Mariana

Mariana
Pantai


__ADS_3

Malam semakin larut, Sonia masih belum berhenti menangis. Reno segera menenangkannya, ia masih bingung dengan sikap Sonia yang aneh, Reno berulang kali meminta maaf tetapi Sonia masih belum berhenti menangis.


"Sonia sudah jangan menangis lagi, kamu kenapa bisa seperti ini." Tanya Reno.


Sonia segera menghentikan tangisannya, dalam bibir yang bergetar ia mencoba untuk menjelaskannya kepada Reno.


"Maaf Reno jika kali ini aku membuatmu kecewa lagi, aku mempunyai masa lalu yang buruk, tetapi aku tidak bisa menceritakannya kepadamu." Jelas Sonia.


Reno mengerti ia bilang jika Sonia siap menceritakannya, dia akan menjadi pendengar yang baik.


Reno menyuruh Sonia untuk tidur, ia membantu memakaikan pakaian Sonia.


Sonia lalu meminta segelas air putih, Reno segera mengambilkannya di dapur.


Sonia mengambil obat tidur, ia segera mengunyahnya supaya Reno tidak mencurigainya, beberapa menit kemudian Reno membawa segelas air putih, Sonia segera meminumnya.


Keesokan harinya.


Mereka sekeluarga sarapan bersama-sama tidak dengan Sonia yang masih terlelap, ia sudah terbiasa bangun siang.


Sorot matahari mengenai matanya, ia seketika terbangun, ia berjalan keluar kamar mencari Reno.


Sonia melihat Reno sedang asyik menikmati sarapan dengan keluarganya.


"Selamat pagi." Ucap Sonia.


Reno membalas dengan senyuman, ia menyuruh Sonia duduk disebelahnya dan mengambilkan makanan untuk Sonia.


Sonia begitu lemas dan masih mengantuk, matanya belum sepenuhnya terbuka,


Mama Reno memperhatikan dengan kesal.


"Sonia, tidak bisakah kamu bangun lebih pagi lagi." Ucap Mama Reno.


"Untuk apa bangun pagi-pagi." Ucap Sonia ketus.


Reno yang mendengar ucapan Sonia yang seperti itu segera menegurnya, ia bilang tidak sopan jika berbicara seperti itu dengan orang tua. Sonia yang merasa dipojokkan segera meninggalkan mereka dan menuju ke kamarnya, ia melanjutkan tidurnya.


"Maafkan perkataan Sonia mah, dia tidak bermaksud seperti itu." Ucap Reno.


"Reno, kamu bisa menceraikannya jika ia masih sering membuatmu kecewa, Mama bisa lihat dengan raut wajahmu yang setelah menikah terlihat tidak bahagia." Ucap Mama.


Reno tersenyum, ia menyangkal ucapan Mamanya, ia sangat bahagia bisa menikahi Sonia, mungkin memang butuh waktu untuk merubah sifat Sonia yang keras kepala.


Setelah selesai makan, Reno segera menuju kamarnya kali ini benar-benar takut untuk menyentuh tubuh Sonia, dia melihat Sonia tidur terlelap, ia tak berani membangunkannya.


Ddrrrrt.. ddrrrrt... ddrrrrt...


Handphone Sonia berbunyi, sontak Sonia kaget dan segera mengangkatnya.


"Hallo." Ucap Sonia.


Ternyata itu dari kak Nia, ia bertanya apakah ia sedang berbulan madu kalau tidak esok ia harus hadir untuk pengenalan bersama rekan-rekan film lainnya yang akan ia perankan.


Sonia bilang akan hadir esok hari, ia segera menutup teleponnya.


Mata Sonia melirik kearah Reno yang berada disebelahnya, ia duduk disebelah Reno.


"Reno aku akan segera memerankan sebuah film, aku tidak sabar untuk segera syuting." Ucap Sonia.


"Sungguh? Film bergenre apa?" Tanya Reno.


Sonia terdiam, ia tidak tau jenis film apa yang akan ia perankan. Betapa bodohnya ia terburu-buru menandatangani kontrak itu tanpa ia membaca naskah filmnya.


"Jangan-jangan film dewasa?" tanya Reno serius.

__ADS_1


Sonia memukul kaki Reno, Reno hanya tersenyum menggoda.


Maafkan aku yang berpura-pura bahagia denganmu Sonia.


Aku pura-pura tersenyum kepadamu supaya kamu tidak terbebani dengan pernikahan ini.


"Sonia kamu ingin ke pantai bersamaku, sepertinya playstation itu akan dikirim besok." Ajak Reno.


Sonia mengiyakan ajakan Reno, mereka segera mandi dan berganti pakaian.


Sonia mengenakan celana pendek dengan


t-shirt putih, Reno mengenakan setelan jeans ia terlihat tampan dan gagah.


Sonia tak lupa memakai sunblock karena cuaca kali ini sangat terik.


Mereka bergegas masuk kedalam mobil,


Sonia hanya terdiam sambil memandangi keluar jendela, ia mengingat terakhir ia datang kepantai bersama Mama dan kakak kandungnya, sudah 15 tahun yang lalu tetapi ia masih mengingat semua kenangan itu.


Tak terasa air matanya menetes, ia segera menyekanya.


Begitu juga dengan Reno ia mengingat kenangannya di pantai bersama Veronica.


Hal yang sangat sulit dilupakan oleh Reno ketika Veronica memberikan pesta kejutan ulang tahun Reno di pantai.


"Kamu mau makan apa Ver?" Ucap Reno yang salah menyebutkan nama.


Sonia terkejut mendengarnya ia tertawa kecil, Reno segera meminta maaf ia tidak konsentrasi hari ini.


"Kamu jangan terbebani denganku Reno, aku tau kamu hanya pura-pura bahagia didekatku."


