Mariana

Mariana
Bab 6


__ADS_3

***


Aku menghela nafas lega. Lelah rasanya berjalan dari taman menuju rumah. Nafasku sudah naik turun tak beraturan. Ingin segera merebahkan diri di kasur.


" Tumben kau lari pagi ?" tanya Amera mengagetkanku. Entah sejak kapan dia ada di belakangku. Tak terlihat berkeringat ataupun kelelahan, pasti artis tidak terkenal itu telah mengantarkannya dengan mobil sampai di gang depan.


" Setidaknya aku benar-benar berolahraga, bukan sepertimu yang hanya menjadikannya sebagai alibi saja " jawabku ketus. Amera hanya tertawa. Sepertinya hatinya sedang berbahagia. Aku semakin merasa kasihan pada saudaraku itu. Tidak sabar untuk membongkar kepalsuan artis tidak terkenal itu.


Kulihat ditepi kolam, Ana sedang asyik bermain dengan ikan-ikan peliharaan. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Meski hanya setipis kapas, namun senyumnya terlihat manis. Sesekali rambutnya yang dikucir seadanya itu tertiup angin. Andai penampilannya sedikit lebih feminim dan terawat, mungkin akan lebih indah dipandang mata.


" Jika kau memasukkan tanganmu ke kolam seperti itu, semua ikan akan mati karena terkontaminasi !!" kedatanganku mengagetkan Ana. Menghapus senyuman diwajahnya. Berubah jutek, seperti biasanya. Mengabaikan ku Ana pergi begitu saja menjauhi kolam.


" Apa rencanamu hari ini ?" tanyaku kemudian.


" Aku tidak harus mengatakannya padamu bukan ?" jawabnya datar.


" Kenapa ? Memangnya kau mau pergi kemana ? Dengan siapa ?" tanyaku kepo.


" Itu bukan urusanmu !!" Ana melotot ke arahku. Berani sekali dia.


" Apa jangan-jangan kau sudah punya pacar ? Harusnya kau fokus belajar jika benar-benar menginginkan beasiswa itu bukan malah sibuk pacaran !!"


" Dasar cerewet !! Sekalipun aku tidak belajar, aku tetap bisa mendapatkan beasiswa itu " jawabnya penuh percaya diri. Berlalu meninggalkanku yang masih terus mengomel. Kecurigaanku semakin dalam, mengingat Ana pernah mengunyah surat dari seseorang hanya karena takut jika aku tahu siapa pengirim surat itu. Tidak ku sangka jika akan ada pria yang tertarik pada perempuan seperti Ana. Galak dan dingin. Pasti pria yang menyukainya itu juga sama anehnya dengan Ana. Aku tersenyum membayangkan dua orang aneh saat sedang pacaran. Pasti aneh sekali. Hahaha..


***


Pagi ini dimeja makan, ayah terlihat serius sekali saat mengatakan ibu kami akan kembali lagi ke rumah ini. Aku dan Amera saling pandang tak percaya. Bagaimana mungkin ayah yang selama ini sangat keras membiarkan begitu saja wanita yang telah mengkhianatinya kembali lagi. Sekalipun ibu adalah ibu kandung kami namun apa yang telah dilakukannya bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dimaafkan. Masih teringat dengan jelas saat ibu lebih memilih pergi bersama kekasihnya yang umurnya jauh lebih muda darinya dan menelantarkan anak-anaknya. Dua tahun ini aku dan Amera sudah terbiasa menjalani hari-hari tanpa sosok seorang ibu. Lalu tiba-tiba wanita itu kembali lagi dalam kehidupan kami.


" Kenapa ?" tanyaku sedikit ragu pada ayah yang menatapku tajam.


" Kenapa ayah membiarkan wanita itu kembali lagi ? Apa ayah sudah melupakan tentang pengkhianatannya ?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.


" Wanita itu hanya akan kembali ke rumah ini sebagai ibu kalian bukan sebagai istriku " jawab ayah datar.


" Tapi tetap saja kan.. bagaimana mungkin ayah bisa tinggal satu atap dengan wanita yang telah berkhianat ? Kami tidak ingin melihat ayah terluka lebih dalam lagi !!" Amera berusaha meyakinkan ayah untuk merubah keputusannya.


" Sudahlah, ayah tidak ingin membahas hal ini lagi. Bersiap saja untuk kembalinya ibu kalian !!" ayah pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya.


