Mariana

Mariana
Terlalu Cepat


__ADS_3

Sonia tersentak mendengar ucapan Reno, ia segera mendinginkan suasana. Dua orang pria yang dihadapannya tengah melototi masing-masing.


"Reno, apa yang kamu katakan? kamu tipe orang yang cemburuan, aku dengan Jonathan tidak ada hubungan apa-apa."


"Aku bukannya tak suka kamu dengan pria lain, tapi lihat orang disekitar melihat kalian." Ucap Reno. Sonia langsung menengok dan benar sekali ia dari tadi menjadi pusat perhatian.


"Oke ini terakhir kali aku menemui Sonia, oh ya aku harus kembali ke kantor." Ucap Jonathan ia segera meninggalkan mereka.


Sonia terdiam ia merasa muak dengan Reno, ia baru kemarin bertunangan dengannya tetapi ia bertindak berlebihan.


Sonia berdiri dari tempat duduknya, tiba-tiba Reno memegangi tangannya supaya tidak pergi.


"Temani aku makan." Pinta Reno.


Reno segera memanggil pelayannya, ia memesan makanan yang paling spesial untuk mereka berdua.


"Aku tidak selera makan." Ucap Sonia.


"Tolong temani aku makan sebentar saja, setelah itu kamu boleh pergi."


Sonia lalu duduk, ia tak berkata apa-apa.


Hanya berdiam diri memainkan jemarinya, seketika itu Reno melihat bekas luka di lengan Sonia, bekas luka itu telah mengering.


Beberapa menit kemudian pelayan membawakan beberapa makanan, Reno segera melahapnya seperti orang yang belum makan beberapa hari. Sonia melihatnya dengan heran, ternyata orang yang dianggapnya lembut dan sopan bisa menunjukan sikap yang seperti ini.


"Aku belum makan apa-apa dari pagi tadi, kamu tau kan aku orang sibuk, ditemani makan seperti ini jauh lebih menyenangkan ketimbang harus makan sendirian." Ucap Reno.


Sonia tetap memandanginya, dilihatnya sebutir nasi yang berada diatas bibir Reno, ia dengan sigap segera mengambilnya.


"Jangan pikir aku perhatian denganmu." Ucap Sonia, Reno hanya tersenyum.


Seketika Reno merubah ekspresi wajahnya, ia menjadi sedih. Bayangan masa lalu dengan mantan pacarnya selalu membekas.


Hati terasa teriris, tapi apa daya takdir berkata lain.


"Kamu jangan senang dulu aku menerima perjodohan ini bukan karna aku suka denganmu, tenang saja setelah kita bosan dengan permainan ini kita segera bercerai."


Ucap Sonia dengan santai.


Reno menghentikan makannya, ia menatap mata Sonia dengan tajam. Satu kalimat membuat darah mendidih, kenapa bisa ia berkata begitu mudahnya.


"Aku menikahimu bukan untuk menceraikanmu, kamu harus berhati-hati dengan ucapanmu Sonia." Jawab Reno dengan marah.


Sonia lalu berdiri ia segera melangkah pergi,


"Aku harus segera pergi, aku tak banyak waktu untuk mengurus pria sepertimu."


Reno harus bersabar dalam menghadapi Sonia yang dingin kepadanya, ia tak menyerah untuk menaklukan hati Sonia walaupun ia pun belum mencintai Sonia. Pernikahan baginya adalah sesuatu hal sakral, tidak boleh bermain-main apalagi sampai melakukan perceraian.


**

__ADS_1


Dirumah Sonia.


"David, kamu jangan bermain-main lagi, ingat aset perusahaan akan menjadi milikmu seutuhnya. Setelah Sonia menikah kamu harus segera bertindak." Ucap Mama.


David tetap diam sambil memainkan video game, ia seperti terbawa suasana dan seolah tidak mendengar perkataan mamanya.


Tiba-tiba Sonia datang, ia hanya melirik David dan mamanya.


Mama mengikutinya dari belakang


"Ada apa?" Tanya Sonia.


Mamanya tersenyum," Begini Sonia, kami sepakat pernikahanmu dilaksanakan minggu depan."


Sonia terkejut mendengar Mamanya, ia heran kenapa harus secepat ini.


"Lebih cepat lebih bagus Sonia, kupikir kamu sudah siap untuk menikah, oh ya undangan kalian akan disebar besok."


