Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Aku ikut dengan mu


__ADS_3

Hingga saat itu Elina berjalan perlahan, dengan perasaan perih batin yang begitu teramat dalam.


Elina yang masih mengenakan pakaian kantor itu pun berjalan terlihat sedih dengan keadaan dirinya, tak ada tempat ia pulang. Tak ada tempat persinggahan saat ini hanya ada batin terasa perih.


Hidup sebatang kara sendiri dan tak memiliki siapapun membuat Elina bingung harus kemana dan bagaimana.


Hingga saat malam itu Elina bingung pun naik ke dalam mobil bak Elina tidur di dalam sana sambil di tutupi terpal Elina tidur.


Tapi tanpa ia ketahui di tengah dirinya tengah tertidur mobil bak itu berjalan dan Elina terlihat bingung saat mobil berjalan. Elina bingung mobil itu akan membawa Elina kemana, namun ingin turun Elina pun takut.


Hingga dirinya pasrah saat mobil itu berjalan perlahan, dan Elina lihat dirinya akan di bawa ke kota Bogor ke daerah pegunungan.


Perasaan was was dan takut Elina alami, karena Elina tak tahu harus bagaimana.


Hingga mobil itu berhenti di sebuah perkebunan yang sangat luas, Eliana yang dari mobil bak itu pun turun dari mobil.


Elina masih menggunakan pakaian kantoran terlihat bingung dan tak tentu arah.


Bahkan wajah Elina terlihat pucat, hingga seroang ibu pemetik sayuran itu mendekati Elina yang terlihat linglung dan bingung.


"Loh eneng terlihat seperti orang yang bingung"


"Iya, aku memang bingung aku tanpa sengaja terbawa hingga sampai sini" kata Elina yang memegang kepala yang terasa pusing.


"Neng emang dari mana?" Tanya ibu itu.


"Jakarta Bu"


"Oh rumahnya di jakarta"


"Tapi saya juga tidak punya rumah juga di Jakarta. Saya bingung harus kemana Bu, saya di usir dari rumah dan tak punya siapapun"kata Elina terlihat sedih.


"Ibu bisa bantu kamu kalau kamu mau" kata Elina.


"Bantu?"


"Iya, kamu bisa kerja di sini sebagai pemetik sayuran dan kamu pun akan di berikan tempat tinggal. Ada sebuah rumah yang akan kamu tinggali, kontrakannya murah sebulan hanya tiga ratus ribu dan bisa di potong dengan gaji kamu nantinya"


"Betul begitu Bu"


"Iya cuma yang jadi masalah kamu kan keliatannya anak orang kaya masa iya kerja seperti itu" kata ibu itu.


"Gak Bu saya bukan anak orang kaya"


"Lalu pakaian mu?"


"Karena ini baju kerja saja, saya sudah tak bekerja lagi di kantor. Cuma sehari"


"Yaudah neng bisa kerja di sini, saya akan info kepada pak Rosyid untuk terima kamu kerja di sini" kata Ibu itu lagi.


" Terimakasih Bu, nama ibu siapa?" Tanya Elina.


"Sri, nama saya Sri"


"Makasih banyak Bu Sri" kata Elina. "Tapi saya kesini gak bawa baju atau apapun itu apakah saya boleh pinjam baju"


"Ada baju saya, nanti kamu boleh pinjam dulu" kata Ibu Sri.


"Tapi gajinya kecil di sini neng, cuma 750.000 perbulan. Ini sangat kecil kan neng, di tambah potongan Bayar rumah tiga ratus tapi itu belum sama listrik sisanya paling tinggal 350.000 neng apa itu cukup"


"Gak apa-apa Bu, paling tidak saya punya tempat untuk tinggal dulu, saya pun saat ini sedang hamil bu" kata Elina.


"Ya ampun memang bapak anaknya kemana?" Tanya Sri.


"Tidak ada Bu, tapi saya gak apa-apa kerja di sini mohon juga terima ya, walau pun saya hamil saya akan berkerja maksimal mungkin karena saya tidak mau kembali ke Jakarta" kata Elina.


