Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Nafkah lima ribu rupiah


__ADS_3

Elina pun tertidur dalam keadaan meringkuk kesakitan, kali ini darah berceceran di malam kedua pernikahan dengan Andra, bukan darah keperawanan yang ada melainkan darah penganiayaan yang di berikan oleh Andra pada Elina yang tercecer ke sprei itu.


Apa yang dilakukan Andra mampu meneteskan darah itu ke sprei, jika dikatakan sakit tentu sangatlah sakit tapi yang saat ini paling terasa sakit bukan pada tubuhnya melainkan adalah batin yang teramat perih saat ini yang tengah Elina rasakan.


Sungguh...


Tega...


Sang kekasih hati yang sungguh tak memiliki perasaan itu lah yang Elina rasakan disaat dirnya tak pernah mendapat pembelaan melainkan sebuah ujian berbeda namun dengan rasa sakit yang sangat terasa sama.


Kemanakah Elina harus melangkah, jika setiap langkah saja seolah salah dan terasa sama.


Dimana Elina harus berjalan jika semua perjalanan yang Elina jalani terasa menyakitkan.


Semua yang di rasa lelah, kepada siapa lagi elina berkeluh kesah, jika hal kecil yang menjadi kebahagiaan saja ternyata sulit untuk di gapai.


Elina hanya memejamkan mata di saat semua di rasa menyakitkan dan terasa muak di dalam hati.


Apakah ini yang di sebut pernikahan yaitu sebagai pelayan sekz untuk pria yang penuh tak punya rasa dan kasar.


Ketika saat itu Elina pun melihat Andra yang terbangun dari tidurnya lalau seolah lupa dengan apa yang ia lakukan dan seolah tak memiliki salah apapun dengan kejadian semalam itu, sprei pun yang basah karena muntah Elina kini sudah bercampur dengan ceceran darah yang terlihat nyata. Darah yang menetes dari buah dada Elina bukan air susu melainkan darah sebuah perlakuan diri Andra yang sangat kasar.


Elina pun menatap sayu dan sedih saat melihat Andra telah bangun dari tidur nya. Terasa pegal dan dingin yang tengah Elina rasakan saat ini.


Bagaimana tidak, saat itu settingan AC di dalam kamar di buat suhu sangat dingin namun Elina tak di berikan selimut sama sekali.


Sungguh tak habis fikir.


Elina pun hanya bisa meneteskan air mata dan merasa kesakitan.


Sreeegg... Breeeg...


Hingga saat itu tangan, kaki dan mulut Elina di lepaskan secara kasar oleh Andra. Elina pun menatap Andra dengan rasa sakit.


Sementara Andra terlihat dingin diam, Elina ingin sekali mendengar kata-kata Andra yaitu sebuah kata maaf saja yang terlontar. Namun sama sekali tak sedikit pun Elina dengar kata itu, apa yang terjadi semalam itu seolah benar-benar tak ada. Tak ada rasa bersalah sedikitpun yang Andra lontarkan.


Padahal Elina menangis dan merintih..


Saat Elina mampu lepas dari tangan Andra, Elina pun langsung mengambil selimut tebal dan langsung menghangatkan dirinya yang dari semalaman kedinginan.

__ADS_1


Meski dalam hal ini mungkin Andra anggap Elina kuat udara yang dingin, tapi tidak harus di tinggalkan begitu saja dalam keadaan tak berpakaian. Bagaimana pun Elina hanya manusia biasa yang tak kuat bila di siksa, sementara Andra malam itu terlihat tidur nyenyak dengan selimut tebalnya.


Hingga kondisi tubuh Elina yang lebih hangat itu pun barulah Elina baru beranjak dari ranjang dan berdiri perlahan lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Saat Elina membuka keran dan shower saat itu, begitu terasa perih saat air jatuh ke tubuh Elina.


Betapa perih di setiap bekas gigitan Andra yang Andra lakukan dan itu terasa menyakitkan, bagian itu yakni di pundak, kemudian bibir yang di gigit dan bagian put*ng Elina dirasa sungguh perih dan menyakitkan.


Hingga Elina pun tak tahan saaa itu, Elina pun menangis di bawah shower yang mengalir ke seluruh tubuhnya.


