Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Hal gila yang Elina dapatkan


__ADS_3

Dua hari kemudian, Elina pun mendapat rumah kontrakan yang baru bagi Elina kabur dari kenyataan itu sebenarnya salah tak akan menyelesaikan masalah apapun tapi saat ini Elina hanya ingin tenang lebih dari penagih hutang yang kurang ajar itu, kelakuan Bowo sungguh sangat meresahkan membuat Elina trauma bagaimana tidak pengambilan foto dengan keadaan tanpa busana itu membuat Elina jatuh harga diri. Seolah sebagai wanita tak ada lagi harga diri malu benar benar malu, Elina pun memejamkan mata dan menahan rasa kesal yang ada di dalam dada.


Hingga saat pagi hari yang cerah itu suara handphone Elina berbunyi sebuah pesan masuk Elina pun mengecek ternyata dari Andra.


Isi pesan singkat itu:


Lusa mama mengundang mu untuk makan malam dia ingin mengenal mu..


Sebuah pesan singkat yang dituju pada Elina membuat Elina menaruh senyum saat itu.


Lalu Elina pun menjawab dengan emoticon senyum dan sebuah kata iya. Bagi Elina dapat menikah segera adalah dimana Elina dapat menemukan hidupnya yang telah hilang.


Elina sedih dan enggan bila harus hidup sebatang kara terus menerus apalagi setiap masalah yang ada membuat Elina merasakan beban yang sangat menyiksa.


Setahan tahan Elina menghadapi semua sendirian Elina tetap butuh pundak yang mampu menguatkan.


Hingga saat itu handphone Elina berdering kembali, dan ternyata nomer yang Elina tak kenali. Elina ada rasa ketar ketir melanda khawatir panggilan masuk dari penagih hutang lagi dirinya pasti akan bingung untuk menjawab.


Tapi beruntung ternyata panggilan itu bukan lah penagih hutang melainkan sebuah informasi untuk Elina agar besok dapat melakukan sesi psikotes dan interview kerja di sebuah perusahaan.


Elina sungguh bahagia karena dengan ini dirinya bisa mendapat kesempatan untuk mendapatkan gaji setiap bulan. Terlebih jika ternyata gaji cukup besar yang ditawarkan, dengan itu dapat melunasi hutang Elina yang jumlahnya cukup fantastis. Ya paling tidak hutang si Bowo sialan lah yang Elina ingin segera lunasi lebih dulu. Sudah cukup Elina lelah dengan hutang dan ancaman dari penagih hutang yang tak ada akhlak itu.


Elina pun mempersiapkan dirinya paling tidak dengan menyiapkan pakaian yang bagus, layak dan anggun. Itu semua Elina lakukan agar Elina dapat di terima di tempat perusahaan yang di tuju. Dan paling penting adalah mental, Elina tidak boleh tegang tetap rileks dan pastinya senyum yang manis siapa tahu dengan senyuman yang ramah tamah Elina dapat diterima.


Ya.. harapan itu masih ada, hidup ini memang keras tapi harus bisa menaklukkan sekeras apapun itu,


semangat Elina..


kamu tidak boleh mundur kamu harus semangat. Huufff walau terkadang hidup ini terlalu miris sampai kapan aku bisa hidup bebas tanpa beban hutang yang dirasa sangat gila ini, batin Elina menatap cermin dengan wajah sedihnya.


Hingga...


Keesokan harinya...


Elina pun terbangun di pagi hari, untuk menyambut hari ini dengan senyum dan kebahagiaan di dalam hati. Lupakan semua masalah yang ada marilah sambut kebahagiaan dengan cara Elina, Elina tak boleh rapuh. Itulah yang menjadi motivasi pagi hari ini sebelum memulai aktivitasnya.


Elina pun mandi dengan bersih lalu keramas dengan sampo yang wangi.


Berpenampilan menarik, anggun dan wangi itu adalah nilai plus dari diri Elina yang mungkin bisa membuat Elina di terima di tempat bekerja. Berharap Elina bisa bergabung dengan perusahaan yang saat ini Elina ingin tuju.


Elina pun memandang wajahnya saat ini, dan seketika Elina melihat wajahnya yang ternyata masih ada bekas luka pukul.


Elina pun bingung jika ada pertanyaan tentang wajahnya yang kenapa bisa babak belur, jujur pun akan salah bohong pun akan salah juga. Akhirnya Elina pun akhirnya mengambil Concealer pada wajah nya untuk menutup memar yang ada.


Hingga beberapa sentuhan Concealer dan make up yang flawless Elina tampil percaya diri pada pagi hari untuk melamar kerja.


