Mariana

Mariana
Bab 1


__ADS_3

Namanya Mariana. Gadis angkuh dengan ekspresi datar yang tak pernah banyak bicara. Entah mengapa sikapnya begitu dingin. Sedari dulu sudah seperti itu. Aku hampir tak pernah melihatnya tersenyum ataupun menangis. Bicarapun hanya seperlunya. Orang akan berpikir jika dia sedikit aneh. Tapi bagiku dia lucu. Seperti robot, kaku. Ana, begitu dia biasa dipanggil, memegang penuh kendali atas dirinya sendiri. Tak membiarkan orang lain mengintimidasi nya. Begitu percaya diri, sekalipun levelnya hanya terendah diantara yang lain.


Dia pintar dan selalu menjadi nomor satu. Entah otaknya terbuat dari apa. Bertolak belakang sekali denganku. Tapi setidaknya, ada satu kelebihanku. Mariana, dia ada dibawah kendaliku. Dan hanya kepadaku dia menurut. Apapun yang aku mau, apapun yang aku inginkan, tidak pernah boleh ada penolakan darinya. Karna memang begitulah seharusnya.


****


Suasana kelas riuh tak terkendali. Hal yang biasa terjadi saat jam kosong seperti ini. Semua siswa seakan menikmati kebebasan, meski ada tugas yang harus dikumpulkan. Kulihat disudut ruangan ana sedang sibuk menyalin catatan. Seakan tak peduli dengan semua kebisingan yang terjadi. Dia selalu bisa fokus dalam kondisi seperti apapun. Meski sesekali tangan-tangan jahil tak berhenti mengganggu nya. Seolah teman-temannya tak rela jika ana menjadi yang paling rajin. Meski memang biasanya seperti itu.


Dari balik pintu, seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang berjalan mendekat ke arah ana. Melemparkan sebuah buku dengan tidak sopan.


" Kerjakan semua tugasku !!" pinta gadis itu dengan sedikit penekanan pada gaya bicaranya.


" Tidak bisakah kau mengatakan "tolong" dan melakukannya dengan sedikit lebih sopan ?" Ana hanya berkata datar tanpa menoleh ke arah gadis bernama Amera itu, seperti sudah tau siapa yang melemparkan buku kepadanya.


" Kau tau aku tidak akan pernah bisa bersikap lembut padamu bukan." ucap Amera acuh berlalu meninggalkan kelas Ana.


Ana dan Amera satu tingkatan hanya saja beda kelas. Meski begitu Amera sering mengunjungi kelas Ana, apalagi jika bukan untuk memanfaatkan kepintaran Ana untuk kepentingannya. Dan Ana, hanya bisa menurut karna dia malas berdebat dengan gadis cantik itu.


" An, tolong kerjakan tugasku sekalian dong !!" Melka sang ketua kelas melempar buku ke arah Ana yang entah disengaja atau tidak mengenai mata Ana hingga membuat gadis berambut pendek itu meringis mengusap matanya.


" Eh, kena mata kamu ya ? Sorry..tapi tolong cepat selesaikan ya tugasku !! Ini akibatnya saat kamu menjadi begitu rajin, hingga kami semua muak" Melka tersenyum mengejek, berjalan meninggalkan ruangan kelas saat teman-teman yang lain mengikuti melemparkan buku pada Ana untuk mengerjakan tugas mereka.


" Tugasku sekalian dong, An..!!" Satu persatu anak melemparkan buku mereka. Tak peduli entah itu mengenai Ana dan menyakitinya.


" Kenapa ? " ucap Ana lantang memandang teman-temannya. Melka menghentikan langkahnya. Mendengus kesal. Berbalik ke arah Ana.


" Kenapa aku harus mengerjakan tugas kalian semua ?" ucap Ana lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras.


" Bukankah kau sangat suka belajar, hah ? Jadi apa susahnya sekalian mengerjakan tugas kami ? Lakukan saja dan jangan berani menolak. Jika tidak.." Melka memotong kalimatnya.


