
Elina pun tertidur di atas lantai kamar mandi yang terasa dingin, tak bisa kemanapun saat ini.
Terlebih lagi ini Elina merasa lapar dan tak bisa makan apapun saat ini.
Hingga saat itu, Andra pun datang kembali dan membuka pintu kamar mandi dengan tatapan dingin.
"Terimakasih kamu sudah membuka pintu ini untuk ku" kata Elina.
Andra pun hanya terdiam tak bergeming.
"Andra, aku tahu aku mungkin bukan lah istri yang sempurna, tapi aku mohon jangan sakiti aku" kata Elina dengan nada lirih.
Kali ini Andra hanya terdiam.
Seketika Elina pun memeluk Andra dengan erat mencoba untuk menggunakan hatinya mencintai Elina.
"Andra, semua bisa kita bangun kembali, aku memang hamil anak Satya tapi orang yang aku cintai hanyalah dirimu" kata Elina.
Andra pun masih terdiam saat itu.
Lalu Andra pun tidur dengan sifat dinginnya kali ini tak banyak tuntutan namun lebih banyak diam.
"Aku mungkin masih tetap bersama mu, tapi sifat ku mungkin masih akan tetap sama. Karana aku sebenarnya tak Sudi untuk menikahi mu"
"Kalau memang tidak lalu kenapa kamu mau dengan ku"
"Karena aku butuh tubuh mu untuk menjadi pelampiasan ku untuk apa aku sudah bayar mahal tidak dapat apa-apa" jawab Andra terasa menusuk. "Aku rugi uang ku sudah masuk pada dirimu, belasan juta. Kamu tahu saat kamu kuliah dengan uangku, dan kamu pun makan juga dengan uang ku selama berhari hari. Apakah aku tidak cukup rugi mengeluarkan itu semua"
"Aku pikir semua itu gratis, aku pikir aku cukup membalasnya dengan cinta" kata Elina.
Hingga saat itu Andra pun hanya diam tak menjawab sepetah kata pun, namun sudah lebih baik tidak memukul Elina dengan sadis.
Meski Andra sudah sangat jahat pada Elina, Elina masih memberi ruang pada Andra siapa tahu sikap Andra yang di luar batas itu bisa berubah. Dalam hal ini Elina sungguh lah masih mencintai Andra.
Sementara itu...
Satya entah mengapa masih ada rasa memikirkan Elina hingga saat ini. Rasa itu mengapa tiba-tiba muncul pada dirinya padahal secara garis besar dirinya dari awal pertemuan tak ada rasa tertarik pada Elina.
Bahkan hingga saat ini sang istri dari Satya yaitu Kanya tak bisa membuat Satya tertarik. Satya hanya menjalani semuanya karena perjodohan oleh orang tuanya.
Satya yang habis memukuli Andra pun pulang tanpa rasa bersalah.
"Aku di telpon oleh kakak ku Andra, dia bilang kamu datang ke kantornya memukul Andra apa iya?" Kata Kanya.
"Iya kenapa?"
"Satya aku tidak suka kamu seperti itu, satya ingat lah aku ini istri mu dan kamu jangan terus ikut campur urusan rumah tangga mereka" kata Kanya.
Satya pun lantas pergi saat itu dan meninggalkan Kanya di rumah.
Hingga saat itu Satya pun memilih untuk meminum minuman alkohol bersama temannya.
.
.
.
.
Sementara itu..
Saat malam hari Elina yang lantas ingin segera tidur tiba tiba terbangun dari tidurnya dan melihat andra yang tengah terbaring di sampingnya.
Lalu Elina pun menatap Andra yang tengah terbaring dan memejamkan matanya lalu dengan cepat Elina memeluk Andra.
Sekalipun dalam hal ini Andra telah jahat pada Elina tapi dalam hal ini Elina ingin memeluk Andra lebih dalam karena Elina sebenernya sangatlah mencintai Andra.
Hingga mata Andra terbuka dan menatap Elina.
"Andra?" Kata Elina.
"Apa"jawab Andra.
Seketika Elina memegang perut dirinya saat ini tengah mengandung. Ada perasaan ingin tahu tentang kondisi janinnya apalagi saat dirinya tahu tengah mengandung ia tak pernah sekalipun mengetahui kondisi janinnya saat ini
"Andra" kata Elina yang memegang dada Andra.
Dalam hal ini sekalipun Elina merasa sakit hati dengan sikap Andra yang keterlaluan, tapi hanya Andra lah sang suami yang Elina harapkan.
"Andra, Kamu tahu janin yang ada di kandungan ku ini belum pernah sekali pun aku bawa ke rumah sakit, aku ingin meminta uang pada mu, agar aku tahu perkembangan bayi dalam rahim ku ini"
"Untuk apa?" Tanya Andra.
"Untuk aku tahu kondisi janin ku saat ini" kata Andra dengan tatapan dingin.
"Berapa banyak lagi biaya yang harus aku keluarkan untuk dirimu" kata Andra yang enggan menatap Elina.
