Malam Pengantin Mu

Malam Pengantin Mu
Aku assisten rumah tangga mu?


__ADS_3

"Uang yang ku simpan di dalam tas ku seharusnya kamu tahu ada dimana?" Kata Andra marah pada Elina.


"Aku tidak tahu dan aku berani bersumpah" kata Elina yang merasa tidak tahu dimana uang Andra saat ini.


"Aku tahu kamu yang mengambilnya kan"


"Bukti apa yang sudah kamu dapatkan tentang aku yang mengambil uang mu" kata Elina


"Jangan bohong"


"Aku tidak mengambil uang mu"


"Itu pasti kamu, pasalnya aku tak pernah kasih uang ke kamu pasti kamu ambil uang aku kan"


"Nah itu kamu tahu kalau kamu tak pernah kasih uang ke aku tapi bukan berarti aku ambil uang mu"


"Terus kemana uang ku" kata Andra marah sambil membulat mata pada Elina.


"Aku tidak tahu"jelas Elina.


"Apa gunanya kamu menjadi istri kalau uang ku saja kamu tak tahu"kata Andra.


"Cukup Andra, cukup!"


"Hah aku baru ingat, mana ada maling yang mengaku soal barang yang kamu ambil" kata Andra.


"Kamu sudah jarang memberi uang sekarang kamu fitnah diriku ambil uang mu, tega kamu"kata Elina.


"Hah, sudah lah. Percuma bicara sama wanita yang tebal muka seperti mu"


"Tebal muka dari mana? aku tebal muka Andra, darimana?"


"Sadar kamu, kamu sudah gak punya harga diri di sini, punya banyak hutang dan menumpang hidup di sini"kata Andra dengan lantang.


"Apa aku salah menumpang hidup di rumah suami ku sendiri"


"Hah iya seharusnya kamu sadar kalau begitu jangan banyak protes kalau sudah tak memiliki apapun jangan banyak protes"kata Andra yang langsung beranjak pergi.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Bukan urusan kamu aku mau kemana?"


"Kenapa cinta kamu berubah Andra"


"Aku tidak berubah memang aku seperti ini, kamu saja yang tidak sadar" kata Andra langsung pergi.


Elina pun terdiam saat itu tak banyak bicara lagi, tak menyangka jika Andra bicara seperti itu.


Hingga saat itu, Andra pun pergi bersama teman wanitanya tanpa sepengetahuan Elina.


Seketika Oma sari pun menyadari jika Elina yang dinikahi oleh cucunya sering cekcok dan tak akur sama sekali.


"Kenapa Andra pergi" kata Oma sari.


"Entah lah Oma" kata Elina.

__ADS_1


"Apakah ia sering seperti ini" tanya Oma sari.


"Dari awal memang kita tak saling akur dalam pernikahan" jelas Elina.


.


.


.


Hingga keesokan harinya, Sari pun melihat Elina yang tertidur di kamar nya tapi terlihat sakit pada saat itu. Tubuhnya mengigil kedinginan


"Andra tidak pulang" kata Sari.


"Iya" jawab Elina singkat.


"Kamu sakit badan mu panas lebih baik makan bubur dulu" kata Sari. "Setelah ini Oma akan telepon Andra untuk segera menemui mu kamu karena kamu sakit"


"Oma, jangan Oma. Nanti Andra marah pada ku"jelas Elina.


"Tapi dia suami mu kamu harus sadar itu" kata Sari.


"Iya tapi tidak bisa aku meminta tolong padanya" kata Elina yang tak mau jika Andra di telpon.


"Elina dia suami mu" kata Sari.


"Iya aku tahu, tapi aku tidak mau berkelahi terus pada Andra Oma, aku tidak mau bertengkar terus pada Andra. Biarkan lah nanti pun akan sembuh sendiri" jawab Elina.


"Badan mu sangat panas Oma khawatir kamu sedang sakit"kata Oma sari.


Elina pun hanya terbaring saja dengan tubuh yang lemah dan tak bisa berbuat banyak.


Hingga saat Elina sedang tak baik-baik saja Elina mendengar suara telepon berdering dan tak menyangka jika itu Andra yang menelepon.


"Hallo ini aku Andra" kata Andra di telepon.


"Andra" kata Elina.


"Segera ke kantor ku sekarang ambil laptop yang ada di meja, sekarang. Ada meeting dan aku lupa membawanya file penting ada disana"


"Tapi aku sedang sakit Andra bisakah kamu yang mengambilnya"


"Gak usah manja cepetan, gak apa-apa" kata Andra.


"Tapi Andra"


"Menolak perintah itu artinya kamu akan tahu akibatnya"


"Baik Andra"kata Elina yang berusaha untuk bangkit.


Elina yang tak punya banyak uang itu pun memaksakan diri untuk tetap pergi sesuai perintah Andra.


Dengan perlahan Elina pergi dengan naik angkutan umum.


Elina berangkat hanya bisa dengan angkutan umum karena sadar uangnya tak cukup bila dengan taksi atau pun ojek.

__ADS_1


Selama di perjalanan Elina berusaha untuk tetap kuat agar mampu mengantarkan laptop nya Andra.


Sesampainya di kantor .


Elina pun berjalan menuju resepsionis dan meminta memberitahukan Andra bahwa Elina telah datang.


Tak lama Andra datang dan mengambil laptopnya.


"Mana laptop ku" kata Andra.


"Ini" jelas Elina dengan tatapan tak baik-baik saja.


Tanpa sedikit senyum dan ucapkan terimakasih Andra langsung mengambil laptop itu dari genggaman tangan Elina.


"Oh dia siapa pak?" Tanya seorang resepsionis kepada Andra.


"Oh dia pembantu saya" jelas Andra.


Suara Andra tak keras mengatakan itu Andra pun langsung pergi.


Kepergian Andra membuat Elina menyadari jika dirinya tak punya uang lagi untuk pulang ke rumah.


"Mba saya lupa minta uang sama Andra, bisakah kamu telepon Andra lagi untuk memberikan uang agar saya bisa pulang dengan naik taksi atau ojek"


"Baik, pak asisten rumah tangga bapak minta uang untuk pulang"


"Kasih lima ribu uang kamu dulu saya ganti"


" oke pak"


"Nih mbak dari pak Andra" kata resepsionis itu memberikan uang lima ribu rupiah.


"Tadi aku sekilas denger mba bilang saya apa? Assisten rumah tangga"


"Loh mba kan assiten rumah tangganya pak Andra kan. Pak Andra yang bilang begitu sama saya"


Seketika Elina pun tak menyangka jika Elina hanya di katakan seorang pembantu.


"Bukan, saya bukan pembantu tapi saya istrinya" kata Elina yang tak terasa menjatuhkan air matanya.


"Oh maaf saya tidak tahu"


"Ya gak apa-apa, saya permisi" kata Elina pun pergi.


Lalu Elina pun berjalan perlahan lagi dengan uang yang Elina bawa sebesar lima ribu rupiah.


Rasa sesak di dada termat terasa saat Elina hanya di anggap pembantu oleh Andra.


Bahkan uang lima ribu yang di rasa tak cukup untuk naik angkutan umum bila sampai rumah Elina pegang kuat. Uang itu tidak cukup karena bila naik angkutan umum dua kali baru sampai rumah.


Hingga tanpa terasa Elina pun berjalan untuk sampai rumah dan tanpa terasa dirnya pingsan di pinggir jalan.


Bugghhh.....


Lalu seorang pria menemukan Elina di jalan.

__ADS_1


__ADS_2