
Hari yang cerah telah tiba, jam alarm berbunyi pukul 5 pagi, Reno segera mematikan alarm itu, ia melirik Sonia yang masih tertidur.
Reno mengambil handphone yang berada di meja, sebuah pesan ia baca.
Jangan lupa jemput aku di bandara!
Kalau tidak aku akan kembali ke Jepang.
Reno menghela nafas panjang, ia segera meletakkan handphonenya.
Dia memandang Sonia yang telah terbangun, ia tersenyum kepada Sonia, Sonia lantas membalikkan badannya membelakangi Reno.
"Kamu kapan selesai syutingnya? Aku ingin mengajakmu bulan madu."
Sonia tidak menjawab pertanyaan dari Reno, Reno hanya mengernyitkan dahi. Dengan sedikit iseng Reno menarik celana Sonia sampai melorot ke paha.
"Ah! Dasar mesum." Ucap Sonia sambil menarik celananya, ia sedikit kesal dengan sikap Reno yang kekanakkan.
Reno tertawa puas telah mengerjai Sonia, Sonia memasang muka cemberut, ia lalu menuju kamar mandi, Reno mengikutinya.
"Mau ngapain?" Tanya Reno.
Sonia hanya meliriknya, ia mengambil sikat gigi dan pasta gigi miliknya lalu ia menggosokkan ke gigi putihnya.
"Rencananya kita akan bulan madu ke Maldives, tapi kalau kamu mau."
Sonia tak mempedulikan omongan Reno, ia tengah asyik menyikat gigi sambil berdiri di depan kaca, ia melihat bekas luka di dahi yang cukup parah.
Sepertinya harus di plester.
Ah! Bagaimana ini aku harus syuting hari ini.
Sonia segera berkumur dan membuangnya di wastafel, ia lalu mengambil kotak obat yang berada di atasnya, ia mengambil plester dan kapas. Di tambalnya luka yang cukup parah itu. Reno berjalan kearah Sonia, ia memeluk Sonia dari belakang, Reno melihat wajah mereka dari kaca.
"Kamu jika di luar terlihat kalem dan keren, tetapi jika di dalam kamar terlihat manja." Ucap Sonia.
"Aku manja hanya di depanmu saja, karena kamu istriku."
Sonia tersenyum memandang wajah Reno di kaca yang nampak begitu tampan.
Reno memang terlihat berbeda di dalam kamar, ia seperti ingin diperhatikan dan di sayang. Tetapi jika berada diluar ia menjadi seorang yang berwibawa dan terlihat keren.
Sonia melepas pelukan itu, " Aku mau mandi, cepat keluar!"
Reno tersenyum lalu mencium pipi Sonia, ia berjalan keluar kamar mandi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Sonia keluar dari kamar mandi, ia harus segera berangkat syuting. Reno menawari untuk mengantarnya tetapi Sonia memilih naik taksi, ia tidak ingin Reno melakukan hal konyol lagi.
Dalam perjalanan Sonia masih merasa mengantuk, ia tidak pernah berangkat sepagi ini, ia juga masih memikirkan kejadian kemarin malam. Masih sebuah tanda tanya yang besar kenapa Kakaknya sampai melukai dirinya, padahal selama ini Kakaknya tidak pernah semarah itu.
"Kak, sudah sampai." Ucap sang sopir taksi.
Sonia yang melamun terkejut, ia segera menyodorkan uang.
Dia berjalan menuju lokasi syuting, ia menjadi pusat perhatian karena plester yang berada di keningnya.
"Kau kenapa Sonia?" Ucap Sutradara.
Dengan nada berbicara yang sedikit gugup, Sonia menjelaskan bahwa dirinya terjatuh di tangga rumah, ia meminta maaf karena tidak bisa menjaga dirinya.
"Separah itu? Itu masih luka baru tidak mungkin ditutupi dengan make up." Jelas Sutradara ia juga kebingungan.
"Itu bisa ditutupi dengan poni palsu, jangan khawatir." Ucap kru lain.
Sutradara setuju, lalu mereka menyuruh Sonia memakai poni palsu mereka juga menyuruh Sonia untuk berganti baju, ia sedikit ragu karena ia harus memakai baju tanpa lengan yang akan terlihat bekas cakaran dari kak Satya.
"Pak bolehkah saya absen sehari dalam syuting kali ini, badan saya rasanya tidak fit." Ucap Sonia kepada Sutradara sambil membawa baju yang akan ia kenakan saat syuting.
Sutradara menaikan alisnya, ia melipat tangan didepan dadanya, " Kupikir kamu juga tidak sehat, wajahmu seperti memikirkan sesuatu, yaudah kamu boleh absen dan beristirahatlah dirumah."