Elina pun senang karena akhirnya dirinya di terima bekerja dan ada tempat tinggal yang saat ini hal paling ia butuhkan.


Hingga saat itu Elina pun mandi dan mengganti bajunya. Elina memakai pakaian dari Bu Sri yaitu daster selutut dan celana panjang bahan, Elina tak jadi masalah jika dirinya harus bekerja apapun asal dirinya punya pekerjaan yang bisa membuat Elina bertahan hidup.


Elina yang berkulit putih dan glowing itu pun rela panas-panasan agar dirinya mampu bisa tetap hidup.


Dengan semangat Elina memotong sayur mayur saat itu, dengan kepala yang di tutup caping Elina melakukan tugasnya.


Banyak pasang mata yang menatap Elina heran karena baru kali ini melihat wajah Elina yang terasa asing.


"Bu udara di sini sejuk sekali sangat masih asri, sepertinya aku akan betah untuk tinggal di sini" kata Elina senang.


"Syukurlah kalau kamu bisa betah" kata Bu Sri penuh dengan senyuman.


Elina pun senang meski mungkin pekerjaan yang ia jalani terasa berat tapi hal yang paling penting juga adalah Elina terhindar juga dari para penagih hutang yang mereka sulit menemukan Elina karena Elina sudah tak di jakarta lagi.


Terlebih lagi Elina merasa senang karena terhindar dari Bowo yang memang sering menagih hutang dengan cara yang kurang ajar.


Elina yang berkerja sebagai pemetik sayuran itu pun kaget saat melihat cacing.

__ADS_1


"Aaahhh ibu ada ada ulet bulu besar banget" kata Elina ketakutan.


"Neng cuma ulet, gak apa-apa"


"Tapi geli Bu, geli banget"


"Hehe gak apa-apa untuk pertama mungkin neng akan geli tapi nanti pasti gak geli lagi" kata ibu Sri.


"Iya Bu"


Saat itu Elina pun bekerja semaksimal mungkin tak peduli soal hasil yang ia dapat yang terpenting cukup. Dan beruntung untuk makan masih di tanggung untuk makan siang dan sore hanya sarapan saja yang tidak di tanggung.


Walau makan seperti kangkung, ikan asin dan sambal tapi Elina sudah cukup bahagia dan senang.


Hingga akhirnya Elina pun diantar ke rumah yang akan Elina tempati. Rumah itu terbuat dari kayu yang sudah mulai agak rapuh. Agak sedikit memperihatinkan saat Elina menempati tapi Elina terima semua di banding tak ada tempat tinggal.


"Maaf neng rumahnya mungkin jelek tapi semoga bisa bermanfaat untuk neng"kata Bu Sri.


"Wah ini sangat bermanfaat, saya sudah cukup untuk tinggal di sini saja saya udah bahagia bu" kata Elina.


Bu Sri pun memberikan beberapa helai pakaian untuk Elina.


Elina beruntung dirinya masih di berikan tempat tinggal untuk saat ini.


Hingga malam tiba disaat Elina yang tengah sendiri, entah mengapa air mata elina terjatuh merasa batin perih.


Bagaimana tidak hidup sendiri sebatang kara membuat Elina merasa bahwa dirinya kali ini benar-benar sendiri.


.


.


.


Hingga empat bulan berlalu, kini kandungan Elina perlahan sudah mulai terlihat di usia kandungannya yang menginjak enam bulan, namun Elina harus siap membanting tulang demi dirnya dan buah hati yang akan ia lahirkan nanti.


Elina yang dulunya takut cacing itu pun kini sudah tak takut lagi, Elina merasa kedamaian di tengah kesunyian dan kesepian hati.


Banyak yang bertanya soal status Elina yang di rasa menjadi sebuah pertanyaan, tentang kemanakah suami Elina.


Elina pun sudah katakan bahwa dirinya hanyalah seorang janda, tapi Elina tidak bisa jika membuka hati pada siapapun.