" Apa yang akan kau laku... ? " belum sempat Ana menyelesaikan pertanyaannya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Semua orang dikelas bersorak riuh.

__ADS_1


" Jangan pernah berani membantahku, karna itu akan sangat tidak baik untukmu. Lakukan saja seperti apa yang aku perintahkan !!" Melka memandang Ana penuh intimidasi. Dia melupakan satu hal. Jika Ana bukanlah orang yang bisa diperintah dengan mudah.


" Baiklah " Ana bangkit dari duduknya. Mengumpulkan buku yang berserakan disekitarnya. Berjalan lurus menuju pintu. Diiringi suara petir yang menyambar. Entah mengapa tiba-tiba turun hujan.


" Hey, mau kau bawa kemana buku-buku kami ?" Semua orang keheranan. Saling pandang tak mengerti.


Didepan ruang kelas yang sedikit basah terkena percikan air hujan, Ana menghentikan langkahnya. Melemparkan buku teman-temannya ke arah genangan air. Semua orang menjerit tak percaya.


" Hey, apa yang kau lakukan ? Apa kau sudah gila ?" Melka menarik rambut Ana namun kali ini Ana tak tinggal diam. Ditariknya dengan keras tangan Melka hingga tubuh gadis jangkung itu jatuh terjerembab ke dasar genangan air, bersama buku-buku tugas mereka.


" Berulang kali kuperingatkan padamu untuk tidak lagi menggangguku. Apa kau ingin tau seberapa gilanya aku ?" Ana berdiri mengangkangi Melka yang masih terlihat shock. Ditariknya kuat rambut Melka yang basah oleh air hujan hingga sang ketua kelas menjerit kesakitan. Keduanya terlibat pergumulan diatas lumpur. Tak ada yang mau mengalah. Suara teriakan Melka dan ramai riuh sorakan teman-teman yang lain mengundang anak-anak dari penjuru kelas ikut menyaksikan perkelahian mereka. Melka yang mulai kewalahan, berusaha mengatur nafasnya. Mencari celah untuk melepaskan diri dari Ana yang seperti orang kerasukan. Beberapa teman berusaha membantunya. Ana yang seorang diri dikeroyok oleh para anak perempuan teman Melka. Baju seragam mereka sudah berubah warna oleh lumpur dan air hujan yang semakin deras. Meski begitu Ana tetap tak terkalahkan. Jika saja guru tidak datang, mungkin pertarungan mereka tidak akan pernah terhenti sampai ada salah satu yang mati.


" Pembantumu itu memang sangat keren. Dia terlihat seperti monster !!" Suara Arya membuyarkan lamunanku. Dari sudut kelas aku bisa melihat Ana dan semua anak yang terlibat perkelahian digiring oleh guru menuju ruang kepala sekolah.


" Kau memberinya makan apa, hingga tenaganya begitu kuat seperti itu ?" Bima menimpali disusul tawa Arya yang terdengar mengejek. Seolah mereka berdua sudah tau, jika Ana tidak akan mudah kalah oleh siapapun.


" Berhentilah bicara dan segera selesaikan tugas kalian !!" jawabku kesal. Menimpuk kepala Arya dan Bima dengan buku hingga keduanya meringis kesakitan.


" Bagaimana lagi, sebentar lagi ujian dan aku harus masuk 10 besar agar bisa kuliah ditempat yang sama dengan kakakku. Jika tidak ayahku akan mencoretku dari daftar penerima warisan " keluhku mendengus kesal.


" Apa kau tidak merasa jika 10 besar itu terlalu berat untukmu ? " Arya mengatakan hal membuatku menarik nafas panjang.


" Kurasa ayahku sengaja tidak ingin membagi warisannya denganku. Si tua Bangka itu, entah mengapa begitu kejam " aku menghela nafas lagi.


