
Elina pun menangis dengan air mata yang terjatuh di pipi tak ada tempat lagi untuk berpegangan jika sang suami yang seharusnya selalu di hati kini seolah lupa jati diri dirinya siapa.
Suami yang harusnya menjadi pelindung untuk sang istri dengan mudah menyakiti tanpa rasa iba sama sekali.
Elina sadar dirinya salah dalam hal ini, tapi yang paling mendasar adalah Elina tak pernah berniat untuk menduakan Andra atau menghianati Andra sedikit pun.
Dan sekali pun Elina salah dalam hal ini, tak seharusnya Andra memukuli Elina secara brutal dan tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Apalagi saat ini Elina tengah mengandung, seharusnya Andra masih memberikan rasa kasihan pada Elina meski sedikit.
Seketika Elina sangat merasa jika Andra tidak pernah cinta pada Elina, rasa yang dulu pernah ada pun entah rasa apa itu.
Nyatanya dari awal pernikahan Elina tak merasakan Andra yang baik lagi seperti dulu, tak lagi merasakan rasa Elina yang teramat perih dalam hati.
Siksaan demi siksaan yang Andra berikan tanpa rasa dosa sedikit pun membuat Elina patah arang dengan pernikahan yang baru seumur jagung.
Rasa sesak di dada kini tak terobati rasa pilu merasakan sakit raga dan jiwa yang sakit terasa Elina alami.
Kemana Elina harus melangkah jika tempat pulang untuk Elina saja begitu terasa menyakitkan.
Hingga Elina perlahan membuka mata dan menyadari dirinya masih ada di pojok kamar mandi dengan baju yang basah, wajah yang tampak memar, serta kaki kiri yang patah.
Rasa sakit itu kini mendera, kaki Elina merasakan sakit yang begitu terasa.
Andra sangat jahat dan tega, jika banyak dari suami yang ingin istri sempurna tanpa celah tapi Andra entah punya pikiran apa dengan tega mematahkan kaki elina hingga untuk Elina gerakan saja terasa sakit, lalu bagaimana Elina mampu berjalan
Sesak rasa di dada...
Hanya karena rasa cemburu yang belum tentu benar, Elina harus merasakan kepiluan yang ada di dalam dada.
Hingga Elina berusaha bangkit perlahan dengan kaki nya yang sudah patah itu sulit untuk Elina bangkit tapi Elina tetap berusaha jalan perlahan untuk pindah karena elina merasa dingin tapi dengan badan yang panas juga karena ada bagian tubuh Elina yang agak melepuh karena air panas yang Andra siram.
__ADS_1
Elina pun bangkit dengan berpegangan hingga Elina melihat Andra yang sedang duduk dan melihat Elina yang datang.
"Besok kamu tak usah kuliah lagi, aku sudah mengeluarkan dari kampus itu. Mulai sekarang tidak ada lagi kuliah, tidak perlu kamu kuliah tidak usah lagi kamu kuliah. Di rumah urus suami dan tutup dirimu" jelas Andra.
Seketika Elina terdiam dan tak bergeming dengan apa yang dituturkan oleh Andra sungguh menyayat hati. Pasalnya dulu, Elina yang anggap Andra baik ternyata sungguh tega perjuangan elina yang ingin kuliah itu pun harus di putus hanya karena kesalahan satu malam.
Sungguh miris dan terasa teriris.
Hingga Elina merasa perih dan membatin namun tak banyak bicara sudah cukup, luka ini...
Luka ini saja belum terobati rasanya malah menambah luka jika Elina tak terima dirinya mendapati di paksa keluar dari tempat kuliah. Hingga Elina menarik napas beratnya saat itu.
"Kamu tidak boleh kemana pun dari apartemen ini, aku tidak mau seorang pun tahu dengan keadaan mu" kata Andra.
Hingga saat ini Elina merasa jika semuanya di rasa tak baik-baik saja.
"Andra kamu boleh bilang kamu mengeluarkan ku dari kampus, baik aku terima itu. Tapi Andra sikap mu yang buruk dan keterlaluan aku tak bisa terima, aku ingin cerai saja. Hingga aku ataupun kamu tak adalagi beban untuk hidup bersama, aku capek Andra hiks hiks hiks aku capek terus begini. Aku hanya butuh perlindungan hidup, bukan di perlakukan seperti ini. Aku tak bisa di perlakukan seperti ini, aku pertama kali di pukuli oleh mu aku masih bisa sabar mungkin aku salah. Tapi apa yang kamu lakukan ini sangatlah keterlaluan Andra. Kaki ku patah apakah ini cara mu mencintai ku, jika iya aku menyerah lebih baik kita pisah. Aku lelah, aku capek, hiks hiks hiks aku butuh hidup yang lebih baik" kata Elina menangis.
"Apakah kamu yakin dengan kata-kata mu" kata Andra.
"Aku yakin"
Seketika Andra pun merasa jika Elina benar marah pada dirinya hingga elina ia pun dekati.
Ada rasa tak ingin pisah saat elina benar benar mengatakan perpisahan itu pada Andra.
"Elina aku mohon jangan katakan apapun lagi aku tak mau kita pisah" kata Andra yang mencoba mendekati Elina.
"Aku minta maaf" kata Andra.
"Elina aku mohon" kata Andra sekali lagi.
__ADS_1
Tapi Elina pun membuang wajahnya.
"Elina sampai kapan pun aku tak akan menceraikan mu, aku cinta pada mu. Aku minta maaf semua akan sembuh kan luka mu" kata Andra.
"Elina kamu harus maaf kan aku jika tidak ingin aku bunuh kamu"
Elina sebenernya tidak mau menerima kata maaf lagi dari Andra.
Tapi.... Elina tahu Andra cukup nekat malah ancaman itu cukup sadis akan membunuh Elina jika Elina menolak permintaan maaf dari Andra.
Hingga Elina terdiam dan tak bicara sepatah katapun.
Lalu Andra pun menggendong Elina dan membawa Elina bukan ke dokter melainkan ke tempat alternatif yakni tukang urut patah tulang.
Elina tahu Andra meminta maaf agar dirinya terbebas dari jerat hukum jika bisa saja Elina adukan ke kantor polisi bahkan Andra lebih memilih ke tempat patah tulang agar dirinya tak di sorot akan perbuatan jahat yang sudah ia lakukan.
Elina yang kesakitan untuk kaki yang patah kini harus merasakan sakit karena proses penyembuhan yang menyakitkan juga
"Aaarrgghh sakit,. pelan-pelan pak" kata Elina yang merasakan sakit pada kaki nya.
"Sakit pak pelan-pelan" kata Elina yang tak bisa menutupi rasa sakit yang mendera hingga air matanya terus keluar tak kuasa ia tahan.
"Aaarhhh Aw Aw sakit" rintih Elina kesakitan hingga Elina menggigit baju untuk menahan rasa sakit yang ada.
Elina berulang kali menahan rasa yang ada..
bahkan Andra malah membekap mulut Elina agar Elina tidak teriak kesakitan karena bagi Andra teriakan elina sangat berisik.
"Berisik kamu!! berisik, tutup mulut mu, teriakan mu sangat berisik tahu gak" kata andra kesal pada Elina.
Elina pun merasa perih yang teramat terasa
__ADS_1