
Ketika saat itu Elina menatap Andra penuh dengan cinta, menatap Andra yang tampan dan baik hati membuat Elina tersadar bahwa ia mencintai Andra di dalam hatinya.
Bahkan saat ini hanya Andra yang selalu di hati Elina. Tidak ada yang lain, berapa kali pun Andra menyakiti hati Elina dan menanggap Elina buruk nyatanya ada sebuah hal yang Elina tak bisa pergi dari hidup Andra.
Yaitu tempat Elina pulang..
Hanya Andra yang mampu mengisi hidup Elina yang terasa kosong.
Tapi...
Kejadian yang malam itu saat Elina terenggut kehormatannya, membuat Elina menjadi pemurung dan pendiam, bahkan Elina menutup dirinya sendiri. Tak terbuka pada siapapun dan lebih banyak melamun.
Bagi Elina menutup diri adalah cara Elina menyembuhkan luka walau kesendirian itu adalah hal yang terasa menyakitkan.
Elina hanya bisa meratapi semua yang telah terjadi, tak ada sumber kekuatan saat ini. Hanya mengepalkan tangan menahan amarah dan sakit yang tengah di rasa.
Elina terlalu lemah bahkan pergerakan yang di anggap membela diri malah semakin menyakiti diri.
Diam dianggap bodoh, melawan pun akan di hancurkan dengan cara yang paling menyakitkan.
Hingga Elina lebih banyak menutup diri belajar lupa walau semakin di lupa semakin teringat, bagaimana harga diri seseorang di anggap tak berati karena kelemahan yang menjadi senjata untuk mereka yang berkuasa.
Dua Minggu berlalu..
Semua terasa menjadi pukulan hidup untuk Elina, Elina tak meminta kebahagiaan yang luar biasa hanya hidup tenang dan menikmati semua yang ada namun kembali lagi semua serasa sulit.
Bahkan dalam kesendirian di rumah kontrakan yang terasa sepi, Elina kerap kali menangis karena hidup yang meronta sakit di dalam raga dan jiwa.
__ADS_1
Semua ingatan dan kenangan buruk, serta kesendirian yang Elina alami seolah tersusun rapi menjadi luka yang sulit untuk terobati. Luka yang terasa basah dan entah kapan ia akan mengering.
Tak ada ruang dan tempat untuk berpijak di mana ia bisa yakin untuk mengarungi bumi yang terkadang membuat Elina merasa pupus harapan.
Hingga hanya air mata yang lebih banyak menemani..
Hingga saat itu Andra datang membawa sebuah bingkisan dan itu ternyata sebuah makanan untuk Elina.
Elina pun tesenyum walau sebenernya hatinya masihlah sakit bila ingat semua kenangan buruk.
Saat ini yang paling peduli adalah calon suaminya, yaitu Andra pria berumur 28 tahun yang cukup dewasa untuk Elina.
"Aku bawakan makanan untuk mu, aku rasa kamu belum makan" kata Andra .
"Andra, hidup ku sudah hancur semenjak kejadian itu, hati ku telah rapuh saat aku kehilangan harta berharga ku. Yaitu hormatan yang selama ini ku jaga, cinta yang selama ini aku jaga pun seperti sebuah pukulan keras saat aku tak gadis lagi. Saat ini yang aku harapkan hanya dirimu, pelabuhan hati yang setia kepada ak. Ku harap sikap mu tak pernah berubah, ku harap dirimu tak pernah merubah cinta mu padaku, itulah harapan yang ada saat ini" kata Elina pada Andra.
Sampai ucapan Andra membuat hati Elina merasa tersayat mana kala...
"Elina" ucap Andra dengan wajah datarnya.
"Ya" sahut Elina sembari tersenyum.
"Pernikahan kita alakadarnya saja, tidak akan ada pesta, tidak akan ada pelaminan, tidak akan ada acara makan-makan. Hanya akad saja dan setelah itu sah"kata Andra.
Elina pun tesenyum getir tak bisa marah hanya menerima, Elina berfikir bahwasanya dirinya siapa marah hanya karena sebuah pesta yang di anggap tak perlu sekalipun Andra kaya raya.
"Kamu tahu kan dirimu yang sudah tak gadis lagi, aku anggap pesta pernikahan kita hanya akan menghamburkan uang. Aku sadar aku tidak lebih menikahi seorang janda, sekalipun status mu di KTP masih di anggap belum menikah" ucap Andra dengan wajah datar dan suara yang dingin.
__ADS_1
Hati Elina tersentak mendengar apa yang di ucapkan oleh Andra. Terasa menyayat hati bahkan sakinya mengalahkan pisau yang menggores luka di tangan.
Sangat pilu..
Namun air mata Elina yang sudah di ujung mata ia tahan karena ucapan Andra sudah menghancurkan segenap perasaan yang ada. Elina pun menggigit bibir nya menahan rasa sakit yang ada.
"I-iya aku ikut .. ya-yang terbaik untuk kita" kata Elina tak sanggup bicara.
"Bahkan kalau perlu kamu makeup sendiri, bisa kan.. tak ada baju pengantin atau pun riasan. Kamu bisa gunakan baju biasa dan baju itu kamu pakai untuk akad nikah nanti. Bicara malam pertama, ya.. Malam pertama pun tak ada gunanya, nyata nya... semua yang dilakukan oleh ku nantinya sudah dilakukan orang lain juga padamu" ucap Andra suara perlahan tapi terasa menusuk di hati.
Elina pun mengangguk paham dengan air mata yang tertahan.
"Dan satu lagi kita nikah siri saja tak perlu repot urus surat-surat kan. Gak perlu juga kamu repot ini itu, cepat selesai dan simple. Paling tidak kamu mengerti posisi mu saat ini" kata Andra.
Elina pun terdiam tak banyak berkata lagi, dirinya tak bisa banyak bicara.
Andra mungkin menanggap Elina sudah tak gadis lagi, Elina tak bisa marah karena itulah kenyataannya.
Tapi ..
Tetap saja hati nya terasa sakit.
Hingga saat Andra pulang...
Elina pun menangis tersedu sedu...
Bukan karena dirinya yang menikah dengan cara sederhana Elina menangis, melainkan Elina merasa ucapan Andra yang ternyata mampu membuat Elina sadar betapa dirinya begitu rendah dan tak berarti. Tapi Elina tak bisa lepas karena bagaimana pun Elina membutuhkan sesosok Andra yang sudah berjasa memberikan kebaikan, dalam hati terdalam Elina juga sangatlah mencintai Andra. Walau rasa sakit itu tetap terasa... ya sangat terasa ...
__ADS_1