Sebenernya Elina sudah memiliki job sendiri, sebagai penyanyi, make up artis bahkan menjadi pianis di sebuah kafe. Tapi karena akhir-akhir ini job sepi dan tak bisa mengandalkan dari sesuatu hal yang tak pasti, Elina butuh kerjaan paling tidak menjadi karyawan tetap di sebuah dengan gaji pasti berikut dengan tunjangan asuransi dan yang lainnya bisa mampu melunasi Elina. Meskipun nama Elina sudah di kenal beberapa orang karena suaranya yang bagus, hasil make up yang tidak kaleng-kaleng dan bermain piano yang cukup membuat hati tenang. Tak membuat Elina tidak butuh uang, tetap saja Elina butuh uang.


Dalam hal ini Elina tahu ada Andra juga yang mungkin saja bisa mengcover kehidupan Elina secara keseluruhan. Tapi Elina tak mau terlalu percaya diri dulu, semua yang di rasa mungkin bisa saja tak mungkin apalagi saat ini status Elina yang hanya pacar saja, ya.. hanya pacar bukan istri tak semua menjamin akan tetap ada.


Saat itu...

__ADS_1


Lalu Elina pun naik ojek untuk sampai ke tempat itu, Elina mengarungi jalan yang ternyata cukup panjang di pikir jalan itu cukup dekat ternyata cukup jauh saat dilalui. Rambut yang wangi itu pun harus Elina relakan karena harus kena paparan sinar matahari yang mungkin saja akan mengurangi wangi tapi perjuangan untuk mencari uang memang harus panjang dan banyak berliku juga tetap harus di jalani.


Lalu Elina pun sampai dengan senyumannya menyambut dengan langkah yang penuh semangat berharap akan ada harapan yang akan di dapat.


Hingga sesampainya Elina di tempat itu, Elina bersama pekerja lain sekitar berjumlah 15 orang Elina di kumpulkan dalam satu ruangan dan di beri sebuah kertas. Dan ternyata itu adalah soal psikotes yang cukup banyak, Elina yang sudah mencoba 15 kali gagal psikotes sepertinya sudah hapal betul dengan pertanyaan yang sama hanya angkanya saja yang di ubah. Bak pisau yang tumpul lalu terasah Elina mampu menyelesaikan tugas psikotes itu hingga selesai dan baik.


Elina Aryani...


sebuah nama di sebut untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu sebuah wawancara kerja.


Dan bersyukur Elina dapat melanjutkan ke tahap berikutnya karena itu adalah langkah awal untuk Elina sampai pada tahap akhir dan selanjutnya.


Elina memaklumi tahap ini terlalu panjang tapi Elina yakin semakin panjang proses semakin bagus juga hasil yang akan di dapat kan meski masih menjadi misteri apakah Elina akan di terima atau tidak Elina harus tetap percaya diri akan di terima.


Yang lulus seleksi selanjutnya ada 6 orang dari 15 orang untuk melanjutkan tahap wawancara.


Dengan bekal ijazah SMA sudah itu jurusan bukan IPA Elina bisa maju ke tahap selanjutnya yaitu sesi Wawancara.


Elina pun masuk ke dalam ruangan lalu berhadapan dengan seorang pria yang belum tua tapi tidak muda juga sekitar usia 30 tahun, bagi Elina cukup tampan hanya saja.


"Oia sebentar ya mba, saya tidak wawancara ke mba"


"Loh kenapa mas, eh maksud saya pak, saya gagal sebelum berperang baru masuk belum ada pertanyaan satu pun masa sudah gagal" kata Elina.


"Bukan, bukan begitu tapi petinggi saya langsung yang meminta saya barusan untuk mewawancarai mba. Ini kesempatan bagus yang sayang bila di lewatkan good luck ya mba saya permisi" ucap pria itu pergi meninggalkan Elina sendiri di dalam sebuah ruangan.


Hingga....


Mata Elina membulat tajam saat ia tidak tahu siapa yang menjadi pemimpin dan pemilik perusahaan yang saat ini tengah ia lamar.


Bak membeli kucing di dalam karung Elina kaget bukan kepalang saat melihat nama yang ia hindari justru di depan mata yakni Bowo si tua tak tahu diri.


Elina menelan saliva dalam dalam saat hal tak terduga ia temui.


Lalu Bowo pun duduk di hadapan Elina dengan setelan jas parlente dan terlihat seperti bos besar.


Dengan senyuman miring dan menatap Elina Bowo senang saat dapat bertemu kembali dengan orang yang sudah banyak hutang dengannya.


"Apa kabar mu, baik bukan? setelah aku lihat wajah mu tak banyak luka dan kamu terlihat sangat manis hari ini. Eeehmmm juga cantik, sangat cantik, sangat indah di pandang mata. Elina, wajah mu sangat membuat ku menyukai mu. Kamu pasti bingung kenapa aku yang ada disini. Semua hal mudah bagiku Elina, tadi.. Aku tak sengaja melihat mu di depan, dan yang tadinya aku hanya lewat saja aku bulatkan satu nama untuk aku Wawancara eksklusif dari ku" kata Bowo menatap Elina.


Elina yang di tatap tajam dengan senyuman nakal dari Bowo membuat Elina enggan dan benci untuk menatap nya balik.


Elina pun berdiri beranjak pergi.