Mengapa hidup sesulit ini, untuk bahagia saja sulit, teriakan dalam hati itulah yang paling Elina rasakan.


Hingga dada terasa sesak hingga bagian paling dalam.


Dimanakah Elina harus melangkah jika kematian adalah jalan keluar mungkin cara itu terbaik tapi...


Elina pun lalu mengambil handuk dan kini ia bercermin..


cermin itu menjadi saksi betapa perih nya saat ini yang tengah Elina rasakan, selain perih Anra pun melakukan pukulan yang membekas berwarna biru di pelipis kiri Elina.


Andra tak pernah sekali pun memukul selama Elina berpacaran dengan dirinya tapi kali ini lain ada sebuah perlakuan Andra yang begitu tega.


Elina enggan menatap Andra dalam hal ini.


Enggan karena merasa sakit batin, jika di tanya cinta Elina masih lah mencintai Andra tapi dari sikap Andra mana ada wanita yang mau diperlakukan seperti ini.


Sungguh tega..


Lalu Elina menatap Andra yang sedang merapikan diri untuk berangkat ke kantor, tanpa rasa bersalah sedikitpun saat itu.


Ia pakai jam di tangan, berikut dengan kemeja panjang Andra berpakaian rapi.


Sungguh sempurna dan tanpa celah..


Namun...


siapa yang menduga, pria tampan yang saat ini Elina tatap ternyata terlalu mudah untuk memukul dan menyakiti seorang wanita yang butuh perlindungan di dalam dirinya.


Elina tak pernah kenal sifat asli Andra seperti apa, yang Elina tahu saat Andra mengenal Elina hanya satu kata yaitu baik.

__ADS_1


Apakah ini sifat Andra yang sesungguhnya?


Hingga saat itu sebelum Andra berangkat Elina mencoba berbicara dulu pada Andra soal dirinya yang hingga kini belum di nafkahi secara lahir.


"Andra" kata Elina yang menatap sendu.


Andra terdiam dan tak menatap Elina sedikit pun, namun ia malah ingin melangkah pergi.


"Andra sebentar" kata Elina.


"Aku mau kerja" ucap Andra ketus.


"Iya aku tahu kamu mau kerja, tapi jangan pergi dulu"


"Apa?"


"Jujur aku butuh uang, emm.. maksud ku dalam hal ini aku sebenarnya bukan butuh uang tapi butuh makan. Ibu mu melarang ku untuk makan makanan di rumah ini. Aku sadar mungkin aku menumpang tapi dari mana aku bisa makan, jika bukan dari uang mu. Berilah aku uang agar aku bisa membeli makan diluar" kata Andra.


Lalu Andra pun menaruh selembar uang di meja.


Lalu Elina pun menatap uang yang Andra taruh di meja dan ternyata sebesar lima ribu.


Sungguh miris, uang itu dijadikan biaya untuk Elina makan. Apakah itu tidak terlalu sedikit, Elina pun menghela napasnya saat melihat uang itu, Elina bukan tidak bersyukur hanya saja apakah Andra tidak salah dirinya yang kaya raya memberikan uang sebesar lima ribu rupiah.


"Kamu berikan uang ini padaku" kata Elina.


"Iya ada apa? Salah?" Kata Andra.


"Apakah ini tidak terlalu sedikit, aku bingung harus bagaimana dengan uang yang kamu berikan kalau hanya segini" kata Elina.


"Dasar wanita tidak tahu di untung!!! Tak bisa bersyukur!!! Dari awal kita kenal hingga sampai saat ini, kamu hidup dari mana!! Kamu kuliah dari uang siapa? Semua yang kamu punya daid mana Jika bukan dari ku, sekarang kamu komplen hanya dengan uang segini, iya!!!!" Kata Andra dengan teriak-teriak dan membulat mata pada Elina.


"Aku minta maaf, maaf kan aku baiklah aku terima pemberian mu ini.. terimakasih" kata Elina yang pada akhirnya mengalah.


Hingga saat itu Andra pergi tanpa salam dan pamit, lalu membanting pintu.


Braaaggh....


Elina pun menatap dengan sedih Andra yang pergi dengan langkah kaki yang kasar, ada perasaan sakit dan perih yang ada di hati Elina. Disaat semua tidak semudah dan seindah dulu.

__ADS_1


__ADS_2