Reno hanya terdiam, ia tak bisa berkata-kata, yang diucapkan oleh Sonia memang benar.


"Kita bisa jalani hidup seperti biasanya, kamu jangan memaksakan dirimu untuk selalu membuatku tersenyum, anggap saja kita menikah tetapi kita tak mengenal satu sama lain, kamu juga boleh bertemu dengan Veronica gadis yang sangat kamu cintai." Jelas Sonia.


Reno sempat tercekat dengan ucapan Sonia.


"Oke kalau maumu seperti itu, kita akan bercerai pada waktunya, aku akan segera mencari investor baru untuk perusahaan Papaku." Ucap Reno sedikit kesal.


Reno menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia meminta Sonia untuk turun dari mobilnya.


"Turun!" Ucap Reno sedikit membentak.


Sonia yang sedikit kaget segera turun dari mobil, ia segera menutup pintu mobil.


Reno segera memutar balik mobilnya, ia meninggalkan Sonia dipinggir jalan tanpa sebab yang pasti.


Sonia berjalan menuju kearah pantai yang sebentar lagi akan sampai, ia masih bingung kenapa Reno begitu tega meninggalkannya.


Sonia sempat berpikir mungkin perkataannya menyinggung perasaan Reno.


Matahari terasa menyengat dikulit, mungkin kesalahan besar ia malah menuju ke pantai.


Sepi, pantai ini sangat sepi tidak ada orang.


Sonia berjalan mendekati air laut itu, suara deburan ombak menemaninya kali ini.


Dia duduk diatas pasir putih yang terkadang kakinya diterjang ombak.


Sudah satu jam Reno tidak kembali menjemputnya, sepertinya ia benar-benar marah.


Sonia menengok ke belakang seperti ada seorang laki-laki berjarak 20 meter dari posisi duduk Sonia.


Mata Sonia menyipit kesilauan ketika melihat wajah pria itu, pria itu kini berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Mungkin orang itu juga pengunjung pantai ini.


Tapi seperti aku pernah melihat pakaian yang dikenakannya.


Ah! Sudahlah, tidak penting juga.


Sonia kembali melamun, angin yang menyapu rambutnya membuat suasana semakin nikmat.


Tiba-tiba ada yang menarik kepala Sonia kebelakang, bibirnya dicium oleh seseorang.


Jantung Sonia berdegup dengan kencang, sebuah ciuman yang memainkan lidah yang bertemu menjadi satu , ia membuka matanya ternyata pria itu adalah Reno.


Sonia berposisi duduk dan Reno yang berposisi jongkok seolah tak mempedulikan sinar mentari yang sangat terik, serta ombak yang membasahi kaki mereka.


Ciuman yang sangat lama, bahkan Sonia menikmati ciuman ini.


Hatinya merasa senang dan tenang.


Diremasnya kemeja jeans yang dikenakan oleh Reno, ia seolah melupakan bahwa ini tempat umum tetapi untungnya pantai ini hanya ada mereka berdua.


Reno melepaskan ciumannya, ia melihat mata Sonia yang berbinar-binar, Reno merapikan rambut Sonia yang berantakan diterjang angin, ia melihat leher Sonia, ia segera menciumi leher Sonia yang putih itu.


Dua orang yang mengaku tak saling mencintai sedang beradu kasih, sampai burung-burung ditepi pantai saling bersahut-sahutan melihat dua sejoli yang saling melampiaskan hasrat.


Reno menghentikan ciumannya, ia segera duduk disebelah Sonia sambil memandang laut yang biru, matanya menatap jauh diujung sana.


Sonia melihat wajah Reno yang sangat tampan, rambutnya diterjang oleh angin, hidungnya yang mancung dan matanya sangat lembut membuat hati Sonia tenang.


"Cinta itu seperti apa? Kamu pernah berpacaran kan? Kamu pasti tau rasanya seperti apa?" Tanya Sonia.


"Cinta memang tak bisa dilihat, tetapi kita bisa merasakannya." Ucap Reno.


"Cinta memang bisa dibuat pura-pura, tapi kita sudah beberapa kali berciuman, apa itu hanya ciuman pura-pura?" Tanya Sonia membuat Reno tersentak.


Reno melihat Sonia, mereka saling memandang, Reno bingung bagaimana ia menjawab pertanyaan Sonia tadi.


"Kamu bahkan tidak bisa menjawabnya." Ucap Sonia sambil tersenyum.


Sonia lalu berdiri, ia berjalan menyusuri tepi pantai meninggalkan Reno yang masih terduduk diam, Sonia bahagia akhirnya ia bisa pergi ke pantai


Reno segera berjalan mengejar Sonia,


ia menarik tangan Sonia, Sonia kaget ia menghadap Reno yang tersenyum padanya.


Reno seketika mencium Sonia kembali, ciumannya begitu tulus, ia tak ingin mengecewakan sang istri.


Apa ini yang dinamakan cinta?


Sebuah kenyamanan ketika berada didekatnya, bahkan hanya sebuah ciuman bisa menggambarkan perasaan ini.


Apa gadis ini yang aku cari dulu?


******


**Hallo ini Author...


Terima kasih telah membaca cerita fiksi saya,


Jangan lupa tinggalkan like dan komen untuk saya,


kedepannya kalian akan baper dengan kisah Reno dan Sonia.


Jangan lupa tekan tombol favorit supaya mendapat notifikasi jika cerita ini sudah UP.


Saya bisa menulis 2-3 bab dalam sehari, tetapi jika UPnya lama mungkin karena admin noveltoon masih mereview cerita saya.

__ADS_1


Jadi dimohon bersabar dan tetap setia menunggu cerita saya**.


__ADS_2