Marah dan bingung bercampur menjadi satu, keringat dingin menetes dari kening Sonia.


Bibir dan lidah terasa kaku, tangan rasanya ingin mengepal Mama tirinya yang seenak hati mengatur kehidupannya.


Sonia lalu berlari mencari Papanya dan ternyata Papanya tidak berada dirumah, ia segera menuju kantor, dinaiki mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


Tin.. tin.. tin..


Bunyi klakson mobil dengan sengaja dibunyikannya ketika ada mobil yang menghalangi jalannya.


Emosi sedang bergejolak, pikirannya terasa kalut. Dia menyetir seolah sedang dikejar-kejar oleh sesuatu, matanya menatap fokus ke depan.


Brakkkk...


Suara pintu dibanting oleh Sonia, Papanya sangat terkejut.


"Kenapa Papa begitu jahat denganku?, aku sudah menuruti perintah papah untuk segera bertunangan dengan Reno, tapi Papah malah mempercepat pernikahan kami, aku juga butuh waktu Pah." Ucap Sonia.


Papanya menghela nafas," Kupikir kamu sudah siap nak, menikah adalah cara yang terbaik untuk merubah sifatmu yang brutal itu."


Sonia tak habis pikir dengan pemikiran Papanya, dia seperti ini juga karna sikap Papanya.


Hiks hiks hiks hiks hiks hiks.


Sonia Menangis sejadi-jadinya, ia begitu marah dan kesal, padahal masih banyak hal yang ingin lakukan sebelum menikah nanti.


Papa mendekatinya dan memeluknya,


"Nak, Reno sangat baik untukmu, Dia bisa membimbingmu untuk menjadi lebih baik lagi."


Hiks hiks hiks hiks hiks


"Bukan itu masalahnya Pah, ini terlalu cepat buatku." Ucap Sonia.

__ADS_1


"Sudah diam, undangan juga sudah terlanjur dicetak, aku jamin hidupmu akan lebih bahagia setelah menikah nanti. Papa harus lanjut bekerja, usap air matamu, segeralah pulang ke rumah."


Sonia bergegas pergi dari kantor, ia segera menuju club.


Hanya club lah yang bisa membuatnya lupa dengan masalah, seperti tadi ia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.


Tanpa disadarinya seorang gadis tiba-tiba menyebrang jalan,


Ciiiittttt......


lantas Sonia seketika mengerem mobilnya.


Hah.. hah.. hah..


Dia kaget dan nafasnya terengah-engah, ia segera turun dari mobilnya, nasib baik gadis itu tidak apa-apa.


"Hey.. Kalo menyebrang lihat-lihat dong." Ucap Sonia dengan marah.


Gadis itu masih syok berat, ia berusaha untuk berdiri.


"Ma.. maaf" Ucap gadis itu yang ternyata Veronica.


Sonia masih melototinya.


"Kamu Sonia? Bisakah kita berbicara sebentar"


"Siapa kau?."


Mereka lalu mencari tempat untuk duduk, Sonia masih penasaran dengan gadis ini.


Panas matahari terasa panas sekali, mereka memilih duduk dibangku dekat pohon itu.


Terlihat awan sangat putih bersih, langit masih nampak biru seperti biasanya.


Sesekali orang-orang berhilir mudik melewati mereka.


"Aku mantannya Reno, calon suamimu." ucap Veronica.


"Terus? Apa urusanku?."


Veronica menjawab, " Kamu belum mengenalnya, kami sudah berpacaran selama 4 tahun, Dia tipe orang yang kasar memperlakukan wanita, dia selalu memukulku, Hiks hiks hiks hiks, bahkan ia sudah mengambil keperawananku."


Sonia kaget dengan penuturan gadis itu, dan dia tertawa.


Hahahhahahha


Sungguh menggelikan pernyataan gadis itu, ia menganggap gadis ini bodoh karena mau diambil keperawanannya.


"Sungguh aku tidak bohong, dia mengancamku jika aku tak menuruti perkataannya."


"Aku tidak tau apa maksudmu, kamu membicarakan hal memalukan didepan orang lain. Itu semua urusanmu aku tidak peduli dengan hal itu, permisi aku harus segera pergi." Ucap Sonia.

__ADS_1


Awas saja kamu Sonia, kamu telah mengambil Reno dari ku, aku memang orang miskin tetapi aku juga bisa bertindak.


Aku akan jamin pernikahanmu tidak bertahan lama.


__ADS_2