" Kau benar, mungkin saja kau bukan anak kandung dari ayahmu. Bahkan kau sangat berbeda dengan Amera yang sejatinya adalah kembaranmu sendiri. Berusahalah lebih keras agar kau tidak ditendang keluar dari rumah. Posisimu saat ini sangat terancam " Arya mengelus pundakku dan berusaha lari menyelamatkan diri saat aku berusaha menendangnya. Anak itu selalu mengatakan hal yang membuatku kesal.


Aku mengusap kasar rambutku karna terlalu pusing dengan semua tugas ini. Aku hanya tak terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Otakku terlalu manja selama ini. Aku bahkan tidak mengerti apapun. Ana, gadis itulah yang selama ini mengerjakan semua tugasku. Akh, sejujurnya aku benci sekolah dan belajar. Tapi aku juga menginginkan warisan itu. Berat sekali rasanya kepalaku.


***


Yaa..

__ADS_1


Kehidupan seperti inilah yang aku inginkan. Tidak perlu berpikir ataupun bekerja keras tinggal menikmati hasilnya. Kurebahkan tubuhku diatas kursi panjang yang berada ditepi pantai. Berjemur menikmati teriknya matahari. Aku tersenyum saat para wanita cantik itu bergantian menyuapiku, mengelap keringatku dan mendaratkan kecupan lembutnya dipipiku. Sungguh indah sekali hidup ini. Tanpa adanya si tua Bangka yang selalu memprovokasi hidupku.


" Sayang bangun, ayo buka matamu..!!" terdengar suara lembut yang berbisik di telingaku. Aku tersenyum malas.


" Ayo bangunnnn !!!!!" suara lembut itu berubah menjadi sangat kasar. Membuat telingaku berdenging.


" Kenapa kau selalu berteriak, hah ?" Dengusku kesal pada Amera yang membuyarkan semua impian indahku. Dia seperti terlihat jijik, dengan air liurku yg membuat lembaran buku tugas menempel dipipiku.


" Berhentilah membuatku selalu menunggu. Cepat bersihkan dirimu, aku tidak mau jika didalam mobil ada bau iler !!" Amera menghela nafas kesal meninggalkanku yg sibuk mengusap bibir.


***


Dari dalam mobil, aku bisa melihat Ana dengan bajunya yang penuh lumpur berjalan menuju halte. Aku menghela nafas, merebahkan kepalaku pada kursi.


" Gadis itu selalu saja membuat masalah !" Amera seolah tau apa yang sedang aku pikirkan. Meski pandangannya tak beranjak dari majalah yang dibacanya.


" Berhentilah mengganggunya !!" ucapku pelan.


" Kenapa ? Apa hanya kau saja yang boleh mengganggunya ? Apa kau menyukainya ? Hah.." tanya Amera penuh selidik.


" Sudahlah, terserah kau saja. Lakukan sesuai keinginanmu !!" aku memejamkan mata, malas berdebat.


" Apa kau akan datang ke pesta malam ini ? Kudengar Michaela juga akan datang ".


" Entahlah, si tua Bangka itu memberikanku banyak tekanan akhir-akhir ini . "


" Kau pantas mendapatkannya" Amera tersenyum mengejek.


" Tutup mulutmu !!"


Sepanjang perjalanan pulang pikiranku tak lepas dari pesta malam ini. Tentu saja kehadiran Michaela lah yang menjadi penyebabnya. Gadis itu selalu datang dan pergi sesuka hati mempermainkan perasaanku. Tak ingin terikat namun tak juga ingin terlepas. Dia tahu betul jika aku begitu menginginkannya. Dan aku seperti orang bodoh yg selalu menuruti setiap permainannya.

__ADS_1


Deru suara hujan yang semakin deras memantul diantara permukaan kaca jendela mobil yang melaju perlahan. Membentuk irama tak beraturan. Seperti perasaanku yang gamang.


__ADS_2