
Lalu Andra pun pergi begitu saja, meninggalkan Elina sendiri. Andra pergi tanpa sarapan lebih dulu, Elina pun enggan menanyakan mengapa Andra tidak sarapan dulu sebelum berangkat kerja. Karena percuma jika Elina bertanya malah akan menjadi sakit bila Elina yang menanyakan namun Elina juga tidak sarapan.
Elina pun menatap uang lima ribu rupiah itu dengan tatapan sedih, dirinya bingung bagaimana bisa dengan uang lima ribu dirinya kenyang dari pagi sampai malam.
Seketika Elina pun merasakan lapar dirinya butuh asupan mungkin saja segelas susu saat ini, hingga Elina pun turun ke bawah mengambil air putih untuk hendak minum.
Elina pun melihat Hendrawan dan Mery sedang makan bersama meksipun Elina tahu ada papa dan ibu mertua Elina tapi Elina lantas hanya berpura-pura saja tidak melihat mereka yang sedang makan.
Namun tiba-tiba..
"Duduklah di sini sarapan dulu" kata Hendrawan.
Elina pun terdiam tak menjawab iya juga tidak menjawab tidak hingga tangan Elina di tarik untuk makan bersama mereka.
"Duduklah makan dulu" kata Hendrawan.
Elina duduk perlahan..
Elina pun menunduk tak memandang keduanya, rasa sungkan dan segan untuk Elina berada di tengah keluarga Andra. Terlebih lagi saat ini Andra tak ada, sudah berangkat kerja.
Elina melihat ada ayam goreng, sayur sop, tahu dan tempe. Makanan yang cukup berat untuk makan pagi kala itu. Elina pun hanya terdiam saja dan tak mengambil.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba..
Teng nong...
Teng nong...
Suara bel berbunyi, Hendrawan dan Mery tak tahu siapa yang datang.
Tiba-tiba..
Kanya datang bersama Satya suaminya tanpa pemberitahuan.
Namun entah mengapa ada sekilas rasa lega saat melihat Satya yang saat ini sudah pulih kembali, pasalnya terakhir Elina bertemu Satya masih dalam keadaan koma kini dirnya telah kembali sehat walau masih terdapat luka di wajahnya.
Satya pun seketika menatap Elina yang menunduk dan tak bicara sepatah katapun.
Satya juga tak menyapa Elina hanya ia pandang sesekali saat itu, sadar Elina bukan lagi sesosok wanita yang masih sendiri. Satya tak berani menatap Elina lebih dalam, terlebih Elina adalah Kakak ipar.
"Satya mama bersyukur sekali kamu sudah sehat, seperti sebuah keajaiban satya, mama dapat melihat mu sehat kembali" kata Mery.
Satya pun membalas ucapan sang ibu mertuanya dengan senyuman.
__ADS_1
"Mari kita makan, jarang-jarang kan kita sarapan bersama. Maaf loh mama masak cuma ini saja, padahal kalau saja mama tahu kalian akan datang mama akan buat yang lebih spesial" kata Mery.
"Ma, gak usah repot-repot ini aja sudah cukup" kata Satya saat itu melihat Elina, meski Satya yang saat itu di ajak mengbrol oleh Mery tapi mata Satya terlihat menatap Elina lekat pasalnya entah mengapa dirinya tanpa sadar fokus jika melihat Elina. Sekali pun mata Satya menatap hal lain.
Hingga saat Elina menyadari ada Satya Elina bangkit dari duduknya, Elina enggan untuk bergabung bersama mereka dan belum saja Elina bangkit tiba-tiba.
"Mau kemana?"tanya Satya.
Elina tak menjawab.
"Duduklah" sahut Hendrawan.
"Maaf aku tak bisa di sini" kata Elina.
"tetap di sini" kata Hendrawan.
Elina pun yang tadi mau bangkit akhirnya tetap duduk bersama mereka.
Satya pun kembali menatap Elina.
Lain dengan Kanya dan Mery yang menatap dengan penuh rasa tak suka, apalagi sadar jika diri Elina membawa kebencian.
__ADS_1