"Andra bukannya ini hal penting bagaimana kalau bayi ini kenapa-kenapa karena tak pernah di bawa ke tenaga kesehatan".
"Terlalu banyak pengeluaran untuk dirimu, dari a sampai z. Kamu tak pernah sadar itu! Kamu tahu kucing saja bisa melahirkan tanpa harus ke bidan atau ke rumah sakit dan bisa lahiran sendiri" kata Andra dengan ketus.
"Jadi kamu menganggap ku kucing" kata Elina.
"Aku tidak bilang kamu kucing, aku cuma ingin kamu tidak manja"kata Andra.
"Tapi ini bukan manja aku hanya-"
"Cukup!! Aku ingin istirahat, jangan ganggu!!" Kata Andra.
Elina pun terdiam sejenak saat itu ketika Andra lebih merasa kehamilan Elina adalah beban untuknya.
.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu...
Satya yang habis berkumpul dengan temannya pun pulang dengan keadaan mabuk, Andra yang sebenernya tidak ingin mabuk itu pun lantas di ajak temennya dan mau saja.
Hingga dirinya saat itu sampai di rumah dan melihat sang istri yang tengah terbaring.
Kanya pun mendekati Satya.
"Kamu mabuk?" Tanya Kanya.
"Hey wanita sialan jangan dekati aku"
Satya, kamu mabuk. Aku tahu biasanya orang mabuk tidak sadar. Kalau begitu aku ingin mengajak kamu berhubungan badan, batin Kanya.
Hingga Kanya yang saat itu mencoba memeluk Satya. Bukannya diterima dengan baik tetapi di tepis oleh Satya.
"Satya aku ini istri mu" kata Kanya.
"Sekalipun siapapun kamu aku tak mau di sentuh oleh mu" kata Satya.
"Satya" kata Kanya.
"Pergi kamu, pergi!!!!" Kata Satya yang dalam pengaruh alkohol dan malah ingin mengusir Kanya.
"Pergi segera dari kamar ini, aku tidak suka kamu di sini" kata Satya.
"Tapi sat-" kata Kanya.
Dengan cepat tangan Kanya pun di tarik keluar dari kamar yang mereka tempati.
Brrrraggg...
Pintu kamar di banting oleh Satya saat dirinya tengah di bawah pengaruh alkohol.
Kanya pun tak menyangka jika Satya tega melakukan itu.
Satya kamu kenapa begini, batin Kanya.
Dan pada akhirnya Kanya pun tidur di kursi depan sofa rumah itu sambil menunggu Satya membuka pintu kembali untuk Kanya.
Pagi menjelang.....
Satya pun membuka matanya perlahan dan menyadari semalam dirinya mabuk lalu melihat samping kasur tak ada Kanya.
Hingga saat itu Satya pun beranjak dari kasur dan membuka pintu.
Ceklek...
Kaget melihat Kanya yang tidur di luar.
"Kamu tidur di luar?" Kata Satya.
"Apa aku tidak salah lihat kamu tidur di luar"
"Iya ini semua karena mu, kamu mabuk dan kamu mengusir ku dari kamar ini" kata Kanya..
Kanya pun masuk kedalam kamar sambil cemberut.
Seketika Satya pun terdiam dan merasa ada yang aneh dengan semua yang terjadi.
Pasalnya kata Kanya, saat Satya mabuk dirinya dengan ganas meniduri Kanya tapi saat mabuk seperti ini kenapa Satya malah mengusir Kanya..
Ada apa dengan diriku? kenapa saat malam pertama itu saat aku mabuk kanya bilang bahwa aku telah menidurinya, tapi saat ini .. saat ini yang terjadi aku justru mengusirnya, batin Satya.
Kanya pun memandang Satya yang terlihat merenung.
"Kamu kenapa?" Tanya Kanya.
"Tidak apa-apa" jawab Satya singkat.
"Oh aku tidak marah sekalipun kamu melakukan itu padaku"kata Kanya
"Lakukan apa?"tanya Satya.
"Sekalipun kamu mengusir ku dari kamar mu"
"Oh" kata Satya.
Lalu terlihat Kanya yang mengambil gaun dan lalu memakai di depan Andra.
"Menurut mu apakah terlihat cantik dengan gaun ini" kata Kanya.
Satya pun terdiam tak menjawab.
"Satya aku bertanya padamu?" Kata Kanya yang menyadarkan satya yang masih termenung.
"Cukup bagus" kata Satya.
"Ada undangan pernikahan, aku tidak mau tampil biasa saja..aku mau tampil cantik dan anggun, akh cukup cantik kan" kata Kanya.
Satya pun hanya mengangguk saja.
Entah mengapa Satya tak merasakan cinta dan hasrat pada Kanya, entah secantik apapun kanya, entah bagaimana pun dan apapun yang Kanya pakai Satya merasa biasa saja bahkan tak ada perasaan.
Dan pada Satya pun menyadari jika baju Kanya seperti nya baru karena masih terlihat segel yang tertempel di baju yang ia pakai.
"Itu baju baru?" Tanya Satya.
