Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Apa yang terjadi


__ADS_3

Saat itu Kanya yang sudah merasa jika Satya memiliki kelemahan pada wanita yang tengah hamil pun tesenyum licik, seolah apa yang menjadi kehamilan bisa menjadi senjata untuk Kanya mendapatkan perhatian Satya. Padahal yang sebenernya terjadi adalah Kanya hanya berpura-pura saja.


"Aduh sayang perut ku sakit sekali, dia seperti tahu kalau papa dan mamanya sedang berkelahi tolong elus perut ku ya" pinta Kanya.


Satya pun terdiam seolah enggan memeluk perut dari Kanya.


"Sayang ini anak mu pegang lah agar rasanya lebih baik" kata Kanya.


Dengan perlahan Satya pun mengelus perut Kanya karena merasa bersalah akan perut Kanya yang sakit padahal sebenernya itu bukanlah salah dari Satya.


"Bagaimana sekarang sudah lebih baik"kata Satya.


"Ya cukup baik"


"Sayang, kamu jangan marahi aku ya. Anak kita ini tahu jika papa dan mamanya berkelahi"


"Sudah lah aku sedang tidak ingin bahas yang macam-macam sekarang kamu pulang, kita bisa bicarakan semua di rumah"


"Sayang kita pulang ke rumah mama ya, aku sudah lama tidak kesana, tapi kamu antar aku ya"


"Baiklah iya, aku antar" kata Satya dengan wajah dinginnya.


Dalam hal ini Satya memang memilih terpisah rumah dari orangtua karena Satya memang sudah memiliki rumah sendiri, sehingga ia tidak tinggal bersama orang tua.


.


.


.


.


Hingga saat itu, Satya tak pernah tahu jika Elina datang ke rumah Hendrawan, saat Satya dan Kanya datang Satya melihat mobil Andra terpakir di depan rumah.


Dan tanpa sengaja melihat Elina.


"Elina" kata Satya yang melihat Elina.


Satya pun memandang Elina dari kejauhan tapi Elina membuang wajahnya.


Lalu terlihat Andra, Hendrawan dan juga Mery yang saat itu berkumpul.

__ADS_1


"Sebelumnya aku ingin bicara pernikahan ku dengan Elina ma" kata Andra.


"Apa kamu yakin dengan wanita ini, kalau mama jujur mama tidak setuju" kata Mery.


"Tapi ma, dari awal kan Satya sudah katakan jika Elina adalah wanita satu-satunya yang Andra mau, dan kami akan segera menikah"kata Andra.


"Yakin kamu tidak mau dengan wanita pilihan mama, mama punya pilihan lebih bagus. Berkelas dan lebih cantik pastinya" kata Mery yang mengatakan secara langsung tanpa memikirkan perasaan Elina.


Elina pun mengehela napasnya.


"Asal kamu tahu di keluarga kita semua di jodohkan tidak ada yang tidak di jodohkan, termasuk mama sendiri yang di jodohkan dengan papa mu" kata Mery lagi.


"Ma, mau seperti apapun jodoh yang mama berikan aku tetap memilih Elina" jelas Andra.


"Terserah pada mu saja jika kamu pada wanita ini tapi ingat jangan kamu sesali jika kamu nyatanya tidak mencintainya" kata Mery.


Elina pun hanya terdiam saat dirinya ternyata tidak semudah itu masuk ke dalam keluarga Andra .


Namun bicara soal Satya Elina enggan sekali untuk bertatap muka pada pria yang memang menjadi calon adik iparnya itu. Ada rasa benci bila ingat semua yang terjadi.


Dan pada saat itu...


"Kanya, bisakah kamu menemani Elina beli beberapa kebutuhan untuk acara pernah kami, kamu sudah berpengalaman pasti tahu apa saja yang akan di persiapkan dan di beli" ucap Andra.


"Oh boleh saja" jawab Kanya.


Sontak saja Elina menggelengkan kepala tidak mau bila di antar Kanya


"Aku tidak mau, tidak usah kamu tidak perlu membeli apapun" kata Elina.


"Tenanglah tidak apa-apa"kata Andra.


Bagaimana pun Elina tahu bagaimana sifat calon adik ipar yang menurutnya sangat kejam dan ia enggan untuk mengambil resiko bila pergi bersama calon adik iparnya.


"Elina tak apa-apa tak jadi masalah jika kamu berbelanja dengan ku" kata Kanya tesenyum pada Elina.


Elina masih menggelengkan kepalanya isyarat ia tidak mau.


"Elina, tidak apa-apa ya tidak jadi masalah" kata Kanya.


Dengan terpaksa Elina pun akhirnya ikut apa yang menjadi kemauan Andra untuk membeli kebutuhan bersama Kanya.

__ADS_1


Akhirnya Elina dan Kanya pun berangkat bersama menuju pusat perbelanjaan dengan naik mobil berdua dengan Kanya.


Andra tidak ikut karena ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan, sementara Satya tidak ikut menemani dia pulang.


Kanya memang meminta Satya jangan ikut dengannya karena akan lama lagi pula bersama Elina seperti sebuah ancaman bagi Kanya.


Selama perjalanan Kanya pun tesenyum miring pada Elina, sementara Elina hanya menunduk takut pada Kanya.


Masih teringat di dalam ingatan Elina, tentang bagaimana sikap kasar Kanya yang sudah memukuli Elina.


"Elina, kamu tidak perlu takut kepadaku, aku tidak akan menggigit mu apalagi membunuh mu. Aku minta maaf soal yang kemarin aku salah, aku lakukan semua itu karena demi menjaga keutuhan rumah tangga ku, aku tidak mau pelakor masuk ke dalam rumah tangga ku meksipun itu adalah calon kakak ipar ku sendiri yaitu kamu" kata Kanya.


Elina pun melirik dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar permintaan maaf tapi anggap Elina sebagai pelakor.


Sungguh penghinaan...


Padahal sudah jelas siapa yang salah dan apa yang Elia alami bukanlah suatu hal yang dianggap sepele. Sesuatu yang sulit untuk di maafkan.


Elina pun hanya diam tak menjawab lagi rasanya enggan menjawab permintaan maaf dari Kanya yang tak punya hati nurani.


Sesampainya di sana ...


Elina pun di ajak berkeliling mall untuk membeli beberapa hal yang perlu ia dapatkan untuk acara pernikahan, mulai dari alat solat, pakaian, alat make up dan dalaman wanita dan lain-lain yang memang biasa untuk di bawa untuk hantaran pernikahan. Kanya pun menyuruh Elina membeli beberapa hal yang di butuhkan.


Hingga saat itu yang terasa melelahkan karena berkeliling pusat perbelanjaan.


Namun entah mengapa saat di tengah kesibukan, Elina pun pingsan karena kelelahan.


Kanya pun panik saat melihat Elina pingsan, dengan cepat orang-orang pun menolong Elina saat itu. Elina pun terjatuh Elina pun dilarikan ke sebuah ke rumah sakit, saat di rumah sakit dokter pun mengatakan jika diri Elina.


Hamil...


Mata Kanya pun membulat saat mendengar semua yang ia dengar.


Apa?


Dirnya tak pernah menyangka jika akan hamil?


Bagaimana bisa dirinya hamil? Jika benar dirinya hamil itu artinya janin yang Elina kandung adalah anaknya Satya.


Namun pada saat itu Elina yang tengah pingsan pun tidak mengetahui akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2