Elina tidak bisa menikah dulu, disamping dalam masa iddah Elina pun sulit untuk membuka hati, bukan karena masih mencintai Andra hanya saja Elina tak siap untuk menikah bila ingat trauma di masa lalunya yang kerap mendapat kekerasan dalam rumah tangga dari sang suami dan juga ketidakadilan kehidupan Elina yang kerap kali mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.


Elina lebih banyak menutup diri dan jarang bersosialisasi, saat ini yang Elina perlukan hanyalah menabung untuk biaya melahirkan, Elina menyisihkan seratus ribu perbulan untuk biaya melahirkan.


Elina yang sedang sibuk memetik buah dan sayur terlihat seorang pemilik kebun yang menginfokan akan kedatangan seorang tamu dari kota Jakarta.


"Pagi semuanya... Saya hari ini akan beritahukan jika akan datang seorang tamu datang dari Jakarta ingin melihat perkebunan di sini kalian bisa dampingi dan bantu saat ada pertanyaan yang mungkin ia tanya" kata pak Bagja.


"Baik pak"sahut Elina dan yang lainnya.


Elina pun tak menaruh curiga apapun Elina tetap melanjutkan pekerjaannya yaitu memetik sayuran, tangan yang terasa sudah kapalan tapi tak Elina tak hiraukan.


Wajah Elina masih tetap cantik meski saat ini Elina mungkin sering terkena papar matahari karena harus memetik sayuran tiap harinya. Tapi Elina sudah tak peduli lagi soal penampilan, tapi justru banyak yang menilai jika Elina sangatlah cantik. Kecantikan yang Elina miliki kecantikan alami yang sangat membuat sebagian orang menganggumi kecantikan Elina bahkan banyak pria yang jatuh hati saat melihat Elina.


Tapi kembali lagi Elina berkali kali menutup diri dan perasaannya dalam-dalam.


Dan saat itu pria yang dari kota itu pun datang dan ternyata dia adalah Bowo.


Elina yang tadinya sedang fokus bekerja mendadak seperti orang yang tersambar petir saat melihat pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Bagaikan mimpi buruk untuk Elina dapat di pertemukan kembali dengan pria yang saat ini Elina hindari.


Bowo pun tesenyum saat melihat Elina yang saat itu ada Elina.


Senyuman Bowo begitu terasa sangat memilukan hati Elina pun hanya menunduk dan enggan melihat Bowo ketika itu.


Namun Bowo berusaha mendekat pada Elina, Elina berusaha menghindari. Namun dirinya tak bisa karena Bowo sudah ada di depan mata..


"Sudah lama sekali aku tak melihat mu, aku pikir kamu telah pergi untuk selamanya tapi ternyata takdir masih mentakdirkan untuk kita bertemu kembali" jelas Bowo tesenyum miring menatap Elina tajam.


"Permisi" Elina pun menghindar.


"Tunggu buat apa terburu-buru, mengbrol dulu lah"


"Tidak pak"


"Ouh kandungan mu sudah besar sekarang tapi Elina, dirimu sangat cantik meskipun dalam keadaan hamil seperti ini" kata Bowo yang berusaha membelai wajah Elina perlahan, Elina pun membuang wajahnya. Elina tidak mau jika dirinya di perlakukan kurang ajar oleh Bowo.


"Permisi"kata Elina ketus.


"Tunggu dulu di sini urusan kita belum selesai, hutang mu masih banyak"


"Saya tahu.. Tapi pekerjaan saya banyak permisi" kata Elina yang pergi.


Seketika air mata Elina terjatuh tanpa ia sadari.

__ADS_1


Elina pun berusaha terus untuk menghindar dari Bowo, Elina tak mau jika dirinya terperangkap dalam situasi sulit.


Bagi Eliana...


Ini lebih dari mimpi buruk bahkan ini adalah sebuah malapataka untuk Elina. Seketika Elina pun merasakan batin terasa perih, bila ingat perlakuan Bowo yang sangat menyakitkan untuk Elina.


Elina pun tetap melanjutkan pekerjaannya, Bowo terus membuntuti Elina dari kejauhan Elina sadar akan hal itu tapi Elina berusaha untuk biasa saja.


