
Pagi yang cerah saat itu terlihat Elina yang saat itu sudah bangun pagi dan menyiapkan makan pagi untuk dirinya, hari ini ia harus menyambut pagi dengan senyuman indahnya walau terkadang hatinya tak selalu bahagia. Tapi Elina harus bisa menyambut harinya.
Pagi itu Elina pun menyemprotkan parfum untuk dirinya, dari dulu Elina tak pernah sekalipun mengganti parfumnya ya... dari sejak dulu, wangi nya ciri khas sekali dengan almarhumah ibunya yang menyukai parfum yang sama. Dari awal parfum yang ibunya pakai Elina ikuti, apa yang ibunya sukai pun Elina ikuti. Karena baginya ibunya itu adalah sesosok penyemangat dalam hidup yang tak pernah terganti oleh apapun meski kini beliau telah pergi untuk selama-lamanya tapi beliau akan ada tetap di hati.
Dan...
setiap semprotan parfum yang Elina pakai mengingat harum pada sang ibu yang telah tiada, yang telah pergi untuk selamanya, seolah kini berada di dekatnya dan memeluknya.
seolah Memeluknya dengan hangat ..
Elina rindu sekali pada ibunya yang telah lama tiada, andaikan bisa waktu di putar Elina ingin sekali memeluknya sang ibu. Seketika Elina menangis mana kala dirinya yang sedang rapuh ini hanya sendiri menerima batin yang terasa perih. Di tambah kerinduan dan kesepian hati yang tengah di rasakan.
Lalu tak lama terlihat seorang pria datang dan dia adalah Andra. Andra datang membawakan makanan untuk Elina.
Elina pun tersenyum mana kala sang kekasih yang kini mulai perhatian lagi pada dirinya telah kembali, tak bisa Elina pungkiri hanya Andra lah yang mampu hadir di keadaan sepi dan sendiri seperti ini.
"Besok aku ingin mengajak mu membeli hantaran untuk pernikahan kita" kata Andra.
"Apakah harus, aku pikir itu tidak perlu bukannya yang kamu bilang jika kita... hanya menikah sederhana saja" kata Elina.
"Tenanglah ini tidak akan merepotkan ku" kata Andra saat itu.
Elina pun tesenyum.
"Elina?" Kata Andra sekali lagi.
"Ya, kamu terlihat pucat apakah kamu sakit" tanya Andra.
"Tidak aku tidak sakit" kata Elina.
__ADS_1
"Baiklah jika memang tidak aku khawatir saja"kata Andra.
"Tidak mungkin aku hanya kelelahan saja" kata Elina.
"Apakah kamu sudah siap dengan pernikahan kita?" Tanya Andra.
"Tidak mungkin jika aku tidak siap, aku pasti siap dengan acara penting kita" kata Elina.
Andra pun tersenyum begitu pun Elina yang menyambut senyuman Andra.
.
.
Sementara itu, terlihat Satya yang pada akhirnya lebih memilih pergi dari hadapan Kanya sang istri, disamping dirinya bingung dengan perasaannya sendiri dia pun kesal pada Kanya yang berani menampar dirinya, meskipun saat ini Satya tahu dirinya salah karena memikirkan wanita lain tapi Satya tak terima kalau Kanya menamparnya.
Bahkan Satya saat itu mematikan ponselnya, jangankan untuk bertemu untuk menjawab pesan atau telepon saja Andra tidak bisa.
"Sial rupanya Satya marah pada ku, karena aku menamparnya, aku tak biasa biarkan satya lepas dari tangan ku, aku tak bisa jika tanpa kekayaan dan uang yang Satya miliki. walau sebenarnya aku enggan untuk meminta maaf, aku benci.. tapi aku tidak mau jika aku melepaskan dirinya. Baiklah, aku minta maaf saja agar dirinya tidak kesal padaku, aku tak mau Satya lepas dari genggaman ku, ya tak akan bisa Satya lepas dari genggaman ku" kata Kanya yang pada akhirnya memilih untuk menemui Satya di kantornya.
.
.
.
sela-sela pekerjaannya Satya mulai penasaran dengan Elina. Bahkan Satya membuka sosial media yang Elina punya lalu memandang beberapa foto Elina. Dirinya tak pernah tertarik pada wanita selain Nadine wanita yang ia cintai tapi di tinggal nikah..
tapi...
__ADS_1
saat Satya memikirkan Elina Satya merasa ada perasaan lain. Terlebih lagi saat Elina bilang bahwa dirinya pernah di tiduri oleh Satya entah mengapa ada perasaan yang lebih. Meski dalam hal ini ia mengakui dirinya berbohong tapi ada rasa tertarik dari Satya yang tak bisa ia pungkiri.
Hingga saat itu Kanya datang dan tesenyum melihat sang suami.
Kanya pun datang ke kantor Satya dan langsung masuk ke dalam ruangan Satya, Satya sedang melakukan tugas kantornya, Kanya masuk langsung ke kantor Satya tanpa mengetuk pintu.
"Hallo sayang, kenapa telepon ku tidak kamu angkat" kata Kanya.
"Apa perlu aku mengangkat telepon dari mu setelah kamu menampar ku" kata Satya kesal membuang wajah.
"Satya, aku tidak sengaja, aku serius janganlah marah pada ku, aku sungguh tak sengaja, aku hanya cemburu jika kamu memikirkan wanita lain,jadi aku tidak sengaja menampar mu" kata Elina.
"Pulang lah aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun" kata Satya yang membuang wajahnya.
Lalu Kanya perlahan membelai lembut lengan Satya, namun Satya menariknya.
"Lepaskan aku tidak suka wanita yang kasar seperti mu"kata Satya menarik tangannya.
"Sayang maafkan aku maafkan aku, arrrrghhh... Arrgghhhhhh perut ku" kata Kanya memegang perutnya.
"Kenapa perut mu" tanya Satya terlihat panik.
"Perut ku sakit"
"Duduklah, duduklah" kata Satya menopang badan Kanya dan berusaha mendudukan Kanya.
"Sat, kamu jangan marah pada ku, kamu tahu kan aku sedang mengandung anak mu. Aku sedang hamil sayang. Aku tidak bisa stres seperti ini kalau setres bayi dalam perut ikut stres dan jadi sakit perut ku sayang" kata Kanya.
Satya yang kesal itu pun akhirnya melunak karena ucapan Kanya yang saat ini membawa kehamilannya untuk menjadi alasan agar Satya tak meninggalkan dirinya.
__ADS_1