Mariana

Mariana
Marah


__ADS_3

Reno memarkirkan mobil di halaman rumahnya yang luas, ia berjalan kedalam rumah begitu cepat. Pikirannya yang kacau membuat ia tak mendengar jika Mama nya mengajak bicara. Dia segera menuju ke kamar, ia menutup pintu dengan kencang sampai seluruh orang-orang rumah mendengarnya.


Reno merebahkan dirinya di ranjang, matanya tersorot gambaran kesedihan.


Bisa-bisanya aku bodoh bermain-main cinta sendirian padahal ia tak menyukaiku.


Dia masih sama seperti dulu.


Pintu kamar Reno terbuka ternyata Mamanya, ia duduk di samping Reno.


Dia bisa melihat kesedihan anaknya. Dia bisa menebak jika Reno sedang bertengkar dengan Sonia.


"Ada apa Reno kamu tidak pernah seperti ini? Dan dimana Sonia?"


Reno hanya diam menunduk, Mama segera memeluknya.


Disaat bersamaan Sonia sampai dirumah Papanya, ia segera menuju ke kamarnya.


"Sonia kenapa kamu pulang?"Tanya Mama.


" Ini rumah Papaku jadi aku bisa pulang kapanpun."


Mamanya heran melihat wajah Sonia yang terlihat sedih, tetapi ia membiarkannya.


Sonia merebahkan dirinya di kamarnya, ia bingung harus berbuat apa.


Sepertinya aku harus meminta maaf dengan Reno. Dia sungguh menakutkan jika marah.


Aku harus cepat mengirimkan pesan kepadanya.


"Reno, sungguh aku menyesal telah membuatmu kecewa, aku minta maaf."


Reno hanya melihat pesan itu dan tidak membacanya. Dia tidak ingin berbicara dulu dengan Sonia.


_________________________


Hari ini aku harus menemuinya di restoran.


Sonia bergegas menuju restoran untuk menemui Reno. Dia membawa beberapa makanan yang dibawanya dari rumah.


Setelah sampai di restoran ia segera masuk ke ruangan Reno tetapi di cegah oleh Rachel.


"Kakakku suasana hatinya tidak bagus, bahkan hari ini sudah memarahiku dan beberapa karyawan."


Sonia masih menatap Rachel.


"Minggir, aku harus menemuinya."


Sonia berjalan meninggalkan Rachel menuju ruangan Reno, dia berjalan dengan penuh keyakinan. Reno melihat Sonia masuk ke ruangannya, ia memalingkan muka.


"Aku hari ini bawa makanan."


Reno masih terdiam mengecek setumpuk kertas di depannya. Dia tidak memperhatikan Sonia sama sekali.

__ADS_1


Sonia tidak kehabisan akal, ia mengalihkan ke pembicaraan lain.


"Katamu kita akan bulan madu, kapan?"


Reno masih diam mengecek berkas penting lembar demi lembar.


Sial! Disini aku merasa paling bodoh, jelas-jelas ia menyueki ku.


"Ya sudah aku akan memberikannya pada Bima jika kamu tidak mau." Ucap Sonia sambil membawa kembali makanan yang diatas meja kerja Reno.


"Taruh kembali! Aku tidak bilang tidak ingin memakannya kan?"


Sonia tersenyum lebar ia segera meletakkan makanan itu di depan Reno, kini Sonia duduk di depan Reno sambil menatap Reno yang tengah serius membaca berkas itu.


Tampan juga wajah Reno jika serius begitu.


Terdengar pintu diketuk yang ternyata Veronica sedang melaporkan jika stok daging menipis. Mereka terlibat pembicaraan yang tidak di mengerti oleh Sonia, Sonia melihat Reno berubah ekspresi ketika sedang berbicara dengan Veronica.


Veronica melirik Sonia yang dibalas tatapan sinis oleh Sonia. Setelah itu Veronica meninggalkan ruangan dan kembali ke dapur.


Reno menatap Sonia. Sonia membalas dengan senyuman tetapi Reno seolah tanpa ekspresi.


Apa ini sifat asli Reno? Kenapa berbeda sekali?


Reno berdiri dan mengambil barang-barangnya, kali ini ia akan menuju ke mall miliknya. Di mall miliknya bukan tugas sepenuhnya milik Reno, tetapi ia harus mengecek setiap saat.