"Aku rasa, aku cukup sampai di sini. Aku membatalkan semuanya" kata Elina yang melangkahkan kakinya.


Tapi tiba-tiba..


"Jangan pergi jika dirimu masih ingin pergi jangan harap nama baik mu akan aman. Selangkah saja dirimu pergi kamu tahu, foto itu akan aku sebarkan dengan cepat" ancam Bowo.


Mata Elina pun membulat saat mendengar sebuah ancaman yang dirasa sangat gila.

__ADS_1


"Berbalik lah kepadaku" kata Bowo yang tidak mau jika Elina pergi.


"Kamu tahu aku orang yang cukup bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, kamu tahu foto mu yang sudah aku simpan itu mengandung banyak hal buruk. Bisa saja foto dirimu akan dilihat semua orang"


"Kurang ajar!!! Jadi apa mau?!!" Kata Elina dengan nada emosi.


"Lakukan apa yang aku perintah kan, puaskan aku... Jika dirimu tak siap untuk aku tiduri malam ini, kamu bisa melakukan dengan mulut mu" kata Bowo menatap Elina tajam.


Dengan cepat kepala Elina di tarik dan Elina di paksa menunduk untuk memberikan sebuah service plus plus dengan mulutnya.


"Lakukan apa yang aku perintahkan segera lakukan dengan mulut mu" sebuah ancaman yang tedengar sangat gila yang elina dengar.


Hingga celana yang di pakai Bowo pun ia lepas tanpa malu di hadapan Elina. Elina pun mampu melihat batang besar milik pria tua itu tapi Elina menutup mata.


"Lihat gambar dirimu akan aku kirim ke semua jejaring sosial"


Pilihan paling sulit dalam hidup disaat Elina bingung dengan keadaan yang ada.


Hingga tamparan keras mendarat di pipi Elina dan sebuah rasa takut atas ancaman yang di lakukan oleh Bowo membuat Elina akhirnya terpaksa melakukan hal yang paling gila yaitu menutaskan hasrat seorang pria dengan mulutnya.


Batang besar yang tak pernah ia lihat secara nyata kini ia lihat dan ia harus tuntas kan dengan mulut nya yang masih perawan belum tersentuh oleh siapapun kini harus gila dengan kelakuan si tua bangka.


Elina satu sisi salah dan tak bisa tapi akhirnya dia melakukan hal yang paling gila yang tak seharusnya ia lakukan.


-skip


Hingga selesai dan tuntas Elina pun serasa ingin muntah, Elina pun langsung berlari ke toilet yang ada didalam ruangan itu. Elina benar benar muntah saat barang sudah kadularsa itu menyemburkan sedikit di mulu Elina yang manis dan lembut.


"Anjiirrr, kurang asyeeeemmm aki-aki sialan dasar buaya darat orang gila, stress!!!! Aku sumpahin mati aja!!, ih geli banget itu benda rasanya pengen aku potong. Ikkhhhhhh......" Kata Elina membersihkan mulutnya dengan air berkali kali serta dengan sumpah serapah merasakan kesal yang teramat dengan yang dilakukan oleh pria bernama Bowo.


"Daaasaaarrr kampreeet" kata Elina kesal.


Hingga setelah beberapa menit di kamar kecil Elina keluar dengan sorot mata yang tajam namun enggan untuk melihat si tua bangka itu.


Kalau saja membunuh tidak dosa mungkin Elina sudah membunuh pria itu sekarang juga.


"Buat pemula seperti mu cukup baik juga memainkan mulut mu dengan luwes, selain cantik kamu sangat menggoda sungguh sangat indah" kata Bowo.


"Selamat kamu bisa bekerja di tempat ini" kata Bowo. "Tolong rahasiakan ini semua dari siapapun jika kamu masih nama baik mu Aman"


"Maaf saya tidak butuh pekerjaan ini lagi, permisi" kata Elina pergi dan berlari dengan cepat.


Elina yang merasa di rugikan dalam hal ini pun hanya bisa menangis mana kala kehidupan yang ia alami ternyata segetir ini.


Kenapa tempat nyaman dan tenang saja sulit untuk ia dapatkan hingga akhirnya. Elina yang merasa kesedihan paling dalam pun menangis tersedu meratapi nasib yang tak baik menimpa dirinya.


Sambil berlari Elina menangis hingga dirinya tanpa sengaja terjatuh.


Elina pun menangis sambil tersungkur dirinya tak sanggup menahan rasa kesedihan paling dalam yang tengah ia rasakan.


Namun tanpa di sangka Elina di ikuti oleh Bowo dari belakang dengan sebuah mobil, Elina pun semakin takut saja ia pun kembali berlari untuk pergi dan melanjutkan untuk pergi dengan ojek.

__ADS_1


Saat itu pupus sudah harapan Elina untuk mendapatkan pekerjaan barunya karena nyatanya bukan perkejaan yang ia dapatkan namun nasib dan hal gila yang ia dapatkan.


__ADS_2