Aku dan Amera hanya saling pandang. Menyantap nasi goreng buatan ibunya Ana. Dan gadis itu, entahlah aku tak melihat keberadaannya. Biasanya dia selalu berdiri disamping meja makan namun kali ini tidak ada. Mungkin sudah pergi menemui kekasihnya. Sepertinya dirumah ini hanya aku saja yang jomblo.

__ADS_1


***


Jam ditangan sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jalanan sudah mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan. Ana berjalan di trotoar menikmati hembusan angin yang sesekali menerpa wajahnya. Jarang baginya untuk bisa keluar rumah seperti ini.


Langkah kaki Ana terhenti didepan sebuah bangunan tua yang didepannya rindang oleh pepohonan. Sebelum masuk ke dalam, Ana mampir dulu ke sebuah telpon umum yang letaknya menjadi satu bagian dengan perpustakaan. Dimasukkannya beberapa koin hingga terdengar bunyi telpon tersambung.


" Hallo.." sapa seorang pria dari ujung telepon.


" Bagaimana kabarmu ? Maaf karena sudah lama tidak menghubungimu. Aku hanya ingin memberi tahu jika surat yang kau kirimkan telah aku baca " Ana tersenyum malu.


" Kabarku baik. Senang bisa mendengar suaramu lagi. Semoga apa yang aku tulis dalam surat kemarin cukup jelas hingga aku tidak perlu memberi penjelasan padamu lagi " ucap pria diujung telepon.


" Iya, aku sudah paham semuanya. Hari ini aku sengaja pergi ke perpustakaan untuk belajar. Ujian sebentar lagi. Dan aku tidak ingin mendapatkan hasil yang buruk " Ana berkata lembut.


" Aku percaya kau pasti akan berhasil dengan ujianmu. Apa sekarang kau berada di perpustakaan biasa tempat kita dulu sering bertemu ?" tanya pria itu.


" Iya. Aku ada disini, di tempat biasa kita diam-diam bertemu. Setidaknya dengan begitu akan membuatku lebih bersemangat untuk menghadapi ujian " Ana tersipu malu. Terdengar suara tawa diujung telepon.


" Bersemangat lah !!! Aku disini akan sabar menanti kedatanganmu. Maaf karna tidak bisa berbicara lebih lama denganmu. Ada banyak hal yang harus ku lakukan. Lain kali aku akan mengirim surat padamu lagi. Bye.." pria itu menutup sambungan teleponnya sebelum Ana sempat mengucapkan perpisahan.


" Sebenarnya..aku merindukanmu.." ucap Ana lirih menutup telpon yang telah terputus sejak tadi. Dihirupnya udara berlahan untuk menstabilkan perasaanya yang sedikit tak karuan. Setelah merasa sedikit lebih baik, Ana berjalan masuk ke dalam perpustakaan. Sebuah bangunan tua yang asri dan menenangkan. Cocok untuk tempat belajar dan menenangkan diri.


***


Diperpustakaan ini dulunya Ana sering datang bersama dengan pria yang disukainya. Menghabiskan banyak waktu berdua dengan membaca buku. Hanya saling diam, sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Romantis dalam artian yang sebenarnya. Ana hanya tersenyum mengingat semua kenangan manis itu. Kini, sudah hampir 3 tahun dirinya tidak lagi pernah bertemu dengan pria itu. Lebih tepatnya setelah pria yang disukainya itu mendapatkan beasiswa pendidikan ke luar negeri. Menjalani hari-hari penuh rasa rindu. Menyibukkan diri dengan belajar agar bisa menyusul pria yang disukainya. Ana menghela nafas panjang, impian itu sudah semakin dekat didepan mata. Hanya tinggal menghitung bulan. Setelah ujian Nasional selesai. Ana optimis bisa mendapatkan beasiswa itu. Bukan tanpa alasan, selama ini dirinya selalu menjadi nomor satu disekolahan. Hal yang membuat Amera tidak pernah menyukainya. Karna Amera selalu berada diurutan kedua setelah dirinya.


Saat tengah asyik membaca buku, Ana dikagetkan dengan kedatangan seorang pria yang tiba-tiba bersembunyi dibawah kolong meja tempatnya duduk. Memberi isyarat pada Ana agar tidak memberi tahu keberadaannya. Awalnya Ana bingung, namun sedikit mengerti saat beberapa remaja perempuan datang menghampirinya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.


" Maaf kak, kakak lihat Sabian lari ke arah sini gak tadi ?" tanya salah seorang remaja perempuan itu pada Ana.