Dia berpamitan dengan Rachel bahwa ia harus bergegas ke mall, Rachel mengangguk dan menatap Sonia yang mengikuti di belakang kakaknya.


Reno segera melajukan mobilnya menuju mall.


"Kamu sebegitu marahnya denganku sampai tidak ingin berbicara denganku?"


Reno masih terdiam melihat ke depan fokus menyetir mobil. Sonia menundukan kepala, ia begitu menyesal atas sikapnya selama ini.


Sesampainya di mall Reno segera menemui bawahannya, Sonia tetap mengekor di belakang Reno. Mereka semua melihat Sonia yang selalu mengekor kesana kemari tetapi Reno seolah tidak menganggap Sonia ada di belakangnya.


Astaga kaki ku pegal sekali, seperti inikah pekerjaan Reno setiap hari**?


2 jam kemudian Reno bergegas menuju hotel Aiden, ia mengemudikan mobilnya menuju kesana. Sedari tadi Sonia hanya terdiam karena kelelahan dan kehausan.


Reno tetap tak bergeming hanya fokus memandang kedepan.


"Kamu bisa menyuruh orang lain untuk mengecek semua bisnismu, kenapa malah kamu yang langsung turun tangan?"


Reno masih diam tidak menanggapi pertanyaan Sonia. Sonia benar-benar marah diperlakukan oleh Reno seperti itu.


Sonia menyenderkan kepalanya, ia merasa lapar dan kehausan. Tiba-tiba handphonenya berdiri ia segera mengangkatnya.


"Hallo." Ucap si penelpon yang bersuara laki-laki.


Sonia terkejut mendengar suara itu, suara yang tidak asing. Sonia masih mendengar dengan seksama.


"Sonia, aku merindukanmu, sebentar lagi aku akan pulang. Ku harap kau menyambutku dengan baik."

__ADS_1


Telepon itu telah ditutup, Sonia begitu syok.


Tubuhnya bergetar, air matanya tak terasa keluar tetapi ia segera menyekanya.


Kenapa lelaki laknat itu harus kembali?


Aku takut, sangat takut.


Saking takutnya ia malah ketiduran di mobil, Reno membiarkannya tertidur.


Reno segera memasuki hotel Aiden dan meninggalkan Sonia tertidur di mobil.


--------------------------


Reno telah kembali dari hotel Aiden, ia segera menuju ke mobil. Dia melihat Sonia tengah terbangun dan memakan snack yang di belinya di minimarket depan.


Dia menawari Reno tetapi Reno hanya diam dan melajukan mobil kembali ke restoran Ananta.


Setelah sampai Reno segera mengecek dapur, Sonia masih mengekornya.


Para karyawan melihatnya tetapi Sonia tak memperdulikannya.


Reno segera kembali ke ruangannya, ia masih melihat makanan yang diberikan Sonia belum disentuhnya. Sonia duduk di depan meja Reno, ia memperhatikan Reno yang tengah menyandarkan kepala di kursi kerjanya.


Nampak ia sangat kelelahan.


Seorang karyawan tengah masuk membawa kertas laporan, Reno malah menyodorkan makanan yang di berikan oleh Sonia. Karyawan itu menerimanya dengan berterima kasih, Sonia hanya terdiam.


Sungguh kejam, makanan yang kubuat sampai tanganku terkena pisau malah diberikan kepada orang lain.


Setelah itu Veronica datang menyerahkan kwitansi, Reno sedikit tersenyum menerimanya.


Sial! Sedari tadi Reno menganggapku setan.


Seolah aku tidak ada.


"Veronica tunggu dulu!" Ucap Reno menghampiri Veronica.


Dia langsung mencium Veronica, Veronica masih kebingungan tetapi membalas ciuman hangat itu.


Sonia melihat mereka terkejut.


"Kalian sedang berakting di depanku?" Ucap Sonia kesal.


Ya Tuhan, apalagi ini?


Semua ini membuatku gila.


"Kakak?" Ucap Rachel membuka pintu, ia terkejut melihat kakaknya berciuman dengan Veronica yang tengah di tonton Sonia.


"Ah! Sini Rachel duduk di sebelahku, kita nonton tayangan langsung sebuah adegan film." Ucap Sonia melambaikan tangan.


Wanita ini sungguh gila, kalau aku jadi dia pasti sudah pergi dan tidak mau melihat seperti ini. Gumam Rachel.

__ADS_1


__ADS_2