"Iya"
"Baju mu bukannya banyak yang bagus kenapa harus beli lagi" kata Satya.
__ADS_1
"Baju pesta ku banyak sih, tapi jelek banyak yang kurang bagus" kata Kanya.
"Kalau gitu gaun yang sekiranya sudah jelek itu kamu berikan pada orang lain aja daripada tidak di pakai. Kamu berikan pada assisten rumah tangga di rumah ini siapa tahu baju itu bisa lebih bermanfaat" kata Satya.
"Nih kamu berikan satu ini menurut ku ini lah paling jelek" kata Kanya.
Satya pun memegang gaun Kanya yang dianggap jelek itu.
Ting nong..
Ting nong...
Hingga tak lama seorang pembantu datang, dan dia adalah bi Dina.
"Ada apa bi, bibi ko datang kesini" kata Satya.
"Ini ada titipan makanan dari nyonya Meri buat istrinya tuan"
"Oh, terimakasih bi" kata Satya.
"Iya, kemarin non Elina ngidam pengen makan sop iga. Ini sudah di buatkan" kata Bi Dina.
"Oh, oke. Bi.. sebentar bi ini ada gaun yang sudah lama Kanya tak pakai bisa bibi pakai kalau mau dan suka"
"Terimakasih tuan, ini benar buat saya"kata bi Dina.
"Iya bi"
"Makasih tuan dengan senang hati saya terima" kata satya.
Lalu setelah selesai dalam urusan nya bi Dina pun pergi.
Sementara itu Satya melihat Kanya yang sedang sibuk dengan make-up nya. Untuk urusan penampilan Kanya memang tidak mau kalah dan ingin selalu tampil cantik.
Namun secantik apapun kanya dalam ber-make up bagi Satya Elina biasa saja dan punya kecantikan yang standar.
"Tadi bi Dina datang membawakan SOP iga untuk mu, katanya kamu ngidam" kata Satya.
"Iya memang aku ngidam, aku meminta mama membuatkannya" kata Kanya.
"Oh iyga tadi gaun mu sudah aku berikan pada bi Dina gak apa-apa kan"jelas satya.
"Terserah, gaun itu memang jelek. Kamu mau kasih pengemis pun terserah gaun ku masih banyak" kata Kanya.
"Baiklah"
Hingga pagi hari itu terlihat Bi Dina yang membawa gaun yang di berikan Satya.
Dengan senyum bi Dina pun membawa gaun yang ia bawa.
Dan terlihat Elina yang saat itu melihat bi Dina dengan senyumannya.
"Aduh senang banget nih Bi ada apa?" Tanya Elina yang tesenyum.
"Non tahu gak bibi habis dapat gaun"
"Gaun? Wow pantesan senang kirain habis dapat uang"
"Iya bibi dapat gaun mau coba aaahhh, ayuk non ikut ke kamar bibi yuk, lihat bibi pakai gaun ini" kata Bi Dina menarik tangan Elina.
Bi Dina sengaja menarik tangan Elina karena ingin tahu pendapat Elina tentang gaun yang bi Dina bawa.
"Non, bibi coba ya pakai. Nanti non komentarin bagus apa gak" kata bi Dina yang ingin memakai gaun merah yang saat itu bi Dina bawa.
"Okey bi" kata Elina.
Lalu Bi dina pun ingin mencoba gaun yang ia bawa tapi sayang ternyata gak muat.
"Non ternyata gaun ini tidak pas ukuran nya dengan badan Bibi gak muat" kaya Bi dina cemberut.
"Waah kok bisa"
"Iya padahal baru kali ini bibi senang dapat gaun mahal, bagiamana ini. kalau gitu ini buat non aja"
"Eh jangan ini kan punya bibi" kata Elina.
"Haduh saya gak enak kalau di pulangin lagi, lagi pula ukuran ini pasti pas buat non elina.
"Eh jangan ini punya bibi"
"Coba dulu, cobain deh"
"Ehmmm...." Kata Elina yang akhirnya mencoba gaun yang diberikan oleh Bi Dina.
"Yasudah deh kalau bibi paksa aku coba ya, memang ini dari siapa bi?" Tanya Elina.
"Majikan bibi yang lama" jawab bibi.
Elina pun tak menanya lebih jelas majikan yang lama itu siapa.
Dan ternyata...
"Waaahh gaun merah ini bagus banget di pakai non Elina, sudah ini untuk non Elina saja"kata bi Dina.
"Ah iya pas tapi beneran nih buat saya" kata Elina.
"Iya buat non aja"
"Waaaah makasih ya bi" kata Elina yang malah dirinya yang senang dapat gaun baru.
"Aku juga punya sih gaun dari Andra tapi yang ini lebih bagus" kata Elina lagi.
"Bibi ikhlas ini buat non aja"kata bi Dina.
"Waaah... Makasih banyak bi terimakasih malah jadi aku senang" kata Elina menerima gaun pemberian bi Dina.
__ADS_1
"Gak apa-apa non, bibi juga senang kalau non senang" kata bi Dina.