" Sabian ? Sabian siapa ?" Ana terlihat heran, merasa asing dengan nama yang disebutkan anak perempuan itu.


" Sabian yang bintang film itu kak ? Yang filmnya judulnya Mafia itu ?" para anak perempuan itu bergantian menjelaskan dengan antusiasnya. Sementara Ana masih tetap tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.


" Maaf tapi aku tidak pernah nonton film jadi tidak tau siapa Sabian yang kalian maksud. Lagipula ini adalah perpustakaan bukan bioskop. Yang ada disini hanyalah deretan buku bukan film atau artis. Jadi bisakah kalian tenang agar para pengunjung yang lain bisa membaca dengan nyaman ?" ucap Ana panjang lebar dengan ekspresi datarnya. Setidaknya hal itu berhasil membuat para remaja ABG itu pergi meski sambil bisik-bisik mengumpat nya.


Ana menghela nafas lega, melanjutkan aktivitasnya membaca halaman demi halaman.


" Apa kau sungguh tidak tau siapa Sabian itu ?" suara seseorang dari bawah kolong meja mengagetkan Ana. Hampir gadis itu menjerit jika saja dirinya tidak ingat sedang berada di perpustakaan.

__ADS_1


" Kau ini siapa ? Dasar cabul, beraninya mengintip celana dalam perempuan !!" Ana menarik rambut pria yang bersembunyi dibawah meja yang tak lain adalah Bian itu hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


" Cabul apa maksudmu ? Aku hanya sedang menyelamatkan diri dari para monster itu " jawab Bian penuh iba, berharap Ana melepaskan rambutnya.


" Monster ?" Ana sedikit heran.


" Lepaskan aku dulu agar bisa menjelaskan !!" Bian sedikit kesulitan saat hendak keluar dari kolong meja. Berkali-kali kepalanya terbentur meja.


" Tidakkah kau merasa jika kita ini pernah bertemu sebelumnya ?" Bian mengamati wajah Ana lebih intens.


" Tentu saja . Berkat dirimu, seseorang telah menamparku !!" jawab Ana sinis, melanjutkan membaca buku.


" Ternyata benar, kau gadis itu. Satu-satunya orang yang tidak kenal dengan Sabian sang artis terkenal " Bian tersenyum menyombongkan diri.


" Jika memang benar kau ini artis, bukankah saat ini seharusnya kau sedang sibuk syuting atau apalah itu namanya. Lalu apa yang kau lakukan diperpustakaan ?" tanya Ana meremehkan.


" Tentu saja, aku perlu membaca buku atau sekedar mencari referensi untuk peran yang akan aku jalani. Agar lebih bisa mendalami peran. Aku beberapa kali pergi ke perpustakaan namun baru kali ini melihatmu "


" Aku berharap ini pertama dan terakhir kalinya kita bertemu disini. Atau dimana pun, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi " sejenak keduanya saling berpandangan. Ada aroma kebencian yang terasa.


" Apa kau selalu galak pada semua orang ? Cocok sekali dengan peran antagonis difilmu. Kebetulan masih kosong belum ada yang mengisi, apa kau berminat untuk menjadi seorang aktris. Kurasa aktingmu akan sangat bagus ?" Bian terlihat antusias merayu Ana agar mau bermain difilmnya.


" Tidak !! Pergilah !! Aku hanya ingin membaca dengan tenang !!" tolak Ana kasar.


" Aku bisa membayarmu mahal "


" Pergiiii !!! Atau aku akan memanggilkan petugas agar mengusirmu ?" kali ini Ana tak main-main.


" Oke jika kau tidak berminat untuk bermain film. Tapi bisakah kau menjawab satu pertanyaan dariku ? Aku janji setelah itu aku akan pergi " Bian memasang wajah penuh iba.


" Apa ?"


" Apa kau benar-benar tidak tau jika aku adalah seorang artis terkenal ?" tanya Bian penuh harap.


" Tidak !!" jawab Ana singkat.


Bian nampak kecewa mendengar jawaban Ana. Bagaimana bisa seseorang tidak mengenalinya. Padahal film yang dibintanginya sangat sukses diseluruh negri.


Ana memandang kepergian Bian dengan tatapan lega. Berharap tidak akan ada lagi pertemuan ketiga diantara mereka. Ana tidak tahu jika Bian adalah seorang artis atau bukan. Yang Ana tau hanyalah, Amera menaruh hati pada pria itu. Dan itu yang membuat Ana malas untuk terlibat dengan Bian.

__ADS_1


__ADS_2