Bowo pun mendekati Elina lagi.


"Aku tak menyangka jika diri mu lebih memilih hidup sederhana seperti ini ketimbang hidup di kota bersama Andra" kata Bowo yang tidak tahu jika Elina dan Andra sudah bercerai sudah empat bulan lalu.


Elina pun tak banyak bicara dan tak meladeni Bowo, Elina tetap melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


malam harinya...


Bowo pun mencari tahu tentang Elina yang kenapa bisa dirinya hidup sendiri di kota yang jauh dari Jakarta.


setelah Bowo telusuri ternyata Elina sudah bercerai dengan Andra.


Dan malam itu Bowo pun datang ke rumah Elina yang hanyalah gubuk yang terbuat dari kayu.


Bowo tak menyangka jika Elina yang dulunya anak orang kaya raya kini hidup dengan keadaan serba pas-pasan dan berasa di garis kemiskinan.


Lalu sebuah ketukan terdengar.


tok..


tok..


tok...


sebuah ketukan itu membuat Elina membuka pintu, Elina pun kaget bukan kepalang saat yang ia buka pintu itu adalah dari seorang pria bernama Bowo.


"Pak Bowo" kata Elina yang kaget dan tegang saat melihat pria itu.


"Kenapa kaget kamu lihat saya di sini" kata Bow tersenyum sinis.


"Lebih baik bapak pergi karena saat ini saya tidak menerima tamu, bapak pulang sebelum saya teriak bapak maling"ancam Elina.


"Rupanya ku sudah berani mengancam saya, iya? hebat sekali kamu. kamu pikir kamu siapa, ingin lepas dari ku segera lunasi hutang mu!" jelas Bowo.


"Tapi saya tidak ada uang"


"jika tidak untuk apa kamu ingin menghindar sampai kapan pun kamu tak akan bisa lunasi, yang aku mau kamu lunasi dengan cara lain, yaitu kamu ikut dengan ku untuk teman ranjang ku" kata Bowo.


hati Elina pun teriris perih dengan penuturan yang dikatakan oleh Bowo.


hingga akhirnya Elina pun meludahi Bowo.


"cccuiiihhh, jangan harap karena saya tidak akan menjual diri saya sendiri" kata Elina.


"Oh rupanya kamu sudah mulai berani sama saya, baiklah kalau begitu kamu akan tahu akibatnya. Saat ini Bu Sri sedang sama orang saya, dan jika kamu menolak kamu tahu akibatnya apa. Ku akan melihat Bu Sri tidak selamat, paham" jelas Bowo dengan penuh penekanan.


"Apa?"


Bowo pun memperlihatkan Bu Sri yang saat ini ia culik dan berada ditangannya.


Elina menggelengkan kepala dengan rasa tak percaya.


Elina tak mau jika orang yang sudah baik pada dirinya menjadi korban, Elina tak mau jika hal buruk menimpa orang lain karena diirinya.


"Iya dirinya saya buat tak selamat, bahkan hanya tinggal nama saja" kata Bowo.


"Jangan, jangan mohon saya mohon jangan" ucO Elina seraya memohon.


"Semua mudah saja asal kamu tahu apa yang harus kamu lakukan yaitu ikut dengan ku" kata Bowo tesenyum.


"Baiklah.. baiklah... saya akan ikut dengan pak Bowo saya akan ikut dengan pak Bowo tapi saya mohon jangan Bu Sri yang menjadi korban" kata Elina yang akhirnya mengambil pilihan paling berat dan sangat menyakitkan.


"apa kamu bilang?" kata Bowo.


"saya ikut dengan mu, saya akan ikut tapi lepaskan Bu Sri"


"baiklah, saya akan lepaskan dia"


saat itu Elina pun ditarik paksa oleh Bowo untuk ikut bersama dirinya.


Hancur sudah perasaan dan batin Elina saat dirinya tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


Elina pun langsung menangis dengan air mata dan kesediha yang sangat dalam tentang kesengsaraan hidup yang ia alami.


__ADS_2