
Hawa sejuk menusuk tulang, awan mendung pun nampak terlihat. Pepohonan tinggi dan jurang menemani perjalanan Reno.
Reno nampak sangat fokus sambil melirik maps yang ada di handphonenya dan sesekali ia melihat jam yang harusnya kini waktunya makan siang.
Gapura desa sudah terlihat, perumahan pada desa ini menggunakan anyaman bambu tetapi sesekali terlihat rumah modern. Reno memarkirkan mobilnya di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Suasananya sangat asri, beberapa gunung terlihat dari desa itu. Orang-orang juga nampak sedang melakukan aktivitasnya dengan bercocok tanam. Reno segera menghampiri warga yang sedang terlihat menyirami tanaman tomat, tak lupa ia melontarkan senyuman serta salam.
Tanpa basa-basi ia langsung bertanya dimana rumah nenek itu, warga itu mengantarkan sampai rumah nenek Tika, dia adalah seorang dukun pijat anak. Bahkan satu desa mengenalnya.
Reno melihat beberapa warga tersenyum kepadanya, ia juga membalas dengan senyuman.
Tetapi tiba-tiba sebuah peluru kertas mengenai kepalanya, ia merasa sedikit kesakitan.
"Hei kalo main yang bener!" ucap warga yang menemani Reno menuju rumah nenek Tika.
"Kabur!" ucap anak-anak nakal itu.
Reno hanya tersenyum sampai ketika ia melihat seorang anak yang sedari tadi melihatnya tanpa berkedip. Reno melemparkan senyuman kepadanya tetapi anak itu malah berlari, Reno mengernyitkan dahi dan kebingungan
Apa wajahku seseram itu sampai membuat anak kecil itu takut. Hahaha.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah nenek Tika, warga yang mengantar Reno tadi segera berpamitan untuk melakukan aktivitasnya kembali.
Rumah yang dilihatnya bertembokan anyaman bambu dan beralaskan tanah.
Apa anakku tinggal di tempat seperti ini?
Reno mengetuk pintu beberapa detik kemudian seorang wanita tua berambut putih yang digulung keatas membukakan pintu.
Reno tersenyum dan menjelaskan ingin membicarakan sesuatu, nenek itu mempersilahkan masuk. Dia menyuruh Reno duduk di kursi kayu yang sudah lapuk.
Nenek itu menuju dapur dan membuatkan teh hangat untuk Reno, ia juga membawakan sepiring singkong goreng.
Beberapa menit kemudian.
"Ada perlu apa nak?" tanya Nenek sambil duduk di depan Reno.
"Maaf saya adalah teman Kak Fahmi dan Kak Nanda," ujar Reno berbohong.
Nenek itu langsung sedih mendengar nama anaknya dan menantunya itu. Dia menceritakan jika mereka berdua mengalami nasib buruk, mereka kecelakaan saat hendak berangkat bekerja. Sialnya mereka meninggal dilokasi kejadian. Nenek juga bercerita jika mereka meninggalkan seorang anak laki-laki yang kini sudah berumur hampir 5 tahun.
"Oh nak, silahkan diminum dulu teh dan singkong gorengnya"
Reno langsung meminum teh hangat tersebut dan memakan satu biji singkong yang membuatnya sangat takjub.
Enak sekali singkong goreng ini, baru pertama kali aku merasakan makan singkong seenak ini.
Reno sangat lapar sampai habis 4 potong singkong goreng.
__ADS_1
Aku tak tau malu malah menghabiskan makanan di rumah orang. Biarlah yang penting aku kenyang.
Tiba-tiba seorang anak kecil memasuki rumah nenek, ia terkejut melihat Reno yang berada di rumahnya.
"Ampun om jangan marahi saya," ucap anak kecil itu.
Reno bingung dan ia mengingat jika anak kecil itu yang lari ketakutan saat Reno mengajaknya tersenyum.
"Om tadi saya tidak sengaja menembakan peluru kertas kearah om, om kesini mau memarahi saya kan?"
Reno tersenyum dan bilang ia dirumahnya karena ada keperluan dengan sang nenek dan bukan ingin memarahinya. Anak itu lega lalu ikut duduk disamping neneknya.
