kata bi Dina.
"ini sudah cukup dan enak terimakasih atas pemberian bibi" ucap Elina penuh rasa syukur atas apa yang diberikan oleh Bi Dina.
"Saya kasihan pada non Elina, saya tidak mungkin tega bila membiarkan non tidak makan" kata bi Dina.
seketika bi Dina menatap Elina dengan tatapan lain, pasalnya tak pernah sekalipun Bi Dina melihat Elina dengan tampilan seperti wanita murahan.
"Non, kenapa pakaian nya seksi begini seperti lain" kata di Dina.
Elina pun tesenyum getir saat bi Dina bertanya soal itu, pasalnya itu pun bukan keinginan Elina untuk memakai
"Keinginan Andra bi, dia ingin aku seperti ini" kata Elina.
"Oh" jawab bi Dina singkat.
__ADS_1
"oh ya makannya jangan sampai ketahuan nyonya ya, nanti non diomelin sama nyonya kalau sampai ketahuan" kata Bi Dina.
"iya bi, baik" kata Elina paham.
Bi Dina pun pergi saat itu dan Elina pun makan dengan lahap dan bersembunyi-sembunyi agar tidak di ketahui oleh siapa pun.
.
.
.
Hingga saat itu Satya pun perlahan mulai membuka mata dari tidur panjangnya, dibawah kesadaran dirinya ia merasakan ada suara Elina begitu dekat dan terasa di telinga, namun ia bingung suara itu benar nyata atau hanya sesuatu yang berupa halusinasi.
"Aku dimana?" Kata Satya yang membuka mata perlahan dan melihat sekeliling dirinya saat itu dan yang ia lihat adalah Kanya.
"Satya kamu sudah bangun.. oh.. syukurlah" kata Kanya seolah peduli pada suaminya kini yang telah sadar.
"Aku... Aku dimana?"
"Kamu di rumah sakit"
"Lalu dimana Elina?"
Sontak saja Kanya pun membulat mata saat yang ia dengar adalah Elina yang Satya cari saat sadar.
"Apa yang baru saja kamu katakan, kenapa yang kamu cari wanita itu. Ingatlah Satya, aku wanita mu, aku istri mu!" Kata Kanya.
"Aku tahu hanya saja aku, aku seperti mendengar suaranya. Saat aku tak sadar aku samar-samar mendengar suaranya, aku seolah memegang tangannya apa benar dia datang saat itu?" Tanya Satya dengan sendu.
"Dari awal kamu sakit, dari awal kamu terluka dari awal semua yang terjadi akulah yang menemani mu hingga saat ini. Tidak ada Elina, tidak ada Elina" kata Kanya yang menyembunyikan semua yang terjadi.
"Jadi ia tidak ada, aku bermimpi"
"Betul, dirimu hanya berhalusinasi dan dirinya kini telah bahagia, dirinya hidup dengan orang yang paling ia cintai yaitu kakak ku, Andra.. tak perlu kamu ingat orang yang hadir sesaat itu. Andra ingatlah anak ini, anak kita yang butuh dirimu sayang" kata kanya yang memegang tangan Satya.
Satya pun memejamkan matanya, meski Satya tahu Kanya adalah istri sahnya, meski Satya tahu Kanya tengah mengandung anak dari dirinya tapi entah mengapa Satya merasakan ada sesuatu yang getir dan terasa sakit.
__ADS_1
Andra pun menghela napas dan memejamkan matanya.