Bima yang melihatnya hanya tersenyum ia tidak berani mendekati Sonia, Sonia memalingkan muka ia segera pergi dari lokasi syuting. Tujuannya saat ini hanyalah sebuah ketenangan, ia berencana tidur di hotel, dia tidak mau pulang kerumah Reno karena tidak ingin ditanyai macam-macam oleh ibu mertuanya.
Waktu menunjukan pukul 9 pagi, Reno tengah menunggu di ruangannya, hari ini ia harus mewawancarai karyawan baru.
Salah satu chef di restaurannya mendadak keluar dari pekerjaannya, dengan cepat ia merekrut chef baru. Satu persatu ia wawancarai, dia akan memilih salah satu dari 5 orang kandidat yang melamar pekerjaan.
Dia sudah mewawancarai 4 orang, mereka terbukti memiliki kualitas yang bagus tetapi Reno belum bisa memutuskan karena ia belum mewawancarai pelamar ke 5.
Dia iseng membuka lamaran itu dengan mata terbelalak ia mengetahui fakta yang mengejutkan.
Tok.. tok.. tok.. tok..
Pintu ruangan diketuk, seorang gadis berpakaian rapi memasuki ruangan Reno, mata Reno menatap gadis itu tajam. Gadis itu tersenyum manis.
"Apa yang kamu lakukan disini Veronica?"
"Aku melamar pekerjaan, kenapa apakah salah?"
Reno menghela nafas, ia benar-benar tidak percaya jika Veronica melangkah sejauh ini untuk mendekati dirinya lagi.
"Kamu boleh menolakku, tetapi pastinya aku akan sedih karena aku keluar dari restauran sebelumnya hanya untuk bekerja di restauran ini, aku juga banyak mengetahui resep terbaik yang mungkin belum dipunyai restoran ini." Jelas Veronica dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Reno berdiri dari tempat duduknya, ia mengambil jaznya melangkah keluar dari ruangan, langkahnya terhenti seketika kepalanya menoleh kearah Veronica.
"Kamu diterima disini, besok kamu bisa mulai bekerja." Ucap Reno berhenti melangkah, ia tidak ingin menatap Veronica lebih lama yang akan membuat hatinya goyah.
Reno segera bergegas menuju bandara, ia akan menjemput seorang gadis.
Gadis yang tidak bertemu dengan Reno selama 4 tahun.
Sesampainya di bandara ia segera mencari gadis itu, seorang gadis berpakaian seksi membawa koper melambai kearahnya.
Reno segera menghampirinya, gadis itu berlari kearah Reno dan memeluknya.
"Kakak, i miss you." Ucap gadis itu.
"Kabarmu baik? Kamu semakin tinggi dan lihat cara berpakaianmu." Jawab Reno sambil menatap pakaian gadis itu dari atas sampai bawah.
Gadis itu tertawa ia menjelaskan sudah biasa berpakaian seperti ini di Jepang, Reno memarahinya tidak sopan berpakaian seperti itu di Indonesia. Gadis yang bernama Rachel itu tersenyum kecut, ia tidak suka jika kakaknya ikut campur untuk masalah pakaiannya.
Reno segera membawakan koper Rachel , mereka menuju ke rumah.
Di hotel.
Sonia merebahkan tubuhnya di ranjang, ia segera meminum obat tidur, pikirannya yang berkecamuk membuat dirinya merasa malas untuk melakukan aktivitas.
Sebelum tidur, ia mematikan handphonenya agar ia tidak terganggu saat tidur, ia juga tidak mengunci pintu kamar tidur.
Reno setelah mengantar adiknya ia segera menuju ke hotel Aiden, setiap hari ia harus bekerja di 3 tempat sekaligus, ia juga harus mengecek setiap hari.
Setelah sampai di hotel ia mengumpulkan semua karyawannya di lobby, ia menanyai apakah ada kerusakan atau masalah.
Beberapa menit kemudian.
"Oke kalau begitu, kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian."
"Baik pak."
Reno segera bergegas ke ruangannya tetapi resepsionis mengajaknya bicara, ia mengatakan jika Sonia berada di hotel ini, resepsionis juga memberitahu nomor kamar yang di pakai Sonia.
Reno yang mengetahui segera menuju kamar tersebut, perasaan campur aduk menjadi satu Reno berpikir jika Sonia bersama pria lain.
Tok.. tok.. tok.. tok..
Pintu di ketuk oleh Reno, tetapi tidak ada respon, Reno mencoba membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci.
Reno melangkah masuk ia melihat Sonia tertidur sendirian, ia cukup lega.
__ADS_1
Kamu berbohong kepadaku, katamu kamu syuting hari ini. Tetapi malah asyik tidur di hotel.