"Ini anak Fahmi dan Nanda, ini juga anak semata wayang mereka"
Reno yang mendengar ucapan nenek tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat, matanya masih memandang tak percaya kearah anak itu yang sedang memakan singkong dengan lahapnya.
Apakah dia anakku? Bahkan bibirnya mirip sekali dengan Sonia.
Reno seketika menunduk dan memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa nak," ucap nenek itu khawatir.
"Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting tetapi ada cucu anda saya merasa tidak enak"
"Bicara saja, ia masih kecil belum tau apa-apa"
"Ini mengenai cucu anda, saya pikir dia belum siap mengetahui hal ini"
Setelah anak kecil itu keluar, Reno segera menceritakan dari awal kejadian sampai ia meninggalkan Sonia tengah mengandung anaknya. Dan Papa Sonia tidak menginginkan bayi itu, ia malah menyerahkan ke orang lain yaitu Fahmi dan Nanda.
Nenek menghela nafas seolah tau akan kejadian ini.
"Sudah kuduga kamu sebagai ayah biologis Dylan akan mencarinya"
Dylan? Anakku bernama Dylan?
"Tapi mau bagaimana lagi, nenek juga tidak mau menutupinya. Dylan memang bukan anak kandung Fahmi dan Nanda, ia mengadopsinya dari keluarga kota yang sangat kaya. Tapi dimana istrimu, kenapa dia tidak ikut?"
"Dia amnesia sampai ia tidak ingat jika telah mempunyai anak," jelas Reno.
Nenek hanya tersenyum seolah mengetahui jika Reno berbohong.
Mereka lalu melanjutkan obrolan dengan serius sampai setengah jam kemudian sang kakek dan Dylan pulang. Reno yang menyadarinya segera ingin bersalaman dengan sang kakek.
"Jangan nak, tangan kakek kotor habis dari kebun"
Tetapi Reno tetap mengajaknya bersalaman, sang kakek tersanjung dengan sikap Reno yang baik. Kakek lalu segera mandi untuk membersihkan diri. Nenek juga berpamitan untuk memasak makan siang.
__ADS_1
Kini hanya Reno dan Dylan yang berada di ruang tamu yang tak luas itu. Dylan mengambil sebuah buku dan alat tulis, ia menggambar dengan lihainya.
"Wah gambarmu sangat bagus"
"Terima kasih om"
Reno segera duduk dibawah yang beralaskan tikar untuk melihat Dylan menggambar.
Gambar Dylan sangat bagus untuk ukuran anak TK.
"Kamu gambar apa?"
"Aku menggambar bapak dan ibu yang berada di surga"
Deg!
Aku ingin sekali memelukmu dan bilang jika aku ini Papa mu.
"Oh ya, om yang punya mobil hitam itu?"
Reno menganggukan kepala.
"Bolehkah aku naik mobil om?" tanya Dylan dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Boleh, tapi kamu izin kakek dan nenekmu dulu"
Dylan berlari kegirangan menuju neneknya yang sedang memasak di dapur. Dia meminta agar neneknya mengizinkannya untuk naik mobil bersama lelaki yang baru ditemuinya.
Sang nenek mengizinkannya, Dylan bersorak gembira.
"Jangan khawatir nek saya tidak akan membawa Dylan kabur," ucap Reno.
Nenek tertawa ia yakin jika Reno tidak jahat dan akan kembali kesini mengantar Dylan.
Reno dan Dylan segera menuju ke mobil yang terparkir di tanah lapang yang berjarak 5 menit dari rumah Nenek.
Reno sedari tadi melirik Dylan yang berjalan disampingnya, ia ingin sekali menggendongnya.
Setelah sampai di tanah lapang ia cukup kaget melihat mobilnya sangat kotor bekas tanah liat bercap kaki anak-anak kecil. Memang jalan di desa itu becek apalagi setelah hujan.
"Om, pasti ini ulah teman-teman saya, saya akan menyuruh mereka membersihkannya," ucap Dylan terlihat takut jika Reno marah.
"Tidak apa-apa, mobil om tinggal di cuci dirumah om saja"
Om ini sangat baik sekali.
Reno membantu Dylan menaiki mobil, ia bergegas melajukan mobilnya memutari pedesaan yang sejuk ini.
__ADS_1
Semoga saja Dylan memang anakku.
Aku yakin setelah melihat wajahnya yang mirip denganku dan Sonia.